
"Apa kamu ingin di rendahkan lagi seperti tadi Ra? jawab Erfan menatap Dara membuat Nathan dan Clara terkejut.
"Apa maksud kamu Fan? Dara di rendahkan?" tanya Nathan penasaran menatap sepasang suami istri itu bergantian.
"Sudahlah Than, nggak usah di bahas, kerjakan saja pekerjaan kamu sekarang." Ucap Erfan sedikit menggerakkan kepalanya, mengkode Nathan agar segera keluar dari ruangannya.
Nathan menghela nafas sebelum berdiri dari tempat duduknya, "Ayo Cla,"
"Aku balik ke ruanganku dulu ya Ra? Kak?" Pamit Clara sebelum ikut berdiri dari duduknya.
"Iya Cla," jawab Dara dikuti dengan anggukan kepala Erfan.
Nathan dan Clara segera keluar dari ruangan Erfan, meninggalkan Dara dan Erfan yang masih duduk di sofa menatap kepergiaan mereka.
***
Jam dinding kamar Erfan sudah menunjuk ke angka tujuh, langit sudah menggelap dengan semilir angin yang memasuki kamar bernuansa putih itu, saat si pemilik kamar sedang berdiri di depan jendela kamarnya sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
Erfan tampak melamun memikirkan masalah yang ada di perusahaannya, walaupun di depan Nathan dan Clara dia tampak biasa layaknya tanpa beban, tapi tidak untuk hatinya, perasaan kecewa dengan kepemimpinannya sendiri hingga membuat perusahaan yang di besarkan papanya dari nol harus mengalami kerugian besar karena kecerobohannya sebagai pemimpin atau bahkan karena ketidak becusannya dalam memimpin.
Cklek Dara membuka pintu kamarnya, berdiri sesaat untuk melihat suaminya yang sedang termenung sendiri menatap gelapnya malam yang sudah di hiasi dengan bintang yang saling bertebaran menunjukkan sinarnya.
"Ayo makan dulu Mas," ucap Dara setelah berdiri di samping Erfan, membuat Erfan mengalihkan pandangan menatapnya.
"Sudah selesai Ra masaknya?"
"Sudah Mas, ucap Dara dengan seulas senyumnya balik menatap Erfan.
"Aku masak soto ayam," ucap Dara lagi.
"Ayo," ucap Erfan meggaandeng tangan istrinya untuk keluar dari kamar dan melangkahkan kaki mereka menuju meja makan yang ada di lantai satu.
"Silahkan duduk Mas," ucap Dara setelah sampai dimeja makan, memberikan senyum termanisnya sambil menarik salah satu kursi untuk suaminya.
"Eh? tumben Sayang?" ucap Erfan sebelum duduk.
"Sekali-sekali Mas, besok ya Mas Erfan lagi yang menarik kursi untukku," Jawab Dara terkekeh.
"Ya....cuma hari ini dong?" ucap Erfan lagi menoleh ke arah Dara yang sedang berdiri di sampingnya untuk mengambil nasi beserta lauk untuknya.
"Iya Mas, cuma hari ini, jadi nikmati baik-baik pelayanan istri kamu ini," jawab Dara kembali tersenyum memberikan sepiring nasi kepada Erfan.
"Aku akan menikmatinya Sayang.." Ucap Erfan terkekeh mengambil alih piring dari tangan istrinya.
Dara segera mengisi satu piring lagi dengan nasi dan lauk untuk dirinya sendiri sebelum duduk di seberang Erfan.
Erfan makan dalam diam, menikmati setiap suap nasi yang masuk ke dalam mulutnya dengan raut wajahnya yang tenang.
"Bagaimana Mas Rasanya?" tanya Dara mencoba memulai percakapan.
"Enak Ra, kamu tambah pintar masaknya," ucap Erfan menatap sekilas Dara sebelum kembali menikmati makanannya.
Dara tersenyum mendengar pujian suaminya dan kembali menikmati makanannya.
"Mas..," panggil Dara mengaduk-aduk pelan makanan yang ada di piringnya.
__ADS_1
"Hemm?" jawab Erfan tanpa menoleh.
"Mengenai keinginan Kak Aditya.....Sepertinya masih masuk akal Mas, aku hanya perlu meluangkan waktuku untuk bermain sama Eliana." Ucap Dara pelan dan hati-hati, membuat Erfan menghentikan tangannya yang akan menyendok makanan yang ada di piringnya.
"Apa maksud kamu? apa kamu sudah punya keinginan untuk menjadi mamanya El?" tanya Erfan menatap Dara.
"Bukan seperti itu Mas, aku hanya ingin membantu Mas Erfan."
"Dengan menyakiti perasaanku saat mendengar Eliana memanggil kamu Mama dan di br*ngs*k itu Papa?"
Dara menghela nafas sebelum meminum segelas air yang ada di sampingnya. "Kita hanya perlu mengajari El untuk memanggilku Tante Mas, aku rasa itu cara agar bisa mengatasi kerugian perusahaan."
"Sudahlah Ra, aku nggak ingin berurusan lagi sama si Aditya, aku sudah bilang, kamu nggak perlu ikut memikirkan masalah perusahaan, itu tugasku, biar aku sendiri yang memikirkannya." Jawab Erfan mulai kesal.
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Mas Erfan lanjutkan makannya."
"Aku sudah kenyang, aku ke kamar dulu mau membahas pekerjaan sama Nathan." Ucap Erfan sebelum meletakkan sendok yang dipegangnya di atas piring dan berdiri untuk melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar.
Dara menghela nafasnya kembali menatap kepergian suaminya.
Drrrttttt drrrttttt ponsel Dara yang ada di atas meja makan bergetar, membuat Dara mengalihkan pandangannya dari Erfan.
"Mega." Gumam Dara lirih setelah mengambil ponselnya dan melihat nama si penelepon yang ada di layar ponselnya.
"Halo Meg," jawab Dara setelah menggeser warna hijau pada ponselnya.
"Halo Ra? maaf mengganggu kamu malam-malam begini," ucap Mega dengan suara paniknya.
"Ada apa Meg? kenapa suara kamu panik begitu?"
"Rumahku sama rumah Kak Aditya terlalu jauh Meg, kamu bawa Eliana pakai taksi aja."
"Disini sedang hujan Ra, aku nggak mungkin membawa Non El keluar untuk mencari taksi." ucap Mega lagi dalam kepanikannya.
"Panggil taksi online dong Mega...."
"Aku nggak tahu caranya Ra...."
"Aaaah.... dengus Dara kesal karena rasa paniknya.
"Kirimi aku alamat lengkap rumah Kak Aditya saja, aku pesankan taksi online dari sini, kamu siapkan saja keperluan El."
"Iya Ra," jawab Mega cepat.
"Jangan lupa kasih tahu aku nama sama alamat rumah sakitnya, kita bertemu disana.
"Iya Ra," jawab Mega lagi sebelum menutup panggilannya.
Dara segera berlari, menaiki anak tangga dengan panik sebelum masuk kedalam kamar...
"Maassssss," ucap Dara mengejutkan Erfan yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Nathan.
"Nanti aku telepon lagi Than," ucap Erfan mengakhiri panggilan teleponnya melihat bingung ke arah Dara yang sudah berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanya Erfan menegakkan duduknya.
__ADS_1
Dara mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan cepat, "El Mas...." Ucap Dara terpotong kembali berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karena berlari.
"El kenapa?" tanya Erfan santai tetap duduk di atas ranjang.
"El panas, muntah-muntah!"
"Trus kenapa? apa hubungannya sama kita? kan ada Bapaknya." Jawab Erfan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Kak Aditya nggak bisa di hubungi Mas..." ucap Dara duduk di ranjang di depan Erfan.
"Ayo lah Mas bantuin El....anterin aku ke rumah sakit." Ucap Dara lagi mencoba merayu.
"Apa dia nggak punya dokter pribadi? merasa bisa beli kamu kok nggak bisa bayar dokter pribadi."
"Aku nggak tahu Mas...aku nggak tanya Mega. Astagfirullah, aku lupa belum pesanin Mega taksi online." Ucap Dara segera menggeser-geser layar ponsel yang dipegangnya.
"Kamu tahu alamat lengkapnya?"
Dara menganggukkan kepalanya tetap fokus pada layar ponselnya.
"Kirim ke ponselku Ra," ucap Erfan sebelum menggeser geser layar ponselnya untuk mencari kontak Dokter Iwan.
"Halo Dok," ucap Erfan setelah sambungan teleponnya tersambung.
"Aku kirim alamat lengkap rumah temanku sekarang Dok, anaknya sedang sakit, tolong di periksa kondisinya.
"Terimakasih." Ucap Erfan mengakhiri panggilannya.
"Sudah kan?" ucap Erfan menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya sebelum menelepon Mega untuk memberitahukan perihal kedatangan dokter Iwan.
"Sama Sama Meg, nanti tolong kabari aku ya bagaimana keadaan Eliana." ucap Dara sebelum memutus panggilan teleponnya.
"Terimakasih Mas," ucap Dara menatap Erfan.
"Apa kamu sangat menyayangi El Ra?
Dara menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Apa Eliana nggak punya keluarga yang bisa dihubungi sampai menghubungi kamu?"
"Mitha dulu tinggal disini hanya sama neneknya, karena Ayah dan Ibu Mitha ada di Paris Mas."
"Keluarga Aditya?"
"Aku nggak tahu Mas,..."
Erfan terdiam sesaat sebelum berdiri dari ranjang, "Besok kamu bisa ajak Clara menjenguk Eliana." Ucap Erfan menyentuh puncak kepala istrinya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Terimakasih Mas..." Ucap Dara dengan seulas senyum di wajahnya menatap punggung Erfan hingga hilang di balik pintu kamar mandi.
___________________________
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....
__ADS_1
BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA**