
Eliana masih tertidur pulas di atas Ranjang, kesempatan bagus untuk Dara bisa pulang meninggalkan Eliana bersama Papa dan pengasuhnya.
Dara dan Erfan berjalan melewati lorong rumah sakit dengan banyak kamar rawat di sisi kanan dan kirinya.
"Mas, mumpung kita disini bagaimana kalau kita mampir ke poli kandungan?" ucap Dara tetap melangkah dengan tangan yang melingkar di lengan kanan suaminya.
"Sudah sore Ra, pasti sudah tutup, besok aja ya? kita ke Rumah Sakit terdekat dari rumah sebelum berangkat kerja."
Dara menganggukkan kepalanya pelan semakin mengeratkan gandengan tangannya di lengan Erfan, melangkah bersama keluar dari Rumah Sakit menuju parkiran mobil tempat mobil Erfan terparkir.
***
Keesokan harinya seperti janji Erfan kemarin, sebelum berangkat ke kantor, Dara dan Erfan mampir ke Rumah Sakit untuk melakukan konsultasi dengan dokter kandungan mengenai program hamil Dara.
Jam tangan Erfan sudah menunjuk ke angka delapan lebih lima belas menit, Erfan menggandeng tangan Dara masuk ke dalam loby rumah sakit sebelum melangkahkan kaki mereka menuju meja CS Rumah Sakit.
"Kenapa tangan kamu dingin sekali Ra?" tanya Erfan tetap berjalan.
"Takut Mas, takut sama hasilnya." jawab Dara menoleh menatap Erfan.
"Nggak ada yang perlu di takutkan Ra, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Erfan dengan seulas senyumnya semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Dara dan Erfan berjalan mendekati meja CS sebelum di arahkan oleh petugas CS untuk mengambil nomor antrian yang berada di mesin pojok kiri depan.
"Kamu tunggu disana ya? biar aku yang ambil nomor antriannya." ucap Erfan menunjuk dua kursi tunggu yang terlihat kosong.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum melangkahkan kakinya menuju kursi kosong, sedangkan Erfan melangkah ke arah berlawanan untuk mengambil nomor di mesin pengambilan nomor antrian dibantu dengan Security yang sedang berjaga.
"Ramai sekali," gumam Dara mengedarkan pandangannya melihat keadaan ruang tunggu yang terlihat ramai sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Erfan yang sedang berjalan mendekatinya sambil membawa kertas kecil yang berisi nomor antrian.
"Dapat nomor berapa Mas?" tanya Dara saat melihat Erfan akan duduk disebelahnya.
"Nomor 40 Ra."
"Masih nomor 20 Mas," ucap Dara menatap layar komputer yang menempel di dinding.
Setelah menunggu beberapa lama, terdengar suara panggilan untuk pasien nomor 40, Dara dan Erfan segera berjalan kembaki mendekati meja CS, mengisi formulir rumah sakit sebelum di arahkan untuk menunggu di depan poli Kandungan yang tempatnya tidak jauh dari tempat CS berada.
Dara dan Erfan kembali menunggu tepat di depan poli kandungan, sebelum terdengar suara wanita memanggilnya. "Ibu Adara jelita," panggil perawat yang bertugas di depan pintu poli.
Dara dan Erfan segera masuk ke dalam ruangan, melangkahkan kaki mereka untuk duduk di depan Dokter wanita paruh baya yang sudah menunggu mereka di kursi kebesarannya.
"Silahkan duduk, Bu, Pak," ucap dokter itu sopan mempersilahkan Dara dan Erfan agar duduk di kursi yang berada di seberangnya.
Dengan seulas senyum nya Dara menganggukkan kepala sebelum duduk di kursi di ikuti dengan Erfan yang akan duduk di sebelahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya dokter Mia manatap Dara dan Erfan bergantian.
Dara menceritakan perihal keinginannya yang ingin segera mempunyai momongan dan ingin melakukan program hamil.
"Sudah berapa tahun menikah Bu?"
"Baru tujuh bulan Bu," jawab Dara.
Tampak Dokter Mia menyunggingkan senyum ramahnya menatap Dara. "Masih pengantin baru Bu," ucap Dokter Mia.
"Coba kita USG dulu ya Bu?" ucap Dokter Mia sebelum berdiri dari duduknya dan mengarahkan Dara untuk berbaring di atas ranjang yang ada diruangannya.
__ADS_1
Dara menaikkan sedikit blouse yang dipakainya hingga memperlihatkan bagian perutnya.
"Silahkan turun Bu," ucap Dokter Mia setelah menyelesaikan tugas USGnya, kembali melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kebesarannya sambil membawa foto USG Dara yang baru saja dia ambil.
"Bagaimana Dok?" tanya Dara cemas setelah kembali duduk di sebelah Erfan.
"Kondisi rahimnya bagus kok Bu, nggak ada masalah," Jawab Dokter Mia memberikan foto USG yang dibawanya membuat Dara dan Erfan tersenyum lega.
"Saya resepkan vitamin ya?" ucap Dokter Mia sebelum menjelaskan tentang cara dan waktu berhubungan intim untuk membantu pasiennya agar cepat berhasil dalam programnya.
Dara dan Erfan terlihat fokus mendengarkan dan meresapi setiap kalimat yang keluar dari dokter Mia.
"Jangan setiap hari ya Pak berhubungan badannya," ucap Dokter Mia membuat Erfan menelan salivanya kasar.
"Kalau dalam satu bulan Bu Dara belum juga hamil, Bapak dan Ibu bisa kesini lagi." Ucap Dokter Mia lagi sambil memberikan resep vitamin kepada Dara.
"Iya Dok, terimakasih," ucap Dara mengambil alih Resep dari tangan Dokter Mia.
"Kami permisi ya Dok?" ucap Erfan sebelum berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Mia, di ikuti dengan Dara yang berjalan di belakangnya.
***
Di dalam mobil menuju ke kantor, Dara tampak semringah menyunggingkan senyum bahagianya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Erfan.
"Apa kamu senang sekarang Ra?" tanya Erfan melirik sekilas istrinya.
"Senang Mas, rasanya sangat lega sekali, aku bersyukur karena nggak ada masalah dengan rahimku."
"Makanya sayang, jangan terlalu berfikiran buruk dulu, belum juga melewati setahun pernikahan fikirannya sudah kemana-mana."
"Iya Mas, aku hanya khawatir," ucap Dara mendongakkan sedikit kepalanya menatap Erfan.
***
Erfan dan Dara berjalan beriringan memasuki lobi perusahaanya.
"Fan," terdengar suara Nathan memanggilnya membuat Erfan dan Dara menoleh kompak ke arah sumber suara.
Terlihat Nathan sedang duduk bersama Aditya di sofa lobi yang berada di sisi barat lobi.
"Aku masuk dulu ya Mas?" ucap Dara yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Erfan.
Dara melangkangkahkan kaki masuk kedalam kantor, sedangkan Erfan melangkahkan kakinya menghampiri Nathan dan Aditya.
"Kenapa kalian disini?" tanya Erfan setelah duduk di depan Nathan dan Aditya.
"Aku tadi nggak sengaja bertemu Pak Aditya disini, Pak Aditya ingin bertemu kamu." jawab Nathan.
"Ada apa?" tanya Erfan mengalihkan pandangannya menatap Aditya.
"Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan sama kamu,"
"Ayo, ke ruanganku saja," ucap Erfan berdiri dari duduknya diikuti dengan Nathan dan Aditya, kemudian berjalan bersama memasuki kantor menuju ruangan Erfan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Erfan setelah duduk di kursi kebesarannya menatap Aditya yang sudah duduk di depannya bersebelahan dengan Nathan.
"Mau nawarin tanah sama kamu, seperti ucapanku kemarin, aku menjualnya setengah dari harga aku beli." Jawab Aditya meletakkan sertifikat tanahnya di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa? apa ada syarat lain di balik sertifikat ini?" tanya Erfan menyelidik menatap sekilas sertifikat sebelum menatap kembali Aditya.
"Bukankah kamu kemarin bilang lebih membutuhkannya? aku hanya sedang berbaik hati memberikannya ke kamu," jawab Aditya datar sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
.
"Kapan rencana proses pembongkaran bangunannya Than?"
"Besok Fan."
"Oke batalkan semuanya Than, perusahaan kita dapat rejeki nomplok hari ini," ucap Erfan mengambil sertifikat tanah sebelum diangkat untuk ditunjukkan kepada Nathan.
Nathan menyunggingkan senyum leganya sebelum menoleh menatap Aditya. "Terima kasih Pak," ucap Nathan mengulurkan tangannya menjabat Aditya.
Aditya balas menjabat uluran tangan Nathan sebelum mengalihkan pandangannya menatap Erfan. "Kamu nggak ingin berterima kasih denganku Fan?" tanya Aditya melepaskan jabatan tangannya.
"Apa itu perlu?"
"Aku nggak jadi kasih kamu setengah harga, aku naikin harganya jadi 70% dari harga normal." ucap Aditya menatap Erfan.
"Oke terimakasih," ucap Erfan cepat membuat Nathan terkekeh.
***
Sementara itu di depan ruangan Erfan terlihat Dara sedang bekerja sendiri, tanpa Cindy yang menemani.
"Kemana ya Cindy?" gumam Dara menatap kursi kosong di sebelahnya sebelum mengalihkan pandangannya untuk melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Jam sebelas," gumam Dara segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja, sebelum menggeser geser layarnya untuk mencari kontak Cindi.
Dara mencoba menghubungi Cindy, baru Tut ke tiga terdengar suara Cindy yang sudah mengangkat panggilannya.
"Halo Cin, kamu dimana? apa hari ini kamu cuti?"
"Nggak Ra, aku ada keperluan sebentar di luar, tadi aku sempat ke kantor dulu sebelum keluar, maaf ya aku lupa nggak kasih tahu kamu."
"Iya, aku juga baru datang, apa kamu masih lama?"
"Sebentar lagi balik kantor aku Ra,"
"Oke Cin, hati-hati ya?" Jawab Dara sebelum mematikan Sambungan teleponya.
Sementara itu di kafe tempat Cindy berada.
"Apa itu Dara?" tanya Rania menatap Cindy yang sedang duduk di depannya.
Cindy mengangkat kedua alisnya sebelum meletakkan ponselnya di atas meja, menyeruput jeruk hangat pesanannya sambil menatap Rania yang tersenyum sinis menatapnya.
"Apa dia cerita ke kamu bagaimana hasil program dia ke dokter?" tanya Rania antusias.
Cindy menggelengkan kepalanya pelan menciptakan raut wajah kecewa Rania, "Aku harus lebih mendekati Dara lagi agar dia bisa nyaman cerita ke aku."
"Aku berharap banyak sama kamu Cin, aku sangat berharap dia nggak bisa hamil, jadi ada kesempatan buatku untuk merebut Erfan dari dia."
"Aku juga ingin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang kamu cintai Ran, aku sangat ingin melihat kamu bahagia, sama seperti kamu yang sudah berusaha membuatku bahagia dengan membantuku membiayai biaya kuliahku dulu, menemani ku disetiap masa sulitku dulu, jadi aku juga akan menemani kamu di setiap langkah kamu untuk memperjuangkan Pak Erfan." Ucap Cindy dengan seulas senyum nya menatap Rania.
Bersambung.
__ADS_1
_______________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.