Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 6. Makan Malam


__ADS_3

Suara Erfan


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, aku siap- siap menjemput Dara untuk makan malam dirumah. Sebenarnya aku malas ketemu dia apalagi harus jauh jauh datang kerumahnya, tapi apalah dayaku jika itu sudah menjadi perintah papa.


Tepat pukul enam sore aku sampai di rumahnya, kubunyikan bel yang ada di tembok sebelah pagar besi yang ada di depan rumah, hanya beberapa menit menunggu terlihat Bu Selfi, calon mertuaku keluar dari dalam rumah dengan seulas senyum semringah yang tersungging dibibirnya.


"Silahkan masuk Nak," ucap Bu selfi setelah membuka pintu pagar.


"Terimakasih Tante," ucapku setelah mencium tangan calon mertuaku.


Aku melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, mengikuti langkah Tante Selfi yang berjalan didepanku.


“Tante aku belum sholat Maghrib, bisakah aku numpang sholat disini?“ tanyaku setelah memasuki ruang tamu.


“Oh silahkan Nak,ayo Tante antar,“ jawab Tante Selfi mempersilahkan.


Aku kembali melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi, kembali mengikuti langkah tante Selfi yang sedang mengarahkanku.


"Kamar mandinya disini, kalau mau sholat, musholahnya ada di sana." Ucap Tante Selfi menunjuk tempat musholah yang ada di samping dapur rumahnya.


"Terimakasih Tante," ucapku sebelum masuk kedalam kamar mandi.


Lima belas menit berlalu. Setelah selesai melaksanakan sholat ku, aku segera melangkahkan kakiku menuju ruang tamu, terlihat Dara sudah duduk di atas sofa, terlihat fokus memainkan ponselnya.


“Ayo“ ajakku singkat.


Setelah pamit dengan tante Selfi, aku dan Dara segera pergi keluar rumah, melangkahkan kaki kami menuju mobil yang sudah terparkir didepan dinding pagar rumahnya.


Dara duduk di bangku depan tepat di sebelahku, kami hanya diam, tidak ada suara kecuali suara dari radio mobil.


Ciiiiiiiiiitttttt  mobil tiba-tiba berhenti saat aku menginjak rem mobilku dengan kuat.

__ADS_1


“Astaghfirullah“ Dara berteriak kaget.


“Auu...,“ pekikku  menyentuh dahi yang kepentok stir mobil.


“Ada apa?” Tanya Dara bingung setelah aksi rem mendadakku.


“Dasar kucing s*alan,“ gumamku tanpa menjawab Dara


“Kamu nggak papa?” tanya Dara ketika melihat aku meringis menahan sakit.


“Tunggu,“ lanjutnya menatap, aku segera menepis tangannya ketika tangan itu hendak menyentuhku.


“Hei tunggu sebentar,“ katanya penuh penekanan tak menghiraukan tepisan tanganku.


“Dahimu memar Mas.“


Aku kembali menjalankan mobil tanpa menghiraukannya.


Suara author


Ketika melihat mobil Erfan datang, satpam yang menjaga di kediaman Pak Subrata segera  berlari untuk membuka pintu gerbang yang ada di depan rumah. Mobil Erfan melaju pelan mendekati rumah yang sangat besar berlantai dua dengan perpaduan warna putih dan gold.


"Turun," ucap Erfan datar setelah memarkirkan mobilnya.


Dara segera turun mengikuti Erfan, dia melihat sekeliling rumah dan merasa takjub dengan suasana rumah besar calon mertuanya, terutama ketika manik matanya tertuju pada sebuah taman mini yang ada di tengah halaman rumah. Disana dia bisa melihat kolam ikan yang dilengkapi dengan air mancur, dan dikelilingi oleh macam macam bunga termasuk bunga mawar kesukaanya.


"Kenapa? belum pernah melihat rumah besar ya?" ucap Erfan sinis sebelum melangkah masuk kedalam rumah.


"Cih, sombong amat kamu Bang, Bang somay," ucap Dara ikut melangkah masuk.


Langkah Erfan terhenti ketika melihat papanya keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum calon mantu,” ucap Pak Subrata senang.


“Waalaikum salam Om,“ jawab Dara dengan seulas senyumnya mendekati Pak Subrata sebelum mencium tangan calon mertuanya.


“Ayo masuk,“  ajak Pak Subrata kepada Dara, seakan lupa  kalau ada Erfan yang tengah berdiri disebelahnya. Erfan menghembuskan nafasnya kasar sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mengikuti langkah


Dara dan papanya.


Mereka makan bertiga di meja makan, Erfan memakan makanannya dengan cepat.


“Aku masuk dulu Pa,“ ucap Erfan setelah menghabiskan makanannya.


“Kok masuk? kan lagi ada Dara.“


“Mau ambil es batu dulu Pa buat ngompres ini,“ jawab Erfan menunjukkan dahinya yang memar.


“Lho kenapa dahimu itu?” Tanya Pak Subrata sambil berdiri menghampiri Erfan. Dilihatnya dalam- dalam memar yang ada di dahi anaknya.


“Tadi tiba-tiba ada kucing lewat Pa, aku kaget dan mengerem mendadak, kepentok deh kepalaku.” Jawab Erfan menjelaskan. “Nggak papa kok Pa ini hanya sedikit memar,“ lanjut Erfan sebelum masuk kedalam rumah.


Dara hanya duduk diam memperhatikan interaksi hangat anak dan papanya.


“Gimana Dara enak makanannya?” tanya Pak Subrata setelah mengalihkan pandangannya menatap Dara.


“Enak om, Dara suka,“ jawab Dara tersenyum menatap Pak Subrata yang sudah duduk kembali dikursinya.


“Alhamdulillah kalau kamu suka, lebih baik sekarang kamu masuk susulin Erfan." lanjut Pak Subrata lagi.


“Mati aku, kenapa aku disuruh masuk sih Om, mending aku disini Om daripada ketemu sama si Muka Es itu,“ guman Dara dalam hati.


“Iya om,” jawab Dara terpaksa segera berdiri dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


_____________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2