Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 107. Amri Si Jagoan Kecil


__ADS_3

Dara dan Erfan makan dalam diam, saling melempar pandang menikmati tiap potong steik yang terasa nikmat di mulut mereka.


"Apa aku tampan Ra? kenapa kamu terus melihatku seperti itu?" goda Erfan di sela-sela kunyahannya, membuat Dara semakin tersipu menahan senyum yang tak bisa di hentikannya.


Erfan tetap menikmati makanannya, tepatnya menikmati wajah merona istrinya yang semakin membuatnya terpesona.


"Aku sudah minta Nathan untuk mencarikan ku Sekretaris baru! jadi kamu bisa istirahat dirumah."


"Mas Erfan memecatku?"


"Aku nggak mungkin berani memecatmu Ra! aku hanya menyuruhmu istirahat!"


"Aku akan bosan Mas di rumah terus." Jawab Dara dengan wajah memelasnya.


"Kamu bisa sesekali datang ke kantor Ra!" jawab Erfan yang hanya di jawab dengan anggukan kepala Dara.


"Kamu ingin melakukan apa?" tanya Erfan setelah menenggak sedikit minumannya.


Dara tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan suaminya, "Aku ingin nonton film horor!"


"Kasihan anak kita Ra, kalau di dalam perut ketakutan gimana?" jawab Erfan membuat Dara terkekeh.


"Masak ya ketakutan Mas...biar anak kita nggak penakut kayak Papanya," jawab Dara semakin tertawa.


"Anak kita tahu kalau Papanya ini pemberani!"


Dara hanya menganggukkan kepala di sela-sela tawanya, kembali menyuapkan sepotong steik lagi ke dalam mulutnya.


"Besok aku akan buatkan bioskop mini di rumah, jadi kamu bisa melihat film horor kapanpun kamu mau!"


"Apa kamu juga ingin sekalian mensetting ruangannya seperti kuburan Ra?" goda Erfan menatap istrinya.


"Mas Erfan berani?" goda balik Dara, membuat Erfan tertawa kikuk.


"Aku sudah bilang Ra, suamimu ini pemberani, nggak takut apapun, aku hanya takut kehilangan kamu!" jawab Erfan asal menciptakan tawa istrinya.


Mereka kembali melanjutkan makan malam romantisnya, mengobrol bersama saling goda hingga tertawa bersama, untuk melupakan semua masalah yang pernah menghampiri, menggantinya dengan kebahagian yang membuat hati mereka berdua berbunga.


***


Delapan Bulan kemudian Perut rata Dara sudah membesar, Dara hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah, menonton film horor kesukaannya atau film romantis dan komedi bergantian di bioskop mini yang sudah di sediakan suaminya.


Erfan juga sudah memperkerjakan asisten rumah tangga di rumahnya, agar istrinya tidak terlalu lelah dalam mengurus keperluan rumahnya.


Wanita pengganggu rumah tangga mereka pun sudah tak ada, karena Rania meninggal ditempat dalam kecelakaan saat dirinya melarikan diri dari kejaran polisi.


Hari ini hari Senin, Jam dinding kamar Dara sudah menunjuk ke angka sembilan pagi, terlihat Dara masih berbaring di atas ranjang di temani Erfan yang sedang duduk di sebelahnya memangku laptop untuk mengecek laporan yang dikirim Secretarisnya lewat email.


"Mas Erfan nggak papa nggak ke kantor hari ini?" tanya Dara mengalihkan pandangan Erfan ke arahnya.


"Nggak papa Sayang!" jawab Erfan sebelum mengalihkan pandanganya ke arah pintu kamarnya yang terketuk.


"Sebentar ya?" ucap Erfan meletakkan laptopnya di atas ranjang dan segera turun dari ranjang untuk membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Bi?" tanya Erfan kepada Asisten rumah tangganya yang sudah berdiri di balik pintu.


"Ada tamu untuk untuk Nyonya Dara Tuan,"

__ADS_1


"Siapa?"


"Namanya Dewa!" jawab Art. membuat Erfan mengernyitkam dahinya.


"Ya sudah suruh tunggu ya? dan tolong buatin minum untuk dia!"


"Baik Tuan," jawab art. sopan sebelum berbalik dan melangkah untuk menuruni anak tangga.


"Ada apa Mas?" tanya Dara berusaha untuk bangun, menatap Erfan yang sedang menutup pintu sebelum melangkah mendekatinya.


"Ada Dewa di bawah, ingin ketemu kamu,"


"Dewa?" ucap Dara lirih sebelum turun dari ranjang, melangkahkan kakinya keluar kamar di ikuti dengan Erfan di belakangnya.


"Aku sudah bilang Ra, kita pindah aja di kamar bawah, biar kamu nggak capek naik turun tangga seperti ini," ucap Erfan membantu istrinya menuruni anak tangga.


"Aku sudah terlanjur nyaman di kamar kita Mas," Jawab Dara yang hanya di jawab dengan helaan nafas suaminya.


Dara menyunggingkan senyum termanisnya saat beradu pandang dengan Dewa yang sedang duduk menunggunya di ruang tamu.


"Ada apa Wa?" tanya Dara sebelum duduk di sofa seberang Dewa, diikuti Erfan yang duduk di sebelahnya.


"Sudah berapa bulan kandunganmu? tanya Dewa.


"Sembilan bulan lebih lima hari, tinggal menunggu harinya saja," jawab Dara tersenyum tipis menatap Dewa.


Dewa menganggukkan kepala sebelum mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.


"Ini undangan pernikahanku, aku akan menikah bulan depan," ucap Dewa meletakkan undangan pernikahannya di atas meja.


Dara terdiam sesaat melihat undangan yang ada di depannya, sebelum menyunggingkan senyumnya berusaha meraih undangannya.


Erfan terkekeh segera mengambil undangan untuk di berikan kepada istrinya.


Belum sempat Dara mengambil alih undangannya tiba-tiba..."Ahhhhh...," rintih Dara menyentuh perutnya.


"Kenapa Ra?" tanya Erfan terkejut ikut menyentuh perut istrinya.


"Perutku sakit Mas...," ucap Dara mencengkeram lengan suaminya, membuat Erfan dan Dewa panik.


Dewa segera berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Dara dari sisi seberang Erfan.


"Ngapain kamu pegang-pegang istriku?" sentak Erfan panik kepada Dewa yang hendak membantu Dara.


"Aku bantuin kamu ini!" sentak balik Dewa ikut panik menatap Erfan.


"Sudah nggak sakit Mas..." ucap Dara lagi membuat Erfan dan Dewa saling pandang.


Dewa segera duduk di samping Dara.


"Ngapain kamu duduk disitu?" ucap Erfan membuat Dewa menghela nafas hendak berdiri dari duduknya.


"Ahhhh," Dara kembali merintih memegang perutnya yang kembali mulas dan kram.


"Sakit lagi Mas....!" ucap Dara reflek mencengkeram tangan Dewa yang menggantung di sebelahnya.


"Pegang tanganku Ra! kenapa kamu pegang-pegang tangannya Dia?" Protes Erfan melihat genggaman tangan istrinya dan Dewa.

__ADS_1


"Astaga Fan....Erfan Pratama...ini bukan waktunya kamu cemburu!" protes Dewa kesal balas menggenggam tangan Dara.


Dara menghela nafasnya saat kehilangan rasa sakit di perutnya lagi, membuat Dewa dan Erfan bingung menatapnya.


"Hilang ya sakitnya?" tanya Erfan yang hanya di jawab dengan anggukan kepala istrinya.


"Kita kerumah sakit sekarang ya?" ucap Erfan lagi membantu istrinya berdiri.


"Pakai mobilku saja," ucap Dewa segera melangkah untuk membuka pintu utama, membiarkan Erfan dan Dara keluar duluan sebelum menutup kembali pintunya.


***


Dara sudah berada di dalam ruang bersalin di temani dengan Erfan di dalamnya, sedangkan Dewa sudah pergi meninggalkan rumah sakit sejak Dara memasuki ruangan bersalinnya.


Dua jam berlalu, tak membutuhkan waktu yang lama untuk Dara menahan rasa sakit akibat kontraksinya, hanya mengejan tiga kali Dara sudah bisa mendengar suara tangisan bayi yang menggema memenuhi seluruh ruangan.


"Selamat Pak, Bu anaknya laki-laki.


Dara menangis, mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal menatap buah hatinya yang sedang berada di gendongan Dokter Nisa.


"Selamat Sayang...kamu wanita yang luar biasa8," ucap Erfan mengecup lembut kening istrinya.


"Saya bersihkan dulu ya bayinya," ucap Dokter lagi membuat Erfan dan Dara mengalihkan pandangan dan menganggukkan kepala kompak menatapnya.


Erfan memeluk Erfat istrinya yang terlihat lelah, meneteskan air mata bahagia nya sebelum mencium lembut tangan istrinya.


"Kamu ingin kasih nama siapa Ra jagoan kita?" tanya Erfan membelai lembut pipi istrinya.


"Amri Nufail Pratama Mas," jawab Dara.


"Apa boleh Mas?" tanya Dara kepada Erfan yang dijawab dengan anggukan kepala suaminya.


"Bagus! artinya Apa Ra?"


"Amri artinya kekasih Mas, dan Nufail artinya hadiah, dia jagoan kecil kita, kekasih hati kita yang diberikan Tuhan sebagai hadiah atas perjuangan kita." Jawab Dara dengan tangis bahagianya menatap Erfan.


Erfan tersenyum kembali mengecup kening istrinya sebelum mengalihkan pandangannya kepada dokter Nisa yang sedang menggendong Amri menghampirinya.


"Di adzanin dulu Pak anaknya." ucap Dokter Nisa memberikan Amri kepada Erfan.


Dengan tangannya yang masih kaku, Erfan berusaha menggendong anaknya dengan baik, dan segera mengarahkan bibirnya ke depan telinga mungil Amri.


Mengumandangkan adzan pelan di telinga anaknya membuat hatinya bergetar kembali menitikan air matanya.


TAMAT


__________________________


Terimakasih untuk semua pembaca setia Kisah Kasih Dara.


Terimakasih karena telah sudi mampir ke dalam novel pertama saya yang masih acak kadut ini.


Jangan lupa untuk mampir ke karya saya yang kedua ya? yang berjudul AIR MATA PERNIKAHAN SIRI.


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN FAVORIT YA....


dan juga kalau ada lebihan POIN jangan lupa bayar Author dengan itu, sebagai bentuk dukungan kepada KISAH KASIH DARA.

__ADS_1


TERIMAKASIH


KAMSAHAMNIDA.


__ADS_2