
"Gila kamu Siska, habis kamu sekarang, apa kamu tau siapa Dara? ", Ucap Clara marah menatap tajam Siska.
" Apa maksud Mbak Clara?" tanya Siska bingung.
Clara segera menggeser layar ponsel yang dari tadi di pegangnya, tanpa keinginan untuk menjawab pertanyan dari Siska, mencari nama Kak Erfan yang ada di dalam kontak, sebelum menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
" Halo Pak Erfan." Ucap Clara menatap Siska, membuat nyali Siska yang tadinya membara menjadi menciut.
" Lebih baik Pak Erfan sekarang ke pantry , karena istri Pak Erfan sedang di bully di sini." Ucap Clara lagi sebelum mematikan sambungan teleponnya.
" Istri?" Ucap lirih Siska dan Sinta terkejut begitupun dengan karyawan lainnya.
" Iya, apa kamu terkejut ? beraninya kamu menyiram nyonya Erfan Pratama dengan air panas. Sebentar lagi Pak Erfan akan kesini, persiapkan diri kamu dengan baik Siska." Ucap Clara tajam menatap Siska.
Siska semakin menciut, tubuhnya gemetar dengan detak jantungnya yang berdetak semakin tak terkendali,menyesali perbuatan bodoh yang baru saja dia lakukan.
" Minggir," ucap Erfan membubarkan kerumunan karyawan yang ada di pantry.
Semua karyawan yang ada di pantry menoleh sebelum mundur beberapa langkah dan memberikan jalan untuk Erfan.
" Kenapa tangan kamu?" Ucap Erfan panik setelah melihat tangan Dara yang memerah.
" Saya nggak papa Pak ," Ucap Dara berusaha menenangkan suaminya.
" Siapa yang melakukan ini Cla?" tanya Erfan mengalihkan pandangannya menatap Clara.
" Maafkan saya Pak." Ucap Siska menunduk.
"Kamu?" Ucap Erfan lagi mengalihkan pandangannya ke arah Siska.
" Apa yang kamu lakukan sama Istriku?" Sentak Erfan marah.
Siska hanya diam menunduk tak berani menjawab, matanya sudah memerah menahan tangis karena kemarahan Erfan.
" Dia sengaja menyenggol Dara saat Dara membawa air panas Pak, karena dia nggak suka melihat kebersamaan Pak Erfan sama Dara tadi pagi." Ucap Clara menjelaskan.
" Astaga...Kenapa banyak sekali wanita gila didunia ini," ucap Erfan kesal berusaha menahan emosi.
" Hari ini hari terakhir kamu kerja disini, kamu aku pecat." Ucap Erfan tegas penuh penekanan menatap Siska.
" Saya minta maaf Pak, saya mohon jangan pecat saya." Ucap Siska memelas menatap Erfan, air mata yang dari tadi di tahannya kini sudah mengalir deras membasahi pipinya.
" Saya minta maaf Bu Dara, saya janji nggak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi, tolong jangan pecat saya."
"Cih, panggil Ibu, nggak ingat tadi saat memaki, dasar wanita barbar." Gerutu Sinta lirih tapi masih terdengar di telinga Erfan,Dara, Clara, dan Siska.
" Ayo Ra, tanganmu harus segera diobati," Ucap Erfan menggandeng tangan Dara sebelum menariknya keluar dari pantry, diikuti dengan Clara dan Sinta yang berjalan di belakangnya.
" Kamu duduk dulu disini, aku ambil obat sebentar ya? ." Ucap Erfan membantu Dara duduk di sofa ruang kerjanya.
Erfan segera mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci mejanya, dan berjalan kembali menghampiri Dara.
" Sini tangannya." Ucap Erfan lembut setelah duduk di sebelah Dara dan mengambil salep luka bakar yang ada didalam kotak.
Dara mengulurkan tangan kanannya yang memerah. "Mas,"
" Hemm," jawab Erfan sambil mengoleskan salep.
__ADS_1
" Aku rasa memecat Siska itu tindakan yang berlebihan Mas."
Erfan menghentikan aktifitasnya sebelum menegakkan kepalanya menatap Dara." Kenapa berlebihan?, kamu lihat sendiri tangan kamu sekarang, aku nggak ingin mempekerjakan wanita barbar di Perusahaanku." Ucap Erfan sebelum mengoleskan kembali salep di tangan istrinya.
" Iya aku tahu dia barbar, tapi apa nggak sebaiknya Mas Erfan kasih dia kesempatan, mungkin dia akan berubah."
Erfan menggelengkan kepalanya, sebelum meletakkan kembali salep kedalam tempatnya." Dia pasti berubah karena dia tau kamu istriku, dia akan meminta maaf dan mulai menghormati kamu, tapi bagaimana dengan karakter barbarnya? aku nggak yakin dia bisa berubah, kalau dia orang baik dia nggak akan pernah tega menyakiti orang Ra." Ucap Erfan menatap Dara.
Dara terdiam menatap suaminya.
" Aku punya alasan kuat untuk memecatnya , selain aku nggak terima dengan perlakuannya ke kamu, aku juga nggak ingin mempekerjakan wanita gila di Perusahaan ini. " Ucap Erfan sambil menyibakkan lembut anak rambut Dara ke belakang telinga.
" Sudah, jangan terlalu difikirkan, Ini permasalahanku, biar aku yang mengatasinya, tugasmu hanya memikirkan aku, oke?" Ucap Erfan tersenyum sebelum merengkuh bahu Dara dan membawanya ke dalam pelukannya.
***
" Ayo pulang Ra," ucap Erfan setelah berada di samping meja Dara, lengkap dengan tas yang sudah di cangklong di lengan kirinya.
" Sudah waktunya pulang ya?" ucap Dara sambil melihat jam tangannya.
" Sudah jam lima ternyata." Gumam Dara lirih.
" Sebentar Pak, " Ucap Dara berdiri sebelum merapikan meja kerjanya, mematikan komputernya dan menumpuk kembali berkas dengan rapi di atas meja.
" Jangan panggil Pak dong sayang ," protes Erfan.
" Kan lagi dikantor Mas."
" Ya kan lagi nggak ada orang Ra, kalau didepan karyawan atau klien baru kamu panggil suamimu ini Pak.
"Ayo." ucap Erfan sambil menggandeng tangan Dara.
***
Erfan dan Dara sudah berada didalam mobil untuk perjalanan pulang.
" Jam berapa besok acara ulang tahun Perusahaan Papa Rania Mas? " Tanya Dara manatap suaminya.
" Undangannya sih jam 10 pagi Ra, di hotel tempat Sarah dulu menikah." Jawab Erfan tetap fokus pada setirnya.
Dara terdiam, fikirannya mengingat kembali hotel tempatnya putus dengan Dewa.
"Kenapa Ra?" tanya Erfan saat melihat istrinya melamun.
" Nggak papa Mas, siapa saja yang kesana? hanya kita? " tanya Dara berusaha mengalihkan fikirannya dari Dewa.
" Clara sama Nathan juga ikut."
Dara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.
***
Hari ulang tahun Perusahaan Pak Setya.
"Masih lama ya Ra dandannya?" ucap Erfan duduk di tepi ranjang sudah siap dengan setelan jas lengkapnya.
"Sebentar dong Mas, ini masih pakai eyeshadow.
__ADS_1
"Astaga Dara.., sudah jam setengah sepuluh kurang lo ini, belum perjalanannya, bisa telat kita nanti."
"Iya iya Mas, ini sudah aku cepetin, lagian enak kan telat sampai sana langsung makan." Ucap Dara sambil memoles blush on dipipinya.
"Aku yang akan makan kamu disana nanti." Ucap Erfan menahan kesal sambil melihat jam tangannya.
"Sudah belum Ra?" tanya Erfan lagi tidak sabar.
"Astaghfirullah Mas..sabar dong, ini masih pakai maskara." Jawab Dara sambil menyapukan maskara ke bulu matanya yang lentik.
"Tuh kan maskaranya berantakan! Mas Erfan sih berisik dari tadi." Omel Dara sambil berusaha merapikan maskaranya.
Erfan menghela nafas pelan. "Aku lagi kan yang salah." ucap Erfan lirih.
Erfan memilih diam, menunggu istrinya sambil memainkan game yang ada didalam ponselnya.
"Mas..." Panggil Dara menghampiri Erfan.
"Sudah?" tanya Erfan menatap Dara.
Dara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku pakai baju apa? aku kan nggak punya baju pesta disini."
"Astaghfirullah... kita lupa belum belanja baju kamu ya? hahaha." Ucap Erfan tertawa.
"Kamu pakai baju ini aja dulu, kita nanti mampir ke butik langgananku sebelum berangkat ke hotel.
Dara menganggukkan kepalanya sebelum mengambil jaket biru mudanya yang ada di ruang ganti, setelah itu melangkahkan kakinya keluar kamar diikuti dengan Erfan dibelakangnya.
"Lo Ra, katanya mau ke pesta? kok bajunya begini?" Tegur Pak Subrata saat Erfan dan Dara ingin pamit.
"Dara nggak punya baju pesta Pa, ini mau beli sekalian jalan." Jawab Erfan membuat pak Subrata terkekeh.
"Kamu ini gimana Fan, ngakunya kaya tapi beliin baju istri aja nggak bisa." Ejek Pak Subrata membuat Dara menahan tawa.
"Bukan nggak bisa Pa, tapi belum beli," ucap Erfan penuh penekanan.
"Iya iya hati-hati ya kalian." Ucap Pak Subrata lagi menahan tawanya.
Erfan dan Dara bergantian mencium tangan Pak Subrata sebelum melangkahkan kakinya keluar rumah. Menaiki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Pak Subrata.
Seperti ucapan Erfan, sebelum berangkat ke hotel Erfan dan Dara mampir ke butik langganan Erfan.
Dara memilih baju yang ingin dipakainya, dan pilihannya jatuh kepada dress panjang lengan pendek full brokat yang berwarna kuning gold dengan model yang simple namun tetap terlihat elegan.
"Bungkusin dua puluh dress yang paling bagus ya." Ucap Erfan kepada karyawan butik.
Sekitar sepuluh menit waktu yang dibutuhkan Dara untuk memilih dan mengganti pakaiannya.
"Sudah?" tanya Erfan saat Dara datang menghampirinya.
"Sudah Mas , Astaghfirullah....Mas Erfan mau jualan?, beli baju segini banyaknya." Ucap Dara saat melihat banyaknya paper bag yang ada didekat Erfan.
"Biar nggak diejek Papa." Ucap Erfan tertawa.
______________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up
__ADS_1