Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 70. Syukuran Rumah 2


__ADS_3

Cahaya matahari sudah semakin terik, jam dinding diruang tamu pun sudah menunjuk ke angka sepuluh, waktunya acara syukuran rumah baru Dara dan Erfan untuk segera dimulai.


Pembacaan ayat suci Alquran dihentikan, digantikan dengan pembawa acara yang sudah bersiap untuk memimpin jalannya acara dari pembukaan hingga penutupan.


Tiga puluh menit sudah pembawa acara melakukan tugasnya.


"Baiklah para tamu yang kami hormati, semoga para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh keluarga besar Bapak Erfan Pratama, dan sekali lagi saya selaku pembawa acara mewakili keluarga Bapak Erfan Pratama mengucapkan banyak terima kasih kepada para tamu yang sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara ini." Ucap pembawa acara sebelum mengakhiri acaranya.


"Ayo silahkan dinikmati makanannya." Ucap Bu Selfi berdiri dari duduknya, mempersilahkan dengan sopan semua tamu agar berdiri dan berjalan mendekati meja panjang tempat semua makanan yang sudah disiapkan.


"Mas Erfan mau makan apa?" tanya Dara dengan suara pelan menatap Erfan yang sedang duduk bersila di sampingnya.


'Kamu temenin tamu-tamu aja Ra, nanti aku bisa ambil sendiri."


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Mama Eri yang masih duduk dan terlihat fokus dengan ponselnya, "Mama nggak makan?" tanya Dara menatap Mama Eri.


"Iya Ra ini mau berdiri." Ucap Mama Eri dengan seulas senyum nya sebelum meletakkan ponsel ke dalam tas jinjingnya.


Dara segera berdiri setelah memastikan Mama Eri sudah berdiri untuk mengambil makanan.


Kamu nggak makan Ra? tanya Clara yang sudah membawa semangkuk bakso di tangannya, menghentikan langkah Dara yang ingin pergi ke teras.


"Kamu makan dulu aja Cla, Aku mau mempersilahkan tamu yang ada di luar untuk makan." jawab Dara.


Clara menganggukkan kepalanya pelan sebelum melangkahkan kakinya untuk mencari tempat duduk, sedangkan Dara berjalan keluar menuju teras rumah.


"Kemana Ra?" tanya Pak Subrata saat melihat Dara akan keluar dari pintu utama.


"Mau mempersilahkan masuk tamu yang ada di depan Pa." jawab Dara menatap mertuanya yang akan masuk ke dalam rumah.


"Sudah enggak ada tamu di luar Ra, sudah masuk semua ambil makanan."


Dara menganggukkan kepala tanda mengerti sebelum membalikkan badannya masuk lagi ke dalam rumah.


"Tapi ada satu tamu di luar yang nggak mau masuk." Ucap Pak Subrata lagi menghentikan langkah Dara.


"Laki-laki, mungkin teman kamu," lanjut Pak Subrata sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Karena rasa penasarannya Dara melanjutkan langkahnya keluar untuk melihat tamu yang dimaksud papa mertuanya. "Dewa," ucap Dara lirih saat melihat kearah laki-laki yang sedang duduk sendiri sambil memainkan ponselnya.


Dara kembali melangkahkan kakinya hendak menghampiri Dewa, baru selangkah kakinya melangkah, Dara sudah menghentikan langkahnya saat mengingat kecemburuan suaminya.


"Jangan buat masalah Ra," gumam Dara sebelum melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam rumah, mengurungkan niatnya yang akan menghampiri mantan kekasihnya.


Sementara itu Rania yang sedang menikmati makanannya di antara tamu yang lainnya terlihat fokus memperhatikan sikap Dara yang terlihat ragu dengan langkahnya.


"Kenapa dia?" gumam Rania sebelum berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya Ke arah pintu utama.


Senyum sinis seakan mengejek tiba-tiba tersungging di bibir Rania, saat pandangannya melihat ke arah Dewa yang sedang duduk sendiri diteras rumah. "Ternyata ada mantannya di sini," ucapnya mengalihkan pandangannya ke arah Dara yang sudah mengobrol bersama salah satu tamunya.


"Hai," sapa Rania setelah berdiri di depan Dewa, membuat Dewa mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat wanita yang menyapanya.


"Cih," dengus Rania saat Dewa mengacuhkannya, hanya melihat Rania sekilas sebelum menundukkan kepalanya lagi melanjutkan permainan game onlinenya

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak menghubungiku?" tanya Rania masih berdiri didepan Dewa.


"aku nggak mengenal kamu jadi nggak ada alasan buatku untuk menghubungimu." jawab Dewa datar tetap fokus pada ponselnya.


Seakan tidak mau menyerah, Rania segera melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kosong sebelah Dewa. "Apa kamu menyerah?"


Dewa masih diam tak memperdulikan.


"Hei!" sentak Rania mulai kesal, membuat Dewa menutup cepat telinganya.


"Apa kamu bisa menurunkan sedikit suaramu? aku nggak budek." protes Dewa kesal menoleh menatap Rania.


"Kamu memang nggak budek tapi b*go, karena mengacuhkan orang yang ingin membantu kamu untuk memperjuangkan wanita yang kamu cintai." ucap Rania balik menatap Dewa.


"Aku nggak tertarik dengan bantuanmu." Ucap Dewa tegas penuh penekanan.


"Ihh dasar laki-laki b*doh," dengus Rania semakin kesal sebelum berdiri dari duduknya.


"Aaaa..." pekik Rania saat tubuhnya oleng karena tersandung kaki kursi tempatnya duduk, membuat Dewa terkejut hingga membulatkan kedua matanya.


Pletakk ponsel Dewa yang ada ditangannya terjatuh saat sang pemilik ponsel reflek berdiri dari duduknya untuk menangkap tubuh wanita yang dari tadi berusaha menganggunya.


Rania terdiam saat beradu pandang dengan manik mata Dewa dengan posisi tubuhnya yang hampir mendekap laki-laki yang menolongnya.


"Ehem..." Deheman Clara yang tiba-tiba datang membuat Dewa dan Rania terkejut dan bergegas membenarkan posisi berdirinya.


"Apa kamu sekarang sudah putar haluan mendekati mantannya Dara Ran?" ucap Clara mencebikkan bibirnya menatap Rania.


Dewa memejamkan matanya sesaat sebelum mengambil ponselnya yang jatuh diatas lantai. "Kalian berdua ngobrol aja di sini, aku mau masuk." Ucap Dewa sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, meninggalkan dua wanita yang sedang beradu tatap dengan sorot mata permusuhan.


Dua puluh menit berlalu, suasana rumah baru yang tadinya ramai kini terlihat sepi karena hampir semua tamu undangan sudah pulang kerumah masing-masing, kecuali Nathan dan Clara.


Terlihat Bu Selfi dan Dira sedang membantu Bi Minah membersihkan rumah yang terlihat berantakan, sedangkan Dara menemani Clara untuk berkeliling melihat-lihat semua ruangan yang ada di dalam rumah barunya.


"Apa kamu memberitahu Om Subrata tentang masalah Perusahaan Fan?" tanya Nathan kepada Erfan yang sedang duduk bersama di teras rumah yang sudah terlihat sepi.


Erfan menggelengkan kepala pelan sambil menikmati es buahnya. "Papa jangan sampai tahu Than, nanti Papa kepikiran."


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Fan?" tanya Nathan penasaran.


"Seperti pendapatmu kemarin."


"Apa kamu akan bernegosiasi dengan pimpinan Permana grup?"


Erfan menganggukkan kepalanya," Besok aku akan mengatur janji temu dengan Aditya."


"Apa kamu butuh bantuanku untuk membuat janji temunya Fan?"


"Nggak perlu, Dara sudah punya nomor pribadinya." jawab Erfan sebelum memasukkan kembali sesendok es buah ke dalam mulutnya.


"Kamu mengenalnya?" tanya Nathan memastikan.


"Iya, dia suami teman baiknya Dara." jawab Erfan disela-sela mengunyahnya.

__ADS_1


"Bukannya dia Duda?"


"Ihhh.....kenapa banyak sekali sih pertanyaanmu?" dengus Erfan mulai kesal membuat Nathan tertawa.


"Baguslah Aku harap akan ada jalan keluar yang terbaik untuk perusahaan." Ucap Nathan mengakhiri pertanyaannya disela-sela tawanya


***


Sore hari setelah kepulangan Orang tua dan mertuanya Dara memilih untuk mandi dan beristirahat diatas ranjang barunya, duduk bersandar dengan kaki yang berselonjor kedepan sambil berkirim pesan WA dengan Clara, sudah cukup membuat tubuhnya merasa relax.


Cklek Erfan membuka pintu kamar sebelum berjalan mendekati istrinya. "Ra..." panggil Erfan manja setelah membaringkan kepalanya di paha istrinya.


"Apa Mas...." jawab Dara tanpa menoleh, tetap sibuk dengan ponselnya.


"Lagi kirim pesan sama siapa sih Ra?" tanya Erfan mencoba mengambil alih ponsel dari tangan Dara.


"Sebentar dong Mas...." Ucap Dara berusaha mempertahankan ponselnya.


"Sama Clara, katanya tadi dia lihat Dewa pelukan sama Rania." ucap Dara terkekeh menatap suaminya.


"Oh ya?" tanya Erfan ikut terkekeh, "kamu nggak cemburu?"


"Oh iya ya? harusnya aku cemburu ya?" goda Dara menghentikan tawanya sebelum memukul dahinya pelan.


"Cih, berani kamu cemburu aku hajar kamu,"


"Oh ya?" ucap Dara menatap Erfan


Erfan mengangkat kedua alisnya dengan seulas senyum dibibirnya sebelum melingkarkan tangan kanannya dipinggang Dara dan membenamkan wajahnya diperut rata istrinya.


"Ra...." panggil Erfan lagi sambil memasukkan tangannya kedalam kaos Dara, menyentuh lembut punggung istrinya sebelum membelainya perlahan.


"Apa Mas?" jawab Dara kembali sibuk dengan layar ponselnya.


Erfan diam tak bersuara karena fokus dengan jamahan tangannya, menyusuri setiap inci punggung istrinya sebelum menarik kepalanya kebelakang dan mengalihkan jamahannya ke perut rata Dara dan menaikkannya lagi hingga menyentuh dada Istrinya.


"Mas Erfan mau ngapain?" tanya Dara lirih berusaha fokus dengan layar ponselnya.


"Aku ingin menghajar kamu Sayang..." Jawab Erfan dengan suara beratnya tetap fokus dengan aktifitas jamahannya.


"Apa Mas Erfan lupa kalau aku sedang datang bulan?"


Erfan terdiam berusaha mencerna kalimat istrinya, memejamkan matanya sesaat sebelum menjatuhkan tangannya ke bawah.


"Apa kamu sadar Ra?" ucap Erfan lirih kembali membenamkan wajahnya diperut Dara.


"Sadar apa Mas?" tanya Dara menahan tawanya.


"Kalau kamu itu terlalu jahat." Ucap Erfan memecahkan tawa istrinya.


______________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..

__ADS_1


__ADS_2