Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 54. Zolpidem


__ADS_3

"Aku rasa urusanku disini sudah selesai Ra, aku pamit pulang dulu!" Ucap Dewa berdiri.


"Terimakasih Wa, karena kamu selalu mengerti aku, walaupun aku selalu menyakitimu." Ucap Dara ikut berdiri seraya menatap Dewa.


Dewa terdiam menatap manik mata Dara, hingga membuat mata mereka saling beradu. "Bisakah aku memelukmu sekarang Ra? sebentar saja, hanya untuk mengurangi rasa sakit yang aku rasakan sekarang." Batin Dewa sedih.


"Sampai kapan kalian akan saling tatap seperti itu?" ucap Erfan sebelum berdiri dari duduknya.


"Bukankah kamu sudah pamit tadi Wa?" ucap Erfan lagi melangkahkan kakinya menghampiri Dara.


"Kenapa kamu bisa mencintai laki-laki yang nggak beretika seperti ini Ra?" Protes Dewa menatap sinis Erfan yang sudah berdiri disamping Dara.


"Tolong jaga Dara, bahagiakan dia, dan jangan pernah melukai perasaannya." Ucap Dewa serius menatap Erfan.


Erfan menganggukkan kepalanya, "Aku akan membuat Dara bahagia hidup bersamaku, melebihi rasa bahagianya saat bersamamu dulu." Ucap Erfan menggenggam tangan Dara dan mengangkatnya ke atas untuk ditunjukkan ke Dewa.


"Cih," Dengus Dewa sinis.


"Aku balik Ra." Ucap Dewa datar sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Hati-hati Wa," ucap Dara menatap kepergian Dewa.


Langkah Dewa tiba-tiba terhenti saat membuka pintu ruangan Erfan, saat manik matanya saling tatap dengan manik mata Clara yang sedang mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu.


Dewa menghela nafas sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya dari Clara, melangkahkan kakinya lagi meninggalkan ruangan Erfan.


Sedangkan Clara segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Erfan, seraya menoleh ke arah Dewa yang sudah menghilang dibalik pintu.


"Bukankah dia laki-laki yang dipesta itu ya?" ucap Clara menghampiri Erfan dan Dara.


Erfan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ngapain dia kesini?" tanya Clara penasaran..


"Ada urusan sama Dara," ucap Erfan datar sambil duduk disofa.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Erfan lagi menatap Clara.


"Oh ini, aku mau nyerahin laporan keuangan bulan kemarin." Ucap Clara menyerahkan berkas yang dibawanya sambil duduk disamping Erfan, diikuti dengan Dara yang duduk disofa bundar yang ada didekat Erfan.


Erfan mengambil alih berkas dari tangan Clara.


"Omzet bulan kemarin ada kenaikan 20% Ra," ucap Erfan tersenyum senang setelah membuka laporan Clara.


"Alhamdulillah Mas," ucap Dara ikut senang.


"Ngapain Cla?" tanya Dara saat melihat Clara menunduk mencari sesuatu.


"Sebentar Ra," ucap Clara mengambil sesuatu yang berada dibawah kaki Erfan.


"Resep obat? punya Kak Erfan?" tanya Clara setelah membuka lipatan kertas putih kecil yang baru saja dia temukan.

__ADS_1


"Mas Erfan sakit?" tanya Dara terkejut.


"Nggak kok, bukan punyaku itu," ucap Erfan menggelengkan kepala.


"Apa mungkin punya laki laki tadi?" Ucap Clara menatap Erfan dan Dara bergantian.


"Mungkin, kan tadi dia yang duduk disini." ucap Erfan datar, membuat Dara terdiam.


"Dewa sakit? sakit apa?"batin Dara semakin merasa bersalah.


"Obat apa itu Cla?" tanya Dara lirih dengan raut wajah mulai khawatir.


"Zolpidem," Ucap Clara membaca resep. "Bukankah ini obat untuk insomnia?" ucap Clara dalam hati.


"Obat apa itu? apa kamu tahu Cla?" tanya Dara menatap Clara.


"Hanya vitamin Ra, kamu nggak perlu khawatir seperti itu." Ucap Clara berbohong saat melihat Ekspresi ketidak sukaan diwajah Erfan saat melihat wajah khawatir Dara.


"Yakin kamu Cla? hanya vitamin?" Tanya Dara memastikan lagi.


Clara menganggukkan kepala sebagai bentuk jawabannya.


"Kamu susulin dia deh Cla, mungkin masih ada disini, balikin resepnya, daripada membuat Dara semakin khawatir karena dia nggak bisa beli obatnya," ucap Erfan datar pura-pura membaca laporan Clara.


Dara yang merasa tersindir memejamkan matanya sesaat, "Kenapa aku sekhawatir ini," ucap Dara dalam hati.


***


"Oke Wa, kamu mengakhirinya dengan baik," gumam Dewa lirih mencoba untuk menguatkan hatinya yang sedang rapuh, melangkahkan kakinya mendekati kursi tunggu yang ada diarea loby.


Dewa segera duduk, menundukkan kepalanya, sebelum menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang menumpu diatas paha.


"Semuanya sudah berakhir sekarang," ucap Dewa dalam hati mencoba untuk menahan rasa sakit yang menyesakkan perasaannya.


Dewa segera menurunkan tangannya saat merasakan kehadiran seseorang.


sepasang kaki yang terbalut high heels berwarna hitam polos tengah berdiri tegak tepat didepannya.


Dewa menghela nafas setelah mendongakkan kepalanya keatas, saat menatap wajah perempuan yang ada didepannya.


"Apa ini punya kamu?" ucap Clara memberikan resep obat yang dia temukan.


"Bagaimana ini bisa sama kamu?" tanya. Dewa setelah mengambil alih resep dari tangan Clara.


"Kamu menjatuhkannya diruangan Kak Erfan,"


"Boleh aku duduk disini? ucap Clara sambil menunjuk sofa kosong yang ada didepan dewa.


"Silahkan, bukankah ini sofa untuk umum?"


Clara mencebikkan bibirnya sebelum duduk disofa yang tadi dia tunjuk.

__ADS_1


"Apa kamu sudah ketergantungan sama obat ini?" tanya Clara menatap Dewa.


"Apa kamu tahu fungsi obat ini?" tanya Dewa menatap balik Clara.


Clara menganggukkan kepalanya pelan," Aku juga pernah meminumnya," ucap Clara mengingat kembali masa-masa terpuruknya dulu.


"Apa kamu meminumnya karena putus dari Dara?" tanya Clara lagi.


"Itu bukan urusan kamu," ucap Dewa datar sambil memasukkan resep kedalam kantong celananya.


"Oke," Ucap Clara berdiri.


"Cepat sembuhkan hatimu, sebelum kamu benar- benar kecanduan sama obat itu," Ucap Clara datar menatap Dewa.


"Aku permisi." Ucap Clara lagi sebelum melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam ruangannya, diikuti dengan helaan nafas Dewa yang ikut berdiri untuk keluar dari loby.


***


Waktu baru menunjukkan pukul tiga sore, Terlihat Erfan sedang berjalan keluar dari lift diikuti oleh Dara yang berjalan disampingnya.


"Kita akan pulang sekarang Mas?" tanya Dara menatap Erfan.


"Katanya kamu mau ke rumahnya Tante Eri?"


"Iya, tapi kenapa nggak menunggu sampai jam kantor berakhir aja Mas?"


"Kemalaman dong Ra, bisa Magrib kita sampai rumahnya."


Dara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.


"Terimakasih," ucap Erfan saat menerima kunci mobilnya dari petugas valet yang berada didepan pintu loby.


"Ayo masuk Ra," ucap Erfan sebelum masuk kedalam mobil.


Dara segera masuk kedalam mobil, menggunakan seat beltnya sambil berusaha menenangkan hatinya yang gelisah.


"Jangan khawatir Ra, semua akan baik-baik saja," ucap Erfan setelah melajukan mobilnya meninggalkan halaman perusahaan.


"Kalau Mama Eri marah dan nggak mau ketemu aku lagi gimana Mas?" tanya Dara sedih menatap Erfan.


"Jangan berfikiran yang negatif dong Ra, bukankah kemarin kamu bilang kalau Tante Eri itu orang baik?"


"Sebaik-baiknya Mama Eri, Mama Eri itu kan juga seorang Ibu Mas, mana mungkin ada ibu yang rela melihat anaknya sendiri disakiti, apalagi oleh wanita yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri."


"Yang penting kamu sudah berusaha Sayang, kamu merasa salah dan kamu ingin meminta maaf, urusan Mama Eri memaafkan atau enggaknya kita serahin aja sama yang diAtas." Ucap Erfan mengusap lembut puncak kepala Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, berusaha untuk tenang, dan berfikir positif seperti yang disarankan suaminya.


_________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2