Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 58. Eliana 2


__ADS_3

Dara menatap laki-laki yang ada didepannya dengan perasaan bingung.


"Kamu lupa sama aku?"


"Dara mengeryitkan dahinya, berusaha mengingat siapa laki-laki yang ada didepannya ini, "Kak Aditya ya? suaminya Mitha?" ucap Dara setelah mengingat kembali laki-laki tampan yang ada didepannya ini ternyata suami dari teman baiknya saat kuliah.


Aditya menganggukkan kepala menatap Dara, "Terimakasih ya Ra, kamu dan Mama kamu sudah membantu Eliana,"


"Kami juga nggak sengaja melihatnya kak, bagaimana kabar Mitha?"


Belum sempat Aditya menjawab....


Mama...Mama..." Ucap Eliana mengulurkan tangannya ke arah Dara.


"Bukan Mama sayang.." ucap Aditya kepada Eliana.


"Mama...Mama....."Ucap Eliana Menangis tetap mengulurkan tangannya ke arah Dara.


"El mau digendong sama Tante Dara?" tanya Dara lembut menatap Eliana.


Eliana menganggukkan kepalanya cepat, "Auuu (mau), Mama..." Ucap Eliana masih cadel.


Dara tersenyum sebelum mengambil alih Eliana dari gendongan Aditya.


"Kalian mau kemana ini? pulang?"


"Belum Kak, kami mau makan siang."


"Kita makan bareng aja gimana Ra? aku dan El juga belum makan siang," tanya Aditya menatap Dara.


Nggak papakan Tante?" ucap Aditya lagi menatap Mama Eri.


"Ayo silahkan, Aaa..." Jawab Mama Eri menggantung berusaha mengingat nama laki-laki yang ada didepannya.


"Aditya Tante."


"Iya Aditya, maklum sudah berumur jadi lupa," ucap Mama Eri dengan seulas senyum dibibirnya.


Dara, Mama Eri, dan Aditya segera melangkahkan kaki mereka menuju salah satu restoran yang ada didalam mall, diikuti dengan Mega yang berjalan dibelakangnya.


Setelah masuk ke dalam restoran yang terlihat ramai dengan pengunjung, mereka segera melangkahkan kaki mereka menuju meja kosong dengan empat kursi yang berada ditengah restoran.


Dara memilih duduk diseberang Aditya, bersebelahan dengan Mama Eri, "Kenapa kamu disitu Meg?" Tanya Dara kepada mega, saat melihat Mega duduk dimeja terpisah.


"Nggak papa Mbak, saya nggak enak kalau ikut gabung."


"Sini Meg, ngumpul disini aja, nggak perlu sungkan, kalau kamu disitu aku yang merasa nggak enak," ucap Dara menatap Mega.


Mega terlihat ragu sebelum menoleh ke arah Aditya seakan meminta persetujuan.


"Ayo sini," ucap Dara lagi dibarengi dengan anggukan Aditya.


Mega segera berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Dara dan lainnya.


"Duduk sini Meg," ucap Aditya menunjuk kursi yang ada disebelahnya.


"Tapi Pak...." Ucap Mega terpotong, merasa semakin sungkan jika harus duduk disamping majikannya.


"Sini Meg, kamu duduk disini aja, biar aku yang duduk disitu," ucap Dara berdiri sambil mengangkat Eliana dari pangkuannya, melangkahkan kakinya untuk duduk disebelah Aditya.


"Terimakasih Mbak," ucap Mega sebelum melangkahkan kakinya kearah kursi disebelah Mama Eri.


"Jangan panggil Mbak, panggil saja Dara, sepertinya kita seumuran." Ucap Dara tersenyum setelah duduk memangku Eliana dikursi sebelah Aditya.


"Mau pesan apaTante? Ra? " tanya Aditya saat pelayan datang memberikan daftar menu.


"Aku Nasi bistik ayam, minumnya es jeruk," Ucap Dara sambil membaca daftar menu.

__ADS_1


"Mama pesan apa Ma?" tanya Dara menatap Mama Eri.


"Nasi sama bistik Daging aja Ra, sama es jeruk."


Aditya mengalihkan pandangannya ke arah Mega, "Kamu mau pesan apa Meg?"


"Saya terserah Pak Adit aja," jawab Mega dengan sungkan.


"Kami samain aja sama pesenan Dara ya Nasi sama bistik ayam, minumnya Es jeruk juga!" ucap Aditya kepada pelayan.


"Sekalian minta high chair untuk anak saya ya?" Tambah Aditya.


"Baik Pak, Saya permisi dulu Pak,Bu," Pamit pelayan sebelum pergi meninggalkan meja Aditya.


"Eliana umur berapa Dit?" Tanya Mama Eri menatap Eliana yang sedang duduk dipangkuan Dara.


"Dua tahun Tante," jawab Aditya menatap Mama Eri sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Eliana yang merasa nyaman diatas pangkuan Dara.


"Mitha Mana Kak? kok nggak ikut?" tanya Dara menatap Aditya.


Aditya yang tadinya tersenyum tiba-tiba mengubah mimik wajahnya menjadi sendu. "Mitha sudah meninggal Ra," ucap Aditya mengalihkan pandangannya kedepan, membuat Dara tekejut tak percaya.


"Satu tahun yang lalu karena kecelakaan."


"inalilahi wainalilahi rojiun," ucap Dara dan Mama Eri kompak.


"Perasaan baru kemarin kita mengerjakan tugas bareng dikelas Mit," ucap Dara lirih, "Walaupun lagi hamil besar, dia orang yang paling semangat saat menerima tugas dari dosen." ucap Dara lagi dengan mata berkaca-kaca saat mengingat moment kebersamaannya bersama Mitha.


"Kenapa nggak ada yang ngasih kabar ke aku sih?" protes Dara dengan wajah sendunya menatap Aditya.


"Dia kehilangan ponselnya saat kami pindah ke Paris Ra, jadi dia kehilangan semua kontak teman-temannya."


"Aku ingat dulu saat dia pamit akan pindah ke Paris selepas menikah, itu terakhir kalinya aku ketemu dia," ucap Dara lirih dengan mata yang memerah menahan tangisnya.


"Dia sudah bahagia Ra disana, jangan ditangisi lagi," Ucap Mama Eri menatap Dara.


"Iya Tante, aku selalu berusaha untuk jadi yang terbaik untuk El, memberikan kasih sayang dan perhatian seperti yang Mitha berikan untuk El, meskipun aku nggak akan mungkin bisa menggantikan posisi Mitha dihidup El." Ucap Aditya membelai lembut puncak kepala Eliana, sebelum menyeka air mata yang sedikit menggenang disudut matanya.


"Mitha nggak salah memilih kamu sebagai suami dan ayah dari anaknya Kak," Ucap Dara melihat Aditya dengan perasaan terharunya, membuat aditya mengalihkan pandangannya ke arah Dara, hingga membuat tatapan mata mereka saling Beradu.


"Makanannya sudah Datang," ucap Dara cepat-cepat melepaskan pandangannya Dari Aditya ke arah Pelayan yang datang membawa pesanan mereka, dibarengi dengan pelayan lain yang membawa high chair untuk Eliana.


"Ayo sayang duduk dikursi kamu dulu ya?" Ucap Aditya berdiri sebelum mengangkat Eliana dari pangkuan Dara dan mendudukkannya di high chair yang sudah diletakkan disebelah Mega.


Dilain sisi, Dara tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata yang sudah memperhatikannya dari jauh dengan senyum liciknya.


Rania, yang sedari tadi duduk dikursi restoran di barisan paling pojok karena menunggu temannya yang masih terjebak macet diam-diam memotret saat Dara dan Aditya tidak sengaja saling pandang dengan posisi Aditya yang sedikit menyondongkan kepalanya kedepan setelah membelai lembut kepala Eliana.


"Mari kita lihat apa yang akan terjadi sama kamu Dara." Ucap Rania dengan senyum liciknya sebelum mengirim foto Dara kepada Erfan.


***


Dikantor Erfan.


Erfan sedang sibuk memimpin jalannya meeting bersama para GM dari setiap Departemen yang ada diperusahaannya.


Trrrttt trrttt ponsel Erfan yang berada diatas meja bergetar.


"Br*ngs*k," umpat Erfan pelan mengepalkan tangannya yang ada diatas meja setelah membuka pesan WA dari Rania yang berisi foto istrinya dengan Aditya, mengalihkan perhatian semua GM untuk menatapnya.


"Meeting hari ini kita akhiri," ucap Erfan sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Setelah masuk ke dalam ruangannya, Erfan segera menelepon Rania, berusaha mengontrol emosi dari rasa cemburunya.


"Dari mana kamu dapat foto itu?" sentak Erfan setelah Rania mengangkat panggilannya.


"Ssssstttt jangan marah-marah dong Fan," Jawab Rania santai.

__ADS_1


"Aku kaget Lo Fan, ternyata istrimu nggak selugu yang aku kira." Ucap Rania lagi ingin memprovikasi Erfan.


"Br*ngs*k," umpat Erfan mematikan sambungan teleponnya dengan Rania.


Erfan segera mencari nama Dara yang ada dikontak ponselnya, setelah menggeser warna hijau, emosi Erfan semakin tersulut saat mendengar suara operator seluler yang mengatakan bahwa ponsel istrinya sedang tidak aktif.


"Tante Eri," ucap Erfan saat mengingat kalau istrinya sedang bersama Mama Eri, "Iya Tante Eri," ucap Erfan lagi berusaha mencari kontak Mama Eri yang ada diponselnya.


"Br*ngs*k...aku nggak punya nomernya." Umpat Erfan semakin kesal.


***


DiMall


Setelah selesai dengan makan siangnya, Dara masih menggendong Eliana segera melangkahkan kakinya keluar restoran diikuti dengan Mama Eri disampingnya dan Aditya beserta Mega yang berjalan dibelakangnya.


"Makasih Ya Kak Adit, baru ketemu sudah ditraktir aja." Ucap Dara setelah melewati pintu keluar restoran.


"Aku juga terimakasih karena kamu sudah membantu Eliana." Ucap Adit tersenyum menatap Dara.


"Kamu sama Tante pulang naik apa?" tanya Aditya menatap Mama Eri dan Dara bergantian.


"Naik Taksi Dit," jawab Mama Eri.


"Pulangnya sama aku aja ya?"


"Nggak perlu Kak, kami sudah pesan taksi online, bentar lagi juga sampai." Tolak Dara sopan.


Aditya menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengarahkan kedua tangannya kedepan untuk mengambil alih gendongan Eliana.


"Gak au (mau)..." tolak Eliana menggelengkan kepalanya kuat-kuat semakin mengeratkan pelukannya dileher Dara.


"Ayo El, nggak boleh seperti itu, Tante Dara harus pulang," Ucap Aditya mencoba untuk membujuk Eliana.


Eliana tetap menggelengkan kepalanya kuat kuat tak mau mendengarkan ucapan Aditya.


"Ayo Sayang...," ucap Aditya lagi sedikit memaksa mengambil alih Eliana dari Dara.


"Mama...Mama..gak au..Mama..." Ucap Eliana menangis semakin mengeratkan pelukannya ke leher Dara.


"Kak.." ucap Dara menggelengkan kepalanya pelan menatap Aditya.


"El mau sama Tante Dara ya?" ucap Dara lembut menatap Eliana yang masih terisak.


"Mama ..." ucap Eliana menganggukkan kepalanya.


"Tante El, bukan Mama," ucap Aditya menatap anaknya.


"Mama....."Teriak Eliana kepada Aditya.


"Iya Mama," ucap Dara mencoba menenangkan anak sahabatnya, membuat Aditya terkejut, tapi tidak untuk Mama Eri yang tetap bersikap biasa dengan kalimat Dara.


"Eliana kan anak baik, harus nurut sama Papa," ucap Dara lembut menatap Eliana yang ada digendongannya.


El pulang dulu sama Papa ya? besok El bisa ketemu Mama Dara lagi," ucap Dara tersenyum dikuti oleh anggukan kepala Eliana.


"Terimakasih ya Ra?" ucap Aditya setelah mengambil alih Eliana.


"Boleh aku menghubungimu Ra? jika sewaktu-waktu Eliana ingin bertemu denganmu." Ucap Aditya memberikan ponselnya kepada Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengambil alih ponsel dari tangan Aditya, mengetikkan nomer ponselnya sebelum memberikannya kembali kepada Aditya.


"Terimakasih Ra," ucap Aditya saat menerima ponselnya kembali.


_______________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2