Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 27. Usaha Dewa


__ADS_3

Flashback saat pernikahan Sarah.


Dewa bersandar lemas didinding sambil menatap kepergian Dara, perlahan menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk dilantai dengan posisi kaki yang ditekuk.


Dewa menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memejamkan matanya, berusaha memahami semua kenyataan yang sedang dilaluinya sekarang.


Apa kamu benar-benar memutuskan hubungan kita Ra? apa kita benar-benar berakhir Ra? semudah ini? bagaimana dengan janji kamu Ra?" gumamnya pelan.


Air mata mulai menyusup kebawah melewati kelopak mata Dewa yang menutup.


Dua jam sudah Dewa habiskan ditempat yang sama dengan posisi yang sama.


Trrrt trrrtttt


Ponsel Dewa bergetar, Dewa membuka mata sebelum menegakkan punggungnya berusaha mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sebuah Wa dari Saga sahabat baiknya, laki- laki yang menjadi pendamping Sarah dipelaminan.


"Kamu dimana Wa? aku tunggu d kamarku sekarang."


Dewa menghela nafas sebelum beranjak dari duduknya, dia berjalan menyusuri lorong hotel dan naik dua lantai menggunakan lift, berjalan lagi menuju kamar Presidential Suite tempat Saga menginap bersama Sarah.


Erfan memencet bel kamar Saga.


"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Saga terkejut melihat wajah Dewa yang babak belur.


Dewa masuk ke kamar dan duduk disofa ruang tamu.


"Kenapa wajah kamu Wa?" tanya Sarah tiba-tiba saat menghampiri Dewa, meletakkan tiga botol air diatas meja kemudian duduk didepan Dewa.


"Apa ini ulah Erfan?" tanya Saga menebak sambil duduk disebelah Sarah.


"Bagaimana kamu bisa kenal Erfan?" tanya Dewa terkejut.


"Apa hubungannya dengan Erfan?" tanya Sarah bingung.


"Dia mantan kekasih Sarah, aku tadi melihat kamu menarik tangan wanita yang dia bawa."


"Ha? benar Sar?"


Sarah menganggukkan kepalanya pelan.


"Jadi yang dimaksud Dara itu kamu?"


"Maksud kamu apa?" tanya Sarah.


"Siapa Dara?" tanya Saga.


Dewa menceritakan permasalahan cintanya antara dia, Dara dan Erfan kepada Saga dan Sarah, dari Dara menikah diam-diam sampai perpisahan mereka yang dipaksakan Erfan.


"Jadi tadi itu istrinya Erfan?" tanya Sarah terkejut sambil menutupi bibirnya yang menganga dengan telapak tangannya.


Dewa menganggukkan kepala, "Dan istri Erfan itu kekasihku," ucap Dewa sendu.


"Kamu sekarang tau kan kalau Erfan nggak sebaik yang kamu kira, kamu nggak perlu merasa bersalah lagi sama dia," ucap Saga menatap Sarah.


"Apa kamu akan menyerah dengan Dara?" tanya Saga mengalihkan pandangannya menatap Dewa.


Dewa mengangkat kedua bahunya, "Aku hanya ingin memastikan kalau Dara bahagia."


"Apa kamu akan berusaha merebut dia dari suaminya?"


"Apa kamu tahu tempat tinggal Erfan?" tanya Dewa kepada Sarah tanpa menjawab pertanyaan Saga.


"Aku tahu apartemennya, diapartemen xxxxxxxxxx "


Dewa dan Saga saling menatap, "Salah satu apartemen kamu kan disitu Ga?" ucap Dewa.

__ADS_1


"Kamu punya unit disitu Ga?" tanya Sarah terkejut.


Saga mengangguk, "Punya satu dilantai enam, aku sewain."


"Erfan juga di lantai 6 di unit 604."


"Apa? luar biasa...," ucap Saga bertepuk tangan membuat bingung Dewa dan Sarah.


"Kamu dilarang keras masuk ke apartemenku yang disitu sayang," ucap Saga menatap Sarah.


"Kenapa?"


"Karena apartemen Erfan berada persis didepan apartemen milikku," ucap Saga menjelaskan.


"Yakin kamu Ga?" tanya Dewa antusias.


Saga mengangguk, "Ada apa dengan ekspresi kamu itu?" tanya Saga curiga saat melihat senyum diwajah Dewa.


"Apa aku boleh menyewanya Ga? hanya untuk satu tahun."


Saga dan Sarah menatap Dewa bingung.


"Kamu yakin akan tinggal disana?"


Dewa mengangguk menyunggingkan senyum liciknya.


Flasback selesai.


***


"Dewa," ucap Dara terkejut dan reflek melepaskan gandengan tangan Erfan.


Erfan melirik sekilas tangan Dara yang sudah terlepas dari gandengannya.


Dewa melirik gandengan tangan Dara dan Erfan sebelum ikut masuk ke dalam lift dan berdiri disamping Dara.


Erfan menatapnya dengan perasaan kesal sebelum menggeser tubuh Dara menjauhi Dewa.


Dewa menekan angka enam pada tombol lift.


"Kamu memata-matai kami?" tanya Erfan semakin kesal setelah melihat Dewa memencet tombol enam dimana unit apartemennya berada.


"Mas," ucap Dara menyentuh lengan Erfan berusaha untuk menangkan suaminya.


"Kenapa kamu bisa disini Wa?" tanya Dara berusaha melepaskan kembali gandengan tangan Erfan.


Sedangkan Erfan berusaha menahan tangan Dara agar tidak sampai terlepas dari genggamannya.


Dewa tersenyum sinis saat melirik kedua tangan mereka, "Ini bukan penyebrangan jalan, kenapa kamu harus mencengkeram tangannya seperti itu?" sindir Dewa pada Erfan.


Erfan hanya diam, mengeratkan gigi-giginya menahan emosi, dengan tatapan semakin tajam nggak bersahabat.


Tringgg pintu lift terbuka saat berada di


lantai enam.


Erfan segera menarik Dara keluar Dari lift.


"Ra," panggil Dewa setelah keluar dari lift.


Erfan dan Dara berhenti sebelum menoleh ke arah Dewa.


"Apa aku bisa bicara sama kamu? sebentar saja."


Dara menoleh ke arah suaminya, "Boleh ya Mas?" ucap Dara memelas.

__ADS_1


Erfan melepaskan tangan Dara membiarkan Dara menghampiri Dewa.


"Ada apa Wa? kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Dara menahan rasa sakit yang ada dihatinya, beberapa hari yang lalu dia masih bisa memeluk laki-laki di depannya ini kapanpun dia mau, tapi sekarang, jangankan memeluknya menyentuhnya saja sudah nggak bisa.


"Aku kangen kamu Wa, aku ingin memeluk kamu," batin Dara membuat matanya berkaca- kaca.


"Apa kamu bahagia Ra?" tanya Dewa lembut menatap Dara.


Dara hanya diam menundukkan kepalanya,


"Maaf Wa," ucap Dara pelan sebelum menatap wajah Dewa, air matanya mulai menetes.


"Jangan menangis," ucap Dewa menyeka lembut air mata Dara.


Hati Erfan terasa semakin panas, hingga membuatnya menepis kasar tangan Dewa yang berada dipipi istrinya.


"Mas," ucap Dara terkejut.


"Jauhkan tanganmu dari istriku," sentak Erfan pada Dewa.


"Kenapa kamu marah Fan? apa kamu cemburu? kamu akan lebih cemburu lagi saat mendengar suara hati Dara yang selalu menyebut namaku Dewa, Dewa, Dewa." Ejek Dewa.


BUG Erfan Meninju pipi Dewa hingga membuat tubuh Dewa terhuyung ke belakang.


"Masss," pekik Dara berusaha menahan lengan suaminya.


Hahahaha Dewa tertawa semakin mengejek sambil menyentuh bawah bibirnya yang berdarah, "Kamu pasti tahu, mau seberapa banyak kamu memukul aku, itu nggak akan mempengaruhi posisimu ataupun posisiku dihati Dara."


Erfan berusaha mengatur emosinya, dia nggak mau terpancing lagi dengan ucapan Dewa.


"Apa mau kamu?"


Dewa mengalihkan pandangannya menatap Dara.


"Aku masih memegang janji kamu Ra, kamu janji akan bercerai dengan dia setelah pernikahan kalian berusia satu tahun."


"Kamu...." Sentak Erfan hendak meninju Dewa lagi.


"Mas," ucap Dara menatap melas Erfan, membuat Erfan mengurungkan niatnya.


"Aku minta maaf Wa, aku nggak bisa memenuhi janjiku, jangan seperti ini Wa, aku mohon," ucap Dara memelas.


Dewa mengalihkan pandangannya menatap Erfan," Pastikan dia bahagia dalam satu tahun kedepan, sekali saja kamu membuatnya menangis aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian bercerai."


Erfan mengepalkan tangannya, "Aku akan membuat Dara bahagia seumur hidupnya." Ucap Erfan dengan sorot mata yang mematikan.


"Bagus, dan satu lagi buat dia lebih mencintaimu daripada mencintaiku, aku kasih waktu kamu sampai sebelas bulan kedepan untuk bisa memenangkan hatinya."


"Wa," ucap Dara merasa tidak suka dengan ucapan Dewa.


"Please Ra kasih kesempatan aku seperti kamu ngasih kesempatan dia, aku hanya menagih perjanjian yang dia buat sebelum kalian menikah."


Dara terdiam.


"Jangan pernah sedikitpun kamu bermimpi untuk bisa mengambil istriku," ucap Erfan menatap tajam.


"Kita buktikan saja," ucap Dewa tersenyum tipis.


"Mulai hari ini aku akan tinggal disana, didepan apartemen kalian," ucap Dewa sambil menunjuk unit apartemennya, kemudian melangkah pergi meninggalkan Dara dan Erfan.


_____________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan like,komentar dan favorit ya.....


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2