
Dokter segera mencetak gambar USG Dara setelah meminta Dara bangun dan turun dari ranjang.
Dengan di bantu suaminya Dara segera turun dan melangkahkan kakinya kembali duduk di atas kursi yang ada di depan kursi kebesaran Dokter Nisa.
"Ini foto USG nya Bu, dan ini resep vitaminnya, diminum teratur ya?" ucap Dokter Nisa setelah duduk di atas kursi, menyerahkan kertas resep beserta foto USG yang sudah dia tempel di buku kehamilan Dara.
"Bulan depan kesini lagi ya? di periksa lagi untuk memantau perkembangan bayinya."
"Baik Dok," Jawab Dara.
"Apa saya boleh bertanya Dok?" tanya Erfan ragu-ragu.
"Silahkan Pak," jawab Dokter Nisa dengan seulas senyum ramahnya.
"Apa selama hamil ini saya dan istri saya bisa itu Dok?" tanya Erfan membuat Dokter Nisa mengerutkan kening menatapnya, berusaha mencerna maksud dari kata itu.
Sedangkan Dara segera menundukkan kepalanya ke bawah merasa malu dengan pertanyaan suaminya.
"Apa bisa dok?" tanya Erfan lagi seolah tak sabar dengan jawaban Dokternya.
"Bisa Pak, asal pelan-pelan dan hati-hati," jawab Dokter Nisa menciptakan senyum lega di bibir Erfan.
"Apa nggak bahaya buat bayi kita Dok?" tanya Dara menegakkan kepalanya menatap Dokter.
"Enggak enggak Ra, tadi kan Dokternya sudah bilang nggak papa, yang penting hati-hati." Bisik Erfan lirih di telinga istrinya.
"Ya kan aku tanya Mas, memastikan!" Jawab Dara balik berbisik di telinga Erfan.
Membuat Dokter Nisa menahan tawa menatap dua orang yang ada di depannya.
"Nggak bahaya Bu," ucap Dokter Nisa lagi mengalihkan pandangan Erfan dan Dara ke arahnya.
"Selama Ibunya dalam kondisi sehat dan tidak lelah, Insya Allah nggak akan ada masalah, justru berhubungan badan bisa meningkatkan hormon endorfin yang bisa membuat Ibunya bahagia."
"Baik Dok saya mengerti, saya akan lebih meningkatkan hormon endorfin istri saya," jawab Erfan menciptakan senyum di bibir Dokter Nisa.
"Kami permisi dulu Dok, terimakasih!" ucap Erfan berdiri dari duduknya, segera menggandeng tangan istrinya untuk melangkah keluar Dari ruangan Dokter.
"Auuu" pekik Erfan menyentuh lengannya yang baru saja mendapat cubitan pelan dari istrinya
"Kok aku di cubit sih Ra?" protes Erfan mengelus lengannya.
"Ngapain sih Mas Erfan pakai ngomong begitu di depan Dokter?" bisik Dara penuh penekanan membuat Erfan terkekeh.
"Ngomong apa?" tanya Erfan pura-pura lupa, kembali menggandeng tangan istrinya untuk melangkah menuju pintu keluar.
"Ya ngomong, Baik Dok saya mengerti, saya akan lebih meningkatkan hormon endorfin istri saya," jawab Dara menirukan kalimat suaminya, membuat Erfan semakin tertawa Dan melepaskan genggaman tangannya untuk beralih merangkul pundak istrinya.
"Ya benar kan Ra? apa coba yang salah dari ucapanku? kamu nggak mau aku bahagiakan?" goda Erfan di sela-sela tawanya tetap melangkah menuju halaman parkir tempat mobilnya terparkir.
"Ya Mau Mas....tapi gak usah di ucapkan di Dokter Nisa juga..." Jawab Dara memanyunkan bibirnya balik merangkul pinggang suaminya, membuat Erfan semakin tertawa.
***
__ADS_1
Jam tangan Erfan sudah menunjuk ke angka sebelas, Sang Surya juga semakin terik dalam memberi sinarnya.
Erfan segera menepikan mobilnya sebelum menghentikannya tepat di depan pagar rumah mertuanya.
Erfan segera turun dari mobil diikuti dengan Dara yang turun dari pintu depan penumpang.
"Sudah siang Mas, Mas Erfan langsung ke kantor aja nggak papa," ucap Dara memandang suaminya yang sedang menekan bel rumah orang tuanya.
"Ya nggak enak sama Ayah Ibu Ra kalau langsung berangkat," jawab Erfan beradu pandang dengan istrinya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Bu Selfi yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kok nggak kasih kabar kalau kesini Nak?" ucap Bu Selfi semringah, membuka pintu pagar sebelum mengulurkan tangannya ke depan Erfan yang hendak mencium tangannya.
"Iya Bu, kejutan." Jawab Dara terkekeh mencium tangan ibunya.
Dara menggandeng manja tangan ibunya segera masuk ke dalam rumah, di ikuti dengan Erfan yang berjalan dibelakangnya.
"Ada apa ini? kok manja banget kamu Nak?" tanya Bu Selfi setelah duduk di sofa ruang tamu, menatap Dara yang masih bersandar manja dibahunya.
"Ibu ingin cucu nggak?" ucap Dara antusias menegakkan tubuhnya menatap Bu Selfi.
"Ya Ingin Ra, tapi nggak perlu buru-buru, sedikasihnya saja, kamu juga jangan di buat beban fikiran, nanti kalau sudah waktunya dititipi ya kamu pasti hamil,"
"Tapi aku sudah di titipi Bu," jawab Dara dengan mata berbinarnya.
"Ha?" ucap Bu Selfi berusaha mencerna kalimat anaknya, mengalihkan pandangannya ke arah Erfan sebelum menatap kembali Dara yang sedang menganggukkan kepalanya senang.
"Aku hamil Bu, aku sudah hamil, 4 Minggu kata Dokter," ucap Dara membuat Ibunya terdiam.
"Kamu hamil?" tanya Bu Selfi memastikan.
"Ya Allah.... Alhamdulillah.....doa kita semua terkabul Nak...," ucap Bu Selfi histeris berhambur memeluk anaknya.
Dara menitikan air mata balik memeluk ibunya.
"Yahhhh.....Ayahhhhh.... teriak Bu Selfi setelah melepaskan pelukannya, segera berdiri memanggil suaminya.
Baru dua langkah Bu Selfi ingin masuk ke dalam rumah, Terlihat Pak Herman berlari dari dalam rumah karena kaget dengan teriakan istrinya.
"Ada apa sih Bu? kok teriak-teriak?" tanya Pak Herman menghampiri istrinya.
"Lo...kalian kapan datangnya?" tanya Pak Herman melihat Dara dan Erfan yang hendak berdiri untuk mencium tangannya.
"Dara Yah.....Dara....." Ucap Bu Selfi antusias menggantung kalimatnya.
"Lha ini Dara?" jawab Pak Herman menunjuk anaknya yang sudah berdiri di depannya.
"Lha ya tahu ini Dara...maksud Ibu.... Dara hamil Yah, Ayah akan segera punya Cucu!" ucap Bu Selfi membuat Pak Herman membulatkan matanya.
"Cucu?" ucap Pak Herman lirih sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Dara.
"Kamu hamil Ra?" tanya Pak Herman antusias menatap anaknya.
"Iya Yah, aku aku hamil," jawab Dara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah......." Teriak Pak Herman mengekspresikan kebahagiaannya sebelum berhambur memeluk anaknya.
Mengangkat tubuh anaknya untuk di diajaknya berputar seperti film-film India.
"Yah....jangan digituin Daranya, nanti cucu Ayah kegencet gimana?" protes Erfan menghentikan Pak Herman.
"Hahahaha iya iya Maaf, Ayah terlalu senang karena mau dapat cucu." Jawab Pak Herman melepaskan pelukannya.
"Tapi......benar ya Bu Kalau cucu kita kegencet kalau ayah ajak Mamanya muter-muter kayak tadi?" tanya Pak Herman menciptakan tawa Dara dan Ibunya.
"Makanya Yah, jangan di ajak muter-muter Mamanya," jawab Bu Selfi asal di sela-sela tawanya.
"Aduh...maafin Kakek ya Nak? Kakek terlalu bahagia," ucap Pak Herman membelai lembut perut anaknya.
"Aku titip Dara disini ya Bu? Yah? nanti pulang kerja aku jemput lagi," ucap Erfan mengalihkan pandangan Pak Herman kepadanya.
Sorot mata yang tadinya berbinar kini berganti dengan sorot mata yang memancarkan penyesalan.
Saat memorinya kembali mengingat setiap kalimat pedas yang sudah keluar dari mulutnya, kalimat yang sangat menyakiti perasaan menantunya.
"Saya pamit Yah, Bu," ucap Erfan mencium tangan Pak Herman dan Bu Selfi bergantian, sebelum mengulurkan tangannya ke arah Dara.
"Hati-hati Mas," ucap Dara mencium tangan suaminya.
"Fan," panggil Pak Herman menghentikan langkah Erfan yang hendak pergi keluar rumah.
"Ayah mau minta maaf kalau ucapan Ayah kemarin..." Ucap Pak Herman menggantung.
"Nggak papa Yah, nggak ada yang perlu di maafkan," jawab Erfan dengan seulas senyumnya menatap ayah mertuanya.
Pak Herman hanya menganggukkan kepalanya, sebelum mengarahkan kedua tangannya ke depan, untuk merangkul menantunya.
"Ayah bangga punya menantu seperti kamu," bisik Pak Herman di telinga Erfan, menciptakan desiran aneh di hati menantunya.
Desiran yang menyejukkan, berbanding terbalik dengan desiran saat mendengar kalimat penyesalan mertuanya.
"Terimakasih Yah, aku janji akan membuat anak dan cucu Ayah bahagia," ucap Erfan melepaskan pelukannya, menatap mata Ayah mertuanya yang tak lagi bening karena genangan air mata.
***
Erfan segera menyelesaikan semua pekerjaan yang ada di kantornya, menandatangani semua dokumen yang perlu tanda tangannya sebelum mengecek semua laporan yang ada di atas mejanya
Drrrtttt drrrt ponsel Erfan berbunyi, membuat Erfan mengalihkan pandangan ke arah ponselnya.
"Fatir?" gumam Erfan pelan menatap layar ponselnya, sebelum menggesernya untuk menerima panggilan teleponnya.
"Halo Fat? apa kamu sudah menyelesaikan semuanya?"
Bersambung.
________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1
Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"