
Dara merasa bosan sendirian dikamar hanya memainkan ponsel sejak suaminya berangkat kerja. Dia memutuskan untuk keluar kamar, menuruni tangga dan melangkahkan kakinya
menuju taman mini yang ada di halaman rumah mertuanya.
"Cantik sekali bunganya..," ucap Dara memasuki area taman.
Dara berjalan maju menuju kolam air mancur mini yang ada ditengah- tengah taman, mengambil gembor tanaman dan mengisinya dengan air kolam.
"Hai, mawar putih, kamu cantik sekali." Dara bicara sendiri sambil menyirami kumpulan mawar putih.
"Doain aku sama Mas Erfan tetap bersatu dalam cinta yang sejati ya?, sama seperti simbol kamu." Dara beralih menyirami kumpulan mawar merah.
"Aamiin." Terdengar suara laki-laki dari belakang Dara.
"Papa." Ucap Dara menoleh ke belakang.
Pak Subrata tersenyum menatap Dara, "Aku dengar dari Herman kalau kamu suka mawar Ra?" ucap Pak Subrata melangkah menuju kursi taman.
Dara mengangguk sebelum meletakkan kembali gembor tanaman di tempatnya.
"Dara sangat suka bunga mawar Pa, cantik dengan banyak pilihan warna." Ucap Dara duduk dikursi sebelah Pak Subrata.
"Mamanya Erfan juga sangat suka mawar sama seperti kamu," ucap Pak Subrata tersenyum melihat kumpulan mawar yang ada didepannya.
"Pasti mama orangnya cantik, ramah dan sabar."
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Pak Subrata menoleh menatap Dara.
"Kata orang, wanita yang suka bunga mawar kemungkinan besar mempunyai kepribadian seperti itu Pa." Ucap Dara tersenyum.
"Sama seperti kamu." ucap Pak Subrata membelai lembut kepala Dara.
Dara tertawa, "Dara nggak sebaik itu Pa."
"Buktinya Erfan bisa dengan cepat mencintai kamu Ra."
"Mungkin sudah jodoh Pa." Ucap Dara tersenyum kikuk sambil mengusap belakang lehernya.
Pak Subrata terkekeh melihat tingkah Dara.
"Masalah Rania tadi, jangan diambil hati ya?"
Dara terdiam sebelum menganggukkan kepalanya, "Mas Erfan sudah cerita Pa, tapi ada satu yang buat Dara penasaran."
"Apa? kamu bisa menanyakannya ke Papa."
"Alasan putusnya pertunangan Mas Erfan dan Rania."
"Rania menyerang wanita yang dia kira dekat sama Erfan hingga masuk Rumah sakit."
Dara terkejut dengan ucapan Mertuanya, hingga menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.
"Sudah jangan dibahas lagi Ra, itu masa lalu, sekarang kamu hanya perlu fokus dengan kebahagiaanmu sama Erfan. "Pak Subrata tersenyum menatap Dara.
"Kamu nggak masuk Ra? sudah panas."
__ADS_1
"Papa masuk duluan, sebentar lagi Dara masuk."
Pak Subrata menganggukkan kepalanya,
"Papa masuk ya?" ucapnya sambil berdiri.
"Iya Pa." Ucap Dara ikut berdiri dan melihat kepergian mertuanya.
"Apa iya Rania senekat itu?" ucap Dara merinding mengusap lengan kirinya.
Dara masuk ke dalam rumah setelah menyelesaikan kegiatannya menyirami semua bunga yang ada ditaman.
Berjalan menuju kulkas dan mengambil air dingin dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Non Dara butuh sesuatu?" tanya Bi Minah yang melihat keberadaan Dara.
Dara menggelengkan kepala pelan, "Nggak Bi", ucap Dara sebelum pergi ke atas menuju kamarnya.
Drrrrrtttttt drrrrrtttt ponsel Dara yang sedang dipakainya untuk berselancar di media sosial bergetar.
"Dewa." Gumam Dara pelan saat melihat nama Dewa dilayar ponselnya.
Dara diam memperhatikan layar ponselnya tanpa ada niatan untuk mengangkatnya.
Sudah empat panggilan dari Dewa yang Dara abaikan, hingga ponselnya bergetar kembali karena sebuah pesan WA yang masuk.
"Kamu kemana Ra? apa kamu menghindari aku?" sebuah pesan WA dari Dewa.
Dara menghela nafas pelan, "Maaf Wa, kita sudah berakhir." Ucap Dara lirih sebelum menutup pesan WA.
"Halo Mas." Ucap Dara setelah menerima panggilan.
"Halo Ra, lagi apa kamu?"
"Lagi mikirin kamu Mas." Ucap Dara menggombal.
Erfan terkekeh mendengarnya "Nanti malam kita makan malam diluar ya? , kamu siap-siap dandan yang cantik, aku punya kejutan buat kamu.
"Tapi aku disini kan nggak punya baju Mas."
"Nanti sore ada orang yang mengirimkan baju, dan hari Minggunya kita beli baju untuk kamu ya?"
" Iya Mas." Ucap Dara tersenyum sebelum menutup panggilan teleponnya.
***
Pada jam makan siang Erfan pergi ke apartemennya untuk mengambil berkas yang ketinggalan.
Tut tut Tut Tut Erfan menekan kode akses pintu apartemennya.
Clekkk Erfan membuka pintu.
"Erfan." Terdengar suara laki-laki memanggilnya, Erfan menoleh dan melihat Dewa datang menghampirinya dari arah lift.
"Aku ingin bicara sama kamu. "Ucap Dewa berdiri didepan Erfan.
__ADS_1
Erfan menatap tajam Dewa, "Masuk." ucap Erfan sambil membuka pintu dan berjalan menuju ruang tamu diikuti Dewa dibelakangnya.
"Ada apa?" tanya Erfan setelah duduk disofa.
Dewa menghela nafas sebelum ikut duduk diatas sofa. " Dimana Dara?" tanya Dewa tanpa basa-basi.
Erfan menyebikkan bibirnya. "Ngapain kamu menanyakan keberadaan istriku?"
"Apa kamu terlalu takut Fan? sampai menyembunyikan Dara dariku?"
"Hahahaha" Erfan tertawa sinis, " siapa kamu sampai bisa membuat seorang Erfan Pratama takut?" ucap Erfan menyondongkan badannya kedepan dengan menumpukan kedua sikunya diatas lutut.
Dewa menatap tajam Erfan, mengeratkan giginya menahan kesal.
"Apa yang bisa membuat kamu begitu percaya diri Wa?" ucap Erfan lagi sambil menegakkan badannya.
"Wajah? masih tampan aku," ucap Erfan menunjuk wajah Dewa dan wajahnya bergantian.
"Badan? masih bagusan aku." Ucap Erfan lagi menunjuk tubuh Dewa.
"Harta?, lebih kaya aku." Ucap Erfan membuka kedua tangannya dengan raut wajah sombong dan mengejek.
Dewa mengepalkan tangannya menahan emosi mendengar penghinaan Erfan.
"Apa karena kamu merasa melebihi aku, jadi kamu bisa seenaknya merebut Dara dariku?" ucap Dewa berusaha menahan diri.
Erfan menggeleng mengangkat tangan kanannya sambil menggoyangkan telunjuk kekanan dan ke kiri.
"Kamu salah, aku nggak merebutnya darimu, aku hanya berusaha mempertahankan istriku yang sekarang sudah sepenuhnya menjadi istriku." Ucap Erfan penuh penekanan.
"Maksud kamu?"
"Aku dan Dara sudah sepenuhnya menjadi suami istri, sudah tidak ada lagi jarak diantara kami, dan kamu sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bisa memilikinya." Ucap Erfan tegas.
Tangan yang mengepal kini mulai melemah, mata penuh kemarahan sudah berubah menjadi kekecewaan. "Apa kalian sudah berhubungan layaknya suami istri?"
Erfan menganggukkan kepalanya. "Nggak perlu menunggu waktu 11 bulan seperti tantanganmu, hanya dengan waktu kurang dari dua bulan aku sudah bisa membuat Dara mencintaiku dan melupakan kamu."
Dewa terdiam berusaha mencerna setiap kalimat Erfan. "Apa benar secepat itu Ra kamu melupakan aku?" ucap Dewa dalam hati.
"Seperti katamu, kamu kesini hanya ingin memastikan Dara bahagia kan? kamu lihat sendiri sekarang? Dara sudah bahagia hidup bersamaku, jadi aku harap kamu bisa secepatnya pergi dari kehidupan kami."
"Aku nggak percaya sama kamu, Aku harus mendengarnya langsung dari Dara." Ucap Dewa menatap Erfan.
Erfan mengangkat kedua bahunya, "Terserah kamu mau percaya apa tidak, satu yang harus kamu tahu, aku nggak akan pernah membiarkan siapapun merusak rumah tanggaku dengan Dara." Ucap Erfan tajam menatap Dewa.
Dewa membalas tatapan Erfan, berusaha menahan emosi dan rasa sesak karena mendengar setiap kalimat Erfan.
Dewa mengalihkan pandangannya dari pandangan Erfan, berusaha mengatur nafasnya yang sedikit menggebu. "Jaga dia dengan baik." Ucap Dewa dengan suara lemah sebelum berdiri dan melangkah keluar dari apartemen Erfan.
Erfan membanting tubuhnya disandaran sofa, memejamkan matanya berusaha mengatur nafas dan emosinya.
_____________________________
AUTHOR BUTUH DUKUNGAN BIAR TAMBAH SEMANGAN UP NYA, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORITE DAN VOTE YA READERS.
__ADS_1