Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 76. Menjenguk Eliana 2


__ADS_3

"Apa kata dokter Kak? El sakit apa?" tanya Dara menatap Aditya yang sudah duduk di depannya.


"Sakit tipes Ra,"


"Ya Allah....." Ucap Dara mengalihkan pandangannya menatap wajah Eliana yang sedang tidur di pangkuannya, mengelus pelan dan hati-hati pipi Eliana agar tidak menganggu tidur balita yang sedang menahan rasa sakit di tubuhnya itu


"El terlihat tenang di pangkuan kamu Ra," ucap Aditya menatap lekat wajah Eliana.


"Mungkin dia tahu kalau aku teman baik mamanya...." ucap Dara dengan seulas senyumnya menatap Eliana.


"Mamanya mana Ra? kok nggak kelihatan disini?" celetuk Clara mengalihkan pandangan Dara dan Aditya dari El.


"Mamanya sudah meninggal Cla, satu tahun yang lalu karena kecelakaan." jawab Dara menatap Clara.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," jawab reflek Clara.


"Maaf ya Pak saya nggak tahu." Ucap Clara menatap Aditya.


"Nggak papa.." jawab Aditya.


Drrrtttttttt drrrttttt ponsel Clara yang ada di dalam tas berbunyi.


Clara segera merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. "Kak Nathan, sebentar ya Ra," ucap Clara kepada Dara sebelum menganggukkan kepalanya menatap Aditya. Clara segera berdiri dari duduknya untuk berjalan menjauhi Aditya dan Dara.


Eliana kembali menangis saat terbangun dari tidurnya, membuat Dara berdiri untuk menina bobokkannya kembali, mengayun-ayunkannya dalam gendongan, dengan nyanyian sholawat lirih berusaha untuk menenangkan si anak kesayangannya.


"Balik yuk Ra? Kak Nathan butuh file yang ada di komputerku." Ucap Clara setelah berdiri di depan Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum memberikan Eliana kepada Aditya yang sudah berdiri di dekatnya.


Belum sempurna Aditya menggendong anaknya, Eliana kembali menangis dan membuka matanya menatap Dara seolah nggak ingin jauh dan ingin tetap berada di dalam pelukan Dara.


"Tante pulang dulu ya ya Sayang...nanti Tante Dara ke sini lagi," bujuk Dara menyeka air mata Eliana yang menangis di gendongan Aditya.


Eliana tetap menangis dengan menggelengkan kepalanya kuat kuat, terus memangilnya Mama. Eliana mengulurkan kedua tangannya ke depan ingin kembali ke gendongan Dara.


Dara kembali merengkuh tubuh lemah Eliana, menggendongnya penuh kasih sambil membelai lembut punggung Dan kepala Eliana.


"Apa kamu bersedia tinggal di sini sebentar Ra?" tanya Aditya kepada Dara.


"Iy Ra, kamu di sini aja dulu, kasihan anak ini," tambah Clara.


Dara nampak berfikir sejenak sebelum menjawab permintaan Aditya.


"Aku bantu izin ke Erfan Ra," ucap Aditya lagi.


"Jangan Kak, biar aku sendiri yang izin," ucap Dara cepat sebelum mengalihkan pandangannya menatap Clara, "Kamu balik aja dulu Cla, terimakasih ya..."


Clara menganggukkan kepalanya pelan, "Aku balik dulu ya Ra?" Ucap Clara sebelum mengambil tasnya yang ada di atas sofa dan tersenyum untuk pamit kepada Aditya.


"Cepet sembuh ya cantik," ucap Clara membelai puncak kepala Eliana, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Eliana.


"Meg tolong casin ponselku dong, kayaknya habis deh baterainya," ucap Dara menatap Mega yang dari tadi duduk di sebelah ranjang Eliana.

__ADS_1


"Mana Ra?" jawab Mega berdiri menghampiri Dara.


"Di dalam tas Meg, casnya juga di dalam," ucap Dara menunjuk tasnya yang ada di atas sofa.


"Permisi ya Ra," ucap Mega sebelum membuka tas Dara, mengambil ponsel beserta casnya sebelum berjalan mendekati stop kontak yang ada di dinding sebelah ranjang.


"Terimakasih Meg," ucap Dara melihat Mega yang berjalan kembali mendekatinya.


"Kamu nggak capek Ra? sini gantian aku yang gendong Non El, kamu bisa istirahat sebentar." Ucap Mega mengulurkan kedua tangannya ke depan Dara.


"Nggak papa Meg, kamu aja yang istirahat, kamu pasti capek kan dari semalam nungguin El."


"Sudah jam setengah dua belas Ra, kamu mau makan siang nggak?" tanya Aditya yang sudah duduk di atas sofa.


"Ya Allah..." ucap Dara saat otaknya mengingat sesuatu.


"Kenapa Ra?" tanya Mega.


"Aku lupa, Mas Erfan tadi ngajakin makan siang diluar." ucap Dara sambil melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa seberang Aditya.


"Kamu telepon sekarang aja Ra," ucap Aditya.


"Ponselnya Dara mati Pak," ucap Mega yang masih berdiri di samping Dara.


"Pakai ponselku aja." ucap Aditya lagi sebelum berdiri untuk mengambil ponselnya yang ada di atas bedside cabinet disebelah ranjang.


"Ini, pakai aja pulsanya banyak kok," ucap Aditya terkekeh memberikan ponselnya kepada Dara.


"Kenapa?" tanya Aditya menurunkan tangannya.


"Aku nggak hafal nomornya Mas Erfan." jawab Dara dengan senyum kikuknya.


"Hahahahaha, dia suami kamu lo Ra, kok bisa sampai nggak hafal?" Ucap Aditya tertawa kembali duduk di atas sofa.


Dara semakin kikuk mendengar kalimat Aditya. "Jangan keras-keras tertawanya Kak," ucap Dara menepuk- nepuk paha Eliana yang terlihat terganggu dengan tawa Papanya.


"Iya iya," ucap Aditya menahan tawanya.


"Kamu telepon siapa gitu yang nomornya kamu hafal, orang yang tahu nomor ponsel Erfan."


Dara terdiam sebelum menggelengkan kepalanya, "Ada sih satu yang aku ingat, tapi dia juga nggak mungkin tahu nomor Mas Erfan.


"Siapa?" tanya Aditya penasaran.


"Mantan aku, hahahaha," ucap Dara tertawa diikuti dengan tawa Aditya yang duduk di seberangnya dan Mega yang duduk di sebelahnya.


"Sssstt" ucap Dara sebelum membekap mulutnya, dan berusaha untuk menghentikan tawanya.


***


Sementara itu di Permana Group Erfan masih sibuk dengan pekerjaannya, meneliti file yang ada di layar laptopnya, dengan sesekali melihat ke arah berkas yang sedang di pegangnya di atas meja.


"Sudah siang, kenapa Dara belum balik juga?"

__ADS_1


Gumam Erfan setelah mengalihkan pandangannya ke arah jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.


Erfan segera menutup berkas yang dipegangnya sebelum mengambil ponsel yang ada di atas mejanya.


Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu ruangan Erfan, membuat Erfan meletakkan kembali ponselnya dengan pemikiran Dara yang datang.


"Masuk," ucap Erfan dengan seulas senyum nya.


Pintu terbuka, membuat Erfan menghilangkan senyum yang sudah tersungging di bibirnya.


"Kenapa Kak? kecewa ya karena aku yang datang?" ucap Clara melangkahkan kakinya mendekati Erfan.


"Kok kamu sudah balik? Dara mana?"


"Lo? Dara nggak telepon Kak Erfan kalau dia nggak ikut balik karena Eliana nangis nggak mau dia tinggal?" Jawab Clara sambil duduk di kursi depan Erfan.


Erfan menggelengkan kepalanya sebelum mengambil kembali ponselnya yang ada diatas meja, memencet nomor Dara yang sudah dia ingat di luar kepalanya sebelum menekan tombol hijau bergambar telepon.


"Nggak aktif Cla," ucap Erfan menatap Clara sebelum mencoba kembali menghubungi istrinya.


"Nggak aktif." Ucap Erfan lagi meletakkan ponselnya di atas meja.


"Mungkin batrenya habis Kak," ucap Clara mencoba menenangkan Erfan yang terlihat kesal.


Erfan kembali mencoba menghubungi Dara, baru saja dia menggeser layar ponselnya, ponsel yang dipegangnya bergetar dengan tulisan Istriku yang ada di layarnya.


"Halo," jawab Erfan setelah menggeser warna hijau dengan cepat.


"Halo Mas, maaf baterai ponselku tadi habis jadi aku nggak bisa menghubungi Mas Erfan." Ucap Dara merasa bersalah.


"Dimana kamu?"


"Masih di rumah sakit Mas, El nggak mau ditinggal, disini ada Mega juga kok.


"Aku kesana sekarang, kirimi aku nomor dan nama kamarnya ya?"


"Iya Mas."


Erfan segera mematikan sambungan teleponnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Clara.


"Aku mau nyerahin laporan keuangan bulan ini Kak," ucap Clara menyerahkan berkas yang sudah di bawanya.


Erfan mengambil alih berkas dari tangan Clara sebelum meletakkannya ditumpukan berkas yang lainnya. "Nanti aku cek, aku mau jemput Dara dulu di rumah sakit." ucap Erfan sebelum berdiri dari duduknya.


Clara menganggukkan kepalanya sebelum ikut berdiri dan melihat Erfan yang sudah berjalan keluar dari ruangannya.


Bersambung.


.________________________


**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....


BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA**

__ADS_1


__ADS_2