Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 31. Wanita Penutup Luka


__ADS_3

"Selamat pagi Pak," sapa Sinta sedikit menundukkan badannya menyapa Erfan yang berdiri di depannya.


Erfan tersenyum tipis membalas sapaan Sinta,kemudian membalikkan badannya, berjalan masuk menuju lift khusus CEO dan petinggi lainnya.


"Aku masuk dulu ya Sin," ucap Dara sebelum berlari mengejar Erfan.


Ting pintu lift terbuka


Erfan segera masuk ke dalam lift, ditekannya kasar tombol angka dimana lantai ruangannya berada sebelum menekan tombol segitiga agar pintu lift segera menutup.


"Mas," ucap Dara menahan pintu lift.


Erfan diam tak memperdulikan kehadiran Dara, pandangannya lurus kedepan dengan sorot mata penuh kemarahan.


Dara berjalan pelan masuk ke dalam lift, kemudian berdiri di samping Erfan, sesekali matanya mencuri pandang melirik suaminya.


"Kita saling mencintai Ra, kamu kekasihku sebelum bertemu dia, tapi kenapa kamu menikahnya sama dia Ra?" kata-kata Dewa terus terngiang di kepala Dara.


"Ya Allah bantu aku untuk melupakannya, jangan biarkan hati ini kembali bimbang." ucap Dara dalam hati memejamkan matanya dalam-dalam.


Sunyi dan sepi, itulah suasana lift yang dinaiki mereka berdua, tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya diam mematung menunggu pintu lift terbuka.


Ting pintu lift terbuka di lantai ruangan Erfan.


Erfan segera keluar dan berjalan menuju ruangannya diikuti dengan Dara yang berjalan pelan di belakangnya.


Erfan memasuki ruangannya dan brakk suara pintu ketika Erfan menutupnya.


Erfan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, melonggarkan dasi yang seakan mencekiknya dengan kasar, sebelum menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya, berusaha untuk mengontrol emosi yang akhir akhir ini sering meyerang jiwanya.


Ceklek Dara membuka pintu ruangan Erfan kemudian berjalan mendekati suaminya.


Erfan melirik sekilas sebelum menegakkan punggungnya, mengambil berkas sebelum menyalakan laptopnya


"Br*ng**k, " umpatnya kesal melempar berkas ke atas meja ketika menunggu loading laptop yang terasa lama.


Sedangkan Dara hanya berdiri diam didepan Erfan memperhatikan kemarahan suaminya.


Ctak ctak ctak ctak Erfan menekan tombol enter berkali-kali dengan kasar guna mempercepat loading laptopnya.


"Hah, br*Ng**k." Ucap Erfan menekan lebih kasar lagi tombol enter sebelum menjatuhkan lagi punggungnya disandaran kursi.


"Apa kamu bisa memelukku Mas?" ucap Dara lirih berdiri di depan Erfan


Erfan menatap Dara penuh tanya, "Harusnya kamu yang memelukku, apa kamu sadar sudah melukai perasaanku?"


"Perasaanku juga terluka Mas," ucap Dara meneteskan air mata.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Erfan sambil berdiri kemudian menghampiri Dara.


Erfan mencakup pipi Dara dan mengarahkannya ke atas menghadap wajahnya, "Apa yang Dewa katakan hingga membuatmu menangis?" tanya Erfan penasaran.


Dara semakin menangis saat menatap lekat wajah suaminya, air matanya semakin deras membasahi pipi.

__ADS_1


"Jangan menangis," ucap Erfan merengkuh pundak Dara dan membawanya dalam pelukan.


Tangisan Dara semakin pecah dalam pelukan suaminya, "kuatkan aku agar bisa mempertahankan rumah tanggaku Ya Allah, jangan biarkan cintaku untuk Dewa membuatku salah langkah. Buka hatiku agar hatiku bisa mencintai suamiku sepenuhnya." Doa Dara dalam hati.


"Apa ini karena Dewa?" tanya Erfan setelah menarik tubuh Dara dari pelukannya.


"Dara menggelengkan kepala pelan sambil menyeka air matanya," Kita pindah kerumah papa ya Mas?" tanya Dara menatap Erfan.


Erfan mengangguk sebelum kembali memeluk Dara, "Nanti malam kita pindah ke rumah Papa," ucap Erfan membelai lembut kepala Dara.


"Maaf Wa, aku harus menjauhi kamu, agar aku bisa melupakan kamu. Kamu harus menemukan wanita lain yang bisa menjaga perasaanmu Wa, walaupun sakit, aku akan berusaha merelakanmu." Ucap Dara dalam hati.


Berada dipelukan Erfan, perasaan yang tadinya sesak mulai terurai dan berganti dengan perasaan nyaman dan tenang.


"Ayo duduk dulu Ra," ucap Erfan melepaskan pelukannya, kemudian menggandeng tangan Dara dan mendudukkannya diatas sofa.


"Aku ambilkan minum dulu ya?" ucap Erfan melangkah ke arah kulkas mini yang ada disamping sofa, mengambil satu botol air mineral untuk diberikan kepada istrinya."


"Minum dulu Ra," ucap Erfan memberikan botol minum yang sudah dia buka tutupnya.


"Makasih Mas," ucap Dara mengambil alih minuman dari tangan suaminya.


Dara segera meminum air dalam botol hingga menyisakan setengahnya.


"Apa kamu sudah bisa menjelaskan semuanya Ra?" tanya Erfan mengambil botol minum dari tangan Dara dan meletakkannya di atas meja.


"Aku minta maaf Mas, saat aku mau masuk ke dalam taksi tiba-tiba Dewa datang dan ikut masuk," ucap Dara menatap Erfan.


Erfan menghela nafas, "Apa yang dia katakan hingga membuat kamu menangis?"


"Ra," ucap Erfan menyentuh tangan Dara.


"Apa aku harus menjawabnya Mas?" ucap Dara menatap Erfan.


"Apa menyakitkan buatku Ra?"


Dara diam tak menjawab.


"Apa perkataan Dewa menggoyahkan perasaan kamu untukku Ra?" tanya Erfan lirih.


Dara menatap lekat wajah Erfan, "Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk melupakan Dewa Mas," ucap Dara setelah memeluk badan tegap suaminya. "Aku minta maaf," ucapnya lagi masih memeluk Erfan.


"Fan," ucap Nathan tiba-tiba masuk ruangan Erfan tanpa mengetuk pintu.


Membuat Dara reflek melepaskan pelukannya dan membenarkan posisi duduknya.


" O .. o.." Ucap Clara yang berdiri disamping Nathan.


"Kamu itu ya Than, kebiasaan tahu nggak kalau masuk nggak pakai ketuk pintu," omel Erfan.


Sedangkan Nathan masih berdiri ditempatnya, berusaha mencerna apa yang baru saja dia lihat.


"Kak," ucap Clara menyentuh lengan Nathan, membuat Nathan tersadar dari rasa terkejutnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menunjukkan ruangan kamu kepada Clara," ucap Nathan sambil melangkah menghampiri Erfan, diikuti dengan Clara disampingnya.


"Hai," sapa Clara melambaikan tangannya menatap Dara, dan Darapun tersenyum untuk membalas sapaan Clara.


Nathan berdiri didepan Erfan dan Dara , pandangannya tertuju kepada Dara yang sedang duduk di samping Erfan. "Apa hubunganmu sama Erfan Ra?" tanya Nathan dalam hati.


"Kenapa kamu hanya berdiri? ayo duduk," ucap Erfan menatap Nathan.


"Ayo duduk Cla," ucap Dara kepada Clara.


"Kalian saling kenal?" tanya Nathan sambil duduk disofa bundar depan Erfan.


"Kenal lah, kita sudah bertemu kemarin." Ucap Clara setelah duduk di samping Dara.


Raut wajah Nathan semakin menunjukkan kebingungannya.


"Aku ingin meluruskan sesuatu sama kamu Than," ucap Erfan menatap Nathan


"Meluruskan apa?" tanya Nathan bingung.


Erfan menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku sama Dara sudah menikah."


Nathan terdiam, terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya.


"Kami sudah menikah Hampir satu bulan, maaf kami nggak mengundang kalian untuk datang ke pernikahan." Lanjut Erfan.


"Itu artinya kamu menghianati Sarah Fan?" tanya Nathan menatap Erfan.


"Aku nggak bermaksud menghianatinya Than." Ucap Erfan membela diri kemudian menceritakan dari awal bagaimana dia bisa menikahi Dara, termasuk kesepakatan pernikahannya dengan Dara.


"Itu artinya aku masih punya kesempatan mendekati Dara setelah kamu menceraikannya."


"Apa maksud kamu?" ucap Erfan marah, berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Nathan.


"Mas, Kak," ucap Dara dan Clara terkejut.


Dara berusaha menahan lengan Erfan sedangkan Clara berusaha melepaskan cengkraman Erfan pada leher kakaknya.


Erfan melepaskan cengkraman tangannya, berusaha mengontrol emosi yang ada di dalam dirinya, "Jangan pernah berfikir untuk mendekati istriku," ucap Erfan kesal.


"Apa kamu akan tetap mempertahankan Dara jika Sarah tidak menikah? karena yang aku tahu kamu sangat mencintai Sarah Fan," ucap Nathan sambil membenarkan Krah kemejanya.


Dara terkejut saat mendengar kalimat Nathan, "Bagaimana aku bisa melupakan kemungkinan itu? jawab Mas apa kamu tetap bertahan denganku jika Sarah tidak menikah?" tanya Dara dalam hati menatap Erfan.


"Kenapa kamu diam Fan?" tanya Nathan lagi saat tidak mendengar jawaban dari Erfan.


"Hahaha ternyata kamu seegois ini Fan," ucap Nathan mengejek sahabatnya.


"Kenapa kamu nggak bisa menjawabnya Mas?" tanya Dara menahan rasa sesak saat mengetahui kalau dirinya hanya dijadikan sebagai wanita penutup luka oleh suaminya.


_________________________________________


JANGAN LUPA LIKE, FAVORITE dan VOTE

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2