Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
98. Akhir Dari Sandiwara Cindy


__ADS_3

Cindy membuka matanya, berusaha bertahan dengan akting memelasnya memegangi pipinya yang terasa panas. "Kenapa kamu menamparku Ra?" tanya Cindy lirih merubah kebeningan matanya menjadi berkaca-kaca.


Plakkkk tamparan Dara kembali melayang ke wajahnya


"Uh.....," gumam Nathan pelan menyentuh pipinya sendiri, sedangkan Erfan masih setia dengan wajah datarnya menyaksikan setiap tamparan yang di lakukan istrinya.


"Aku bahkan memohon kepada Mas Erfan agar memberimu kesempatan untuk tetap bekerja disini, aku berempati dengan kehidupanmu, tapi ini balasan yang kamu berikan kepadaku? menusukku dari belakang?" omel Dara dengan perasaan gusarnya metatap tajam wanita yang hampir berhasil merusak rumah tangganya.


Cindy Balik menatap Dara, wanita yang sudah sangat dibencinya karena rasa empatinya dengan Rania, menghilangkan mata berkaca kacanya dan merubahnya menjadi tatapan sinis penuh kilatan emosi.


"Apa aku menyuruhmu berempati denganku? kamu nggak lebih dari wanita bodoh yang mudah tertipu dengan semua sandiwaraku," Jawab Cindy dengan tatapan tajamnya.


"Aku merasa iri, kenapa wanita bodoh sepertimu bisa sangat beruntung bisa menikahi laki-laki seperti Pak Erfan," tambah Cindy lagi dengan seringai sinisnya menatap Dara.


"Kurang ajar kamu ya....." Ucap Dara semakin terpancing emosinya, melayangkan kembali tangannya ke atas hendak menampar kembali wajah Cindy.


Sayang, belum sempat tangan Dara mencapai pipi Cindy, Cindy sudah berhasil menahan tangannya, mencengkeramnya dengan keras, sambil mengeratkan tautan giginya, beradu tatap dengan tatapan Dara yang terlihat gusar.


Cindy menyentakkan tangan Dara keras- keras sebelum melayangkan tangan kanannya balik menampar Dara.


Plakkk suara kerasnya tamparan Cindy membuat Erfan terperanjat menghampiri istrinya, sedangkan Nathan tampak terkejut hendak berdiri dari duduknya.


"Kamu nggak papa Ra?" tanya Erfan panik melihat pipi istrinya yang memerah, membuat nyali Cindy yang tadinya memuncak menjadi menyusut, berganti dengan rasa khawatir.


Plakkkkkkk tamparan sangat keras dari Erfan yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya menyerang Cindy.


"Mas....," pekik Dara terkejut melihat Cindy yang jatuh di atas lantai, menyentuh pipinya yang sangat merah dengan hiasan sedikit darah di sudut bibirnya.


"Berani sekali kamu menyakiti istriku?" Sentak Erfan berdiri menghadap Cindy.


"Aku bahkan belum memberimu pelajaran masalah pemalsuan hasil tes itu? dan kamu sudah berani menampar istriku?" teriak Erfan dengan kilatan emosi di matanya, membuat Cindy menangis ketakutan.


"Br*ngsek kamu wanita j*lang," ucap Erfan penuh emosi, mengarahkan tangannya untuk menarik kasar tangan Cindy.


"Mas......." Dara berusaha menahan lengan suaminya yang terlihat kalap, menarik kuat kuat tangan suaminya agar melepaskan cengkeramannya kepada Cindy.


"Mas Erfan, dia wanita Mas,....." Ucap Dara berusaha menenangkan suaminya.


Erfan mengibaskan tangan Cindy dengan kasar untuk melepaskan cengkeramannya, sebelum bediri tegak merapikan jas kerjanya yang masih terlihat rapi.


"Kamu ingat, kamu selamat sekarang karena Dara, dia bukan wanita yang bisa kamu sakiti semau kamu, dia wanitaku, istri dari Erfan Pratama, berani kamu menyentuhnya sedikit saja, aku nggak akan segan-segan menghabisimu." Ucap Erfan tajam, mendelik kan matanya menatap Cindy yang masih menangis terduduk di lantai.


Erfan menggandeng tangan istrinya, melangkahkan kakinya mendekati kursi kebesarannya.


"Kamu duduk dulu Ra," ucap Erfan mengarahkan istrinya agar duduk di atas kursi.


Tut Erfan menekan salah satu tombol telepon kantornya yang ada di atas meja, dan menyambungkannya ke bagian keamanan.

__ADS_1


"Kamu ke ruanganku sekarang," Ucap Erfan sebelum mematikan kembali sambungan teleponnya.


"Apa kamu ingin memberikan pembelaanmu sekarang? kenapa kamu memalsukan hasil tesku?" tanya Erfan berdiri bersandar di meja kerjanya menatap Cindy.


"Cindy hanya diam menunduk, menangis tergugu tak menjawab pertanyaan Erfan.


"Oke..aku juga nggak butuh penjelasanmu, kamu bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi." Ucap Erfan lagi membuat Cindy tersentak, mendongakkan kepalanya menatap Erfan.


Tok tok tok suara ketukan pintu ruangan Erfan.


"Masuk," teriak Erfan.


Pintu terbuka, menampakkan Seorang security perusahaannya dari balik pintu, sebelum melangkahkan kakinya masuk mendekati Bos besarnya.


"Seret dia ke kantor polisi!" Ucap Erfan menggerakkan kepalanya ke arah Cindy.


"Pak....saya mohon maafkan saya, saya janji nggak akan mengulangi perbuatan saya," Ucap Cindy memohon saat dipaksa berdiri oleh laki-laki berseragam putih.


"Ra...kamu orang baik Ra, maafkan aku, aku salah Ra....," Ucap Cindy kembali meronta berusaha melepaskan tubuhnya yang di bawa keluar oleh Security.


Erfan menghela nafas panjang sebelum berbalik mentap istrinya yang masih terlihat shock.


"Apa masih sakit Ra?" tanya Erfan berjongkok di depan istrinya, menyentuh pipi Dara yang masih memerah.


Dara menggelangkan kepalanya pelan.


"Ehem," Nathan berdehem mengalihkan pandangan Dara dan Erfan ke arahnya.


"Cih," dengus Erfan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Keluar sana!" jawab Erfan kembali menatap Nathan.


"Dasar kamu ya...teman yang nggak tahu diri, sudah dibantu malah mengusir!" Protes Nathan membuat Erfan terkekeh dan segera berdiri dari jongkoknya.


"Terimakasih Tuan Nathan," ucap Erfan menyilangkan tangan kanannya di atas dada sambil menundukkan sedikit badannya menghadap Nathan.


"Hahahaha, jangan lupa naikin gajiku," Nathan tertawa berdiri dari duduknya.


"Oke," jawab Erfan mengedipkan satu matanya sambil memberikan kode ok ke arah sahabatnya.


"Aku balik ke ruanganku dulu, silahkan lanjutin sayang-sayangannya." ucap Nathan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Erfan.


"Kamu mau pulang? istirahat dulu ya?" tanya Erfan menatap lembut istrinya.


"Pekerjaan Mas Erfan gimana?" jawab Dara masih duduk di kursi suaminya.


"Kita urus besok, aku mau menikmati hari bahagia ini bersama kamu," jawab Erfan memeluk istrinya dengan Erat, membuat Dara tersenyum, balik memeluk suaminya.

__ADS_1


"Ayo," jawab Dara melepaskan pelukannya untuk berdiri menghadap suaminya.


Erfan menyunggingkan seulas senyumnya sebelum mengandeng tangan Dara untuk keluar dari ruangannya.


***


Di dalam mobil, Dara hanya diam, duduk bersandar di sandaran kursi penumpang sambil memejamkan matanya.


"Kenapa Ra?" tanya Erfan masih fokus dengan stirnya.


"Kepalaku pusing Mas," jawab Dara tanpa membuka mata.


"Kok tiba-tiba?"


"Nggak tahu," Jawab Dara membuka matanya, melihat jalanan dari balik kaca mobilnya.


"Maasss Masssss berhenti sebentar," Ucap Dara memukul-mukul pelan lengan suaminya tetap mengarahkan pandangannya ke arah luar.


"Kenapa? ada apa? tanya Erfan bingung.


"Ayo cepat berhenti Mas..." ucap Dara lagi menatap suaminya.


"Iya iya.... sebentar dong...." Jawab Erfan menepikan mobilnya untuk berhenti di pinggir jalan.


"Ada apa?" tanya Erfan penasaran.


"Aku ingin makan mangga itu Mas....," jawab Dara menoleh ke belakang, menunjuk kumpulan buah mangga yang masih ada di atas pohonnya.


"Ya sudah ayo beli, di depan sana ada supermarket."


"Bukan mangga di supermarket Mas...tapi mangga itu." ucap Dara menekankan.


"Ha? punya Orang itu Ra!"


"Ya minta aja Mas, atau kita beli." Jawab Dara degan seulas senyum nya menatap Erfan.


"Kita beli di supermarket aja ya? itu rumah orang Ra, masak mau beli disana, lagian itu rumah orang kaya, nggak mungkin mau menerima uang receh penjualan mangganya."


"Ya nggak papa Mas, kita kan belum coba, ayo lah Mas....," ucap Dara merayu.


"Kita beli aja di supermarket, atau di penjual mangga yang ada di pingir jalan," jawab Erfan ingin menyalakan kembali mesin mobilnya. Membuat Dara mengarahkan lirikan ke arahnya.


"Ya Allah ya Tuhanku...." ucap Erfan menghela nafas menatap istrinya.


Bersambung.


___________________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"


__ADS_2