Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 51. Memori Masa Lalu


__ADS_3

"Maaaa," pekik Dara berusaha menahan tubuh Mama Eri, dibantu dengan Erfan yang dari tadi berdiri disampingnya.


"Mama nggak papa," ucap Mama Eri berusaha berdiri tegak, menepis pelan tangan Dara dan Erfan yang ingin membantunya.


"Ibu kenapa?" tanya Supir Mama Eri yang baru turun dari mobil.


"Nggak Papa, bantu aku ke mobil." Ucap Mama Eri dengan suara lemah sambil mengulurkan tangan ke arah supirnya.


"Aku bantu ya Ma?" ucap Dara ingin menuntun Mama Eri.


"Nggak usah, sudah ada Pak Tarjo yang bisa bantu Mama," Ucap Mama Eri menepis kembali tangan Dara.


"Ayo Pak," Ucap Mama Eri kepada Pak Tarjo yang sedang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Sambil dibantu Pak Tarjo, Mama Eri melangkahkan kakinya ke arah mobil, meninggalkan Dara yang sedang menangis menatapnya.


"Maaaa..."Panggil Dara ingin melangkahkan kaki mengikuti langkah Mama Eri.


"Jangan Ra," Ucap Erfan menahan pergelangan tangan Dara.


"Aku harus mengejar Mama Mas, aku belum menjelaskan apapun kepadanya." Ucap Dara menangis menatap Erfan.


"Berikan waktu untuk Tante Eri Ra, Tante Eri masih shock, jangan memaksanya untuk menerima penjelasanmu." Ucap Erfan berusaha menenangkan Dara.


Dara terdiam, berusaha mencerna kalimat suaminya.


"Semuanya akan baik baik saja Ra," Ucap Erfan merengkuh tubuh Dara, membawanya ke dalam pelukannya.


Dara melepaskaan pelukan Erfan


saat melihat mobil mama Eri melintas melewatinya. Membuatnya semakin menangis, berusaha menahan sesaknya hati yang sudah dipenuhi oleh perasaan bersalah.


"Ayo Ra," ucap Erfan merangkul bahu Dara, mengusapnya lembut sebelum menuntun istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


Dara masih menangis, menyandarkan kepalanya menatap jalanan dari balik kaca pintu, membelakangi Erfan yang sesekali melirik ke arahnya.


"Ra," panggil Erfan lembut.


Dara hanya diam, tak menjawab panggilan suaminya, fikirannya masih dipenuhi oleh wajah Mama Eri, saat memori otaknya kembali mengingat kebersamaannya dulu bersama Mama mantan kekasihnya itu.


"Apa kamu begitu dekat sama Mamanya Dewa Ra?" tanya Erfan mencoba berbicara.


"Sangat dekat Mas," ucap Dara tetap memandang jalanan.


"Melebihi kedekatanku sama Ibu." Tambahnya lagi.


Dara kembali diam, membuat suasana didalam mobil kembali hening.


"Mama Eri orang yang sangat baik Mas, dia menyayangiku, mungkin karena sudah menganggapku sebagai anaknya Sendiri, jadi setiap kali aku bertengkar sama Dewa, Mama Eri pasti membelaku dan memarahi Dewa." Ucap Dara membuka kembali memori masa lalunya.


"Walaupun usia Mama Eri sudah hampir 50 tahun, tapi jiwanya masih tetap muda, kami terbiasa jalan bareng, belanja bareng, nonton bareng, sampai pernah suatu hari Dewa marah karena aku lebih banyak menghabiskan waktuku sama Mamanya ketimbang sama dia." Ucap Dara tersenyum pilu menatap Erfan.


"Dan sekarang aku telah menyakitinya Mas, menggoreskan luka diperasaannya." Ucap Dara kembali menangis menatap Erfan.

__ADS_1


Erfan menepikan mobilnya, sebelum menghentikannya dipinggir jalan.


"Apa kamu ingin mengunjungi rumah Tante Eri Ra?" ucap Erfan menatap Dara.


"Boleh Mas?" tanya Dara menatap Erfan.


"Boleh." Ucap Erfan tersenyum menganggukkan kepalanya pelan.


"Terimakasih Mas, terimakasih." Ucap Dara berhambur memeluk suaminya.


"Besok sepulang kerja kita kerumahnya ya?" Ucap Erfan membelai lembut kepala Dara.


Dara menggukkan kepalanya pelan masih didalam pelukan Erfan, menyeka air matanya sebelum melepaskan pelukannya.


Erfan menatap lembut manik mata istrinya sebelum menyunggingkan senyum termanisnya. "Kamu tau? kamu sangat jelek saat menangis." Goda Erfan menyeka sisa air mata Dara.


"Apa Mas Erfan masih mencintaiku jika aku kelihatan jelek Mas?" ucap Dara berusaha untuk tersenyum.


"Tergantung."


"Tergantung apa?" tanya Dara menyeka kembali sisa air matanya.


"Tergantung gimana panasnya aksimu nanti malam." Ucap Erfan terkekeh.


Dara memukul pelan dada suaminya.


Erfan kembali mendekap tubuh Dara, "Kamu akan selalu terlihat cantik dimataku Ra, hanya saja hatiku terasa sakit saat melihatmu menangis." Ucap Erfan membelai lembut kepala Dara.


"Jangan menangis lagi,oke? ucap Erfan melepaskan pelukannya menatap Dara.


***


Erfan tetap mengajak Dara pergi ke mall, selain karena ingin membeli kebutuhan Dara, Erfan juga ingin menghibur hati istrinya agar tidak terbelenggu di dalam kesedihan.


Tepat pukul satu siang mobil Erfan memasuki basement mall, setelah memarkirkan mobilnya dengan baik Erfan dan Dara segera turun dari mobil.


"Kita nonton dulu apa belanja dulu Ra?" tanya Erfan menggandeng tangan Dara dan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk yang berada diarea basement


"Nonton dulu gimana Mas?"


"Boleh," ucap Erfan tersenyum tetap melangkahkan kakinya menuju lantai atas tempat gedung bioskop berada.


"Mau lihat film apa?" tanya Erfan setelah berada diarea bioskop.


"Horor Mas." Ucap Dara antusias.


"Ha? horor?"


Dara menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Kenapa? Mas Erfan takut?"


"Hahaha ya nggak lah, mana mungkin seorang Erfan Pratama takut sama film horor?" ucap Erfan tertawa garing menyembunyikan rasa takutnya.


"Oh ya?," ucap Dara terkekeh sambil mengangkat jempol kanannya ke depan Erfan, saat matanya menangkap sinyal aneh diwajah suaminya.

__ADS_1


Setelah membeli tiket dan memilih tempat duduk, Erfan dan Dara segera membeli popcorn beserta minuman untuk dibawa masuk ke dalam studio dua.


"Sini Ra," ucap Erfan sebelum duduk dikursi yang sesuai dengan tiketnya, yang berada dibarisan nomor dua dari atas dikuti dengan Dara yang akan duduk disampingnya.


"Yakin Mas Erfan berani? atau kita ganti film aja?" Bisik Dara ditelinga Erfan.


"Jangan ngejek deh Ra," ucap Erfan sambil menyuapkan popcorn ke mulut Dara.


"Jangan pingsan ya Mas," Goda Dara berbisik.


"Cih," dengus Erfan menyembunyikan rasa takutnya.


Setelah beberapa menit menunggu, Film horor pilihan Dara sudah mulai diputar.


"Ra, kok nggak ada orang dibarisan kursi kita?" Bisik Erfan ditelinga Dara.


"Itu banyak orang disana Mas," ucap Dara sambil menunjuk kursi pada barisan tengah dan depan.


"Sepertinya aku salah memilih kursi," batin Erfan menelan salivanya kasar.


Erfan berusaha untuk tenang, tapi sayang jantungnya tidak bisa diajak berkoordinasi dengan baik, jantungnya tetap berdetak dengan cepat, tangannya berkeringat dingin saat melihat setiap adegan yang ada difilm.


"Mas Erfan nggak papa? tangan kamu dingin sekali Mas," ucap Dara menggenggam Tangan Erfan.


"ACnya dingin Ra, makanya tanganku dingin."


"Kita keluar aja ya." Ucap Dara lagi.


"Kenapa? tanggung Ra, kamu nikmati aja filmnya." Ucap Erfan sebelum meminum minumannya.


Dara menganggukkan kepalanya sebelum melihat lagi ke arah layar.


Erfan semakin tegang saat musik Lingsir wengi dimainkan bersama dengan musik gamelan yang semakin memperkuat kesan mistis yang ada didalam film, saat adegan penari mulai meliukkan badannya mengikuti irama musik membelakangi penonton. hingga tiba saat penari itu tiba-tiba membalikkan kepalanya dengan cepat.


"Aaaaaa," Erfan berteriak mencengkeram tangan Dara hingga menjadi pusat perhatian penonton yang ada distudio.


"Mas...." Ucap Dara terkejut mendengar teriakan suaminya.


"Hahaha, aku hanya sedikit shock Ra," Ucap Erfan berusaha menahan malu.


"Pffffttt," Dara menahan tawanya.


"Sedikit shock kok sampe teriak seperti itu Mas," ucap Dara terkekeh.


"Sini Mas sembunyi dibahu aku." Ejek Dara sambil menepuk pelan bahunya yang ada disamping Erfan.


"Berani ya kamu mengejek suamimu," ucap Erfan menatap Dara sebelum tangannya tiba-tiba menarik tengkuk Dara untuk mendekat ke wajahnya, menc*um bibir istrinya tanpa aba-aba. membuat Dara terdiam membelalalakkan matanya.


"Apa kamu berani mengejekku lagi Ra?" bisik Erfan ditelinga Dara sesaat setelah melepaskan ciumannya.


"Nggak Mas," ucap Dara tersenyum kembali menatap layar.


_________________

__ADS_1


HAI READERS JANGAN LUPA LIKE, KOMEN FAVORIT DAN VOTENYA YA....BIAR AUTHORNYA LEBIH SEMANGAT UNTUK UP


__ADS_2