
Erfan mengepalkan tangan kanannya yang berada di atas lutut, mengeratkan gigi-giginya dengan alis yang tertarik ke bawah menatap tajam laki-laki yang sedang menguji kesabarannya.
"Jangan keburu Emosi Fan, aku nggak ingin merebut Dara dari kamu, yang aku inginkan hanya waktu Dara untuk Eliana, agar Eliana tidak merasa kehilangan kasih sayang seorang Mama, aku ingin kamu mengijinkan El memanggil Dara dengan sebutan Mama, hanya itu! bukankah mudah?"
Erfan mencebikkan bibirnya sebelum menoleh menatap Dara, "Apa laki-laki ini yang kamu sebut baik kemarin Ra? yang nggak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan?"
"Aku memang bukan laki-laki baik Fan, aku hanya laki-laki buruk yang berusaha untuk memperjuangkan kebahagiaan putriku Eliana." Ucap Aditya membuat Erfan mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Apa menurutmu harga istriku semurah itu Dit? hanya separuh dari harga tanah sengketa? Ucap Erfan dengan sorot mata kebenciannya.
"Apa kamu ingin menegosiasikan harga istri kamu sekarang?" ucap Aditya lagi semakin memancing emosi Erfan.
"Br*ngs*k!" sentak Erfan hendak berdiri dan bersiap untuk melayangkan tinjunya.
"Mas," Ucap Dara menahan lengan suaminya.
Sorot mata Dara yang biasanya teduh dan lembut kini sudah memerah menahan air mata akibat penghinaan yang Aditya lakukan kepadanya.
"Apa aku serendah itu di mata kamu Kak? tega sekali kamu melakukan ini kepadaku." Ucap Dara dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya, menatap Aditya dengan sorot mata yang tajam.
"Bukankah setiap orang tua ingin anaknya di cintai dengan tulus Kak? bagaimana perasaan Mitha jika aku menyanyangi anaknya hanya karena imbalan?" ucap Dara lagi membuat Aditya terdiam balik menatapnya.
"Apa aku pernah menyakiti perasaan kamu? tega sekali kamu menghinaku seperti ini? tambah Dara lagi berusaha menahan rasa sakit hatinya.
"Ra....."Ucap Aditya terpotong.
"Kalaupun aku menegosiasikan harga istriku, kamu nggak akan pernah mampu membelinya walaupun dengan seluruh harta yang kamu miliki sekarang." Ucap Erfan menatap tajam Aditya dengan tangan yang sudah menggenggam erat tangan istrinya.
"Dari awal aku nggak pernah melarang Dara untuk menyayangi Eliana, aku hanya nggak bisa terima saat Eliana memanggil istriku Mama, jika kamu memang laki-laki pintar, kamu pasti akan menemukan solusi mudah untuk masalah ini, bukan malah memperburuk masalah dengan sikap aroganmu itu."
Aditya masih terdiam menatap Erfan dan Dara bergantian.
"Anggap saja kita nggak pernah kesini untuk menegosiasikan tanah, karena aku nggak membutuhkannya lagi." Ucap Erfan lagi sebelum berdiri dan menggandeng tangan Dara untuk keluar dari ruangan Aditya.
Sedangkan Aditya masih terpaku di tempat duduknya, memejamkan matanya sesaat sebelum menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa.
Suasana di dalam mobil Erfan terasa hening, tidak ada yang mengeluarkan suara, Erfan masih fokus dengan stir yang dipegangnya sambil beberapa kali melirik Dara yang sedang duduk melamun di kursi sebelahnya.
"Ra," Erfan membuka suara, membuat Dara menghentikan lamunannya untuk menoleh menatap Erfan.
"Jangan difikirkan lagi ucapan Aditya, lupakan semuanya." Ucap Erfan menggenggam tangan Dara dengan tangan kirinya.
Dara menganggukkam kepalanya pelan balik menggenggam tangan suaminya. "Bagaimana dengan kerugian Perusahaan Mas?" tanya Dara menatap Erfan.
"Nanti kita bicarakan lagi dikantor sama Clara dan Nathan," ucap Erfan melepaskan genggaman tangannya. "lagian Itu urusanku, biar aku yang memikirkannya," ucap Erfan lagi membelai puncak kepala istrinya.
***
__ADS_1
Setelah sampai di perusahaannya, Erfan dan Dara segera melangkahkan kaki mereka menuju ruangannya.
"Tolong kamu panggilkan Clara dan Nathan suruh ke ruanganku sekarang." Ucap Erfan setelah berdiri didepan Cindy.
"Baik Pak," ucap Cindy segera berdiri sebelum melihat langkah Erfan masuk ke dalam ruangannya.
"Apa tadi ada yang mencari Pak Erfan Cin?" tanya Dara mengalihkan pandangan Cindy dari Erfan.
"Nggak ada Ra," jawab Cindy menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum meletakkan tas yang di bawanya di atas kursi kerjanya.
"Apa ada masalah Ra? kenapa Wajah Pak Erfan seperti itu?"
"Ada masalah di perusahaan Cin, nanti aku ceritain ke kamu ya? aku tinggal ke dalam dulu." Ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Erfan.
Cindy hanya menganggukkan kepalanya menatap Dara sebelum mengangkat gagang telepon yang ada di mejanya untuk telepon Nathan dan Clara sesuai dengan perintah atasannya.
Dara membuka pintu ruangan Erfan, terlihat Erfan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil melipat tangan kirinya di atas meja, sedangkan tangan kanannya sibuk memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Dengan langkah perlahan Dara menghampiri Erfan dan berdiri di samping suaminya. "Semua akan baik-baik saja Mas," ucap Dara dengan wajah sendunya mengusap lembut punggung Erfan.
Erfan menurunkan tangannya sebelum mendongakkan sedikit kepalanya menatap Dara, "Semua akan baik-baik saja asal kamu selalu di sampingku Ra," ucap Erfan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Dara dan menempelkan salah satu pipinya di perut Istrinya.
Dara membelai lembut kepala Erfan. "Aku akan selalu disini bersama kamu Mas."
Erfan diam tak bersuara menikmati harum tubuh istrinya yang mampu menenangkan fikirannya.
Erfan melepaskan pelukannya sebelum berdiri dan melangkah mendekati Nathan dan Clara.
"Ada apa? bukankah kamu baru pulang dari Permana Group?"
"Kalian duduklah, bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Erfan melangkahkan kakinya menuju sofa.
"Aku tadi kesini, Cindy bilang kamu ada meeting keluar kantor." Ucap Nathan ikut melangkah ka arah sofa diikuti dengan Clara dibelakangnya.
"Aku keluar dulu ya Mas?" ucap Dara hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Kamu disini aja Ra," ucap Erfan menahan langkah Dara dan menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
Dara menganggukkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk di sebelah Erfan.
"Kenapa wajah kamu seperti itu Fan? apa hasilnya buruk?" tanya Nathan menatap Erfan.
"Berapa kita beli tanah sengketa itu Cla? tanya Erfan kepada Clara, mengacuhkan pertanyaan Nathan.
"Lima belas M Kak." jawab Clara.
__ADS_1
"Apa uangnya sudah kembali?"
"Sudah Kak,"
"Berapa biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk pembangunan di tanah itu?
"Satu M, itu belum termasuk bahan-bahan bangunan yang sudah dipesan dan belum terpakai."
Erfan mengepalkan tangan kanannya mendengar jawaban Clara.
"Ada apa sebenarnya Fan?" tanya Nathan mulai kesal.
"Aditya si br*ngs*k itu nggak ingin menjual tanahnya untuk kita." Ucap Erfan sambil memijat pelipisnya dengan tangan kanannya yang tertumpu di atas lutut.
"Terus gimana Kak?' apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Clara membuat Erfan mengalihkan pandangannya untuk menatap dua adik kakak itu bergantian.
"Lupakan bangunan itu, robohkan semuanya, kita cari tanah baru untuk pembangunan outlet baru."
"Ha? yakin kamu Fan?' tanya Nathan terkejut dengan keputusan Erfan.
Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan menatap Nathan.
"Satu M Lo ini Fan, apa kamu akan membuangnya begitu saja?"
"Sudah nggak ada lagi yang bisa kita lakukan selain membongkarnya Than, nggak mungkin kan kita melanjutkan pembangunan di tanah milik orang lain? aku juga nggak ingin memohon kepada si br*ngs*k itu hanya untuk mempertahankan bangunan itu, harga diriku nggak semurah itu!" ucap Erfan dengan wajah kesalnya.
Nathan hanya menghela nafas untuk menanggapi keputusan Erfan yang terlihat serius dan nggak bisa dirubah.
"Siapkan saja proses untuk pembongkaran bangunan itu, dan segera cari tanah baru untuk pembangunan outlet kita." Ucap Erfan lagi menatap Nathan.
Nathan hanya mengangguk pasrah, "Satu M Lo ini Fan, bukan sepuluh juta atau seratus juta, apa kamu nggak sayang dengan uang sebanyak itu?" ucap Nathan lagi dengan nada yang melemah.
"Aku lebih sayang sama harga diriku dan istriku Than."Jawab Erfan tegas.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini Mas?' tanya Dara mencoba bersuara.
"Yakin Ra." Jawab Erfan menatap Dara.
"Apa kalian semua meragukan keputusanku?" protes Erfan menatap semua orang bergantian.
"Bagaimana nggak ragu, kamu...... ah sudahlah terserah kamu aja Fan." Ucap Nathan pasrah dengan keputusan atasannya.
"Izinkan aku untuk bicara lagi sama Kak Aditya Mas? mungkin dia bisa merubah fikirannya." ucap Dara penuh harap menatap suaminya.
Bersambung.
__ADS_1
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....
BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA**