
Erfan masih terjebak macet di perjalanan menuju rumah sakit.
"Kenapa macet sekali sih?" gumam Erfan mulai kesal karena sudah hampir sepuluh menit mobil yang di kendarainya hanya merambat dengan pelan.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Erfan segera mengambil dan menempelkan Headset bluetooth tanpa kabelnya ke salah satu telinganya sebelum menyambungkannya ke dalam ponsel.
Benar saja, setelah mendengarkan musik pop kesukaannya sambil ikut bernyanyi dan mengangguk anggukkan kepalanya pelan menikmati irama musik yang terdengar asik di telinganya cukup ampuh membuat Erfan menghilangkan kepenatannya di tengah tengah kemacetan kotanya.
Musik tiba-tiba berhenti berganti dengan nada dering ponsel saat ada panggilan telepon yang masuk.
"Halo Than." Ucap Erfan setelah menekan tombol yang ada di headsetnya.
"Kamu kemana Fan? kata Cindy kamu keluar?" tanya Nathan dari dalam ponsel.
"Mau kencan sama Dara, kenapa? ada apa?"
"Cih, aku kerja keras kamu malah enak enakan kencan di jam kerja."
"Sekali-sekali Than" jawab Erfan terkekeh, "ada apa?"
"Aku mau nunjukin lokasi tanah baru untuk pembangunan outlet.
"Ada berapa pilihan?" tanya Erfan.
"Satu sih Fan, tapi menurutku letaknya sangat bagus dan strategis, ada di nol jalan sama seperti lokasi tanah kemarin.
"Harganya?"
"Nggak jauh beda sama tanah kemarin."
"Surat-suratnya bagaimana?"
"Sertifikatnya memuaskan, jawab Nathan terkekeh, "Kamu tenang aja, aku sudah mengecek semuanya, nggak akan ada masalah lagi seperti kemarin." Jawab Nathan meyakinkan.
"Bagus lah, aku masih di perjalanan, besok kita survei ke lokasi,"
"Oke Fan," jawab Nathan sebelum mematikan panggilannya.
Jalanan kembali lenggang karena pengaturan apik dari para polisi untuk menertibkan pengendara mobil ataupun motor di perempatan jalan dengan lampu lalu lintas yang mati.
Erfan kembali melajukan Pajeronya dengan cepat agar segera sampai di Rumah Sakit dengan cepat.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mobil Erfan sudah memasuki halaman luas Rumah Sakit, Erfan segera memarkirkan mobilnya sebelum turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Rumah Sakit untuk mencari keberadaan ruang rawat Eliana.
Tok tok tok Erfan mengetuk pintu kamar rawat Eliana.
Cklek pintu terbuka menampakkan Aditya dari balik pintu.
"Mana Dara?" tanya Erfan datar menatap Aditya.
"Masuk dulu Fan," ucap Aditya mempersilahkan tamunya masuk.
Erfan segera masuk ke dalam kamar rawat Eliana sebelum mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang terlihat sangat luas.
Erfan terdiam sesaat setelah pandangannya jatuh kepada Dara yang sedang tidur bersama Eliana di atas ranjang, menjadikan lengan kanannya sebagai bantal kepala Eliana dengan tangan kiri memeluk tubuh mungil Eliana.
"Dara ketiduran, kamu bisa membangunkannya," ucap Aditya berdiri di samping Erfan ikut menatap ke arah ranjang.
"Biarin saja, aku akan tunggu disini sampai dia bangun." Ucap Erfan menatap Aditya.
"Kamu bisa duduk di sofa."
Erfan segera melangkahkan kakinya menuju sofa diikuti langkah Aditya yang berjalan di belakangnya.
"Mau soda apa air putih?" tanya Aditya berjalan menuju kulkas.
__ADS_1
"Jus sirsak." Jawab Erfan setelah duduk di sofa tetap menatap istrinya yang terlelap.
"Adanya air putih," ucap Aditya lagi berjalan kembali mendekati Aditya dengan membawa dua botol air dingin di tangannya.
"Kenapa nawarin kalau nggak punya apa-apa?" Protes Erfan menatap Aditya yang sedang meletakkan air di atas meja.
"Hanya formalitas," jawab Aditya datar sebelum duduk di sofa seberang Erfan.
"Cih," dengus Erfan mengambil salah satu botol air yang ada di atas meja.
"Mana Mega? tadi Dara bilang ada Mega juga di sini?" tanya Erfan lagi membuka tutup botol air mineral yang baru saja dia ambil sebelum menenggak air yang ada di dalamnya.
"Mega sedang membeli nasi di luar Rumah Sakit."
"Dara belum makan?"
"Belum, kamu bisa sekalian ikut makan di sini nanti, bukankah kamu ingin mengajak Dara makan siang di luar?"
"Bukan berarti aku ingin mengajak Dara makan di Rumah Sakit." Ucap Erfan kesal membuat Aditya terkekeh.
Cklek pintu kamar rawat Eliana terbuka, Terlihat Mega masuk ke dalam kamar sambil membawa tiga bungkus nasi yang di masukkan ke dalam kantong plastik.
Mega menganggukkan kepala sopan dengan seulas senyumnya menatap Erfan, dan melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
Erfan berdiri hendak membangunkan Dara yang masih terlelap memeluk Eliana.
"Ra...bangun Sayang..." Ucap Erfan berbisik ditelinga Dara sambil membelai lembut puncak kepala istrinya.
Dara menggerakkan perlahan kelopak matanya sebelum membuka kedua matanya melihat Erfan yang masih menyondongkan badannya berdiri di belakangnya.
"Mas..." ucap Dara sebelum meletakkan dengan pelan dan hati-hati kepala Eliana di atas bantal tipis untuk bangun dari tidurnya dan segera turun dari ranjang.
"Mas Erfan sudah datang?" ucap Dara setelah berdiri di depan Erfan.
"Mas Erfan sudah makan belum?" tanya Dara setelah melihat ke arah Mega yang sedang menyiapkan makanannya di meja makan.
"Belum, aku belum lapar."
Dara menggandeng lengan Erfan untuk berjalan bersama menuju meja makan.
"Silahkan dimakan Ra, Pak," ucap Mega menatap Dara, Erfan dan Aditya yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kok cuma tiga Meg?" tanya Aditya setelah duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Saya nggak tahu kalau suaminya Dara akan ke sini Pak, Pak Aditya sama Dara dan...." Ucap Mega terpotong menatap Erfan.
"Erfan," ucap Erfan datar memperkenalkan namanya.
"Dan Pak Erfan bisa makan dulu, saya nanti bisa beli lagi diluar." ucap Mega sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan.
"Kamu bisa makan disini bareng kita Meg, biar aku makan sebungkus berdua sama Mas Erfan." Ucap Dara menghentikan langkah Mega.
"Nggak usah Ra, aku bisa beli di luar."
"Jangan, mending makan bareng-bareng disini lebih rame. Nggak papa kan Mas? kita makan satu bungkus berdua?" tanya Dara menatap Erfan yang berdiri di sampingnya.
"Nggak papa sayang asal makannya berdua sama kamu," gombal Erfan menyentuh dagu Dara, membuat Mega tersenyum.
"Cih, gak malu apa kamu sok mesra begitu di depanku?" protes Aditya menatap Erfan.
Erfan mencebikkan bibirnya menatap Aditya, "Aku lupa kalau ada kamu." ucap Erfan sambil duduk di dekat Aditya diikuti Dara yang duduk di sebelah suaminya.
Aditya ikut mencebikkan bibirnya sebelum membuka satu bungkus nasi yang ada di depannya.
"Ayo Meg duduk." ucap Dara menunjuk kursi yang ada di seberangnya.
__ADS_1
Dara segera memberikan sebungkus nasi kepada Mega yang sudah duduk di kursinya sebelum membuka satu nasi bungkus untuknya dan suaminya.
Mereka makan dalam diam, saling menikmati tiap suap makanan yang masuk ke dalam mulut mereka, termasuk Erfan yang menikmati tiap suapan dari tangan istrinya.
"Ra," panggil Erfan di sela-sela kunyahannya.
"Hemmm" jawab Dara menatap Erfan sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Tadi Pas baterai ponsel kamu habis, kenapa nggak pinjam ponselnya Mega atau Aditya untuk menghubungiku?"
"Uhuk uhuk..."Dara tersedak mendengar pertanyaan suaminya, sedangkan Aditya tertawa dan Mega terlihat menahan tawanya.
"Pelan-pelan," ucap Erfan memberikan sebotol air putih kepada Dara sebelum mengalihkan pandangannya menatap Aditya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Erfan bingung, "apa kamu tidak punya pulsa untuk dipinjamkan ke istriku?" tambah Erfan tetap menatap Aditya.
"Asal kamu tahu, pulsaku sangat banyak, bahkan nggak akan habis walaupun dipakai telepon 24 jam selama setahun. Coba aja tanya ke Dara kenapa dia nggak pinjam ponselku." Ucap Aditya sebelum menenggak air putih yang ada di dalam botolnya
"Kenapa Ra?" tanya Erfan kembali mengalihkan pandangannya menatap Dara.
Dara terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Erfan, dia menggigit bibir bawahnya sebelum menyodorkan kembali sesendok nasi ke dalam mulut suaminya. "Nggak usah di bahas Mas, nggak penting kok." Jawab Dara kembali membuat Aditya menertawakannya.
"Aku ingin tahu alasan kamu, alasan apa yang membuat dia tertawa seperti itu." ucap Erfan melirik Aditya dengan tatapan sinisnya.
"Jawab aja Ra," Ucap Aditya di sela sela tawanya.
"Aku....aku nggak hafal nomor Mas Erfan."Jawab Dara ragu-ragu membuat tawa Aditya pecah.
"Sssssttttt" Dara mengkode Aditya agar berhenti tertawa dengan meletakkan jari telunjuknya di atas bibir, kemudian kembali menatap Erfan yang terlihat kesal dengan ucapannya.
"Maaf Mas, mulai hari ini akan aku hafalin nomor ponsel Mas Erfan," ucap Dara merayu.
"Hanya sepuluh menit, kamu harus sudah menghafal nomorku," ucap Erfan menahan rasa kesalnya menatap Dara.
"Astaga Mas....mana bisa aku menghafalnya hanya dalam waktu sepuluh menit, lihat saja sekarang aku masih sibuk nyuapin kamu," ucap Dara memanyunkan bibirnya.
Aditya berusaha menahan tawanya, terdiam sesaat sebelum membuka kembali obrolanya. "Untuk masalah tanah kemarin....." Ucap Aditya menggantung kalimatnya, membuat Dara dan Erfan mengalihkan pandangan ke arahya.
"Kamu bisa membelinya separuh harga." lanjut Aditya.
"Nggak perlu, karyawanku sudah menemukan lokasi tanah baru," jawab Erfan datar.
"Sudah dapat Mas?" tanya Dara sebelum menyuapkan sesendok nasi ke mulut suaminya.
Erfan menganggukkan kepalanya, "Besok aku sama Nathan mau survey lokasinya."
"Aku akan memberikan tanah itu tanpa syarat apapun."Ucap Aditya lagi.
"Kenapa?" tanya Erfan menatap Aditya.
"Karena aku tahu tanpa aku menawarkan tanah itu pun kasih sayang Dara sudah penuh untuk Eliana."
"B*doh sekali kamu baru mengetahuinya sekarang," ucap Erfan mencebikkan bibirnya, menciptakan tatapan sinis dari sorot mata Aditya.
"Mas," ucap Dara menyentuh lengan suaminya.
"Bisakah aku sesekali mengajak Eliana main ke rumah kalian? aku akan mengajari El untuk memanggil Dara Tante." Ucap Aditya penuh harap.
"Bisa, asal jangan keseringan, karena aku juga butuh waktu berdua sama Dara untuk membuat satu bayi seperti Eliana." Ucap Erfan datar tanpa beban menciptakan tawa dari Mega dan Aditya, dan pukulan pelan dari istrinya.
________________________
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....
BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA**
__ADS_1