Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 15. Pahitnya Rasa Manis


__ADS_3

"Mbak Rei kamu ke ruangan saya sekarang ya!" ucap Erfan melalui sambungan telepon kantor.


"Baik Pak," jawab Reina Secretaris Erfan.


Tidak perlu menunggu lama terdengar suara ketukan pintu ruangan Erfan, dan masuk seorang wanita cantik memakai blouse putih yang dipadukan dengan rok sepan biru muda selutut.


"Tolong bawa lamaran kerja ini ke Dept.Personalia, Pastikan mereka merekrut orang ini sebagai penggantimu nanti," ucap Erfan kepada Reina sambil memberikan map coklat yang berisi CV Dara.


"Baik pak," ucap Reina mengambil map coklat dan pergi meninggalkan ruangan Erfan.


Reina adalah wanita berumur 35 tahun Secretaris Pak Subrata saat menjabat sebagai CEO dulu, sudah bekerja selama 10 tahun dan akan mengundurkan diri karena alasan keluarga.


Erfan kembali fokus menatap laptop, sepuluh jemarinya menari kesana kesini diatas keyboard menyelesaikan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, hingga suara getar ponselnya yang ada di meja menghentikan aktifitasnya, sebuah pesan Wa dari Sarah.


"Nanti jadi ke apartemenku ya Fan? aku sudah buat kue khusus buat kamu.( emo love), " isi WA Sarah.


"Jadi dong Sayang, jadi nggak sabar aku makan kue kamu, ( emo love).


"Aku tunggu ya.., jangan lama-lama kerjanya aku sudah kangen."


"Siap Nyonya...ekspress pokoknya, aku lebih kangen."


Erfan tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


"Senyum-senyum sendiri," ucap Nathan tiba tiba, sahabat Erfan yang berusia 29 tahun yang menjabat sebagai GM di perusahaanya.


"Sejak kapan kamu disini? main duduk aja nggak pakai ketok pintu, nggak pakai permisi, aku pecat kamu."


"Aku sudah ketuk pintu tadi Fan, kamu aja yang terlalu sibuk dengan senyummu, aku turunkan jabatanmu."


"Issss," ucap Erfan sambil mengayunkan tangan kanannya ke atas seperti hendak meninju Nathan, "ngapain kamu kesini?" lanjutnya.


"Nggak papa aku jenuh aja, ingin kesini merefresh otak."


"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?"


"Sudah beres Bos," ucap Nathan sambil mengulurkan jempolnya ke depan Erfan.


"Nggak sia-sia aku jadikan kamu bawahanku," ucap Erfan terkekeh.


"Nathan....," ucap Nathan membusungkan dadanya dan menepuk-nepuknya dengan tangan kanan.


"Cih," ucap Erfan mencebiknya bibirnya, "sudah sana balik ke tempatmu, jangan ganggu aku, tuh lihat kerjaanku masih banyak," ucap Erfan sambil mengarahkan matanya pada tumpukan berkas yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Iya iya....aku balik deh, gitu banget sama teman sendiri," ucap Nathan terkekeh sambil berdiri dan pergi keluar ruangan Erfan.


Erfan menggelengkan kepala pelan menatap kepergian Nathan sebelum kembali fokus ke layar laptopnya, berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya agar secepatnya bisa pergi ke rumah Sarah.


***


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Erfan keluar ruangan dengan mencangklong tas kerjanya dipundak sebelah kiri. Suasana kantor terlihat sepi, hanya suara sepatu dari langkah kaki Erfan yang terdengar.


Setelah memasuki lift dan turun di lantai satu, Erfan berjalan keluar loby, hanya ada seorang satpam yang menyapa ramah, Erfan hanya tersenyum dan tetap berjalan menuju mobilnya yang sudah berhenti di depan pintu utama gedung.


"Terimakasih," ucap Erfan sambil menerima kunci mobil dari petugas valet, Erfan segera masuk mobil dan melajukan mobil kerumah Sarah.


***


Ting tung ting tung , Erfan memencet bel apartemen Sarah.


Beberapa saat menunggu pintu terbuka dan dilihatnya seorang wanita cantik memakai kaos santai berwarna putih tersenyum pilu menyambutnya di balik pintu.


"Masuk Fan," ucap Sarah menarik lembut tangan kanan Erfan sebelum bergelayut manja di lengannya.


"Kenapa Sayang?" Tanya Erfan ketika melihat wajah murung Sarah.


Erfan membalikkan badan menatap Sarah kemudian mencakup kedua pipi kekasihnya "Jangan memaksakan diri untuk tersenyum kalau hatimu tak menginginkannya."


"Hei kamu kenapa Sayang?" tanya Erfan lagi menatap dalam mata Sarah.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sarah, hanya suara senggukan yang mengiringi derasnya air mata. Erfan merengkuh tubuh Sarah dibawanya dalam pelukannya berusaha untuk menenangkan hati kekasihnya.


"Jangan buat aku khawatir seperti ini Sar, kamu bisa menceritakan semuanya ke aku."


"Aku sayang sama kamu Fan." Ucap Sarah di sela-sela tangisannya.


Erfan mendorong pelan tubuh Sarah dari pelukannya, tangan kanannya membelai lembut pipi Sarah, sebelum mencakup kedua pipi kekasihnya, "Aku lebih sayang sama kamu, kamu tahu itukan?" Ucap Erfan menatap dalam Mata Sarah.


Sarah mengangguk-anggukan kepalanya sebelum kembali ke pelukan Erfan. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari bibir Erfan hanya sebuah sentuhan lembut di punggung dan kepala Sarah membiarkan kekasihnya melepaskan semua rasa sesak di hati.


"Ayo duduk Fan." Ucap Sarah melepaskan pelukan dan menghapus sisa air matanya.


Erfan mengangguk dan merangkul pundak Sarah, menuntunnya dan mendudukkannya di sofa. Sedangkan Erfan memilih untuk duduk berjongkok di depan kekasihnya, di genggamnya lembut tangan Sarah yang ada di pangkuan Sarah.


"Apa kamu sudah bisa menceritakan semua kesedihanmu ke aku Sayang?" tanya Erfan lembut menatap mata sendu Sarah.


Sarah tersenyum pilu, "Apa kamu mau mencicipi kue buatanku Fan?"

__ADS_1


Erfan mengangguk dan tersenyum, "Tentu."


"Kamu tunggu disini ya aku ambilkan dulu," ucap Sarah berdiri dan berjalan masuk menuju dapur.


Erfan berdiri dari posisinya kemudian duduk di sofa, dia sangat penasaran dengan permasalahan yang menimpa kekasihnya.


Sarah keluar dari dapur, ditangannya sudah ada dua potong kue brownis beserta garpu kecil yang dia taruh di atas piring kecil.


"Hemmm kelihatannya enak," ucap Erfan sambil menerima piring kue dari Sarah.


"Cobain Fan," ucap Sarah sambil duduk di sebelah Erfan.


Erfan memotong salah satu irisan kue dengan garpu sebelum menusuknya dan memakannya.


" Hemmm enak Sayang," ucap Erfan sambil mengunyah, "manis," lanjutnya sebelum menusukkannya kembali garpu ke sisa kue yang ada di piring.


"Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa memberikan rasa manis ini ke kamu Fan." Ucap Sarah tiba-tiba membuat Erfan terdiam dan melepaskan garpu di atas piring.


Erfan menatap Sarah lekat-lekat, sorot matanya penuh dengan pertanyaan.


"Apa maksud kamu?"


"Aku di jodohkan orang tuaku Fan," jawab Sarah kembali menangis.


Erfan mengatupkan bibirnya, perasaannya terasa sesak, membuat dirinya seakan susah untuk bernafas.


"Aku minta maaf Fan, aku minta maaf," ucap Sarah menangis.


Erfan tetap diam, fikiran dan hatinya masih berusaha mencerna semuanya, semua kalimat Sarah yang begitu tiba-tiba dan langsung mengoyakkan perasaannya.


"Aku akan menikah Minggu depan Fan."


"Kamu bercanda kan Sar? kalau kamu memang bercanda sumpah ini nggak lucu."


Sarah menggelengkan kepala di sela-sela sesengukan tangisnya.


"Hahahaha ini nggak lucu Sarah, bagaimana kamu bisa melakukan ini sama aku?"


"Maafkan aku Fan, aku nggak bisa menolak keinginan orang tuaku, ayahku nggak merestui hubungan kita."


_____________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2