Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 21. Pernikahan Sarah


__ADS_3

Seminggu sudah Dara lewati dengan perasaan marah sama keegoisan Erfan, Dari Minggu kemarin Dara hanya menyiapkan makanan untuk Erfan tanpa ada keinginan menemani suaminya makan dimeja makan.


Tidak ada pembicaraan dan obrolan seperti biasa saat diapartemen, karena Dara selalu berusaha menghindari Erfan, kecuali saat dikantor, Dara berusaha untuk tetap profesional, itupun karena tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus berkomunikasi dengan atasannya.


Hari ini Dara duduk sendiri di meja kerjanya, sudah tidak ada Reina yang menemani dan mengajarinya, karena Reina sudah resmi mengundurkan diri per hari ini.


Triiingggg suara telfon di atas meja Dara berbunyi.


"Iya Pak," ucap Dara setelah mengangkat telepon.


"Kamu kesini sekarang," Ucap Erfan dari dalam ruangan.


"Baik Pak," ucap Dara sebelum berdiri dan masuk ke dalam ruangan Erfan.


Tok tok tok.


"Masuk," ucap Erfan dari dalam ruangan.


Dara berjalan masuk mendekati meja Erfan "Ada yang bisa saya bantu Pak?"


"Silahkan duduk," ucap Erfan tetap membaca berkas yang dia pegang.


Dara merasa bingung tapi tetap melangkah maju untuk duduk dikursi depan Erfan.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" ucap Erfan mengalihkan pandangannya menatap Dara.


"Maksud Pak Erfan?"


"Bisakah kamu bicara sebagai Dara istriku? bukan Dara sekretarisku? "


"Maaf Pak, saya tidak bisa."


Erfan menghela nafas pelan menghadapi sikap keras kepala istrinya.


"Apa kamu bisa menemaniku ke acara pernikahan Sarah?"


"Saya akan menemani Pak Erfan sebagai Secretaris."


"Aku kangen sama kamu Ra," ucap Erfan memelas.


Dara tercengang mendengar ucapan Erfan, ditatapnya wajah suami yang dari seminggu kemarin dia hindari.


"Fan," ucap Nathan membuka pintu tanpa mengetuk, membuat Dara dan Erfan menoleh ke arah pintu.


"O... o.. apa aku mengganggu kalian?" tanya Nathan saat merasakan suasana canggung diantara Dara dan Erfan.


"Apa kamu nggak bisa ketuk pintu dulu kalau masuk?" ucap Erfan kesal.


"Sorry sorry Fan, memangnya aku benar-benar menganggu kalian ya?"


"Tidak Pak, Pak Nathan sama sekali nggak menganggu," ucap Dara berdiri.


"Urusan saya disini sudah selesai, saya permisi dulu." Ucap Dara sebelum melangkah keluar ruangan.


" Dara!" panggil Nathan.


"Iya Pak?"

__ADS_1


"Apa kamu nanti malam ada acara?"


"Kenapa ya Pak?" tanya Dara bingung.


"Aku ingin kamu menemaniku ke acara pernikahan teman," ucap Nathan.


Dara bingung mendengar ajakan Pak Nathan, setelah itu menoleh ke arah Erfan yang sedang menatap sinis ke arahnya.


"Ke acara pernikahan Mbak Sarah bukan Pak?"


"Kok kamu tahu?"


"Karena saya nanti akan menemani Pak Erfan ke sana," ucap Dara sambil melirik Erfan.


"Kamu nanti kesana Fan?" tanya Nathan melihat Erfan.


"Iya, apa kamu sudah benar-benar kehabisan wanita sampai harus mengajak Secretarisku?" Sentak Erfan kesal.


"Saya permisi dulu Pak," pamit Dara tidak mau ikut campur dalam pembicaraan dua laki-laki didepannya.


"Yaelah Fan kamu kan tahu aku ini jomblo, ingin mencari calon istri, siapa tahu habis mengajak Dara ke pernikahan Sarah setelahnya bisa mengajak Dara ke KUA."


Ctakkkk Erfan berdiri dan melempar bolpoin yang di pegangnya ke arah Nathan, untung saja Nathan menghindar dengan cepat sehingga membuat bolpoin hanya mendarat indah menatap dinding.


"Woi woi woi kok kamu marah sih Fan? kamu suka sama Dara?" Tanya Erfan menyelidik.


"Iya, jadi hilangkan nama Dara dari kandidat wanita yang akan kamu ajak ke KUA."


Nathan terkekeh mendengar ucapan Erfan "Harusnya kita saling bersaing secara sehat Fan, bukan malah kamu sabotase seperti itu," ucap Nathan sambil duduk disofa.


Erfan semakin kesal dengan ucapan Nathan, tangannya sudah siap mengambil bolpoin yang ada dikotak pensil untuk dilemparkan lagi ke Nathan.


"Itu pintar," ucap Erfan duduk kembali.


"Ada apa kamu ke ruanganku?"


Erfan dan Nathan kemudian membicarakan tentang klien perusahaan.


***


Tok tok tok, "Ra ayo berangkat," Erfan mengetuk pintu kamar Dara.


"Iya Mas sebentar," teriak Dara dari dalam kamar sambil memakai high heels warna silver senada dengan gaun yang dipakainya.


Erfan duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya menunggu Dara keluar dari kamar, hari ini Erfan terlihat tampan dan menawan dengan baju batik dan celana hitamnya.


"Ayo Mas," ucap Dara saat berdiri di depan Erfan.


Erfan menoleh ke arah Dara, diam seketika melihat penampilan istrinya, gaun putih dengan kombinasi brokat dan ikat pinggang kecil warna silver sebagai pemanis, ditambah wajahnya yang full make up dengan rambut hitam dan panjang terurai membuatnya semakin cantik berkali kali lipat, hingga membuat mata Erfan enggan untuk berkedip.


"Ayo Mas," ucap Dara membuyarkan pandangan Erfan.


"A a ayo," ucap Erfan gagap berusaha menetralkan diri.


Mereka berangkat bersama menuju hotel bintang lima tempat resepsi Sarah di langsungkan dengan menggunakan mobil Erfan.


***

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam mobil Erfan sampai di halaman hotel, mereka segera memarkirkan mobil ditempat parkir khusus tamu undangan yang sudah disediakan. Erfan dan Dara turun dari mobil dan berjalan menuju ballroom hotel tempat acara berlangsung.


Suasana di ballroom sudah sangat ramai , sudah banyak tamu yang berjajar antri untuk menyalami pasangan pengantin yang tampak cantik dan tampan diatas pelaminan.


Suara merdu penyanyi diatas panggung sebelah pelaminan menggema di seluruh ruangan, dan juga menu menu makanan tradisional sampai Western sudah tersedia di dalam ballroom. Dara dan Erfan ikut berbaris dalam antrian untuk bersalaman dengan pengantin


Dara mendongak melihat suaminya, wajah Erfan terlihat sendu saat melihat wanita yang bertahun-tahun dia cintai bersanding dengan laki-laki lain di pelaminan, ironisnya lagi di saat umur putusnya mereka belum genap 2 Minggu.


Dara menyentuh tangan Erfan yang menggantung di sampingnya, digenggamnya erat untuk memberikan kekuatan kepada suaminya.


"Apa kita mundur aja Mas? nggak perlu ikut antrian ini," bisik Dara pelan.


Erfan menggelengkan kepala, "Aku nggak papa."


"Yakin kamu nggak papa Mas? aku takut kamu pingsan diatas pelaminan nanti," bisik Dara lagi.


Erfan terkekeh mendengar ucapan Dara,


"Kamu tenang aja, suamimu nggak selemah itu," bisik Erfan sambil mengeratkan genggaman tangannya di tangan Dara.


Pipi Dara bersemu merah mendengar kata suamimu yang keluar dari bibir Erfan, entah kenapa terdengar manis sekali ditelinga Dara.


Sekitar lima menit mengantri saling bergandengan tangan kini Dara dan Erfan sudah berada di depan Sarah dan suaminya.


"Selamat ya," ucap Erfan bersalaman dengan suami Sarah disusul dengan ucapan selamat dari Dara.


"Selamat Sarah, semoga selalu bahagia," ucap Erfan menjabat tangan Sarah.


Air mata Sarah mulai menggenangi pelupuk matanya saat melihat Erfan berada di depannya, wajah yang dari tadi tersenyum menyambut tamu kini berubah menjadi wajah yang sendu.


"Maaf," ucap Sarah pelan.


Erfan diam tak menjawab ucapan Sarah, hatinya masih terasa sakit, perasaannya masih sesak mengingat kisah cinta dan janji- janji yang pernah terucap saat masih bersama.


" Maafkan aku," ucap Sarah lagi dengan air mata yang sudah jatuh hingga mengundang sorotan mata tajam dan kesal dari suami yang ada di sampingnya.


"Ayo Mas," ucap Dara menyentuh lembut lengan Erfan.


Dara bersalaman dengan Sarah sebelum menggandeng tangan Erfan turun dari pelaminan.


"Mas Erfan nggak papa?" tanya Dara khawatir setelah turun dari pelaminan.


"Nggak papa" ucap Erfan dengan wajah sendunya.


"Mas Erfan mau makan apa? biar aku ambilkan."


Erfan menggeleng, "Kita cari makan diluar aja gimana Ra? jangan makan di sini."


"Mas Erfan mau pulang?"


Erfan menganggukan kepala, "Kalau kamu nggak keberatan."


"Ayo mas kita pulang."


______________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....

__ADS_1


Terimakasih.....


__ADS_2