
Rania sedang makan bersama dengan kedua sahabatnya yang bernama Lisa dan Nala direstoran utama tempat Dara dan Erfan makan malam.
"Kamu kenapa sih Ran, dari kemarin cemberut terus." tanya Lisa.
"Pasti masalah cowok ini, aku yakin." timpal Nala
Rania menghela nafas pelan sebelum meminum minumannya. "Apa kalian ingat Erfan tunanganku dulu?" ucap Rania menatap kedua sahabatnya.
Nala dan Lisa kompak menganggukkan kepala, " kenapa dengan dia?" tanya Nala sebelum memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Dia sudah menikah."
"Terus kenapa? kamu kan sudah lama pisah sama dia?" ucap Nala lagi.
"Apa kamu tau kenapa sampai sekarang aku masih betah menjomblo? karena aku nggak bisa melupakan dia Nal," ucap Rania memutar mutar sedotan diminumannya.
"Aku ingin memilikinya."
"Jangan mengulangi kesalahan yang sama Ran, kamu harus bisa move on dari dia." Ucap Nala lagi menatap Rania.
Rania menghela nafasnya kasar sebelum menyeruput minumannya. "Selama hidup, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, tapi kenapa aku nggak bisa mendapatkan Erfan Nal? Lis?" Ucap Rania menatap sahabatnya bergantian.
"Kamu hanya bisa mendapatkan apa yang kamu mau jika itu barang yang bisa dibeli dengan uang Ran, karena papa kamu kaya. Sedangkan Erfan? hubungannya sama hati dan perasaan, kamu nggak bisa membelinya dengan uang." Ucap Nala tegas menatap Rania.
"Kamu memang nggak bisa membeli hatinya tapi kamu bisa mencoba untuk mengambilnya." Ucap Lisa enteng menatap Rania.
"Lis, gila kamu ya? apa kamu ingin menjerumuskan Rania?" Protes Nala menatap Lisa.
Sedangkan Lisa hanya mengangkat kedua bahunya saat menoleh sekilas ke arah Nala sebelum menatap kembali Rania.
"Kamu benar Lis, aku harus bisa mengambil hati Erfan. "Ucap Rania dengan senyum licik menatap Lisa.
***
"Aku ke toilet dulu ya Mas," ucap Dara setelah menghabiskan makanannya.
"Mau aku antar?, disini nggak ada toilet, adanya direstoran utama." Ucap Erfan menunjuk arah restoran utama
"Nggak Mas, aku bisa sendiri, sebentar ya?" ucap Dara tersenyum sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu penghubung menuju restoran utama, menuruni sedikit anak tangga mencoba mencari keberadaan toilet.
"Permisi, dimana letak toiletnya?" tanya Dara kepada pelayan.
"Disebelah sana Nona." Jawab pelayan sambil menunjukkan arah toilet.
__ADS_1
"Terimakasih", Ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya menuju arah yang ditunjukkan pelayan.
***
"Dara." Gumam Rania saat melihat Dara sedang ngobrol dengan pelayan.
"Kalau Dara disini artinya Erfan juga disini." Gumam Rania lagi.
"Kenapa Ran?" tanya Nala ikut melihat ke arah pandangan Rania.
"Kamu kenal dia?" tanya Nala menatap Rania.
Rania menganggukkan kepalanya, "Sebentar ya Nal, Lis." Ucap Rania sebelum berdiri dan berjalan cepat menuju ke dalam restoran tempat Dara tadi berdiri.
Rania menoleh celingukan dan mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan restoran mencari keberadaan Erfan. "Kok nggak ada?"
gumamnya pelan.
"Hingga pandangannya jatuh pada anak tangga menuju pintu yang menghubungkan antara restoran utama dengan restoran rooftop." Mungkin disana." ucap Rania berjalan cepat untuk menaiki tangga.
"Erfan." Ucap Rania tersenyum lebar saat melihat laki- laki yang dicarinya sedang duduk sendiri direstoran rooftop sambil memainkan ponselya.
"Rupanya mereka sedang makan malam romantis," ucap Rania menyebikkan bibirnya.
"Sudah selesai Ra?" ucap Erfan sambil mengalihkan pandangannya dari ponsel menatap kedepan.
"Rania?" Ucap Erfan terkejut.
Rania tersenyum menatap Erfan, "Apa kamu yang menyiapkan ini semua Fan?" Ucap Rania mengedarkan pandangannya melihat banyaknya hiasan lilin dan bunga direstoran rooftop.
"Sayangnya semua ini bukan untukku." Ucap Rania tersenyum getir menatap Erfan.
"Lebih baik kamu segera pergi dari sini." Ucap Erfan kesal.
"Aku kangen sama kamu Fan, kenapa kamu mengusirku?, apa kamu nggak kangen sama aku?"
Erfan menyebikkan bibirnya. "Sejak kapan aku punya rasa kangen sama kamu?"
"Kenapa kamu nggak bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Dara Fan?" Ucap Rania memelas.
"Kamu cepat pergi dari sini sebelum Dara kembali."
Rania tertawa sinis, "Apa kamu begitu takut melihat istrimu marah Fan?"
__ADS_1
"Iya. Apa kamu puas dengan jawabanku?" cepat kamu pergi dari sini.
Rania menatap lekat Erfan, "Apa kamu tahu Fan, jantungku ini selalu berdetak cepat saat aku berada didekat kamu." Ucap Rania menyentuh dadanya sambil berjalan lebih mendekati Erfan. "Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berub....Ahhh," kalimat Rania terpotong saat kakinya terserimpet Dress panjang yang sedang dipakainya hingga jatuh kedalam pelukan Erfan.
Erfan terdiam sesaat karena terkejut, sedangkan Rania tersenyum menikmati momen memeluk laki-laki yang sangat dicintainya.
"Mas Erfan," Panggil Dara lirih setelah menghampiri Erfan dan Rania, berusaha mengontrol rasa sakit saat melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain.
"Dara." Ucap Erfan menoleh ke arah istrinya sambil melepaskan paksa pelukan Rania. "Ra, aku bisa jelasin semuanya." Ucap Erfan gugup berjalan mendekati Dara.
"Apa yang ingin kamu jelaskan Fan? kalau kamu juga menikmati pelukan kita?" Ucap Rania semakin ingin membuat Dara marah.
"Tutup mulutmu." Sentak Erfan kesal menatap Rania.
Dara hanya menatap lekat Erfan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Ra, ini nggak seperti yang kamu kira, dia tadi jatuh karena terserimpet dressnya sendiri." Ucap Erfan berusaha menjelaskan.
"Ayo kita pulang Mas." Ucap Dara pelan sebelum membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya keluar restoran.
"Kenapa kamu diam saja Ra?, apa kamu mulai takut kalau Erfan mulai mencintaiku?" ucap Rania menghentikan langkah Dara.
Dara mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan mencoba mengatur perasaan kesalnya sebelum mebalikkan tubuhnya kembali menghadap Rania. "Apa kamu fikir cinta suamiku semurah itu? hanya karena satu pelukan bisa membuatnya jatuh cinta?" Ucap Dara menatap Rania.
Rania menahan rasa kesal karena ucapan Dara, sedangkan Erfan tersenyum menatap lekat istrinya.
"Kamu wanita cantik dan berkelas Ran, tapi kenapa kamu mau merendahkan harga dirimu sebagai seorang wanita dengan mengejar cinta laki- laki yang sudah beristri?" Ucap Dara lagi.
"Karena aku mencintainya, dan sampai kapanpun akan mencintainya, aku akan selalu berusaha mendapatkan apapun yang aku mau, kalaupun nggak sekarang, aku yakin suatu saat nanti aku akan mendapatkan hati Erfan. Ucap Rania tajam menatap Dara.
Dara menatap lekat Rania hingga membuat sorot mata tak bersahabat antar keduanya saling bertemu. "Apa karena kamu merasa orang tuamu kaya jadi bisa mendapatkan apapun yang kamu mau? sayangnya hati suamiku bukan barang yang bisa kamu beli dengan harta orang tuamu Ran."
Rania semakin kesal mendengar kalimat Dara.
"Kendalikan hati kamu, jangan terlalu terobsesi dengan suami orang, karena kamu nggak hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga mempermalukan orang tuamu. Ucap Dara berdiri didepan Rania.
Plakkk, Rania menampar wajah Dara.
"Ran, kamu benar- benar wanita gila." Ucap Erfan terkejut mendorong tubuh Rania hingga terhuyung ke belakang. "Beraninya kamu manampar istriku, apa aku harus membalas tamparanmu?, Ucap Erfan marah akan mendekati Raniah.
"Mas," Ucap Dara menahan lengan suaminya.
______________________________
__ADS_1
Hai readers Gregetan kan dengan Rania? jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.