
"Kamu kenapa Ra? kok sedih gitu mukanya? tanya Erfan yang masih duduk di kursi meja makan sambil menikmati secangkir kopi buatan istrinya, menatap Dara yang sedang melangkahkan kaki mendekatinya.
Dara diam tak menjawab pertanyaan suaminya, tetap melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi seberang Erfan.
"Kenapa? ada apa?" tanya Erfan lagi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan yang di lipat di atas meja menatap Dara.
"Bagaimana kalau aku masih ada kemungkinan nggak bisa hamil Mas?" tanya Dara dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Erfan menegakkan duduknya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa ini ulah Cindy? apa yang sudah dia katakan sama kamu?" tanya Erfan mengernyitkan dahinya menatap Dara.
***
Flashback
Setelah menyelesaikan sarapannya, Cindy segera pamit kepada Erfan dan Dara untuk pulang ke rumahnya.
Dara mengantarkan Cindy hingga sampai di depan pintu utamanya.
"Belum sampai Ra taksinya," ucap Cindy mengedarkan pandangannya keluar pagar sebelum melihat layar ponselnya untuk memantau lokasi posisi taksi yang sudah dia pesan.
"Duduk saja dulu Cin, sebentar lagi juga datang," ucap Dara melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kosong yang ada di teras rumahnya.
Cindy melangkahkan kakinya menuju kumpulan bunga lavender dan tulip yang ada di dekat teras rumah Dara, "Rumah kamu bagus Ra, sangat asri," ucap Cindy menyentuh salah satu kelopak bunga tulip yang ada di depannya.
"Aku beli sudah asri seperti ini Cin," ucap Dara sebelum berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya menghampiri Cindy.
"Aku ingin menambahkan bunga mawar di grup tanaman ini Cin," ucap Dara berdiri di sebelah Cindy sambil menunjuk ruang kosong yang ada di sebelah kumpulan Bunganya.
"Kamu suka mawar?" tanya Cindy mengalihkan pandangannya menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya balik menatap Cindy, "Suka, aku sangat menyukainya." Ucap Dara tersenyum sebelum membalikkan tubuhnya untuk berjalan dan kembali duduk di atas kursi."
"Anak-anak kamu nanti pasti sangat senang bermain disini Ra, bersama bunga-bunga yang menemaninya." Ucap Cindy ikut duduk di sebelah Dara.
"Bukankah kamu kemarin sudah program hamil ke dokter Ra?" tanya Cindy lagi memulai pembicaraan intinya.
__ADS_1
"Iya Cin,"
"Bagaimana hasilnya?"
"Hanya USG dan dokter bilang rahimku baik baik saja." jawab Dara dengan seulas senyumnya menoleh menatap Cindy sebelum mengalihkan kembali pandangannya lurus ke depan.
"Kamu sudah menikah berapa bulan Ra?"
"Tujuh bulan."
"Lama ya...harusnya kamu sudah hamil Ra kalau memang rahim kamu nggak bermasalah," ucap Cindy menatap Dara, membuat Dara menoleh balik menatapnya.
"Mungkin belum dikasih rejeki Cin, kata dokternya juga gak ada masalah dengan rahimku."
"Ya kan kamu baru USG Ra, USG itu belum memastikan semuanya, hanya sebatas melihat kondisi rahim saja, nggak bisa melihat kondisi tubuh kamu secara keseluruhan, ada saudaraku saat program hamil USG nya juga baik baik saja, tapi ternyata tuba falopinya bermasalah, dan di vonis mandul sama dokter." ucap Cindy menatap Dara.
Jantung Dara berdetak dengan cepat saat mendengar kalimat Cindy, rasa takut yang beberapa hari ini menghilang kini muncul kembali, lebih besar dari rasa takut yang sebelumnya.
Bagaimana kalau tuba falopi ku bermasalah? bagaimana kalau aku di vonis mandul seperti saudaranya Cindy? bagaimana kalau aku nggak bisa memberikan keturunan untuk Mas Erfan? semua pertanyaan itu berkumpul jadi satu membuat jiwanya berkecamuk di penuhi rasa takut.
Cindy menyunggingkan senyum liciknya melirikkan matanya ke arah Dara, hatinya terasa bahagia penuh bunga saat melihat raut wajah kesedihan Dara, wanita yang sudah merebut laki-laki impian sahabatnya.
"Kamu harus bisa punya anak Ra, kamu tahu sendiri kan .suami kamu itu kaya, ganteng, hampir sempurna, jadi kamu harus bisa menjaga hubungan kalian, dan salah satu jalan untuk kamu mempertahankan hubungan kalian itu dengan cara punya anak." ucap Cindy semakin mempengaruhi Dara.
"Kamu nggak ingin kan melihat Pak Erfan menikah lagi hanya karena kamu tidak bisa memberikan dia keturunan?" Tambah Cindy lagi membuat air mata Dara terjatuh membasahi pipinya.
Flashback Selesai.
***
Dara menceritakan semua yang di katakan Cindy kepada suaminya.
*Br*ngsek, bagaimana dia bisa mengatakan hal buruk seperti itu?" Umpat Erfan lirih mengepalkan tangannya yang ada di atas meja.
"Bagaimana kalau tuba folopiku bermasalah Mas? sama seperti saudaranya Cindy?" ucap Dara dengan air mata berlinang menatap Erfan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku di vonis mandul? aku nggak bisa memberikan Mas Erfan keturunan? bagaimana kalau seumur hidup aku nggak pernah bisa merasakan rasanya jadi ibu? aku mencintai kamu Mas, aku nggak akan bisa melihat kamu menikah sama perempuan lain karena aku tidak bisa memberikan kamu keturunan." Ucap Dara di dalam tangisannya yang semakin membesar.
Erfan menatap wajah wanita yang dicintainya itu begitu pilu, hanya karena pemikiran buruk yang di ciptakan oleh seorang wanita bernama Cindy.
Erfan berdiri dari duduknya untuk melangkahkan kakinya duduk di depan istrinya.
"Kamu lihat aku sekarang," ucap Erfan menggenggam Erat tangan istrinya, sebelum membawanya ke dalam pangkuannya, membuat Dara mengalihkan pandangan menatapnya.
"Kita baru menikah tujuh bulan Sayang, Dokter juga bilang kalau kita masih pengantin baru, hasil USG kamu juga baik baik saja, nggak ada masalah sama sekali, dan kamu sudah memvonis diri kamu seperti ini?" ucap Erfan menatap lekat manik mata istrinya.
"Ini hanya masalah waktu Ra, kalau seandainya memiliki Anak itu bisa dengan cara membelinya, aku akan mengeluarkan berapapun biayanya agar kamu bisa hamil sekarang juga, tapi anak itu titipan Sayang, kita nggak bisa membelinya, kita hanya bisa menunggunya sampai Sang pemilik Anak memberikannya untuk kita." tambah Erfan semakin menatap lekat istrinya.
"Bagaimana kalau aku....." Ucapan Dara terpotong.
"Kamu harus bisa menjaga ucapan kamu Ra, ucapan kamu itu doa, kalau dari diri kamu sendiri saja nggak yakin bisa memberikan aku anak, bagaimana kamu bisa meyakinkan Allah agar mau menitipkan anak dirahim kamu?" ucap Erfan tegas menatap tajam manik mata Dara.
"Mulai sekarang hilangkan semua fikiran negatif yang ada di kepala kamu, ganti semua dengan fikiran positif, agar hasil dari semua usaha kita itu menjadi positif," tambah Erfan menyeka lembut air mata istrinya.
"Kamu bisa kan?" ucap Erfan lagi menatap istrinya.
Dara menganggukkan kepalanya sebelum berhambur memeluk suaminya. "Aku hanya takut Mas,"
"Jangan pernah takut sama apapun di dunia ini Ra, karena aku akan menyingkirkan apapun yang bisa membuat kamu merasa takut dan menangis," Ucap Erfan membelai lembut kepala Dara dengan sorot mata tajamnya menatap lurus ke depan penuh emosi memikirkan Cindy.
Dara melepaskan pelukannya, menyeka air matanya kasar sebelum menatap Erfan yang sudah merubah mimik wajahnya menjadi lembut.
"Aku ingin kerumahnya El Mas," ucap Dara di sela sela sesenggukannya.
"Ayo, kita ganti baju dulu ya? baru kita berangkat." Ucap Erfan berdiri kembali menggenggam tangan istrinya.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum berdiri dari duduknya, untuk melangkahkan kakinya menuju anak tangga mengikuti gandengan tangan suaminya.
Bersambung.
_______________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.