
Dara dan Erfan segera memasuki ruangan dokter setelah nama Adara Jelita di panggil oleh seorang perawat wanita yang sedang bertugas di poli kandungan.
Dara melakukan konsultasi dengan dokter yang beberapa bulan ini sudah membantu program kehamilannya, hingga dokter yang bernama Dokter Nisa itu pun mengarahkan mereka berdua untuk melakukan tes kesuburan.
Dara di arahkan untuk melakukan tes HSG, untuk memeriksa kondisi rahim dan sekitarnya dengan menggunakan sinar Rontgen (sinar-X).
Sedangkan Erfan di arahkan Dokter Nisa untuk melakukan pemeriksaan analisis ******, untuk mengetahui kondisi kesehatan dan ketahanan hidup spermanya.
Satu jam berlalu, Dara dan Erfan telah menyelesaikan semua tes yang sudah di sarankan oleh Dokter Nisa.
"Untuk hasil tes keduanya bisa di ambil besok jam sepuluh pagi di ruangan saya ya?" Ucap Dokter Nisa di ruangannya, menatap Dara dan Erfan yang sedang duduk di seberangnya
"Terimakasih Dok," ucap Dara dengan seulas senyumnya menatap Dokter Nisa
"Kami permisi dulu Dok," pamit Erfan sebelum berdiri dan menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari ruangan.
Dara menghela nafasnya kasar untuk melepaskan rasa gugup yang sudah dia rasakan selama tes kesuburannya.
"Sudah lega Ra?" tanya Erfan menoleh menatap Dara, tetap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar Rumah sakit.
"Belum Mas, hasilnya kan belum keluar," jawab Dara tetap melangkahkan kakinya disebelah Erfan.
Erfan hanya tersenyum untuk menanggapi kalimat istrinya.
"Kita langsung ke kantor Mas?," tanya Dara setelah masuk ke dalam mobil, menoleh ke arah Erfan yang sedang bersiap untuk melajukan mobilnya.
Erfan menggelengkan kepalanya menatap Dara. "Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Dara antusias.
"Rahasia," goda Erfan tertawa membuat Dara memanyunkan bibirnya.
"Nanti kamu juga tahu sendiri Ra..." Ucap Erfan lagi melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir rumah sakit.
***
Matahari sudah naik tepat berada di atas kepala, dengan sinar yang terasa semakin terik dan panas jika menembus kulit.
Mobil Erfan telah berjalan selama tiga puluh menit dari Rumah sakit sebelum berbelok untuk masuk ke dalam area salah satu mall terbesar yang ada di kotanya.
"Ke Mall?" Tanya Dara mengedarkan pandangannya ke arah bangunan yang menjulang tinggi dan terlihat sangat besar dari balik kaca mobilnya sebelum mengarahkan pandangannya menatap Erfan.
"Ngapain Mas kesini?" tanya Dara penasaran.
"Borong lingerie," goda Erfan tertawa menoleh ke arah Dara sebelum mengarahkan lagi pandangannya ke depan menatap jalanan menuju basement tempat parkir mobil.
__ADS_1
"Ihhh," dengus Dara kesal menatap Erfan, membuat suaminya itu semakin tertawa.
"Ayo turun dulu, nanti kamu juga bakal tahu Ra," ucap Erfan setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, menatap Dara sekilas sambil melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya.
"Iya Mas," ucap Dara ikut membuka Seat beltnya.
Erfan menggandeng tangan istrinya untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu masuk yang ada di area basement.
Menaiki lift ke lantai tiga sebelum melangkahkan kaki mereka kembali untuk memasuki salah satu toko perhiasan yang terlihat cukup besar dan luas.
"Ngapain kita kesini Mas?" tanya Dara bingung menatap Suaminya.
Erfan hanya diam tak menjawab pertanyaan istrinya, tetap menggandeng tangan Dara untuk melangkah mendekati salah satu pegawai toko yang sedang berdiri menyambut kedatangan mereka dari balik etalase tempat display perhiasan.
"Saya ingin mengambil pesanan saya," ucap Erfan kepada salah satu pegawai toko.
"Ditunggu sebentar Pak," jawab karyawan itu sopan sebelum mengambil kotak perhiasan kecil berbentuk hati dengan warna merah yang ada di dalam etalase.
"Terimakasih," ucap Erfan mengambil alih kotak perhiasan dari pegawai toko.
"Apa ini Mas?" tanya Dara penasaraan menatap Erfan yang sedang membuka kotak perhiasannya.
"Hadiah untuk kamu," jawab Erfan dengan seulas senyumnya menatap lembut Dara.
"Aku khusus memesankan cincin ini untuk kamu Ra, sebagai bentuk ikatan cinta kita," ucap Erfan lagi mengangkat cincin yang terlihat manis dan indah ke depan Dara, dengan ornamen berbentuk hati sebagai hiasannya, di perindah lagi dengan tatanan berlian yang membentuk sebuah gembok disampingnya.
"Boleh pinjam tangan kiri kamu Sayang?" ucap Erfan mengulurkan tangan kirinya ke depan Dara, membuat Dara mengalihkan pandangannya menatap Erfan.
"Ini buatku?" tanya Dara lagi memastikan.
Erfan menganggukkan kepala sebelum memegang Tangan Dara yang terulur di depannya, "Kamu lihat cincin ini? sebuah hati yang tergembok, sama seperti hati aku yang sudah terkunci untuk selalu mencintai kamu Ra," ucap Erfan menatap lembut Dara sebelum menyematkan cincin yang di bawanya masuk ke dalam jari manis istrinya.
Hati Dara berbunga menatap Cincin yang kini sudah tersemat di jari manisnya, memancing air matanya keluar hingga membasahi matanya yang terlihat berbinar.
"Apa kamu suka?" tanya Erfan lembut menyeka air mata istrinya.
Dara Menganggukkan kepalanya cepat menatap suaminya, "Terima kasih Mas,"
"Apa kamu ingin memelukku sekarang?"
"Malu Mas," jawab Dara lirih menyeka air matanya sambil menoleh ke arah tiga pegawai toko yang sedang memperhatikannya.
"Hahahaha," tawa Erfan saat mendengar jawaban polos istrinya.
"Kalian sangat beruntung hari ini, karena punya kesempatan untuk menjadi saksi cinta kita berdua, dan tiga hari lagi adalah hari anniversary pernikahan kami yang ke satu, kalian bisa menikmati makanan apapun yang kalian mau," ucap Erfan menatap pegawai toko bergantian sebelum memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada masing masih pegawai.
__ADS_1
"Terima kasih Pak, selamat hari jadi pernikahan, semoga rumah tangga Pak Erfan dan Ibu sakinah mawadah warohmah, dan semoga cepat diberi momongan." ucap salah satu pegawai.
"Amin." jawab Erfan.
"Kok mereka kenal Mas Erfan?" tanya Dara bingung menatap suaminya.
"Saya pegawainya Pak Erfan Bu," jawab salah satu pegawai membuat Dara mengalihkan pandangan menatapnya.
"Saya Tika, dan ini Sari sama Dinda," ucap Tika lagi memperkenalkan dirinya dan kedua rekannya.
Mimik wajah Dara semakin bingung, kembali menatap suaminya yang terlihat senang melihat kebingungannya.
"Ini toko perhiasan milikku Ra, sebelum aku di angkat Papa jadi CEO perusahaan, aku sudah membuka toko disini sebagai penghasilan tambahan." jawab Erfan dengan seulas senyum nya menatap Dara sebelum mengalihkan pandangannya ke arah tiga pegawainya.
"Kami pergi dulu ya?" Pamit Erfan kepada pegawainya sebelum menggandeng tangan istrinya keluar dari toko perhiasannya.
"Kok Mas Erfan nggak pernah cerita kalau punya toko?" tanya Dara tetap melangkah di sebelah suaminya.
"Kamunya nggak tanya Ra,"
"Mana bisa aku tanya kalau nggak dikasih petunjuk, Mas Erfan punya apa lagi selain toko perhiasan?" tanya Dara menyelidik menatap suaminya.
"Aku punya kamu dan hati kamu," jawab Erfan terkekeh.
"Ihhh," dengus Dara kesal mengarahkan pandangannya ke sembarang arah, membuat Erfan semakin tertawa merangkul pundak istrinya.
"Aku hanya punya toko perhiasan itu, nggak ada yang lain lagi," ucap Erfan membuat Dara tersenyum balik merangkul pinggang suaminya.
"Kita makan dulu ya Mas? perutku lapar."
Erfan menganggukkan kepalanya pelan terus melangkah untuk memasuki salah satu restoran yang ada di dalam mall.
Dara dan Erfan memilih salah satu meja dengan empat kursi kosong yang ada di sisi kiri ruangan restoran.
"Saya pesan ini ya Mas?" ucap Dara menunjuk salah satu menu yang ada di buku menu kepada pelayan restoran yang sudah berdiri di dekatnya.
"Mas Erfan mau apa?" tanya Dara menatap Erfan yang sedang duduk di seberangnya.
"Samain sama kamu Ra,"
"Kami berdua pesan ini ya Mas?" ucap Dara lagi kepada pelayan restoran.
"Astaga Dara....ternyata panggilan kamu ke pelayan itu sama dengan panggilan kamu ke suami kamu ya?" tiba-tiba terdengar suara perempuan, membuat Dara dan Erfan kompak menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung.
__ADS_1
_____________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.