
"Aku tadi dapat telepon dari tempat kerja Mas Erfan, katanya besok aku sudah bisa mulai bekerja." Ucap Dara setelah menghabiskan makanannya.
"Oh ya?" ucap Erfan setelah minum segelas air.
Dara mengangguk, "Kok cepet ya Mas? kok nggak pakai wawancara atau tes dulu?"
"Kan aku yang merekomendasikanmu."
Dara mengangguk-anggukkan kepala, "aku diterima jadi Sekretaris."
"Kan kamu memang melamar kerja untuk posisi itu Ra!"
"Iya ya!" ucap Dara terkekeh, "kamu tahu nggak Mas kira-kira siapa nanti yang jadi bosku?"
Erfan mengangkat kedua bahunya pura-pura nggak tahu.
Trrrttttttt ponsel Dara diatas meja makan bergetar, ada telepon dari Dewa.
Dia melihat ke arah suaminya, ekspresi tidak suka terlihat jelas diwajah suaminya.
"Angkat aja, tapi loudspeaker, aku ingin tahu percapakan sepasang kekasih itu seperti apa."
"Tapi Mas ini kan.....," belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya Erfan sudah menggeser warna hijau di layar ponselnya dan memencet tombol loudspeaker.
"Iya Wa," ucap Dara pelan sambil melirik Erfan.
"Lagi ngapain sayang?"
"Ini baru selesai makan malam."
"Bareng suami kamu?" tanya Dewa kesal.
"Iya," jawab Dara melirik Erfan.
"Kamu tahu nggak gimana perasaanku saat kamu makan dengan laki-laki lain?"
"Maaf Wa."
"Kapan kamu akan bercerai? kenapa lama sekali sih kalian bercerai ?"
Dara memejamkan matanya dalam-dalam mendengar ucapan Dewa, walaupun bercerai sudah ada diperjanjian, tapi jika Dewa mengatakannya dengan cara seperti ini pasti akan menyinggung perasaan Erfan.
Sedangkan Erfan sudah mengepalkan tangannya dibawah meja menahan amarah karena ucapan Dewa.
"Kamu jangan seperti ini Wa, kamu mengerti kan posisiku sekarang?"
"Apa yang kamu lakukan jika aku ada diposisi kamu Ra? aku serumah dengan wanita lain, setiap hari bertemu wanita lain, apa kamu bisa menerimanya Ra?"
Dara diam tak menjawab, karena dia sendiri nggak bisa membayangkan jika dalam posisi Dewa sekarang, pasti rasanya sangat sakit.
"Aku ingin menikahimu Ra," ucap Dewa lagi.
__ADS_1
Dara menghela nafas panjang.
"Aku akan membicarakannya dengan suamiku Wa, aku juga harus memikirkan perasaan orang tua kami."
Nafas Erfan semakin memburu mendengar jawaban dari Dara. Rasa marah, kesal, sakit berkumpul jadi satu dan bersarang didalam hatinya. Rahangnya mengeras sekeras kepalan tangannya menahan emosi yang sudah menguasai jiwa dan fikirannya.
Pyarrrrrrrrrr Erfan membanting keras ponsel Dara ke lantai, hingga membuat ponselnya hancur berserakan.
"Masssss" pekik Dara kaget melihat sikap Erfan.
"Apa kamu sudah berniat bercerai dengan ku Ra?"
"Perceraian kan memang tujuan pernikahan ini Mas?"
"Mulai sekarang tujuan pernikahan ini bukan perceraian, aku nggak akan menceraikanmu sampai kapanpun."
"Masssss," air mata mulai memenuhi pelupuk mata Dara.
"Kamu harus segera mengakhiri hubunganmu dengan Dewa."
"Kenapa kamu jadi seegois ini sih Mas?" ucap Dara berdiri.
"Aku suami kamu, jadi aku berhak memilikimu, dan aku nggak ingin membagi milikku dengan laki-aki lain."
"Kamu sendiri tahu kalau kamu nggak pernah memilikiku, kamu hanya sebatas memiliki ikatan denganku, tidak untuk hati dan diriku."
Erfan semakin mengeratkan kepalan tangannya, berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Dara hingga berada persis didepan Dara.
"Aku akan melakukan apapun untuk menjadikanmu milikku." Ucap Erfan dengan tatapan tajam penuh emosi.
Erfan mengunci langkah Dara dengan mengangkat tangannya lurus kedepan menyetuh dinding, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Dara.
Detak jantung Dara seakan memburu melihat betapa dekatnya tubuh Erfan dengannya saat ini, Dara memejamkan matanya dalam hingga membuat kerutan besar di wajah cantiknya.
Erfan tersenyum tipis melihat reaksi Dara.
"Segera putuskan hubunganmu dengan Dewa, atau aku akan meminta bantuan orang tuamu," ucap Erfan sedikit memundurkan kepalanya.
Dara membuka mata menatap lekat-lekat wajah suaminya.
"Kamu sangat egois Mas."
"Aku bisa lebih egois lagi dari ini," ucap Erfan menurunkan tangannya, "mulai hari ini kamu pindah ke kamarku."
Dara hanya diam menahan tangisnya, tapi sayang semakin dia tahan air matanya semakin keluar, ditatapnya wajah laki-laki yang berdiri tepat dihadapannya dengan perasaan kecewa bercampur marah, membuat dadanya terasa sesak.
"Aku harus bagaimana sekarang Bu?" ucapnya pelan menangis berjongkok dengan kepala di benamkan diantara kedua tangannya yang menumpuk dan tertumpu di atas lutut.
melihat Dara menangis seperti itu membuatnya menyesal, "Maafkan aku Ra karena bersikap egois, aku hanya nggak ingin kehilanganmu," ucapnya dalam hati.
Erfan ikut berjongkok di depan Dara, "Ra," ucap Erfan lirih menyentuh bahu istrinya.
__ADS_1
Dara menepis sentuhan tangan Erfan sebelum berdiri dan pergi masuk ke dalam kamarnya.
***
Dara menangis sambil meringkuk diatas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Bagaimana ini Wa? apa yang harus aku lakukan sekarang Wa?" gumamnya sendiri di
dalam tangisannya.
"Aku sungguh mencintaimu Wa, tapi aku terlalu takut menghadapi Ayah dan Ibuku jika mas Erfan serius dengan ancamannya," gumam Dara lagi mebuatnya semakin menangis.
"Kenapa Ayah menikahkanku dengan laki-laki plin plan dan seegois dia Yah, kenapa Yah? apa aku tetap bisa melayaninya sebagai seorang istri didalam kekecewaan ini Bu? aku nggak sebaik itu Bu,aku nggak sekuat itu." Tangisan Dara semakin mengeras, sesenggukan semakin banyak hingga membuatnya lelah dan tertidur.
***
Pagi hari ini suasana diapartemen Erfan terlihat berbeda, Dara yang biasanya sibuk di dapur saat pagi hari, kini masih meringkuk di atas kasur, bukan karena stok makanan dikulkas banyak yang habis, tapi karena hatinya belum siap bertemu Erfan.
Erfan keluar kamar dengan setelan jas lengkap, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah tapi tidak melihat istrinya.
Erfan berjalan menuju meja makan, kosong sama sekali tidak ada makanan atau minuman yang disiapkan untuknya.
Erfan menghela nafas sambil melihat ke arah kamar Dara. "Maaf Ra, aku terlanjur nyaman denganmu, dan aku tidak mau kehilanganmu," ucap Erfan sebelum melangkah pergi untuk berangkat bekerja.
Erfan menghentikan mobil tepat didepan gedung perusahannya, setelah turun dari mobil Erfan segera memberikan kunci mobil kepada petugas valet yang sudah menunggu kedatanganya, dan berjalan masuk menuju loby untuk masuk ke dalam lift, melemparkan senyum tipis kepada setiap karyawan yang menyapanya.
"Selamat pagi Pak," sapa Reina berdiri menyambut kedatangan bosnya.
"Mbak Rei jam berapa datangnya Secretaris baru?" tanya Erfan ketika sampai di depan meja Reina.
"Jam sembilan pak."
Erfan mengangguk pelan dan pergi memasuki ruangannya.
***
Dara menggeliat di balik selimutnya, membuka mata perlahan sebelum menguceknya pelan.
"Jam delapan," gumamnya pelan melihat jam dinding.
Dara membuang nafas kasar sebelum bangun Dari tidurnya.
"Ya Allah Ra.....kamu sudah seperti Zombi," gumam Dara di depan kaca sambil menyentuh matanya yang bengkak, kemudian berdiri masuk ke dalam kamar mandi.
Hari ini hari pertama Dara masuk kerja menjadi seorang Sekretaris diperusahaan Erfan, walaupun perasaannya masih berat untuk berangkat karena rasa malas jika harus bertemu suaminya disana.
Setelah keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian formal khas seorang secretaris, Dara segera duduk di depan meja rias kamarnya, menyapukan concealer pada wajahnya terutama pada bagian mata untuk menutupi mata bengkaknya sebelum memberikan sentuhan make up tipis pada wajah cantiknya.
"Oke Ra kamu harus tetap semangat, semoga kamu dapat Bos yang baik, muda dan tampan juga kaya raya," ucap Dara sambil berdiri setelah mencangklongkan tas Selempangnya di pundak sebelah kiri.
_____________________________________________
__ADS_1
Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....
Terimakasih.....