
Tit tit tit tit Erfan menekan kode akses untuk masuk ke apartemennya, badannya terasa lelah karena kerjaan kantor yang sangat banyak hingga membuat dirinya pulang terlambat.
"Assalamualaikum," lirih Erfan pelan, sesaat setelah membuka pintu utama mengedarkan pandangannya.
"Kok gelap?" gumamnya lagi, seraya menekan saklar lampu yang ada di tembok sebelah pintu kembali mengayunkan langkahnya.
Hendak menuju kamar istrinya, setelah meletakkan tas dan juga jas kerjanya di atas sofa ruang tamu. ingin memastikan keberadaan istrinya.
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu yang di lakukannya, seraya memanggil nama istrinya menunggu sahutan dari dalam.
"Ra..." panggilnya kembali mengetuk pintu.
Namun masih belum ada sahutan dari dalam kamar mengerutkan keningnya.
"Dara," lanjutnya lagi memanggil, seraya menggerakkan handle pintu kamar mencoba membukanya.
"Nggak di kunci?"
Segera mengedarkan pandangannya, sesaat setelah membuka pintu kamar mencari keberadaan istrinya yang tak bisa di temukannya.
"Dara...,"
"Kok nggak ada? kemana dia di jam segini?"
Memutuskan untuk menutup pintu kamar, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya sudah menunjuk ke pukul tujuh malam.
Hingga memancing rasa kesal di hatinya, di sela rasa lelahnya merasa khawatir.
Lebih memilih untuk mengayunkan langkahnya cepat, ingin mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam tas, hendak menghubungi istrinya.
"Astaga...angkat Ra!" desisnya kesal, sudah melakukan panggilan telepon namun tak bisa tersambung.
"Shit! kemana dia?" umpatnya kesal, kembali menggeser layar ponselnya menghubungi lagi.
Dengan deru nafasnya yang mulai memburu, di selimuti amarahnya yang mulai menggebu. Demi sebuah tanggung jawab yang harus di embannnya dalam menjaga Dara, harus bisa menemukan dan memastikan bahwa istrinya itu baik baik saja.
Dan semakin kesal, akibat telepon yang dilakukannya tak kunjung mendapat respon dari istrinya, melebarkan rasa kesal dan amarahnya meraup wajahnya kasar.
Semakin mengumpat, mencoba untuk menerka kira kira dimana keberadaan istrinya sekarang.
Namun tak bisa, dirinya sama sekali tak mengetahui informasi mengenai teman istrinya atau siapapun itu untuk di hubunginya untuk menanyakan keberadaan istrinya.
Sebelum terdiam, menghela nafasnya panjang, ketika terbesit nama kedua mertuanya.
"Apa mungkin dia pulang?" gumamnya pelan.
"Ya mungkin saja," jawabnya sendiri, seraya merogoh saku di celana hitam yang di pakainya mengeluarkan kunci mobilnya.
Hendak mengayunkan langkahnya cepat, bergegas untuk mencari keberadaan istrinya dan terdiam, melihat pintu utama apartemen nya terbuka menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" sentaknya kasar.
Bersitatap dengan Dara yang terlihat bingung, mengerutkan kening masuk ke dalam rumah.
"Kenapa?"
"Darimana?" sentak Erfan, tak menjawab kebingungan istrinya kembali bertanya.
"Kenapa sih? tiba tiba marah marah begini," batin Dara, menghela nafasnya pelan tak mengalihkan pandangannya dari sorot mata tajam Erfan menggambarkan kemarahan.
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang? nggak pakai pamit nggak ada kabar, ditelepon nggak diangkat, percuma kamu punya ponsel kalau nggak ada gunanya." Sentak Erfan lagi semakin kesal.
Masih tak membuat Dara bersuara, hanya merogoh tasnya mencari ponsel yang tersimpan di dalamnya membulatkan matanya.
"ha? 20 panggilan tak terjawab?" gumam Dara.
Sama sekali tak menyangka, bagaimana bisa sebanyak ini? kembali menegakkan kepalanya, bersitatap.
"Maaf Mas, ponselnya di silent, jadi nggak tau kalau Mas Erfan telepon," kata Dara, menunjukkan layar ponselnya yang menyala merasa tak enak.
"Tapi kenapa? Ada apa kok sebanyak ini?" lanjutnya bingung.
Tak mengalihkan pandangannya dari Erfan yang tersenyum sinis menyimpan kemarahan.
"Apa kamu merasa benar sekarang Ra? apa pantas seorang istri keluar rumah tanpa pamit dan jam segini baru pulang?" jawab Erfan kesal.
"Dan kamu malah bertanya sekarang kenapa aku telepon?" lanjut Erfan, masih dengan tatapan tajamnya mengintimidasi.
"Jangan bicara mengenai kepantasan sikap seorang istri Mas, seolah sikap kamu sendiri sebagai suami sudah baik dan sempurna,"
"Bahkan aku sendiri ragu, apa aku ini benar-benar seorang istri bagi Mas Erfan! tentunya tidak bukan?" sanggah Dara tak ingin di salahkan.
"Mas sendiri yang bilang kan? kalau pernikahan ini hanya formalitas, dan bagaimana bisa Mas Erfan mentuntut sikap pantasku sebagai seorang istri?"
"Karena kamu tanggung jawabku sekarang Adara jelita! aku masih punya tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan keselamatan kamu!" sengit Erfan, dengan deru nafasnya yang memburu membuang pandangan istrinya.
"Aku bukan anak kecil yang perlu Mas Erfan jaga," kata Dara hendak berlalu, bersiap mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah, namun tertahan, oleh cekalan tangan erfan di pergelangan tangan menariknya kasar kembali berhadapan beradu pandang.
"Sakit Mas!" Protes Dara.
"Memang pernikahan kita hanya formalitas! tapi tidak untuk tanggung jawabku sebagai laki laki! aku harus bisa memastikan kamu baik baik saja, jadi mulai sekarang, kabari aku layaknya kamu mengabari orang tua kamu saat pulang terlambat." sengit Erfan, semakin tajam.
Bersitatap dengan Dara yang tak kalah kesal, mengeratkan deretan giginya mengibaskan kasar cekalan tangan suaminya.
Tanpa suara, sama sekali tak ingin menjawab kalimat Erfan segera mengayunkan langkahnya cepat, setengah berlari masuk ke dalam kamar meninggalkan suaminya.
Yang terdiam, dengan pandangan lurus ke depan, sebelum menghela nafas panjang meraup wajah pelan.
Brakkkk
__ADS_1
Suara bantingan pintu kamar yang di lakukan Dara, ingin melampiaskan rasa kesalnya, segera mejatuhkan tubuhnya tengkurap ke atas ranjang.
Sebelum membenamkan wajahnya ke bantal, merasa begitu marah, sama sekali tak menyukai sikap suaminya.
"Dasar laki laki egois!"
"Ahhhh!"
Umpatnya frustasi, memukul mukul ruang kosong kasurnya yang ada di samping kanan dan kiri bantal dengan kedua tangannya.
Kembali berteriak, guna untuk mengurai rasa kesal di hatinya, dan berhenti. Karena deru nafasnya yang mulai tersenggal, merasa lelah sendiri dengan kemarahannya menjatuhkan pipi putihnya ke atas bantal.
"Jadi istri yang baik ya Nak, walaupun kamu belum mencintai suami kamu, kamu harus tetap menghormatinya, melayaninya, jangan banyak berdebat dengannya. Jaga lisan kamu juga saat bersama suami kamu, jangan sampai menyakiti perasaannya.
Pesan Bu Selfi beberapa jam sebelum pindah ke apartemen, tiba tiba saja terngiang dikepalanya menyesakkan dadanya.
Membuatnya terdiam, kembali membenamkan wajah cantiknya ke dalam bantal menyadari kesalahannya.
"Aku tahu aku salah Bu, harusnya aku nggak bersikap seperti itu ke Mas Erfan. Aku salah, iya aku yang salah, harusnya aku pamit, mengabari mas Erfan dan pulang ke rumah sebelum Mas Erfan sampai di rumah," batinnya.
Menelan salivanya pelan, memancing buliran bening di balik kelopak matanya menarik kepalanya.
"Jadi wajar bukan kalau Mas Erfan marah? bukannya minta maaf aku malah terpancing, balik marah dan melawan," gumamnya lagi.
Semakin menyadari kesalahannya, meskipun pernikahan ini hanya formalitas di mata suaminya, tapi tidak dimata Allah. Dimata Tuhannya itu, Dara tetap seorang istri yang punya kewajiban untuk merhomati dan melayani suaminya. Hingga nanti, talak akan dijatuhkan Erfan suatu saat nanti.
Membuatnya terdiam, segera beranjak dari tengkurapnya untuk duduk di atas ranjang melihat ke arah jam dinding kamarnya yang menggantung.
"Jam setengah delapan, Mas Erfan sudah makan belum ya?" lirih Dara, sesaat setelah menghela nafasnya pelan.
Memutuskan untuk berdiri, merapikan kunciran rambutnya yang sedikit beratakan hendak keluar kamar menemui Erfan.
Tok tok tok
Suara ketukan Dara di pintu kamar Erfan, beberapa kali menarik nafasnya panjang mencoba untuk tenang.
Namun tak ada suara dari dalam, membuatnya memutuskan untuk membuka pintu kamar perlahan, meskipun tanpa suara Erfan yang mempersilahkan.
Semakin mempercepat degup jantungnya yang sudah tak karuan, mencoba melangkahkan kakinya ragu, memperhatikan Erfan yang sedang berbaring tenang di atas ranjang.
Sambil menekuk tangan kanan di atas wajah, tak mengalihkan pandangan untuk balik menatapnya.
"Mas," panggil Dara akhirnya, sesaat setelah berdiri di samping ranjang suaminya, berhasil menurunkan tangan Erfan menatapnya diam.
Bersambung
_____________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1