Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 67. Keinginan Aditya


__ADS_3

Jarum jam tangan Erfan sudah menunjuk ke angka tujuh, langitpun sudah terlihat gelap dengan banyaknya cahaya bintang yang bertebaran saling menjaga jaraknya.


Mobil Erfan terlihat baru keluar dari gerbang perusahaannya, efek dari banyaknya pekerjaan yang harus segera diselesaikan, hingga membuat sepasang suami istri itu pulang lebih lambat dari karyawan yang lainnya.


"Kita cari makan dulu ya Mas?" tanya Dara menatap Erfan yang tengah fokus pada stirnya.


Erfan menganggukkan kepala sebelum menoleh kearah Dara. "Mau makan apa?"


Dara tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan suaminya. "Terserah Mas Erfan aja deh, aku bingung mau makan apa."


"Kamu kepinginnya makan apa?"


"Makan bakso aja deh Mas, panas-panas dikasih sambal yang banyak, dikasih lontong biar kenyang, ahhhh nikmat pastinya." Ucap Dara membayangkan.


"Hmmmm, kesukaanku itu Ra....ayolah langsung berangkat," ucap Erfan antusias.


"Aku inginnya diwarung bakso langgananku saat kuliah Mas, kangen sekali makan disana."


"Dimana?" tanya Erfan melirik sekilas istrinya.


"Di dekat kampusku dulu, di Universitas U."


"Astaga jauh sekali Ra dari sini!" ucap Erfan mengusap tengkuknya memikirkan jarak yang hrus ditempuhnya hanya untuk makan bakso.


"Yaudah Mas, cari disekitaran sini aja, Mas Erfan juga pasti capek."


Erfan terdiam tak menjawab kalimat Dara, melajukan lurus Pajeronya sebelum memutar balik mobilnya.


"Kok putar balik Mas?" tanya Dara bingung menatap suaminya.


"Katanya mau beli bakso di langganan kamu?," jawab Erfan tersenyum menatap Dara hingga menciptakan senyum semringah dibibir istrinya.


"Tapi jauh Lo Mas jaraknya, selain itu juga nggak searah sama jalan pulang."


"Ya nggak papa, sekalian kita bisa jalan-jalan menikmati keindahan malam Ra, sama seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara." Jawab Erfan terkekeh.


Dara tersenyum sebelum mengulurkan tangan kanannya kedepan mendekati Erfan. "Pasangan muda-mudi biasanya saling menggenggam tangan pasanganya Mas." Ucap Dara menatap suaminya.


Erfan membalas senyuman Dara sebelum mengulurkan tangan kirinya untuk menggenggam erat tangan istrinya. "seperti ini?" Ucap Erfan mengangkat kedua tangan mereka yang saling terpaut.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menyandarkan kepalanya dibahu Erfan. "Kamu tahu Mas, hal apa yang paling aku syukuri selama hidup sampai usia sekarang ini?" tanya Dara dengan tatapan lurus kedepan, menatap jalanan yang terlihat lenggang.


"Apa?" tanya Erfan melirik sekilas istrinya.


"Aku sangat bersyukur karena tidak menolak saat dinikahkan sama kamu Mas," ucap Dara sedikit mendongakkan kepalanya menatap Erfan, membuat Erfan balik menatapnya dengan mata yang berbinar terang menunjukkan kebahagiaannya, kemudian mengalihkan pandangannya lagi menatap jalan.

__ADS_1


Dua puluh menit sudah mereka lalui diperjalanan dengan posisi Dara tetap menyandar manja dibahu suaminya.


"Kenapa ini Mas?" tanya Dara menegakkan duduknya saat merasakan guncangan pada mobilnya.


"Nggak tahu Ra!" jawab Erfan bingung berusaha menepikan mobilnya.


"Sebentar ya Ra aku cek keluar dulu," ucap Erfan lagi sebelum turun dari mobilnya yang sudah berhenti.


Beberapa saat setelah menunggu Erfan didalam mobil, Dara segera turun karena suaminya tak kunjung masuk ke dalam mobil. "Kenapa Mas?" tanya Dara menghampiri suaminya yang tengah berdiri kebingungan.


"Bannya kempes Ra," jawab Erfan menatap Dara yang sudah berdiri didepannya.


Erfan membuka pintu mobil untuk mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


"Telepon siapa Mas?" tanya Dara.


"Telepon Deni."


"Deni? siapa itu?" tanya Dara mengernyitkan keningnya menatap Erfan yang sedang menggeser-geser layar ponselnya.


"Pemilik bengkel mobil langgananku Ra," jawab Erfan sebelum menempelkan ponsel ke telinga kanannya.


Hanya sekitar lima menit Erfan melakukan panggilannya. "Bagaimana Mas?" tanya Dara setelah melihat Erfan mengakhiri panggilannya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menoleh ke belakang dari tempatnya berdiri, saat merasa ada sumber cahaya mobil yang sedang mendekat kearahnya.


Sebuah sedan mewah terlihat menepi sebelum berhenti tepat dibelakang mobil Erfan. Memperlihatkan Seorang laki-laki gagah yang memakai setelan jas abu-abu keluar dari balik pintu kemudi sebelum berjalan mendekati Erfan dan Dara yang tengah berdiri menatapnya.


"Kenapa mobil kalian?" tanya Aditya setelah berdiri didepan Erfan dan Dara.


Dara menoleh menatap suaminya sebelum mengalihkan kembali pandangannya menatap Aditya. "Bannya kempes Kak tapi Mas Erfan sudah telepon bengkel langganannya, sebentar lagi juga datang."


Aditya mengarahkan pandangannya ke arah ban mobil Erfan yang terlihat kempes, sebelum menatap Erfan yang terlihat tidak senang dengan kedatangannya. "Aku bisa nganterin kalian pulang anggap aja sebagai tanda terima kasihku karena kalian sudah mengijinkan El main ke rumah orang tua kalian kemarin." Ucap Aditya menatap Dara dan Erfan bergantian.


"Kak Aditya nggak perlu berterima kasih, karena aku juga senang bisa main sama El, dan untuk masalah kendaraan kami bisa naik taksi setelah petugas bengkel sampai disini." tolak Dara sopan.


"Tapi....," kalimat Aditya terpotong.


"Apa kamu nggak bisa mengerti kalimat dari istriku?" Erfan membuka suara dengan tatapan dingin menatap manik mata laki-laki yang membuat mood nya berubah menjadi buruk.


"Aku hanya ingin membantu kalian!" ucap Aditya balik menatap Erfan dengan tatapan yang tidak kalah dinginnya."


"Terima kasih atas tawaran kamu, sepertinya kami tidak butuh bantuanmu, karena kami masih bisa mengatasi masalah kami sendiri," Ucap Erfan tegas.


krucuk krucuk terdengar bunyi dari perut Dara, mengalihkan perhatian dua laki-laki yang sedang beradu tatap menjadi kompak menatapnya. Membuat Dara tersenyum kikuk menatap suaminya.

__ADS_1


"Apa kamu lapar Ra?" tanya Aditya menatap Dara.


Dara menggelengkan kepalanya pelan menatap Aditya, sebelum mengalihkan pandangannya menatap Erfan. "Aku nggak terlalu lapar kok Mas."


Erfan menatap balik Dara sebelum mengedarkan pandangannya ke sekitar tempatnya berdiri. "Sebentar ya Ra aku tinggal ke sana sebentar," ucap Erfan menunjuk sebuah swalayan yang ada di seberang jalan tempat mereka berdiri.


"Hati-hati Mas," ucap Dara setelah menganggukkan kepalanya.


Erfan menganggukkan kepalanya pelan menatap Dara sebelum menatap sinis Aditya yang tengah berdiri didepannya, lalu melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan menuju swalayan yang tadi dilihatnya.


"Aku minta maaf kalau kedatanganku sama El kemarin membuat suami kamu marah Ra." Ucap Aditya setelah kepergian Erfan.


"Aku juga minta maaf Kak, mungkin ada kata-kata Mas Erfan kemarin yang menyakiti hati Kak Aditya."


"Apa aku masih bisa membawa El main ke rumah kamu Ra? dia terus menangis mencari kamu." Ucap Aditya penuh harap.


Dara terdiam, berpikir sejenak sebelum berucap, "Lebih baik jangan Kak, aku nggak ingin membuat El semakin merasa nyaman sama aku, hingga membuat El menjadi ketergantungan sama aku. Karena aku harus menjaga perasaan suamiku."


"Nyatanya memang El sudah merasa nyaman sama kamu Ra, mungkin karena kamu sahabat dari ibunya, jadi El bisa merasakan kasih sayang kamu untuknya.


Dara terdiam menatap Aditya.


"Apa kamu nggak sayang sama Eliana Ra? tanya Aditya menatap lekat manik mata sahabat mendiang istrinya.


"Aku sayang sama El Kak, tapi itu nggak akan menjadi alasanku untuk menyakiti hati suamiku, Kak Aditya tahu sendiri bagaimana kemarahan Mas Erfan kemarin saat mendengar kamu dan El memanggilku mama." ucap Dara mencoba untuk menjelaskan.


Aditya terdiam saat mendengar setiap kalimat Dara yang berhasil meruntuhkan harapannya.


"Apa aku perlu bicara sama Erfan Ra? mungkin dia bisa mengerti dan bisa menerima kedekatan El dengan kamu. Aku akan melakukan apapun untuk membuat El bahagia meskipun harus memohon kepada suami kamu." ucap Aditya lagi berusaha meyakinkan Dara.


Dara menggelengkan kepalanya, "Jangan seperti itu Kak, itu hanya akan membuat Mas Erfan marah dan semakin membenci kamu."


"Aku nggak peduli dengan kebencian Erfan kepadaku Ra, aku hanya peduli sama kebahagiaan anakku."


"Walaupun itu harus merusak kebahagiaan orang lain?" ucap Erfan tiba-tiba membuat Dara dan Aditya menoleh kompak ke arahnya.


Erfan berjalan menghampiri Dara dan Aditya dengan membawa sekantong plastik makanan yang baru saja dia beli. "Aku beli roti buat kamu Ra," ucap Erfan memberikan kantong plastik yang di bawanya.


"Terimakasih Mas," ucap Dara lirih saat mengambil alih makanan pemberian Erfan.


"Kalau kamu butuh Mama untuk anak kamu, cari saja perempuan lain yang belum mempunyai suami, jangan menganggu istriku dengan permintaan konyolmu itu." Ucap Erfan menatap tajam Aditya.


_________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..

__ADS_1


__ADS_2