
Erfan, Dara, Aditya, Nathan dan Cindy segera memulai makan siangnya, tidak ada yang bersuara karena masing masing dari mereka terlihat sibuk menikmati tiap suap makanan yang masuk ke dalam mulut mereka.
"Maaf Pak, apa saya boleh bertanya?" tanya Cindy memecah keheningan menatap Erfan.
Erfan mengalihkan pandangannya menatap Cindy, termasuk semua orang yang ada disana.
"Tanya apa?" jawab Erfan datar setelah menelan makananya.
"Apa Bapak sama Dara itu suami istri?" tanya Cindy pura-pura.
"Iya, kami suami istri, kenapa?" jawab Erfan.
Cindy menggelengkan kepalanya pelan sebelum mengalihkan pandangannya kepada Dara. "Maaf ya Ra, kalau ada ucapanku kemarin di saat hari pertama aku masuk kerja terkesan lancang,"
Dara memberikan seulas senyumnya menatap Cindy, "Nggak papa Cin, lupain aja, aku sendiri juga sudah lupa."
"Ucapan apa?" tanya Erfan penasaran menatap Cindy sekilas sebelum menolehkan kepalanya menatap istrinya.
"Obrolan cewek Mas," ucap Dara menyuapkan sepotong steik ke mulut suaminya, berusaha mengalihkan perhatian Erfan agar tidak membahas kembali kalimat Cindy.
"Suapan kamu ini semakin membuatku penasaran Ra!" ucap Erfan di sela-sela kunyahannya masih menatap Dara.
"Nggak baik kepoin masalah cewek Mas," ucap Dara dengan seulas senyum nya kembali menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Lagian kenapa kamu kepo banget sih Fan?" tambah Aditya sebelum meyeruput minumanya.
"Apa masalahnya? kan yang aku kepoin istriku sendiri?" bela Erfan menatap Aditya.
"Sampai kapan kalian akan terus berseteru seperti ini?" ucap Nathan berusaha melerai perdebatan Erfan dan Aditya, membuat dua orang itu terdiam dan kembali menikmati makanan mereka.
Hanya setengah jam waktu yang mereka habiskan untuk makan siang bersama, karena Aditya harus segera balik kerumah sakit untuk membantu Mega menjaga anaknya Eliana.
"Aku balik naik taksi aja ya? nanti biar mobilku di ambil sama Aldi Asistenku." Ucap Aditya setelah keluar dari pintu utama restoran.
Erfan menganggukkan kepalanya pelan menatap Aditya, "Hati-hati, terimakasih karena sudah membantu perusahaan kami."
"Aku juga ingin berterima kasih sama kamu karena mengijinkan Dara untuk menyayangi Eliana." jawab Aditya balik menatap Erfan, hingga membuat pandangan mereka saling beradu.
"Apa kalian ingin berpelukan?" celetuk Nathan tiba-tiba.
"Cih," Dengus Erfan dan Aditya kompak mengalihkan pandangan mereka ke sembarang arah, membuat Dara, Erfan dan Cindy tertawa.
"Aku pulang dulu," pamit Aditya menatap semua orang bergantian sebelum melangkahkan kakinya menuju salah satu taksi yang terparkir menunggu penumpang di depan restoran.
"Ayo balik," ucap Erfan setelah menerima kunci dari petugas valet yang baru datang bersama mobilnya.
"Maaf Pak?" ucap Cindy tiba-tiba menghentikan tangan Erfan yang sudah membuka pintu mobil depan untuk istrinya.
"Apa saya bisa duduk didepan? karena saya merasa mual kalau duduk di belakang." Ucap Cindy dengan wajah melasnya.
"Nggak papa Cin, kamu bisa duduk di depan, biar aku yang duduk di belakang." Ucap Dara mengalihkan pandangan Erfan kepadanya.
"Terimakasih Ra," ucap Cindy mengalihkan pandangannya menatap Dara.
"Permisi Pak," ucap Cindy lagi sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil melewati tangan Erfan yang masih menahan pintu mobil.
Braakkk Erfan segera menutup pintu mobilnya tanpa mengetahui senyum sinis penuh kemenangan yang sedang tersungging di bibir Cindy.
__ADS_1
"Kamu aja yang nyetir Than, aku sama Dara duduk di bangku belakang." Ucap Erfan memberikan kunci mobilnya kepada Nathan.
Nathan segera mengambil alih kunci mobil dari tangan Erfan kemudian berjalan memutar menuju pintu kemudi, sedangkan Erfan segera membuka pintu belakang mobil untuk istrinya, mempersilahkan Dara untuk masuk lebih dulu sebelum dirinya.
"Br*ngs*k," umpat Cindy dalam hati menghilangkan senyum kemenangannya menatap sekilas Dara dan Erfan dari kaca spion yang ada di atasnya.
Mobil Erfan yang dikendarai Nathan melaju dengan cepat menembus jalanan kota yang terlihat lenggang.
Suasana mobil terasa hening, tak ada yang mengeluarkan suara, Nathan sibuk dengan stir yang dikendalikannya, Dara sudah tertidur dengan kepala yang menyandar di bahu Erfan, Dan Erfan pun tampak memejamkan matanya dengan menyandarkan kepalanya di atas kepala istrinya, tak menyadari tatapan sinis Cindy yang dari tadi memperhatikan dia dan istrinya dari kaca spion.
"Kenapa Cin?" tanya Nathan mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah Cindy saat menyadari arah pandangan wanita yang sedang duduk disampingnya itu.
"Nggak papa Pak," ucap Cindy terkejut segera mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Kenapa kamu terus memperhatikan Erfan dan Dara?"
"Aku hanya suka dengan kemesraan mereka Pak," ucap Cindy berbohong berusaha tersenyum menatap Nathan.
Nathan ikut tersenyum mendengar kalimat Cindy. "Mereka memang terlihat sangat serasi, saling mencintai satu sama lain, hingga membuat siapa saja yang melihatnya menjadi iri."
"Serasi dari mananya? serasian juga Erfan sama Rania." Umpat Cindy dalam hati.
"Pak Nathan juga iri sama mereka?" tanya Cindy menatap Nathan.
"Nathan hanya memberikan seulas senyum nya sebagai jawaban dari pertanyaan Cindy, kemudian kembali fokus dengan tugas menyetirnya.
***
Dirumah Erfan dan Dara.
Setelah menyelesaikan Sholat Maghribnya Dara segera mengambil masker wajah yang ada di laci almarinya, membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah membuka dan menempelkan sheet mask ke wajah putihnya.
Cklek Pintu kamar terbuka, terlihat Erfan dari balik pintu dengan baju Koko dan sarung kotak-kotaknya sedang berjalan menuju almari yang ada di sisi kanan ranjangnya.
"Ra...." panggil Erfan melepas sarungnya dan meninggalkan celana pendek yang sudah dia pakai.
"Hemm." Jawab Dara tetap memejamkan matanya.
Erfan menoleh sekilas ke arah Dara sebelum mengganti baju kokonya dengan kaos santai berwarna coklat.
"Kamu ngapain sih?" tanya Erfan menghampiri Dara.
"Pakai masker Mas," gumam Dara pelan melirik Erfan berusaha tetap menjaga posisi maskernya agar tetap baik.
"Kamu nggak masak?" tanya Erfan setelah duduk di tepi ranjang di sebelah Dara.
"Kita pesan online aja ya Mas?"
Erfan menganggukkan kepalanya pelan.
"Sebentar Mas," ucap Dara segera duduk dari tidurnya, melepas masker yang sudah menempel di wajahnya sebelum memberikannya kepada Erfan. "Pegang sebentar Mas,"
Erfan segera mengulurkan tanganya ke depan untuk mengambil alih masker yang diberikan Dara.
"Jangan seperti itu Mas, nanti rusak, seperti ini," ucap Dara memberikan contoh untuk memegang masker dengan cara menjepitkan sedikit kedua jari telunjuk dan jempolnya di bagian Atas masker.
"Kamu mau kemana?" tanya Erfan saat melihat Dara turun dari ranjang untuk mengambil sesuatu dari laci almari.
__ADS_1
"Ambil masker lagi." jawab Dara membalikkan badannya sebelum berjalan kembali menuju ranjang.
"Lha ini kan masih ada Ra?" tanya Erfan sedikit mengangkat masker yang dibawanya.
"Aku ambil satu lagi buat Mas Erfan." Jawab Dara dengan senyum jahilnya.
"Gila, ah nggak mau aku." Protes Erfan segera berdiri dari duduknya.
"Ayolah Mas, tinggal tempel aja kok, hanya sebentar." Ucap Dara merayu.
"Bukan masalah tinggal tempelnya sayang....kamu lihat badanku ini? sudah macho seperti ini masak pakai masker?" protes Erfan membuat Dara terkekeh.
"Ya kan nggak ada yang lihat Mas, hanya sebentar, lima belas menit deh, atau sepuluh menit, biar wajah mas Erfan tambah kinclong."
"Wajahku kurang kinclong apa coba Ra?"
"Ya biar lebih kinclong lagi Mas, nanti habis pakai masker kita..." ucap Dara memotong kalimatnya sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Hahahahaha," Erfan tersenyum kikuk mengerti maksud dari ucapan Dara. "Okelah hanya sepuluh menit," ucap Erfan melangkahkan kakinya kembali duduk di tepi ranjang.
Dara mengembangkan senyum kemenangannya sebelum ikut duduk di depan Erfan, membuka bungkus masker sebelum menempelkan dengan hati hati di wajah suaminya. "Sebentar Mas, jangan bergerak," ucap Dara lirih.
"Oke selesai, Mas Erfan bisa berbaring sekarang." Ucap Dara setelah mengambil alih masker yang dipegang Erfan.
"Astaga Mas...pelan pelan dong tidurnya, jangan langsung tidur seperti itu," Protes Dara saat melihat masker Erfan berantakan.
"Biar cepat menikmati kedipan mata kamu Ra," ucap Erfan terkekeh berusaha membenarkan maskernya.
"Ngomongnya juga pelan pelan aja, biar Maskernya nggak berantakan." ucap Dara lagi naik ke atas ranjang untuk mengambil posisi duduk di samping Erfan.
"Astaga cerewet sekali sih Ra...tinggal tempel gini aja banyak sekali aturannya." gerutu Erfan pelan melirik Dara.
Dara tertawa sebelum memasangkan kembali masker di wajahnya dan berbaring di samping suaminya.
"Ra...." panggil Erfan pelan membuat Dara membuka kembali matanya yang baru saja terpejam.
"Terimakasih karena sudah mencintai dan menerimaku di dalam kehidupan kamu." Ucap Erfan menggenggam tangan Dara yang berada di sampingnya.
"Dara menolehkan sedikit kepalanya menatap Erfan yang sedang mengarahkan pandangannya ke atas menatap langit langit kamarnya.
"Aku nggak ingin kehilangan kamu Ra, aku ingin kamu berjanji apapun masalah yang akan kita hadapi di masa depan, kamu akan selalu terus mendampingiku, selalu berada disisiku, jangan sampai menyebutkan kata pisah." Ucap Erfan sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara, hingga membuat pandangan mereka saling beradu.
"Masalah apa Mas?" tanya Dara lirih.
"Masalah apapun itu yang menimpa rumah tangga kita, apa kamu bisa berjanji Ra?" tanya Erfan masih menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Aku janji Mas,"
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Erfan lirih semakin menatap dalam manik mata istrinya.
"Sangat Mas," jawab Dara lirih semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Kalau di film film, setelah adegan seperti ini bisa langsung ciuman Ra," ucap Erfan lagi membuat Dara tertawa tak memperdulikan lagi maskernya yang berantakan.
Bersambung.
*********
__ADS_1
TOLONG BANTU dan DUKUNG AUTHOR YA? dengan VOTE VOTE VOTE LIKE DAN KOMEN.
Terimakasih.