
Tut tut tut Erfan menekan kode akses pintu apartemennya dengan perasaan kesal, sedangkan Dara diam membisu berdiri dibelakang suaminya, sesekali melirik pintu apartemen yang ada diseberang pintu apartemennya, tempat tinggal Dewa sekarang.
Erfan masuk ke dalam dan berjalan menuju sofa diikuti dengan Dara dibelakangnya.
"Br*ng**k," ucap Erfan kesal sambil menjatuhkan dirinya diatas sofa.
Erfan menyandarkan punggung dan kepalanya disofa, memejamkan matanya berusaha untuk mengatur perasaannya.
"Mas," panggil Dara pelan berdiri dibelakang Erfan.
Erfan diam tak memperdulikan.
Dara menghela nafas pelan sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Apa kamu benar-benar ingin berpisah denganku Ra?" ucap Erfan tiba-tiba menghentikan langkah Dara.
Erfan membuka matanya pelan kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Dara.
"Apa kamu benar benar mencintainya Ra?" tanya Erfan menatap Dara.
Dara diam menatap wajah kesal suaminya, "Apa yang harus aku katakan sekarang?" batin Dara.
"Kenapa kamu diam Ra? aku butuh jawaban kamu," sentak Erfan kesal.
Dara memejamkan matanya terkejut mendengar sentakan Erfan.
"Aku mencintainya Mas, aku sangat mencintainya," ucap Dara tegas menatap mata Erfan.
Erfan mengepalkan tangannya menahan semua emosi yang sekarang berkumpul memenuhi hatinya, membuatnya merasa sesak.
"Hahaha," Erfan tertawa sinis sambil melepaskan kasar satu kancing atas kemejanya berusaha mengatur perasaannya agar tetap bisa mengendalikan emosinya.
"Bagaimana aku bisa begitu saja melupakan nya Mas? bertahun-tahun kami bersama, menjalani semua suka duka bersama, berbagi kasih, saling menjaga saling menguatkan, saling mengerti saling mencintai, bahkan saat aku menikah diam-diam, saat aku menyakiti perasaannya dia tetap berusaha mengerti aku Mas," ucap Dara penuh emosi mengeluarkan semua isi hati yang selama ini dipendamnya.
Dara menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, berusaha mengatur ritme detak jantungnya yang tak terkendali. "Aku cukup lega saat Mas Erfan hanya menginginkan pernikahan selama satu tahun, alasan itu yang aku buat untuk sedikit mengurangi rasa sakit Dewa karena penghiaatanku, aku bahkan berjanji untuk tidak menyakitinya lagi Mas, tapi apa kenyataannya sekarang? aku semakin menyakiti perasaannya kerena keegoisan kamu, kamu memaksa kami berpisah saat kamu ditinggal nikah sama kekasihmu." Ucap Dara menangis.
Erfan terdiam sesaat, hatinya semakin sakit mendengar semua kalimat istrinya, "Apa yang kamu inginkan sekarang? perceraian?" tanya Erfan lirih dengan mata berkaca-kaca.
Dara menatap wajah sendu suaminya, dia tau kata-katanya tadi sangat menyakiti suaminya.
Dara melangkah mendekati Erfan,
"Aku ingin kamu mengerti perasaanku Mas, kasih aku waktu untuk bisa menerima semua ini, pelan-pelan, aku akan berusaha menerima kamu," ucap Dara menyentuh tangan Erfan yang menggantung, membuat tatapan mereka saling beradu.
__ADS_1
"Apa kamu akan memberi Dewa kesempatan?" tanya Erfan menatap Dara.
"Jangan menanyakan itu sekarang Mas, aku nggak mau lebih menyakiti kamu, aku minta maaf," ucap Dara memeluk Erfan.
"Beri aku waktu, aku akan berusaha Mas, aku akan berusaha," ucap Dara pelan masih memeluk suaminya.
Erfan menghela nafas pelan sebelum membalas pelukan Dara, "Aku akan membantumu melupakan Dewa Ra, maaf kan keegoisanku," ucap Erfan membenamkan wajahnya pada bahu Dara.
***
Ceklek Dara membuka pintu kamar Erfan.
"Lagi ngapain Mas? lagi sibuk ya? tanya Dara menghampiri Erfan yang sedang duduk bersandar d ranjang sambil membuka berkas.
"Nggak sibuk Ra, kenapa?" tanya Erfan menutup berkasnya dan meletakkan diatas nakas.
"Anterin aku ke Supermarket dong Mas, persediaan makanan dikulkas banyak yang sudah habis," ucap Dara sambil duduk didepan Erfan.
Oh iya, belum diisi ya kulkasnya?" ucap Erfan terkekeh mengingat kulkas yang terlalu lama kosong karena yang punya sibuk bertengkar.
Dara menganggukkan kepala pelan.
"Aku ganti celana dulu ya! " ucap Erfan berdiri kemudian mengambil celana jeans panjang yang ada dialmari.
"Tunggu disini juga nggak papa Ra," goda Erfan sambil tersenyum tipis menaikkan kedua alisnya.
"Issss," ucap Dara tersipu malu sambil menaikan tangannya seperti hendak meninju, kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar Erfan.
Erfan terkekeh sendiri melihat reaksi Istrinya, setelah itu bergegas mengganti celana pendek yang dipakai dengan celana jeans yang baru saja diambil dari almari.
Setelah merasa siap dengan penampilannya Erfan bergegas mengambil dompet dan kunci mobil yang ada di dalam laci nakas, kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
"Ayo Ra," ucap Erfan menghampiri Dara yang sedang menunggunya dimeja makan.
"Sudah Mas?" tanya Dara menoleh kemudian berdiri dan mengambil tas cangklong yang dia taruh di atas meja.
Erfan menganggukkan kepala kemudian berjalan keluar disusul Dara yang berada dibelakangnya.
Langkah Erfan terhenti sesaat setelah membuka pintu, saat melihat pintu apartemen didepannya juga terbuka dan memperlihatkan sosok Dewa.
Mata mereka saling beradu dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa berhenti Mas?" tanya Dara sebelum melihat ke arah Dewa.
__ADS_1
"Dewa," ucapnya pelan menatap Dewa.
Dara mengalihkan pandangannya ke wajah Erfan, dan menghela nafas pelan saat melihat wajah kesal suaminya.
"Ayo Mas," ucap Dara menggandeng tangan Erfan setelah menutup pintu apartemennya, mengajak Erfan melanjutkan langkahnya menuju lift berusaha menguatkan hatinya sendiri untuk tidak peduli dengan keberadaan Dewa.
"Maaf Wa, aku nggak bisa menjaga hati kamu, karena aku punya kewajiban untuk menjaga hati suamiku," ucap Dara dalam hati sambil berusaha menetralkan rasa sesak yang ada dihatinya.
sedangkan Dewa hanya melihat kepergian Dara dan Erfan dengan sorot mata yang sendu.
"Setega ini Ra kamu sama aku? bahkan kamu bisa menggandeng tangan dia didepanku, dulu kamu Paling mengerti perasaanku, tapi kenapa sekarang kamu nggak tahu kalau ini terlalu sakit buat aku Ra?" gumam Dewa pelan kemudian masuk lagi ke dalam apartemennya, mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Hari ini sudah cukup marah-marahnya, jangan keseringan marah, gak baik buat kesehatan kamu Mas," ucap Dara menatap Erfan saat berada didalam lift.
Erfan tersenyum menatap istrinya kemudian mengeratkan gandengan tangannya dengan Dara.
***
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil Erfan sudah memasuki area parkir Supermarket, setelah memarkirkan mobilnya dengan baik Erfan dan Dara segera keluar dari mobil.
Erfan berjalan mendekati Dara sebelum menggandeng tangan istrinya, mereka berjalan bersama meninggalkan area parkir menuju pintu masuk Supermarket.
Dara mengambil gula, teh, kopi, kecap beserta seperangkat bumbu lainnya untuk memasak, dan menaruhnya didalam troli belanja yang didorong Erfan, kemudian melangkahkan kakinya lagi menuju rak sayur, mengambil bermacam macam sayur , daging, ayam dan ikan, memasukkan semuanya kedalam troli.
"Udah Mas," ucap Dara meneliti kembali belanjaan yang ada ditroli.
"Udah?" tanya Erfan memastikan.
Dara menganggukkan kepala menatap Erfan.
"Oke, ayo ke kasir," ucap Erfan sebelum mendorong troli menuju kasir dan mengambil tempat untuk mengantri.
"Kak Erfan," tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil dari arah samping kanan mereka.
Dara dan Erfan menoleh ke sumber suara.
"Clara," ucap Erfan tersenyum melihat seorang wanita yang sedang ngantri dikasir sebelah antrian Erfan, seorang wanita cantik berambut panjang yang dikuncir kuda seumuran dengan Dara.
Clara segera menyelesaikan pembayarannya dikasir sebelum berjalan dan berdiri menunggu didepan kasir tempat Erfan Dan Dara mengantri.
______________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up
__ADS_1