
"Ayo lah Mas...." Ucap Dara memelas, berusaha menyentuh hati suaminya.
"Tunggu sebentar," jawab Erfan melepas seat beltnya.
"Aku ikut,"
"Katanya sakit kepala?" tanya Erfan.
"Nggak jadi Mas," jawab Dara membuat Erfan terkekeh menatanya.
"Ayo," ucap Erfan sebelum turun dari mobilnya di barengi dengan Dara yang akan melepas seat beltnya.
"Belum Mateng deh Ra, masih asam ini," ucap Erfan berdiri di depan pintu pagar, mengedarkan pandangannya ke arah gerombolan mangga yang ada di atasnya.
"Enak ini Mas, seger...," jawab Dara menelan ludahnya sendiri mengikuti arah pandangan suaminya.
"Cari siapa Mas? Mbak?" tanya seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah, Membuat pasangan suami istri itu mengalihkan pandangan menatapnya.
"Istri saya menginginkan mangga itu, apa kami bisa membelinya?" Jawab Erfan sopan menunjuk mangga yang ada di atasnya.
"Pemilik rumah ini sedang tidak ada dirumah," ucap ART itu dari balik pagar, membuat Erfan menoleh ke arah istrinya yang terlihat kecewa.
"Aku bilang apa tadi? kita beli saja di supermarket."
"Aku nggak mau, kita pulang saja Mas," jawab Dara menatap suaminya sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah Art yang masih berdiri di depannya.
"Kami permisi dulu ya Bu," pamit Dara hendak melangkah pergi.
"Mbaknya lagi ngidam ya?" tanya Art itu menghentikan langkah Dara, membuat Dara bingung menatap suaminya.
"Kalau mau, ambil saja beberapa Mbak, nggak usah beli nanti biar saya yang bilang ke Ibu." ucap Art itu lagi membuat Dara tersenyum senang.
"Terimakasih Bu," ucap Dara dengan sorot matanya yang berbinar melihat Art yang sedang membuka pintu pagar.
"Apa ada galah disini Bu?" tanya Erfan memasuki pagar rumah.
"Ada Mas, disebelah sana." jawab Art menunjuk galah yang sedang berdiri menyandar di sudut tembok pagar.
"Tapi aku inginnya Mas Erfan nunggu di bawah sini, sampai mangganya jatuh sendiri." ucap Dara membuat suaminya terkejut membulatkan mata menatapnya.
"Sampai aku lumutan juga nggak bakalan jatuh Ra!" jawab Erfan kesal menanggapi keinginan istrinya, membuat Dara dan wanita yang ada didepannya terkekeh menatapnya.
Erfan segera melangkahkan kakinya untuk mengambil galah, sebelum melangkah lagi untuk menghampiri Dara yang masih berdiri memandang banyaknya mangga yang ada di atasnya.
Hanya dalam sekali sentakan Erfan sudah berhasil merontokkan tiga mangga yang masih tergolong muda hingga jatuh bergelinding di atas tanah.
Dara segera memungutnya, membawanya sekaligus dengan kedua tangannya. "Terimakasih ya Bu," ucap Dara dengan senyum mengembangnya.
"Sama-sama" jawab Art tersenyum.
__ADS_1
"Semoga bayinya sehat ya Mbak, semoga lahirannya juga lancar." ucap Art lagi membuat Dara tersenyum kikuk.
"Tapi saya...," jawab Dara terpotong.
"Amin," terimakasih doanya Bu," ucap Erfan yang baru datang dari mengembalikan galah, membuat Dara tersentak menatapnya.
Erfan segera mengambil alih mangga dari tangan istrinya, "Kami permisi dulu Bu, sekali lagi terima kasih." Ucap Erfan lagi sebelum menggandeng tangan isterinya keluar dari pagar.
"Kok Mas Erfan bilang amin? aku kan belum hamil Mas?" tanya Dara setelah masuk ke dalam mobil, menatap suaminya yang sedang menyalakan mesin mobil.
"Dia kan lagi berdoa buat kebaikan kita Ra, ya kita Amini aja, siapa tahu setelah dapat doa dari dia kamu jadi beneran hamil." jawab Erfan tersenyum menatap istrinya.
***
Adzan ashar selesai berkumandang, Dara segera melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Tuhannya sebelum keluar kamar menuju dapur.
Mengambil buah mangganya yang dia simpan di dalam kulkas, sebelum mengupasnya bersih dan mengirisnya tipis di atas piring makan bermotif bunga.
Dara menikmati tiap irisan mangga yang sudah dia cocolkan ke dalam mangkuk kecil yang berisi bumbu rujak manis, sedikit bergidik saat Merasakan rasa mangga yang sedikit asam namun terasa menyegarkan.
"Enak nggak Ra?" tanya Erfan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Enak sekali Mas, Mas Erfan mau?" jawab Dara mengulurkan irisan mangga yang ada di tangannya kebelakang mendekati bibir Erfan yang ada di atas bahunya.
Erfan segera membuka mulutnya, memakan irisan mangga dari suapan istrinya.
"Hahhh...," ucap Erfan memejamkan matanya, dengan dahinya yang mengernyit, segera melepaskan pelukannya untuk membuang mangga yang ada di dalam mulutnya ke dalam tempat sampah.
"Asem Ra...," jawab Erfan mengecap-ngecapkan bibirnya.
"Enak kok, nggak terlalu asem!" ucap Dara tetap menikmati mangga mudanya.
"Kok bisa? beneran asem lo ini Ra..."
"Jangan-jangan..." ucap Erfan lagi mengantung, membuat Dara menghentikan kunyahan di mulutnya menatap suaminya.
"Kapan kamu terakhir kali tespek?" tanya Erfan.
"Sebelum tes dulu Mas," jawab Dara lirih.
"Sebentar," ucap Dara lagi segera melangkah cepat meninggalkan Erfan.
"Hati-hati Ra! pelan-pelan!" teriak Erfan mengikuti langkah istrinya, menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Tapi aku masih belum kebelet p*pis Mas!" ucap Dara menghampiri Erfan yang baru masuk ke dalam kamar, sambil membawa tespek yang ada di tangan kirinya.
"Apa bisa pakai p*pisku Ra? aku lagi kebelet ini," Jawab Erfan terkekeh menatap istrinya.
Membuat Dara memanyunkan bibirnya sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Tunggu saja dulu Ra, minum yang banyak," ucap Erfan masih terkekeh melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu, rasa yang ditunggu-tunggu pun tiba, Dara segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa tespek yang sedari tadi dipegangnya.
Sedangkan Erfan nampak sibuk dengan sambungan teleponnya dengan Nathan, membahas masalah pekerjaan dengan sahabatnya itu Sambil duduk bersandar di atas ranjang.
Cklek Dara membuka pintu kamar mandinya, berjalan gontai mendekati suaminya.
"Nanti kita bicarakan lagi Than," Ucap Erfan menutup panggilan teleponnya, menatap Dara yang sudah berdiri di depannya.
"Kenapa? negatif ya?" tanya Erfan berdiri dari duduknya.
"Nggak papa sayang, nanti malam kita buat lagi ya? mungkin bulan depan bisa positif." Ucap Erfan lagi berusaha menguatkan istrinya.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, mengulurkan tangannya kedepan untuk menunjukkan tespek yang baru saja dia pakai.
"Ada garis dua?" ucap Erfan lirih melihat tespek yang ada di tangannya, sebelum mengalihkan pandangannya kembali menatap istrinya.
Dara menganggukkan kepalanya cepat dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya, "Aku hamil Mas," ucap Dara lirih meneteskan airmatanya.
Erfan terdiam, berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya.
"Kamu hamil?" tanya Erfan lagi memastikan.
"Iya," jawab Dara menganggukkan kepalanya cepat.
"Ya Allah....," Ucap Erfan memeluk tubuh istrinya, mendekapnya erat ke dalam pelukamnya. "Terimakasih Ya Allah
...terimakasih," ucap Erfan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Terimakasih Sayang...terimakasih," ucap Erfan lagi menarik tubuhnya untuk mengecup kening istrinya berkali-kali sebelum mengarahkan kembali tubuhnya memeluk Dara.
Dara menganggukkan kepalanya, memecahkan tangisannya di pelukan Erfan.
Sebuah tangisan penuh rasa syukur kepada Tuhannya, karena sudah membuatnya menjadi seorang wanita yang sempurna.
Mengandung buah hati dari laki-laki yang sangat di cintainya, setelah bermacam-macam masalah yang menimpa rumah tangannya,
Kini waktunya mereka bahagia, meneguk manisnya rumah tangga yang hampir sempurna.
"Apa kamu menginginkan sesuatu? atau makan sesuatu Ra?" tanya Erfan antusias, melepaskan pelukannya menatap Dara.
"Apa kamu ingin aku menunggu mangga jatuh dibawah pohon? aku akan melakukannya." Ucap Erfan lagi membuat Dara tertawa memukul pelan dadanya.
Bersambung.
___________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1
Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"