
Flasback
Dewa baru turun dari pesawat setelah pulang dari perjalanan bisnis yang ada di luar kota. lebih memilih untuk pergi ke rumah kekasihnya, guna untuk mengobati rasa rindunya yang telah bergelora, ingin memberikan kejutan manis perihal kepulangannya kepada Dara.
"Aku kangen sekali sama kamu Ra," ucapnya lirih, sudah berada di dalam taksi di kursi penumpang belakang, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Yang terlihat begitu jelas dari senyuman di bibirnya, sedang membuka kotak perhiasan yang berisikan kalung emas putih dengan liontin berbentuk love yang terpanah.
Sebagai hadiah untuk kekasihnya, sebagai tanda cintanya yang terus saja ingin di tunjukkan nya.
Hingga menciptakan bayangan manis di dalam pikirannya, membayangkan bagaimana wajah semringah Dara setelah mengetahui kedatangannya dan juga hadiah yang di bawakannya.
Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit, taksi yang ditumpanginya pun mulai melaju pelan sebelum berhenti tepat di depan pagar rumah Dara.
"Terimaksih Pak," ucap Dewa sesaat setelah membayar argo taksinya.
Segera turun dan mengambil kopernya yang ada di dalam bagasi taksi, sebelum mengayunkan langkahnya mendekati pagar rumah, hendak membunyikan bel yang tersedia.
Dengan perasaannya yang berbunga, akibat rasa rindunya yang menggebu, merasa begitu tak sabar ingin segera berjumpa dan beradu pandang dengan manik hitam nan indah milik kekasihnya.
"Assalamu'alaikum Tante," ucap Dewa sesaat setelah beradu pandang dengan Bu Selfi, sedang mengayunkan langkah mendekatinya.
"Waalaikum salam," jawab Bu Selfi, mengerutkan keningnya, sama sekali tak menyangka dengan kedatangan Dewa, mantan kekasih putrinya.
Hanya bisa tersenyum, membalas senyuman ramah Dewa membuka pintu pagar rumah.
"Dara ada Tante?" tanya Dewa, sesaat setelah mencium tangan Bu Selfi, beradu pandang dengan tatapan bingung wanita yang dia anggapnya calon mertua.
"Ayo masuk dulu Nak,"
"Iya Tante, terimakasih," jawab Dewa.
Segera mengayunkan langkahnya, mengikuti langkah Bu Selfi yang sudah berjalan di depannya.
"Ayo duduk dulu,"
Menganggukkan kepala Dewa, masih dengan senyum ramahnya, segera duduk di atas sofa, sesaat setelah meletakkan koper yang di bawanya di atas lantai di sampingnya.
"Dari mana kok bawa koper?" tanya Bu Selfi.
"Baru pulang dari luar kota Tante, ada pekerjaan di sana.
Menganggukan kepala Bu Selfi, masih berdiri tak kunjung duduk.
"Tante buatin minum dulu ya,"
"Nggak usah Tante, terimakasih, nggak perlu repot-repot, saya hanya ingin bertemu Dara." jawab Dewa cepat, menghentikan langkah Bu Selfi yang hendak melangkah meninggalkannya.
"Dara?"
"Iya Tante," jawab Dewa bingung.
Tak mengalihkan pandangannya dari Bu Selfi, yang melangkah hendak duduk di seberangnya.
"Apa Dara belum memberitahumu Nak?"
"Memberitahu apa ya Tante? saya nggak ngerti," jawab Dewa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Mengerutkan kening Bu Selfi, sama sekali tak bisa mengerti dengan sikap putrinya yang tak memberitahukan perihal pernikahan kepada Dewa.
"Kalian sudah putus kan?"
"Putus?" sahut Dewa, dengan matanya yang membulat, dan tersentak.
"Iya putus, Dara sudah menikah, harusnya kalian sudah putus,"
Mempercepat degup jantung Dewa, segera membuang pandangannya ke sembarang arah, mencerna semuanya.
"Putus? menikah? apa maksudnya?" batin Dewa, mengepalkan salah satu tangannya, kembali beradu pandang.
"Dara sudah menikah beberapa hari yang lalu, dan dia sekarang sudah pindah ke rumah suaminya." tambah Bu Selfi.
Memporak porandakan perasaan Dewa, sama sekali tak tak bisa mempercayainya. Sama sekali tak bisa tercerna dengan baik di otak kepalanya.
"Tolong jangan bercanda Tante," lirih Dewa, dengan degup jantungnya yang tak karuan, di temani oleh deru nafasnya yang memburu memerahkan kedua matanya.
Sama sekali tak bisa percaya, dan tak ingin percaya, bagaimana bisa? kekasihnya itu diam diam menikah di belakangnya? tapi kenapa? bukankah hubungannya baik baik saja? setiap harinya masih mesra dan tak ada masalah?
Hingga membuatnya terdiam, kembali mengedarkan pandangannya merasa linglung.
"Tante tidak bercanda Nak, Dara memang sudah menikah," jawab Bu Selfi.
Mengelukan lidah Dewa, sama sekali tak tahu harus menjawab dan bersikap seperti apa, hanya bisa memejamkan matanya dalam menundukkan kepalanya.
"Kalian harus menyelesaikan hubungan kalian sekarang...," Lanjut Bu Selfi mengalihkan pandangan Dewa cepat menatapnya tajam.
Flasback selesai
***
Ting tung ting tung.....
Dara memencet bel pintu apartemen Dewa, sekali dua kali tiga kali. Namun pintu tak kunjung terbuka, semakin mengembangkan rasa khawatir yang bersemayam di dalam dada, semakin panik dan frustasi.
Hingga membuatnya memutuskan, untuk memencet kode akses pintu yang telah di ketahuinya, merasa begitu tak sabar untuk segera bertemu kekasihnya.
"Wa... Dewa...," panggil Dara, sesaat setelah berhasil masuk, mengayunkan langkahnya cepat, menyusuri setiap ruangan.
"Dewa...,"
panggilnya lagi, karena Dewa yang tak bersuara, tak menjawab panggilannya.
Hingga membuatnya berlari, lebih memilih untuk mencari kekasihnya itu dalam kamar, sama sekali tak ingin membuang waktu ingin segera mejelaskan.
Sebelum terpaku, menghentikan langkahnya cepat, sesaat setelah membuka pintu kamar kekasihnya yang tak terkunci membekap mulutnya yang menganga.
"Dewa....," gumam Dara terkejut.
Menatap Dewa yang terlihat begitu menyedihkan, sedang duduk di atas lantai dengan kakinya yang di tekuk memeluk lutut.
"Kenapa tangan kamu Wa? kenapa banyak darahnya begitu?" kata Dara, semakin khawatir, kembali mengayunkan langkahnya cepat, mendekati Dewa yang terdiam, menatapnya tajam.
"Selamat atas pernikahan kamu Ra," lirih Dewa mengulaskan senyum pilunya, masih duduk di tempatnya beradu pandang.
Dengan Dara yang terdiam, hanya bisa menitikan air mata melihat kondisi kekasihnya, melihat kemarahan Dewa.
__ADS_1
"Maaf," lirih Dara, sama sekali tak tahu harus berkata seperti apa, menyadari kesalahannya.
Masih beradu pandang dengan Dewa yang tersenyum getir, berusaha berdiri tegak di atas kaki yang terlihat lemas.
"Kenapa kamu meminta maaf? harusnya aku yang meminta maaf bukan? karena aku, aku nggak bisa datang ke pernikahan kamu," jawab Dewa tertawa.
Semakin meremas hati Alira merasa bersalah.
"Aku minta maaf Wa...," tangis Alira.
"Harusnya kamu undang aku Ra," lirih Dewa, seraya mengalihkan pandangannya, sebelum berteriak melampiaskan amarahnya.
"Harusnya kamu berikan langsung undangannya ke aku!!!!" teriak Dewa.
Memejamkan mata Dara, hingga membuat kekasihnya itu berjingkat dan tersentak.
"Apa aku kurang baik sama kamu Ra? apa aku kurang peduli dan perhatian sama kamu? apa sebagai pacar aku terlalu buruk buat kamu?"
"Kenapa kamu menghianatiku Ra? kenapa kamu menikam dan menusukku seperti ini? apa kamu nggak tahu betapa sakitnya aku sekarang Ra? aku sangat sakit! hatiku sangat sakit Adara!!!"
Teriak Adam, dengan deru nafasnya yang tersenggal, melampiaskan amarahnya yang telah membuncah, akibat rasa kecewanya yang begitu besar dan menyesakkan.
"Maaf," lirih Alira semakin terisak, hanya bisa berusaha berdiri tegak di atas kakinya yang gemetar menundukkan kepalanya.
"Maaf? sampai kapan kamu mau meminta maaf? apa kata maaf mu itu berguna untuk menghilangkan penghianatan mu? apa kata maaf mu itu mampu mengobati luka dari penghianatan kamu Ra?"
Menggelengkan cepat kepala Alira, seraya menegakkan kepalanya beradu pandang.
"Aku terpaksa Wa, aku di jodohkan," jawab Alira, masih dengan isakan tangisannya berusaha untuk menjelaskan.
"Aku juga nggak mau menikah... aku dipaksa menikah Wa... aku di paksa...,"
"Sungguh, aku... aku sangat mencintai kamu, aku nggak mau menyakiti kamu, aku sangat mencintai kamu Wa, aku mencintai kamu," kata Alira, semakin tergugu, seraya mengayunkan langkahnya untuk memeluk kekasihnya.
Yang terdiam, membuang pandangan tak membalas pelukannya.
"Jangan bicara cinta kalau kamu sendiri nggak bisa menjaganya Ra,"
"Aku terpaksa Wa, aku juga nggak mau menikah, mau berapa kali aku bilang, aku nggak mau menikah,"
"Tapi kenyataannya sekarang kamu sudah menikah," jawab Dewa, masih dengan sorot mata tajamnya, sebelum bersitatap dengan mata basah Dara yang menengadahkan kepala.
"Aku akan bercerai Wa, setelah satu tahun pernikahan,"
Mengerutkan kening Dewa, tak melepaskan pandangannya dari Dara yang melepaskan pelukan menyeka air mata cepat.
"Pernikahan ini hanya sebuah permainan, pernikahan di atas perjanjian, dan satu tahun lagi aku dan Mas Erfan akan bercerai Wa, tanpa menyentuhku, dan aku tetap menjadi kekasih kamu,"
"Karena Mas Erfan juga sudah punya kekasih yang akan di nikahinya. Semua ini di lakukan hanya untuk membahagiakan orang tua kami wa, hanya sebatas itu dan nggak akan lebih dari itu," lanjut Dara, berusaha untuk meyakinkan hati kekasihnya tak ingin kehilangan Dewa. .
"Kalian tidur sekamar?"
Menggelengkan kepala Dara, "Mas Erfan di kamar utama dan aku di kamar tamu," jawab Dara cepat, kembali menyeka air matanya.
"Kami tidur dikamar terpisah Wa, dia tetap bersama dengan kekasihnya dan aku bisa tetap bersama dengan kamu."
"Kamu mau menungguku kan Wa? kamu masih mencintaiku kan? aku masih ingin menikah sama kamu Wa, aku sangat mencintai kamu" kata Dara, dengan wajah memelasnya menyentuh tangan kekasihnya.
__ADS_1
_____________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.