
"Kami nggak melakukan apapun Ra, ini semua nggak seperti yang kamu lihat." ucap Erfan sudah berdiri berusaha menjelaskan.
"Aku hanya menepuk pipi Pak Erfan yang di hinggapi nyamuk Ra," ucap Cindy menatap Dara sebelum berjalan mundur menjauhi Erfan. "Saya minta maaf Pak," ucap Cindy lagi menatap Erfan.
"Saya minta maaf karena dengan sengaja melakukan itu di depan kamu Ra." Ucap Cindy tertawa dalam hati.
"Kamu bisa memberi tahuku tanpa menyentuh pipiku." Ucap Erfan kesal mengusap kasar pipinya yang di sentuh Cindy.
"Br*ngs*k, apa tanganku senajis itu sampai dia mengusap pipinya seperti itu?" umpat Cindy dalam hati.
"Saya minta maaf atas kelancangan tangan saya Pak, saya benar-benar nggak sengaja karena gerak reflek tangan saya." ucap Cindy sedikit menundukkan kepalanya menatap Erfan.
"Aku benar-benar minta maaf Ra," ucap Cindy lagi menatap Dara yang masih berdiri mematung tak bersuara.
Ting tung Ting tung suara bel rumah berbunyi, Dara segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama berusaha meyakinkan hatinya kalau semua yang dia lihat hanya sebuah kesalahfahaman.
"Terimakasih Pak," ucap Dara kepada supir ojol setelah membuka pintu utama, menerima tiga bungkus makanan yang baru saja dia pesan.
"Kita makan malam dulu, kamu mungkin sudah lapar Cin." Ucap Dara setelah menutup pintu, menatap Erfan dan Cindy bergantian.
"Ayo Mas, Cin," ucap Dara lagi saat tidak melihat pergerakan dari Cindy dan suaminya.
Cindy dan Erfan segera melangkahkan kaki mereka menuju meja makan, mengikuti langkah Dara yang sudah berjalan di depannya sambil menenteng makanan di tangan kanannya.
Dara meletakkan bungkusannya di atas meja makan sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil tiga mangkuk berserta sendoknya, sebelum kembali melangkah menuju meja makan mendekati Erfan dan Cindy yang sudah duduk bersebrangan saling berhadapan.
"Silahkan di makan Cin," ucap Dara dengan senyum tipisnya memberikan salah satu mangkuk yang baru saja dia ambil beserta sebungkus nasi dan lauknya kepada Cindy.
"Terimakasih Ra," ucap Cindy pelan.
"Aku beli soto daging Mas," ucap Dara lagi memindahkan nasi ke dalam mangkuk sebelum menuangkan kuah sotonya di atas nasi dan memberikannya kepada Erfan.
"Terimakasih Sayang," ucap Erfan tersenyum menatap Istrinya, dan hanya dibalas dengan senyum tipis istrinya.
"Apa kamu marah sama aku Ra?" tanya Cindy menatap Dara yang sedang menikmati makanannya di sebelah Erfan.
Dara menggelengkan kepalanya balik menatap Cindy, "Aku marah sama nyamuknya Cin, berani sekali dia mengambil darah suamiku." Jawab Dara sebelum memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, membuat Cindy tersenyum dan kembali menikmati makanannya.
"Minta sambalnya lagi Ra?" ucap Erfan melihat ke arah sambal yang ada di sisi kanan istrinya.
"Tadi kan sudah aku kasih sambal Mas?" ucap Dara menatap Erfan.
"Kurang pedas Ra,"
"Sudah Mas, jangan banyak-banyak sambalnya, nanti kalau sakit maagnya kambuh lagi gimana?," cegah Dara menatap suaminya.
"Mas Erfan mau makan bubur ayam lagi?" ucap Dara lagi membuat Erfan kembali menikmati makananya, mengurungkan keinginannya untuk menambah sambal.
"Gila nih Pak Erfan, langsung nurut loh sama si Dara," batin Cindy di sela-sela kunyahannya, mencuri pandang melirik Erfan yang tengah fokus menikmati makanannya.
"Ra? apa aku boleh menginap disini? hanya untuk malam ini," ucap Cindy mengalihkan pandangan Erfan dan Dara untuk menatapnya .
Dara tampak berfikir sebelum membuka mulutnya.
"Nggak boleh," jawab Erfan datar membuat Dara menutup mulutnya yang akan bersuara.
"Belum satu jam kamu di sini saja sudah membuat kesalah fahaman, bagaimana kalau semalaman kamu menginap disini? aku akan pesankan taksi online untuk kamu pulang, dan masalah mobil kamu, aku akan menghubungi bengkel langgananku untuk memperbaikinya." ucap Erfan tegas menatap Cindy.
Dara hanya diam tak bersuara, dengan hati yang membenarkan kalimat suaminya.
"Baik Pak, saya akan pulang naik taksi, dan untuk masalah mobil saya, saya bisa mengurusnya sendiri kalau ponsel saya sudah menyala," jawab Cindy berusaha bersikap biasa walaupun sedang menahan rasa geram di hatinya.
Mereka bertiga melanjutkan kembali makannya dalam diam, menciptakan suasana hening yang membaur menjadi satu dengan hawa dingin yang sedang menyelimuti suasana di meja makan.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu
"Aku pamit ya Ra?" ucap Cindy setelah keluar dari pintu utama rumah Dara, mencium pipi kanan dan kiri Dara.
"Hati-hati Cin," ucap Dara menatap Cindy sebelum rekan kerjanya itu melangkahkan kakinya menuju pagar untuk mendekati taksi online yang sudah menunggunya di depan pagar.
"Cin," pekik Dara saat melihat Cindy jatuh terduduk di atas lantai sambil menyentuh kepalanya, pura-pura menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa?" tanya Dara panik berjongkok di samping Cindy.
"Kepalaku pusing Ra,"
"Ayo masuk lagi ke dalam Cin," ucap Dara membantu Cindy berdiri sebelum memapah Cindy untuk masuk ke dalam rumah.
"Dasar wanita b*doh." ucap Cindy dalam hati dengan senyum liciknya masih di dalam kepura puraannya.
"Masssss," teriak Dara memanggil Erfan yang sudah berada di dalam kamar.
"Ada apa Ra?" tanya Erfan bergegas keluar kamar saat mendengar teriakan istrinya.
"Kenapa dia?" tanya Erfan sedikit berlari menuruni anak tangga menghampiri Dara yang sedang memapah Sekretarisnya.
"Kepalanya sakit Mas, mungkin efek hujan-hujan tadi." Jawab Dara menatap Erfan yang sudah berdiri di depannya.
"Ayo bantuin Mas, bawa ke dalam kamar tamu," ucap Dara lagi membuat Erfan mengambil alih tubuh Cindy sebelum membopongnya masuk ke dalam kamar tamu.
"Gila nyaman sekali berada di pelukan Pak Erfan, selain tampan, tubuhnya juga sangat bagus, bonus kaya lagi, pantesan Rania tergila-gila sama atasanku ini." Batin Cindy di dalam kepura puraannya.
"Aku telepon Dokter iwan dulu ya Ra?" ucap Erfan setelah membaringkan tubuh Cindy di atas ranjang.
"Pak," ucap Cindy menahan tangan Erfan membuat Dara terkejut.
Ada perasaan cemburu yang menjalar di hatinya saat melihat tangan Cindy yang menggenggam tangan suaminya.
"Ijinkan saya menginap disini Pak, hanya untuk satu malam," ucap Cindy lagi menatap Erfan dengan wajah memelasnya.
"Terserah kamu," ucap Erfan sedikit mengibaskan tangan Cindy agar terlepas dari tangannya.
"Maaf Pak, saya nggak sengaja menggenggam tangan Bapak," ucap Cindy menatap Erfan.
"Terima kasih ya Ra? maaf karena sudah merepotkan kamu dan Pak Erfan." Ucap Cindy lirih menatap Dara.
"Kamu istirahat saja, besok kan hari Minggu jadi kamu bisa punya banyak waktu untuk beristirahat." Ucap Dara berusaha tersenyum.
"Aku ke kamar dulu Ra," ucap Erfan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu.
"Iya Mas," Jawab Dara melihat kepergian suaminya.
"Apa kamu butuh sesuatu Cin?" tanya Dara mengalihkan pandangannya menatap Cindy.
"Nggak ada Ra, aku hanya butuh istirahat."
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Kamu tidur saja, aku tinggal ke kamar dulu ya?" ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu, tanpa mengetahui senyum licik yang tersungging di bibir wanita yang sudah di tolongnya.
Dara segera membereskan meja makannya yang masih di penuhi dengan bungkus soto dan mangkuk kotor, mencuci semua mangkuk kotornya di wastafel dapur sebelum menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamar.
Cklek Dara membuka pintu kamarnya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi melewati Erfan yang sedang memperhatikannya dari atas ranjang.
"Mau kemana Ra?" tanya Erfan yang sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan kaki yang berselonjor ke depan menatap Dara yang terlihat mengacuhkannya.
"Sikat gigi," jawab Dara singkat sebelum masuk dan menutup pintu kamar mandinya.
Sepuluh menit berlalu, Dara keluar dari dalam kamar mandi sebelum melangkahkan kakinya menuju meja rias untuk mengoleskan krim malam ke wajah mulusnya.
__ADS_1
"Apa kamu marah Ra?" tanya Erfan setelah berdiri di belakang Dara, sedikit membungkukkan badannya untuk melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya, memeluk wanita yang di cintainya itu dari belakang.
"Nggak Mas," jawab Dara datar tetap memoleskan krim ke wajahnya.
Erfan semakin mengeratkan pelukannya, memposisikan kepalanya di atas bahu istrinya, " Terus kenapa kamu diam?" tanya Erfan lagi menatap Dara dari pantulan cermin yang ada di depannya.
"Nggak papa,"
"Apa kamu cemburu?" tanya Erfan setelah mengecup pipi istrinya.
"Nggak," jawab Dara datar balik menatap Erfan dari pantulan kaca.
"Dih, kok nggak cemburu?" goda Erfan melepaskan pelukannya untuk berdiri tegak di belakang Dara, menatap istrinya yang akan berdiri dan melangkahkan kaki mendekati ranjang.
"Katanya cinta? kok nggak cemburu?" goda Erfan lagi berjalan di belakang Dara.
Tanpa aba-aba Dara tiba-tiba berhenti dan membalikkan badannya menatap Erfan.
"Auuuu," rintih Dara dan Erfan kompak saat Dahi dan bibir mereka saling bertabrakan, membuat mereka saling tatap sambil memegangi bagian tubuhnya yang terasa sakit.
"Pfffftttt" Dara menahan tawanya sambil menggosok pelan dahinya yang terasa sakit menatap Erfan yang sedang menahan tawanya juga mengusap lembut bibir yang sudah dia tabrak.
"Sakit ya Ra?" tanya Erfan ikut mengusap dahi istrinya.
"Sedikit," jawab Dara sebelum mengulurkan tangannya kedepan mengelus lembut bibir suaminya.
"Jangan pakai tangan Ra ngelusnya, pakai bibir saja," ucap Erfan genit menatap Dara.
"Sini Mas, aku elus pakai bibir," ucap Dara segera berjinjit dan mengecup bibir suaminya.
"Kurang lama," ucap Erfan kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Dara.
Dara sedikit membuka mulutnya seakan sedang menyambut kedatanganya bibir suaminya, tinggal setengah Cm lagi bibir mereka menyatu tiba-tiba....
Tok tok tok terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, membuat pasangan suami istri itu kompak menolehkan kepala mereka ke arah pintu.
"Sebentar Mas," ucap Dara menatap Erfan yang terlihat kesal.
Dara segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Cin?" tanya Dara menatap Cindy yang sudah berdiri di balik pintu kamarnya.
"Apa kamu punya minyak kayu putih Ra? kepalaku pusing sekali." Ucap Cindy dengan raut wajah yang di buat semelas mungkin.
"Ada Cin, sebentar ya," ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya menuju almari untuk mengambil Minyak kayu putih yang dia simpan di dalam kotak P3K nya yang ada di dalam laci almarinya.
"Ini Cin," ucap Dara lagi menyerahkan minyak kayu putih yang baru saja dia ambil.
"Terimakasih Ra," ucap Cindy mengambil alih minyak dari tangan Dara.
"Aku turun dulu ya?" ucap Cindy lagi sebelum membalikkan badannya.
"Tunggu," ucap Erfan berjalan mendekati Dara, membuat Cindy menghentikan langkahnya.
"Kalau butuh sesuatu selain minyak kayu putih kamu bilang sekarang, karena jika kamu sudah turun dan meninggalkan kamar ini, kamu nggak saya izinkan untuk mengetuk kembali pintu kamar ini." Ucap Erfan tegas dengan tatapan tajamnya menatap manik mata Cindy.
"Iya Pak, maaf karena saya sudah menganggu waktu Pak Erfan dan Dara, saya akan turun sekarang dan nggak akan mengetuk pintu kamar ini lagi Pak." Ucap Cindy sebelum membalikkan tubuhnya untuk menuruni anak tangga.
Bersambung.
_____________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1