
Dara menutup pintu kamarnya, menyeka air matanya dengan kasar sebelum melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju arah dapur.
"Kenapa air mata ini nggak bisa berhenti sih?" gumam Dara kesal menyeka kembali air matanya sebelum duduk di kursi meja makan, melipat tangannya di atas meja makan sebelum membenamkan wajah di atasnya.
Tangisnya pecah, membuat air mata menyusup keluar dari kelopak matanya yang tertutup hingga membuat nafasnya yang normal menjadi sesenggukan.
Ting tung ting tung bel rumah Dara berbunyi.
Dara menegakkan kepalanya, menyeka sisa air matanya dengan kasar, sebelum menarik nafasnya dalam-dalam untuk dihembuskannya perlahan, berusaha mengurangi rasa sesak di hati yang membuatnya menangis.
Dara segera berdiri, mencuci wajahnya di wastafel dapurnya sebelum melangkahkan kakinya untuk membuka pintu utama.
"Ibu....Ayah...."Ucap Dara lirih setelah membuka pintu rumahnya, saat melihat kedua orang tuanya yang berdiri di balik pintu.
"Bagaimana keadaan Erfan? kenapa kamu nggak......" ucap Bu Selfi terpotong saat Dara berhambur memeluknya dengan air mata yang kembali mengalir.
"Kenapa Nak? suami kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Selfi bingung membalas pelukan anaknya.
Dara menganggukkan kepala masih memeluk ibunya, "Aku hanya ingin memeluk ibu, sebentar saja." Ucap Dara semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita masuk dulu Ra, nggak enak kalau ada yang lihat," ucap Pak Herman membuat Dara melepaskan pelukannya.
"Maaf Yah, Bu, silahkan masuk....," Ucap Dara menyeka air matanya mempersilahkan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kondisi suami kamu?" tanya Bu Selfi setelah duduk di sofa di ikuti dengan Dara yang duduk di sebelahnya.
"Mas Erfan sudah lebih baik Bu, hanya perlu lebih banyak istirahat."
"Kenapa kamu nggak mengabari kami?" tanya Pak Herman yang sudah duduk di sofa dekat Bu Selfi.
"Kami nggak ingin membuat Ayah dan Ibu Khawatir, tapi... bagaimana Ayah dan ibu bisa tahu?" tanya Dara menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Mas Subrata yang mengabari kami, harusnya kamu yang mengabari orang tua kamu Ra, kami juga berhak tahu kondisi menantu kami." Ucap Pak Herman kesal menatap anaknya.
"Iya Yah, aku minta maaf,"
"Ayah sama Ibu bisa naik ke atas, Mas Erfan sedang istirahat di kamar." Ucap Dara lagi.
Bu Selfi dan Pak Herman segera berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki mengikuti Dara yang sudah berjalan di depannya, menaiki anak tangga sebelum masuk ke dalam kamar menantunya.
Dara membuka perlahan pintu kamarnya, menatap suaminya yang tengah tidur di atas ranjang sebelum menoleh ke belakang menatap kedua orang tuanya.
"Ayo masuk Yah, Bu." Ucap Dara sebelum melangkah mendekati suaminya.
"Mas....ada Ayah sama Ibu," Ucap Dara lirih duduk di tepi ranjang, menepuk pelan lengan suaminya berusaha untuk membangunkan.
Erfan membuka kelopak matanya untuk mengarahkan pandangannya ke arah Bu Selfi dan Pak Herman yang sudah berdiri di dekat ranjangnya.
"Yah, Bu," ucap Erfan berusaha untuk bangun dari tidurnya.
"Nggak usah bangun Nak, tiduran saja," sergah Bu Selfi menatap Menantunya.
"Aku sudah baikan kok Bu," jawab Erfan berusaha duduk dan bersandar di sandaran ranjangnya di bantu dengan Dara.
__ADS_1
"Silahkan duduk Yah, Bu," ucap Erfan menunjuk sopan kursi rias Dara yang ada di samping ranjangnya.
"Ibu duduk sini Bu," tambah Dara berdiri dari duduknya.
"Bagaimana ceritanya kok bisa sampai kena tusuk?" tanya Bu Selfi setelah duduk di tepi ranjang.
"Aku juga nggak tahu Bu, tiba-tiba saja ada orang yang mengikuti dan menyerang kami."
"Apa kalian sudah tahu pelakunya?" tanya Pak Herman.
Erfan menggelengkan kepalanya, "Sepertinya orang suruhan, aku juga sedang mencari tahu siapa dalang dari semuanya Yah."
"Semoga cepat ketemu orangnya ya Nak? biar bisa cepat dihukum." Ucap Bu Selfi menatap Menantunya.
"Iya Bu," jawab Erfan.
"Kalau nggak salah bulan ini pernikahan kalian sudah satu tahun ya Ra?" tanya Pak Herman menatap Dara yang sedang duduk di atas ranjang sebelah Erfan.
"Iya Yah, besok anniversary pernikahan kita yang pertama." Jawab Dara.
"Apa kamu sudah ada tanda tanda kehamilan Ra?" tanya Pak Herman membuat detak jantung Dara berdebar debar menatap Ayahnya, sebelum mengalihkan pandangan ke arah Suaminya.
"Tolong jangan membahas itu sekarang Yah," ucap Dara kembali menatap ayahnya.
"Kenapa? bukankah itu hal yang wajar untuk ditanyakan? kalian sudah lama menikah, dan Ayah sangat ingin punya cucu, apa yang salah dengan pembahasan ini?" tanya Pak Herman balik menatap anaknya.
"Menantu kita sedang sakit Yah, ditahan dulu pertanyaannya, ini bukan waktu yang tepat." ucap Bu Selfi memperingatkan.
"Ayah cuma tanya Bu," jawab Pak Herman menatap Bu Selfi sebelum mengalihkan kembali pandangannya menatap Dara dan Erfan bergantian.
Erfan memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab pertanyaan mertuanya. "Sudah Yah," jawab Erfan lirih.
"Bagaimana hasilnya? apa kata Dokter? apa Dara bisa hamil dalam waktu dekat ini?" tanya Pak Herman antusias menatap Erfan.
"Kita masih di suruh bersabar Yah," jawab Dara berusaha menahan air matanya.
Pak Herman hanya menghela nafas dengan raut wajah kecewanya.
"Kemarin kami sudah melakukan tes kesuburan Yah," Ucap Erfan membuat Dara tersentak menatapnya.
"Mas....," ucap Dara menyentuh tangan suaminya, membuat Erfan mengalihkan pandangan menatap istrinya yang sedang menggelengkan kepala menatapnya.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Pak Herman penasaran memandangi anak dan menantunya bergantian.
"Nggak ada masalah Yah, semuanya baik-baik saja." Jawab Dara cepat.
"Sp*rmaku bermasalah Yah," Jawab Erfan membuat Dara memejamkan matanya sesaat sebelum menatap dalam wajah suaminya yang terlihat pilu.
"Ya Allah....."Ucap Bu Selfi membekap mulutnya yang menganga kaget, sedangkan Pak Herman menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi dengan lemas.
"Aku minta maaf Yah, aku nggak akan mungkin bisa memberikan Ayah cucu dalam waktu dekat ini." Tambah Erfan menatap mertuanya.
"Apa masalah ini yang membuat kamu menangis di pelukan Ibumu tadi Ra?" tanya Pak Herman menatap anaknya, membuat Erfan tersentak dan langsung menatap Dara yang sedang menatapnya.
__ADS_1
"Bukan Yah, aku bukan menangisi masalah Mas Erfan, aku menangisi rasa sakitnya Mas Erfan, aku juga merasa terluka saat melihat Mas Erfan terluka Yah." Jawab Dara kembali menangis saat beradu pandang dengan manik mata Pak Herman yang terlihat kecewa.
"Aku mohon Ayah jangan pernah membahas masalah anak sama kami lagi Yah, tolong jangan menabur garam pada luka Mas Erfan, kita akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memberikan ayah cucu, kami hanya butuh doa dan dukungan Ayah, Ayah hanya harus menunggu." Jawab Dara memohon.
"Sampai kapan Ayah harus menunggu?" jawab Pak Herman membuat perasaan suami istri itu semakin hancur, membuat Dara semakin mempererat genggaman tangannya dengan Erfan.
"Yah...," sergah Bu Selfi menghentikan ucapan Pak Herman yang akan lebih menyakiti perasaan anak dan menantunya.
"Jangan mempertanyakan hal yang nggak mungkin bisa di jawab oleh anak kita, tolong jangan menambahknn beban lagi di hati mereka." ucap Bu Selfi dengan matanya yang berkaca-kaca, seakan ikut merasakan kepedihan anaknya.
Pak Herman hanya menghela nafas menatap istrinya, mencoba menahan rasa kecewanya, sebelum menjatuhkan punggungnya kembali di sandaran kursi.
"Kita lebih baik pulang Yah, biarkan menantu kita istrihat." Tambah Bu Selfi lagi membuat Pak Herman berdiri dan segera keluar dari kamar anaknya.
Dara dan Erfan hanya memandangi kepergian Pak Herman dengan perasaanya yang semakin pilu.
"Maafin Ayah ya Fan? jangan di ambil hati setiap ucapan Ayah kamu, Ini ujian buat pernikahan kalian, kalian berdua harus lebih sabar lagi agar bisa melewati ujian ini dengan baik," Ucap Bu Selfi membuat Erfan mengalihkan pandangan menatapnya.
"Iya Bu," jawab Erfan lirih.
"Aku tinggal sebentar ya Mas? aku nganterin Ayah dan Ibu ke depan dulu!" ucap Dara menatap suaminya.
Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan, melihat istri dan Ibu mertuanya keluar dari dalam kamar.
Dara dan Bu Selfi melangkah menuruni anak tangga menghampiri Pak Herman yang sedang menunggu di meja makan.
"Ibu sama Ayah bisa makan siang di sini dulu," Ucap Dara setelah berdiri di dekat ayahnya.
"Ayah nggak nafsu makan, harusnya Ayah nggak menjodohkanmu dengan Erfan." Ucap Pak Herman meluapkan perasaannya.
"Yah," Ucap Dara dan Bu Selfi kompak, tak bisa terima dengan ucapan Pak Herman.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan kalimat Ayah? karena keegoisan Ayah, kamu harus putus sama Dewa, jika saja kamu menikah sama Dewa mungkin Ayah sekarang sudah menimang cucu."
"Ya Allah......kenapa Ayah Setega ini sama aku Yah? apa Ayah sadar kalau kata-kata Ayah ini sangat menyakitiku?" Ucap Dara menatap ayahnya.
"Apa cucu lebih penting bagi Ayah dibandingkan dengan kebahagiaanku Yah? sampai kapan Ayah akan egois seperti ini? memaksakan semua keinginan Ayah tanpa mau mengerti perasaanku?" ucap Dara mulai emosi dengan air matanya yang mengalir.
"Maafkan kata-kata Ayah kamu Nak, jangan dimasukkan ke hati ya ucapan Ayah kamu? Ayah hanya perlu waktu untuk menerima semuanya." Ucap Bu Selfi mengusap lembut lengan anaknya.
"Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi Yah, aku sudah sangat bahagia hidup bersama Mas Erfan, jangan mengungkit lagi masa lalu yang akan menyakiti hati kami." Ucap Dara tegas menatap Ayahnya.
"Lebih baik kita pulang Yah," ucap Bu Selfi kesal menatap suaminya.
Dara mengikuti langkah Ayah ibunya yang sudah berjalan di depannya tanpa mengetahui keberadaan Erfan yang sudah berdiri di lantai dua dekat tangga dengan perasaan hancurnya, menggenggam erat pembatas lantai untuk menahan tubuhnya agar bisa tetap berdiri.
Sementara itu di Pratama Group Cindy sedang duduk dikursi kebesaran Erfan, memutar-mutar kursi dengan perasaan senangnya, sebelum berhenti dan menyilangkan kedua tangannya di atas meja untuk menatap lekat foto kebersamaan Erfan dan Dara yang terpajang di dalam pigora di depannya.
"Maaf ya Pak....aku terpaksa melakukannya...aku harus memastikan kalau kalian berpisah, agar Rania bisa menggantikan posisi Dara di foto ini." Ucap Cindy dengan senyum sinisnya membelai foto atasannya.
Bersambung.
___________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up