Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 48. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Apa kamu nyaman tinggal dirumah Papa Ra? atau kita perlu membeli rumah baru?" Ucap Erfan sambil menatap jalan dan Dara bergantian.


"Aku nyaman kok Mas tinggal bareng Papa, Mas Erfan nggak nyaman?" Ucap Dara menatap suaminya.


"Ya nyaman sih, tapi bukankah lebih nyaman lagi kalau kita tinggal dirumah sendiri? kita bisa melakukan apapun yang kita mau."


"Mas Erfan ingin pindah?" tanya Dara memastikan.


"Ya.......keinginanku seperti itu Ra."


"Mau pindah kemana? apartemen?"


Erfan terdiam sejenak saat istrinya menyebut apartemennya. "Kita bisa membeli rumah baru."


"Ya nggak papa, terserah Mas Erfan aja."


Erfan tersenyum senang mendengar jawaban Dara. "Hari Minggu kita lihat rumahnya ya?"


"Mas Erfan sudah dapat rumah yang akan dibeli?"


Erfan menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah, diperumahan XXY." Ucap Erfan menyebutkan salah satu nama perumahan elite yang ada dikotanya.


"Ha? XXY?" tanya Dara terkejut.


"Iya Ra," Ucap Erfan menganggukan kepalanya.


"Selain dekat dengan Perusahaan, perumahannya juga dekat sama rumah orang tua kamu." Ucap Erfan lagi sambil menoleh sekilas ke arah Dara.


"Kebetulan ada rumah temanku yang mau dijual Ra, kalau aku sih cocok sama rumahnya, tinggal nunggu pendapat kamu aja." Lanjut Erfan lagi.


Hati Dara tiba-tiba merasa gelisah "XXY ya?" Ucap Dara dalam hati.


"Ra," panggil Erfan saat melihat istrinya melamun.


Dara masih terdiam tak menjawab, pandangannya tetap lurus kedepan.


"Ra," panggil Erfan lagi sedikit menaikkan nada suaranya.


"Iya Mas?" Ucap Dara terkejut.


"Maaf Mas, tadi Mas Erfan ngomong apa?" tanya Dara menatap Erfan saat tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?"


Dara menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak papa Mas!" Jawab Dara berbohong.


"Kamu nggak suka sama Perumahannya?"


"Nggak Mas, aku kan belum lihat rumahnya, masak sudah nggak suka."


"Hari Minggu kita lihat rumah dulu ya sebelum jalan ke mall?"


"Ngapain ke mall?" Tanya Dara menatap Erfan.


"Kan kita mau belanja baju kamu? sekalian kita nonton."


Dara menganggukan kepalanya pelan, sebelum mengalihkan pandangannya lurus kedepan.


***


"Harusnya kita tadi beli makan dulu Ra, dengerin nih suara perutku sudah berdisko ria." Ucap Erfan setelah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Pak Subrata.

__ADS_1


"Kalau kita makan dirumah kan kita bisa makan bareng Papa Mas." Ucap Dara sambil melepaskan seat belt yang melingkar ditubuhnya.


Dara dan Erfan segera turun dari mobil.


"Sepertinya lagi ada tamu Mas," Ucap Dara saat melihat sebuah mobil Honda Civic putih yang terparkir dihalaman rumah.


"Sepertinya tamu nggak diundang Ra." Ucap Erfan melihat mobil.


"Siapa?" tanya Dara menatap Erfan.


"Nanti kamu juga bakal tahu Ra," ucap Erfan menggandeng tangan Dara sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.


"Siapa Sih Mas?" tanya Dara penasaran menatap Erfan.


"Lihat saja sendiri." Ucap Erfan setelah memasuki pintu utama, dan mengkode Dara untuk melihat ke arah ruang tamu.


"Rania," ucap Dara lirih saat melihat Rania sedang berbincang dengan mertuanya diruang tamu.


"Assalamualaikum Pa," Ucap Erfan berjalan menghampiri papanya, diikuti dengan Dara yang berjalan disampingnya.


"Waalaikum salam." Ucap Pak Subrata dan Rania berbarengan, sambil menoleh ke arah mereka.


"Kalian sudah pulang?" ucap Pak Subrata tersenyum.


"Iya Pa, kami ke kamar dulu ya..." Ucap Erfan sebelum melangkahkan kakinya lagi menuju kamar, dengan tangan masih menggandeng Dara.


"Kami tinggal dulu ya Pa," ucap Dara tersenyum berusaha mengacuhkan keberadaan Rania.


"Fan." Panggil Rania untuk menghentikan langkah Erfan dan Dara.


Erfan hanya menoleh menatap Rania tanpa mengeluarkan suara.


"Jangan lama-lama ya ganti bajunya, aku ingin makan malam bareng kamu." Ucap Rania tersenyum, menciptakan ekspresi ketidaksukaan dari wajah Pak Subrata dan Dara.


"Ya Allah jauhkan suamiku dari wanita ulat bulu macam Rania," doa Dara dalam hati sambil menahan perasaan cemburunya.


Dara masuk kedalam kamar tanpa bersuara, menggantung tasnya sebelum duduk dimeja rias untuk melepaskan kucirannya.


"Ra," panggil Erfan setelah meletakkan tas kerjanya diatas ranjang.


"Iya Mas?" jawab Dara tanpa menoleh ke arah Erfan.


"Kamu nggak papa?" tanya Erfan memeluk Dara dari belakang sambil mencium lembut kepala istrinya.


"Nggak papa Mas," ucap Dara menyembunyikan perasaan cemburunya.


"Apa kita makan dikamar aja? atau kita cari makan diluar?" ucap Erfan masih memeluk Dara, menatap istrinya lewat pantulan kaca yang ada didepannya.


"Nggak perlu Mas, nggak enak sama Papa," ucap Dara mengusap lembut tangan Erfan yang melingkar didadanya.


Erfan melepaskan pelukannya melangkahkan kakinya untuk bersandar dimeja rias didepan Dara.


"Yakin nggak papa?" tanya Erfan memastikan.


Dara hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Aku mandi dulu Mas," Ucap Dara berdiri dari duduknya.


"Mau aku temenin?" Goda Erfan menatap Dara.


"Nggak," Jawab Dara tersenyum tipis sambil memukul pelan lengan suaminya.


Erfan menghela nafas setelah melihat Dara masuk ke dalam kamar mandi, membuka jas dan dasinya sebelum melemparkannya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor.

__ADS_1


***


Setelah selesai mandi Dara dan Erfan segera keluar kamar untuk makan malam.


"Yakin mau makan malam dibawah Ra?" tanya Erfan saat akan menutup pintu kamar, saat melihat raut wajah istrinya yang menunjukkan ketidaksukaan dengan kehadiran Rania.


Dara hanya menganggukkan kepala pelan sebagai bentuk jawabannya.


"Ya Udah ayo," ucap Erfan menggandeng tangan Dara untuk menuruni anak tangga, melangkahkan kaki mereka menghampiri Pak Subrata yang masih berbincang diruang tamu dengan Rania.


"Ayo Pa," ucap Erfan tetap menggandeng tangan Dara.


Pak Subrata mengganggukkan kepala menatap Erfan, "Ayo Ran," ucap Pak Subrata kepada Rania sebelum berdiri dari duduknya.


"Iya Om," ucap Rania ikut berdiri..


Erfan dan Dara berjalan lebih dulu disusul oleh Pak Subrata dan Rania dibelakangnya.


Pandangan Rania terpusat pada gandengan tangan Erfan dan Dara. "Cih, apa sih bagusnya dia? harusnya aku yang digandeng Erfan, bukan dia." Gerutu Rania lirih merasa tidak suka dengan kemesraan Erfan dan Dara.


"Duduk Ra," Ucap Erfan setelah menarik salah satu kursi dimeja makan.


"Terimakasih Mas," ucap Dara menatap Erfan yang akan duduk disebelahnya.


"Ngapain kamu?" Ucap Erfan setelah duduk, saat melihat Rania akan duduk dikursi sebelahnya.


"Duduk lah Fan," ucap Rania masih berdiri.


"Kenapa duduk disini? disana kan bisa!" Ucap Erfan menunjuk kursi yang ada diseberangnya dengan tatapan mata.


"Orang aku ingin duduk disini." Ucap Rania cuek tetap duduk disebelah Erfan.


"Apa kamu keberatan Ra?" tanya Rania mencondongkan badannya kedepan menoleh ke arah Dara.


"Nggak," ucap Dara datar setelah sekilas melirik Rania.


"Mungkin dia buru-buru kesini, jadi otaknya nggak dibawa, bagaimana mungkin aku nggak keberatan kalau dia dekat-dekat sama suamiku." Omel Dara dalam hati.


"Tuhkan Dara aja nggak keberatan," Ucap Rania sebelum mengambil nasi dan meletakkannya diatas piringnya.


Dara hanya menghela nafas sebelum mengambil nasi berserta lauk untuk suaminya.


"Dara bantu ambil nasi ya Pa?" ucap Dara kepada Pak Subrata sesaat setelah memberikan seporsi nasi untuk suaminya.


"Terimakasih Ra" Ucap Pak Subrata menerima sepiring nasi beserta lauk Dari Dara.


"Aku ada rencana beli rumah Pa," Ucap Erfan sebelum menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Dimana?" tanya Pak subrata menatap Erfan.


"Di perumahan XXY, hari Minggu aku mau ngajak Dara melihat Rumahnya."


"Perumahan XXY?" tanya Rania berusaha masuk ke pembicaraan.


"Kenapa? kamu mau beli rumah disana juga?" ucap Erfan sinis.


"Kalau kamu menginginkan, aku akan langsung beli Fan," Ucap Rania antusias menatap Erfan.


"Uhuk uhuk" Dara tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Rania.


_________________

__ADS_1


HAI READERS JANGAN LUPA LIKE, KOMEN FAVORIT DAN VOTENYA YA....BIAR AUTHORNYA LEBIH SEMANGAT UNTUK UP


__ADS_2