Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 18. Cemburu


__ADS_3

Erfan masuk ke dalam kamar, berjalan menuju almari, mengeluarkan celana hitam, kemeja, dasi dan juga jas kerjanya, kemudian melemparkan semuanya ke atas ranjang.


Melepaskan semua kaos dan celana pendek yang sedang dia pakai dan menggantinya dengan setelan jas lengkap yang baru saja dia ambil. Setelah pakaiannya terpakai semua Erfan segera mengambil tas yang ada di gantungan dan bergegas untuk keluar kamar.


Langkah Erfan tiba-tiba berhenti ketika tangannya hendak memutar handle pintu, saat gendang telinganya menangkap percakapan Dara yang sedang menelpon di meja makan.


"Hahahaha kamu sih Wa nggak peka, males tahu aku sama kamu," ucap Dara tertawa.


"Untung saja akunya cinta sama kamu," ucapnya lagi terkekeh.


Erfan mengeratkan genggamannya pada handle pintu hingga membuat telapak tangannya memerah, rahangnya mengeras menahan emosi mendengar istrinya tertawa dan menyatakan cinta kepada laki-laki lain.


Erfan membuka pintu dengan kesal, berjalan begitu saja melewati Dara.


"Mas Erfan mau kemana?" tanya Dara setelah mematikan sambungan teleponnya.


"Kerja," jawab Erfan tanpa menoleh.


"Katanya cuti?"


Erfan diam tak memperdulikan, dan tetap melanjutkan langkahnya keluar dari apartemennya.


"Dia kenapa sih? katanya cuti," gumam Dara bingung.


"Ini obatnya juga belum di minum, kalau tambah sakit gimana coba?" gumamnya lagi sambil menyimpan obat dan membersihkan meja makan dari sterofoam bekas bubur ayam.


****


Erfan sampai diloby Perusahaannya, dia berjalan masuk tanpa memperdulikan semua karyawan yang menyapanya, naik lift dan berjalan lagi hingga masuk ke dalam ruangannya.


Braakkkkk Erfan melemparkan tas kerjanya di atas meja.


"B*r*ng**k," ucap Erfan kesal.


Erfan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk menetralkan emosinya sebelum melangkahkan kaki untuk duduk di kursi kebesarannya.


Tut Erfan menekan satu tombol telepon yang ada dimeja kerjanya.


"Mbak Rei kamu kesini sekarang," ucapnya saat telepon tersambung ke sekretarisnya.


"Baik Bak," jawab Reina.


Tok tok tok


"Masuk."


Reina membuka pintu dan berjalan mendekati meja Erfan.


"Iya pak?"


"Apa berkas lamaran kemarin sudah kamu berikan ke Personalia?"


"Sudah Pak, mereka akan mempekerjakannya Minggu depan sesuai perintah pak Erfan."


"Suruh mereka mempekerjakannya besok."


"Baik Pak."


"Kamu boleh pergi."


"Permisi pak," ucap Reina membungkukkan sedikit badannya dan segera keluar dari ruangan Erfan.

__ADS_1


Erfan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menghela nafas pelan sebelum memijit pelipisnya. Dia bingung dengan perasaannya sekarang, kenapa dia harus marah ketika mendengar percakapan Dara dengan Dewa? "Mungkin hanya terbawa perasaan karena putus dari Sarah," gumamnya pelan.


Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu ruangannya.


"Masuk," ucap Erfan sambil menegakkan duduknya.


"Tumben kamu telat tadi Fan?" tanya Nathan memasuki ruangan Erfan.


"Sekali-sekali telat kan nggak papa Than."


"Kamu sakit? wajahmu pucat sekali," tanya Nathan sambil duduk di sofa.


"Nggak papa hanya sedikit pusing," jawab Erfan mengambil dan membaca berkas yang ada dimeja.


"Fan," ucap Nathan ragu-ragu.


"Kenapa? ngomong aja."


"Aku dengar Sarah akan menikah."


Erfan menghentikan aktifitasnya, sekilas melirik ke arah Nathan dan kembali membaca berkas yang dia pegang.


"Hemmmm," jawab Erfan Datar.


"Terus bagaimana hubungan kalian?"


Erfan menghela nafas, menutup berkas dan meletakkan kembali di tempatnya.


"Kami sudah selesai," ucap Erfan menoleh ke arah Nathan.


"Oh ya? kapan? kok aku nggak tau?"


"Kemarin."


Erfan mengangkat alisnya sebagai bentuk jawaban iya, kemudian menopang kepalanya dengan tangan kanannya di atas meja sambil memijitnya pelan.


"Kamu benaran nggak papa Fan? pulang aja deh kalau sakit."


"Aku juga inginnya pulang, tapi semakin lama diapartemen rasanya semakin panas," ucap Erfan berdiri dan pindah duduk disofa.


"AC nya rusak?"


" Hemmmm, kamu cepat keluar sana, aku mau tidur sebentar disofa. "


" Oke oke aku pergi dulu, cepat sembuh dan segera move on," ucap Nathan berdiri dan melangkah pergi.


"Tolong bilangin ke mbk Reina ya jangan ada yang boleh masuk keruanganku," ucap Erfan memejamkan matanya setelah merebahkan tubuhnya disofa.


"Oke" ucap Nathan kembali melangkah pergi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Dara menatap jam dinding dengan cemas karena suaminya belum juga pulang.


Berulang kali d pencetnya kontak Erfan yang ada diponselnya berusaha untuk menghubungi suaminya, hanya suara operator yang menjawab, mengatakan kalau nomer ponsel suaminya tidak aktif.


Dara khawatir Erfan akan melakukan hal hal konyol lagi seperti kemarin, ditambah suaminya itu pergi dengan kondisi demam membuat rasa khawatir nya semakin besar.


Dara duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya, matanya berulang kali melirik ke arah pintu menunggu suaminya membuka pintu.


Ceklek pintu apartemennya terbuka.

__ADS_1


Dara segera berdiri dari duduknya ketika melihat suaminya masuk dari balik pintu.


"Mas Erfan kok baru pulang?" tanya Dara menghampiri Erfan.


"Iya tadi aku ketiduran dikantor."


"Kenapa enggak istirahat di rumah aja sih Mas? kok malah tidur dikantor?" ucap Dara mengambil alih tas yang dibawa Erfan.


"Aku takut mengganggu waktumu dengan Dewa."


Dara terdiam mendengar ucapan Erfan.


"Mas Erfan marah?" tanya Dara menatap Erfan.


Erfan berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menjawab pertanyaan Dara.


Dara menghela nafas sebelum mengikuti langkah Erfan, dia merasa bingung dengan sikap suaminya sekarang.


"Aku tadi beli sate ayam buat makan malam, mau aku siapin sekarang Mas?" tanya Dara sambil menggantung tas Erfan.


"Sama Dewa?" tanya Erfan kesal sambil melepas jas dan melemparnya diatas ranjang.


"Kamu ini kenapa sih Mas? kok jadi uring-uringan begini?"


"Aku nggak tau, aku mau mandi dulu, "ucap Erfan masuk ke dalam kamar mandi.


Dara menghela nafas pelan mengambil jas di ranjang dan menggantungnya digantungan baju sebelum pergi ke dapur untuk menghangatkan sate ayam yang sudah dingin kemudian menatanya dimeja makan, setelah itu Dara pergi ke kamar Erfan untuk memanggil suaminya.


"Masssss," ucap Dara langsung masuk kamar tanpa mengetuk.


"Astagfirullah," ucap Dara kaget dan segera membalikkan tubuhnya saat melihat Erfan yang hanya memakai handuk di pinggangya dan memperlihatkan dadanya yang sixpack.


"Ayo Mas makan dulu, aku tunggu di meja makan," ucap Dara buru-buru meninggalkan kamar Erfan, jantungnya berdetak lebih cepat karena melihat sesuatu yang harusnya tidak dia lihat.


Erfan keluar kamar menghampiri Dara yang sudah menunggunya dimeja makan, kemudian duduk dikursi diseberang Dara.


Dara hanya fokus melihat piring yang ada didepannya memakan nasi sate tanpa mengangkat kepalanya, dia berusaha menetralkan debaran dijantungnya. Karena melihat Erfan sekarang mengingatkannya kembali tentang kejadian dikamar.


"Kamu kenapa?"


Dara menatap sekilas, kemudian menunduk lagi menikmati makanannya. "Nggak papa Mas."


"Malu? kan aku yang t*lanjang kok kamu yang malu?" ucap Erfan sambil mengunyah makanannya.


"Uhuk uhuk uhuk," Dara tersedak.


"Pelan-pelan makannya," ucap Erfan sambil menyodorkan segelas air ke Dara.


Dara segera meminum air yang diberikan Erfan menghabiskannya langsung dalam sekali minum.


"Mas Erfan enteng banget sih kalau ngomong."


"Hahahaha tapi benerkan apa yang aku bilang?"


"Isshhh," dengus Dara memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha," Erfan semakin tertawa melihat reaksi Dara. "Cantik" Erfan membatin.


_____________________________________________


kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....

__ADS_1


Terimakasih.....


__ADS_2