Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 33. Satu Kesempatan Lagi


__ADS_3

Dirumah Pak Subrata


"Apa kamu bertapa Fan?" ucap Pak Subrata saat memasuki kamar Erfan yang gelap.


Cklek Pak Subrata menekan tombol saklar, menyalakan lampu kamar Erfan hingga membuat Erfan bergerak dan memicingkan matanya karena silau.


"Mau sampai kapan kamu tidur?" ucap Pak Subrata menghampiri Erfan dan duduk ditepi ranjang.


"Aku masih ngantuk Pa, nanti aja makannya," jawab Erfan malas masih memeluk gulingnya.


"Apa kamu bertengkar sama istrimu?"


"Nggak Pa, kami baik baik aja, pengantin baru kok bertengkar."


"Terus kenapa kamu kesini sendiri? kenapa Dara nggak ikut?"


Erfan bangun dan duduk bersandar disandaran ranjang, "Dara lagi sibuk Pa, banyak urusan."


"Kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari Papa kan?" tanya pak Subrata menyelidik.


Erfan menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak Pa," ucap Erfan turun dari ranjang.


"Erfan mau mandi dulu Pa, tolong bilangin ke Bi Minah ya, suruh bawa makananku ke atas."


"Apa kamu nggak ingin makan bareng Papa?"


"Besok aja ya Pa, Papa makan duluan aja, aku ingin berendam lama dikamar mandi."


Pak Subrata menganggukkan kepalanya, "Papa keluar dulu," ucapnya berdiri meninggalkan kamar Erfan.


Erfan mengangguk sebelum masuk ke dalam kamar mandi, mengisi bathup nya dengan air hangat sebelum mencampurnya dengan sabun aromaterapi.


Setelah semuanya siap, Erfan melepaskan semua baju beserta perangkatnya, masuk ke dalam bathup dan berendam.


Erfan menyandarkan kepala dan memejamkan matanya, menarik nafas dan menghembuskan perlahan, menikmati wangi sabun yang sedikit membantu melegakan hati dan fikirannya.


Sementara Pak Subrata sedang menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan menghampiri Bi Minah, asisten rumah tangga yang sedang mempersiapkan makanan di meja makan.


"Min nanti tolong anterin makanan Erfan ke kamarnya ya, dia masih mandi," titah pak Subrata sebelum duduk.


"Baik Pak," jawab Bi Minah sopan sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur, meninggalkan majikannya makan sendirian dimeja makan.


Tring tring suara telpon intercom yang berada diruang tamu berbunyi, Bi Minah keluar dari dapur setengah berlari untuk mengangkat telepon.


Setelah menutup telepon, Bi Minah berjalan menghampiri Pak Subrata dimeja makan, "Pak ada istrinya Tuan Erfan di luar."


"Dara?" ucap Pak Subrata memastikan.


"Iya pak," jawab Bi Minah sopan.


Pak Subrata segera meminum air putih disebelahnya dan mengelap bibirnya dengan tisu, kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan menantunya.


***


"Trimakasih ya Cla," ucap Dara setelah mobil Clara berhenti dihalaman luas depan rumah mewah Pak Subrata.

__ADS_1


"Sama sama Ra, aku berharap pernikahan kamu selalu bahagia dengan kak Erfan."


"Amin." ucap Dara tersenyum.


"Sekali lagi aku minta maaf ya Ra atas nama kak Nathan."


"Sudah nggak papa Cla." ucap Dara menepuk lembut lengan Clara, "apa kamu mau mampir dulu Cla?"


Clara menggeleng, "Kapan kapan aja Ra aku mampir, sekarang bukan waktu yang tepat."


"Terimakasih ya Cla," ucap Dara memeluk Clara.


Clara menganggukkan kepala sebelum membalas pelukan Dara.


"Kamu hati hati ya pulangnya," ucap Dara melepaskan pelukannya, kemudian keluar dari mobil dan mengambil kopernya dibagasi.


Setelah mobil Clara keluar gerbang, seorang laki-laki paruh baya berpakaian satpam dengan cepat menutup pintu gerbangnya dan berlari mendekati Dara.


"Biar saya bantu Non," ucap satpam rumah Pak Subrata.


"Nggak usah Pak, saya bisa sendiri," tolak Dara sopan.


"Berat Non, biar saya aja, silahkan masuk non," ucap satpam yang bernama Rudi setelah mengambil alih koper dari tangan Dara.


Dara tersenyum sebelum masuk menuju pintu utama diikuti Pak Rudi yang menjinjing koper dibelakangnya, melewati pilar-pilar yang besar dan mewah.


Cklek pintu utama terbuka, terlihat Pak Subrata berdiri dibalik pintu sebelum melangkah mendekati Dara.


"Assalamu'alaikum Pa." ucap Dara mencium tangan mertuanya.


"Sehat Pa, Papa sehat?"


"Alhamdulillah sehat," jawab Pak Subrata tersenyum, "ayo masuk Ra."


Pak Subrata dan Dara masuk ke dalam rumah berjalan menuju ruang tamu, diikuti Pak Rudy yang membawa koper Dara.


"Letakkan langsung dikamar Erfan aja Rud kopernya," titah pak Subrata menatap Pak Rudi.


"Baik pak" jawab Pak Rudy sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Papa lagi makan, kamu sudah makan belum Ra?" tanya Pak Subrata sambil duduk disofa.


"Nanti aja Pa," jawab Dara duduk di depan mertuanya.


"Apa kalian bertengkar Ra?" tanya Pak Subrata.


Dara terdiam, bingung harus menjawab apa.


Pak Subrata tersenyum, "Kamu ke atas aja temui suami kamu."


"Aku nggak tau kamarnya Mas Erfan Pa."


"Minah..." ucap Pak Subrata memanggil Bi Minah dengan setengah berteriak.


"Iya pak?" ucap Bu Minah datang menghampiri Pak Subrata.

__ADS_1


"Tolong anterin Dara ke kamarnya Erfan ya," titah pak Subrata.


"Iya Pak," jawab Bi Minah sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Dara, "silahkan Non ke arah sini," ucap Bi Minah menunjukkan jalannya.


Dara berdiri, "Dara tinggal ke dalam ya Pa?" pamit Dara sebelum mengikuti langkah Bi Minah masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan kamar berpintu putih.


"Ini Non kamar Tuan Erfan," ucap Bi Minah menunjukkan kamar Suaminya.


"Terimakasih ya Bi," ucap Dara sebelum masuk ke dalam kamar Erfan.


Kamar yang sangat luas, dengan cat dinding yang di dominasi warna putih, dihiasi dengan foto Erfan dari kecil sampai dapat penghargaan sebagai pengusaha muda, ada juga foto pernikahan mereka yang dipajang didinding belakang ranjang.


Dara mengedarkan pandanganya mencari suaminya, tapi Dara nggak melihat keberadaan Erfan didalam kamar, hingga gendang telinganya menangkap suara shower dari dalam kamar mandi.


"Mas Erfan," ucap Dara berlari mendekati pintu kamar mandi, otaknya mengingat kejadian waktu Erfan baru putus dari Sarah, saat suaminya terduduk lemah dibawah guyuran air shower.


"Mass," teriak Dara berusaha membuka handle pintu kamar mandi dengan kasar dan tiba-tiba, "aaaaaa." Dara berteriak dan membalikkan tubuhnya dengan cepat saat melihat Erfan t*lanjang dibawah guyuran air shower.


"Kenapa Mas Erfan nggak mengunci pintunya," omel Dara menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Erfan mematikan air shower, mengambil handuk dan mebelitkannya dipinggang.


"Kamu sendiri yang tiba-tiba masuk," ucap Erfan datar keluar kamar mandi melewati Dara begitu saja.


Dara menurunkan tangannya, merasakan hawa dingin dari ucapan suaminya.


"Apa kamu marah Mas?" tanya Dara melihat ke arah suaminya.


"Kenapa bodoh sekali pertanyaanku," ucap Dara dalam hati.


Erfan diam tak menjawab, berjalan memasuki ruang ganti yang ada didalam kamarnya, kemudian mengambil kaos putih dan celana pendek yang ada didalam almari.


"Mas Erfan," panggil Dara menghampiri Erfan.


"Jangan menyakiti hati kamu lagi Ra, lakukan saja apa yang kamu mau sekarang, aku nggak akan melarangmu." Ucapnya sambil memakai celana pendek dan kaos.


"Bolehkah aku melakukan apapun yang aku mau Mas?"


Erfan diam tak menjawab, tangannya masih sibuk menyisir rambut didepan cermin.


"Mas, kenapa kamu diam? apakah aku boleh melakukan apa pun?"


Erfan membalikkan badannya menatap Dara, sorot mata Erfan yang biasanya hangat saat menatap istrinya kini berubah menjadi dingin.


"Terserah kamu," ucap Erfan datar. Berjalan menuju kamar melewati Dara yang berdiri didepannya.


"Mas Erfan," panggil Dara menghentikan langkah Erfan.


Dara berjalan menghampiri Erfan, melingkarkan tangannya ke perut sixpack Erfan, memeluk Suaminya dari arah belakang. "Aku mau kamu Mas," ucapnya menempelkan pipi kanannya ke punggung Erfan.


Erfan terkejut dengan ucapan Dara, "Apa kamu sadar dengan ucapanmu Ra?" tanya Erfan membalikkan badannya menatap Dara.


Dara menganggukan kepala menatap wajah Erfan, "Beri aku satu kesempatan lagi Mas," ucap Dara sebelum memeluk Erfan. "Aku ingin menjadi istri kamu, sekarang dan selamanya, bukan hanya dalam satu tahun kedepan."


__________________________

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMEN DAN FAVORIT, Biar author semangat untuk up


__ADS_2