
Malam hari setelah acara, Dara membantu ibunya menghangatkan sate ayam sisa catering di dapur. Karena takut kurang, Pak Subrata sengaja memesan makanan lebih banyak. Hingga sampai acara selesai pun masih banyak makanan yang belum sempat di jamah oleh para tamu seperti sate ayam, nasi goreng, capcai dan juga makanan yang lainnya.
Hingga mengarahkan Bu Selfi untuk membagikan beberapa makanan yang masih tersisa kepada tetangga yang ada di samping kanan dan juga kiri rumah, hanya untuk menghindari kata mubadzir.
“Ra, ini makanannya sudah pada siap, kamu panggil suami kamu untuk makan ya?“ ucap Bu selfi, masih terlihat sibuk menata sajian makan malam di atas meja makan, mengalihkan pandangan putrinya yang tak kalah sibuk membantunya.
"Iya Bu," jawab Dara, menganggukan kepalanya pelan, seraya mengedarkan pandangannya, memastikan semua hidangan sudah tertata sempurna di atas meja.
Ada sate ayam lengkap dengan lontong dan juga nasinya, ada capcai dan juga ayam kecap kesukaan Ayahnya yang sudah bertengger tenang, siap untuk di santap dan di nikmati seluruh anggota keluarganya.
"Aku tinggal sebentar ya Bu?" pamit Dara, segera mengayunkan langkahnya, masuk ke dalam rumah menuju kamar pribadinya hendak memanggil suaminya.
Yang sedang tertidur, terlihat begitu pulas tak mengetahui kedatangannya yang baru memasuki kamar mendekati ranjang.
“Mas, bangun dulu Mas,“ panggil Dara dengan intonasi lembutnya, sudah duduk di tepi ranjang mengusap lembut kaki suaminya.
Ingin membangunkan Erfan, sebelum terdiam, menghentikan usapan di kaki suaminya menatap Erfan yang membuka mata mengerjap pelan.
“Apa sih?” sewot Erfan, setengah membuka matanya menahan kantuk, merasa terganggu dengan panggilan istrinya.
“Makan dulu, Sudah di tunggu sama Ibu dan Ayah di meja makan," jawab Dara, berusaha untuk bersabar, tak ingin terpancing oleh sikap kasar suaminya.
“Aku nggak lapar Ra! aku ngantuk! jadi biarkan aku tidur dan jangan berani menggangguku!“ sengit Erfan, semakin menguji kesabaran istrinya yang terdiam menghela nafas kasar membuang pandangan.
“Tidur sajalah! nggak usah bangun sekalian!" gerutu Dara.
"Ya Allah...," gumam Dara lagi, mengelus dadanya sendiri segera beranjak dari duduknya.
Tak ingin lama lama di dalam kamarnya sendiri, ingin segera keluar dari kamar, menikmati makan malam mengacuhkan suaminya yang kembali tidur menahan kesal.
Dua puluh menit telah berlalu, Dara baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama dengan keluarga yang begitu di sayanginya.
Dengan suasana yang begitu hangat sama seperti biasanya, mengisi perut dengan di temani obrolan ringan hingga sedikit membuatnya lupa akan rasa lara dari pernikahan paksa yang sudah menimpanya.
"Aku ke kamar dulu ya Yah? Bu?" pamit Dara, kepada ayah dan juga ibunya, tanpa adiknya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar segera beranjak dari duduknya.
"Iya Nak, kamu istirahat ya? nanti kalau suami kamu lapar, ibu simpan makanannya di dalam kulkas, kamu tinggal angetin aja," jawab Bu Selfi.
"Iya Bu," jawab Dara, segera mengayunkan langkahnya, masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi, untuk mencuci wajah dan juga menggosok giginya. Agar tetap terjaga kecantikannya dengan perawatan simple yang di lakukannya.
Hanya perlu sepuluh menit, Dara telah menyelesaikan rutinitasnya di malam hari, baru keluar dari dalam kamar mandinya, segera mengedarkan pandangannya, menatap suaminya yang masih tertidur di atas ranjang, terlihat begitu tenang.
__ADS_1
“Aku tidur dimana ya sekarang?“ gumamnya pelan.
Tak mengalihkan pandangannya dari ranjang dikamarnya yang hanya berukuran 120x200, membuatnya bingung sendiri menyesali keputusannya yang telah menolak permintaan Ayahnya untuk mengganti ranjang yang lebih besar sebelum pernikahan.
"Nggak perlu lah Yah, ngapain juga di ganti, aku sama Mas Erfan kan nggak akan tinggal di sini, langsung pindah ke apartemen," katanya saat itu.
"Bodoh sekali kamu Ra, kenapa sampai lupa sih kalau setelah akad nikah nggak langsung pindah? terus gimana sekarang?" gumamnya, meraup wajahnya pelan mencari jalan keluar.
“Apa aku tidur dilantai saja ya?" gumamnya lagi, sebelum menggelengkan kepalanya cepat tak menyetujui kalimatnya sendiri.
"Aku kan tuan rumah, gila apa tuan rumah tidurnya di lantai," lanjutnya, kembali bicara dengan dirinya sendiri, berusaha mencari jalan keluar yang lainnya.
"Atau... apa aku tidur saja dikamar Dira ya?" lanjutnya, segera mendengus.
"Malah nggak mungkin Ra, apa kata Dira, Ayah dan Ibu nanti, masak baru menikah sudah pisah ranjang?" gumamnya pelan.
"Ah bodoh amatlah ya! dia suamiku, dan aku hanya hanya tidur di sebelahnya, nggak mungkin bermasalah kan?" kata Dara akhirnya, memantapkan hatinya mengambil keputusan terakhirnya.
Segera mengayunkan langkahnya untuk naik ke atas ranjang sempitnya untuk tidur di samping suaminya, sebelum...
"Ngapain kamu?" sentak Erfan, sesaat setelah dirinya naik ke atas ranjang, menyadari kehadirannya menyentakkan hatinya.
"Ya... tidur lah," jawab Dara, berusaha bersikap tenang, tak ingin terganggu dengan degup jantungnya yang tak karuan membulatkan mata Erfan.
"Iya, mau di mana lagi?" jawab Dara, seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur di bawah selimut mengacuhkan Erfan yang terlihat protes tak menyukai keputusannya.
"Gila ya kamu?" protes Erfan.
"Aku nggak gila Mas, aku ngantuk," lirih Dara memejamkan matanya.
Bersamaan dengan Erfan yang membuang pandangan mendengus kesal.
"Kamu nggak malu apa tidur seranjang sama laki laki?" lanjut Erfan, dengan deru nafasnya yang memburu, ingin mengusir Dara dari kasur sempit yang di pakainya.
"Kamu suamiku Mas, aku harus belajar untuk tidak malu," jawab Dara, semakin lirih terlihat cuek, tetap menutup kedua matanya ingin segera terlelap.
Semakin memancing rasa kesal di hati Erfan, kembali melayangkan protes menguji kesabaran dirinya.
"Kamu kok bisa setenang ini sih? ingat ya! pernikahan kita ini palsu! pernikahan untuk bercerai! bukan pernikahan untuk selamanya! bagaimana bisa kamu setenang ini tidur bersama di atas kasur yang sempit seperti ini?" sengit Erfan.
Membuka cepat mata istrinya, yang beranjak bangun menatapnya tajam.
__ADS_1
"Terus Mas Erfan ingin aku bersikap seperti apa sekarang? Mas Erfan ingin aku tidur dimana? Mas Erfan tahu sendiri kan disini hanya ada satu ranjang! apa Mas Erfan ingin aku tidur dilantai? begitu? atau aku harus menyuruh Mas Erfan tidur dilantai? sudah lah Mas tidur saja toh kita juga hanya sebatas tidur. Tenang saja aku nggak akan memperkosa kamu Mas," jawab Dara, tak kalah sengitnya kembali membulatkan mata suaminya.
"Hei, harusnya laki laki yang bicara seperti itu! harusnya aku yang memperkosa kamu! bukan kamu yang memperkosa aku!" dengus Erfan, tak bisa menahan rasa kesalnya, balik membulatkan mata Dara.
"Jangan berani menyentuhku ya Mas! jangan berani macam macam sama aku!" ancam Dara.
Mencebikkan bibir Erfan, kembali mengumpat, segera berbaring membelakangin istrinya.
'"Gadis gila! benar benar gila!" gumam Erfan, tak ingin lagi berdebat tak ingin ikutan gila.
***
22:00
Dara dan Erfan sama sama masih terjaga, tidak ada yang bisa tidur, terutama Dara, akibat rasa gugupnya yang mendera, baru pertama kalinya tidur diranjang yang sempit bersama dengan lelaki yang telah berstatus sebagai suaminya.
"Mas?" panggil Dara pelan masih dengan posisi tidur miring membelakangi, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya ingin merubah posisi.
"Apa?"
"Apa kamu nggak capek tidur miring terus?"
"Menurut kamu?"
"Aku capek Mas," jawab Dara segera mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.
"Kalau mas Erfan capek miring terus, Mas Erfan bisa telentang," lanjut Dara.
"Terserah aku mau tidur miring apa telentang, ngapain kamu ngatur ngatur aku?" sewot Erfan.
"Aku nggak ngatur Mas," jawab Dara, bersamaan dengan bergeraknya tubuh Erfan, ikut merubah posisi menjadi telentang.
"Halah, katanya nggak mau,"
"Apa kamu?"
"Hahaha," tawa Dara menertawakan, tak membuat Erfan bersuara, hanya mencebikkan bibir, dengan pandangannya lurus ke atas menatap langit langit kamar.
Hening sesaat sebelum....
"Kita harus segera menandatangani kontrak pernikahan," ucap Erfan, memecah keheningan kamar, masih dengan tatapannya lurus ke atas mengalihkan pandangan Dara.
__ADS_1
_____________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.