
"B*doh! aku sudah bilang hanya luka memar? kenapa kalian menusukknya?" teriak Rania berdiri dari duduk di kursi kebesarannya saat menerima laporan dari Joni.
"Kami minta maaf Bos, dia terlalu kuat, saya terpaksa menusuknya daripada Bagio keceplosan menyebutkan nama kamu Bos!" jawab Joni dari dalam ponsel.
"Aaaahhhh .......pyarrrrrr ," teriak Rania frustasi membanting ponselnya hingga menghantam dinding dan pecah jatuh ke lantai.
"Kamu pasti baik baik saja kan Fan....??? iya kamu pasti baik-baik saja..." Gumam Rania pelan mondar mandir di tempatnya berdiri, berusaha berfikir positif mengenai kondisi Erfan.
Sementara itu dirumah sakit, Dara sedang berdiri dan mondar mandir di depan pintu IGD rumah sakit tempat suaminya di tangani, dengan air mata yang tak bisa berhenti terus menatap ke arah pintu IGD, mulutnya pun tak pernah berhenti merapal doa untuk keselamatan suami yang di sangat cintainya.
"Minum dulu Ra," ucap Dewa yang baru datang dari arah pintu keluar rumah sakit sambil memberikan sebotol air kepada Dara.
Dara menggelengkan kepalanya pelan menatap Dewa, aku nggak haus Wa," jawab Dara lirih dengan air mata yang terus mengalir sembelum mengarahkan kembali pandangannya ke arah pintu IGD.
Dewa menurunkan tangannya sebelum mengangkatnya kembali untuk memberikan paper bag yang berisi baju yang baru saja dia beli untuk Dara .
"Lebih baik kamu ganti baju dulu," Ucap Dewa lagi melihat Baju Dara yang di penuhi Darah Erfan.
Dara kembali menggelengkan kepalanya, "Aku nggak ingin meninggalkan Mas Erfan sendiri, aku harus menemaninya disini." Jawab Dara tanpa menoleh ke arah Dewa.
"Hanya sebentar Ra, ganti dulu baju kamu, Erfan juga masih di tangani sama dokter."
"Sudah hampir setengah jam Wa, tapi kenapa Dokternya masih belum keluar juga ya?" tanya Dara mengarahkan pandangannya menatap Dewa.
"Kamu yang sabar, mungkin Sebentar lagi selesai!"
Clekkk pintu IGD terbuka, menampakkan seorang dokter laki-laki yang masih terlihat muda dengan jas putihnya dari balik pintu sebelum melangkah mendekati Dara dan Dewa.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Dara dengan rasa khawatirnya melangkah menghampiri Dokter.
"Sangat Beruntung karena luka tusuknya tidak sampai melukai organ dalam pasien, jadi kami hanya membersihkan dan menjahit lukanya." Jawab Dokter menatap Dara dan Dewa bergantian.
"Terima kasih Ya Allah...." ucap Dara dalam hati memejamkan matanya sesaat sebelum kembali menatap Dokter.
"Apa saya bisa menemui suami saya Dok?"
"Tunggu sampai kami memindahkan pasien ke ruang perawatan ya Bu? untuk beberapa hari ini sebaiknya pasien di rawat inap di sini, agar kami bisa merawat lukanya, untuk menghindari terjadinya infeksi." Jawab Dokter menjelaskan.
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok," ucap Dara menyeka airmatanya, dengan sorot mata penuh harap menatap dokter yang ada di depannya.
Dokter menganggukkan kepalanya menatap Dara. "Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Dara dan Dewa.
__ADS_1
"Terimakasih Dok," jawab Dara dan Dewa kompak melihat kepergian Dokter.
"Kamu ganti baju dulu saja Ra, jangan menemui Erfan dengan pakaian yang seperti itu!" ucap Dewa lagi membuat Dara menunduk melihat kondisi bajunya.
"Aku titip Mas Erfan sebentar ya Wa? aku ganti baju di kamar mandi dulu." Ucap Dara mengambil alih paper bag dari tangan Dewa sebelum meninggalkan Dewa yang sedang menatapnya.
Dara memasuki ruang rawat Erfan, berjalan pelan dengan air mata yang berlinang melihat ke arah suaminya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang, dengan tubuh yang sudah terbalut dengan baju pasien rumah sakit.
Dewa yang sedang duduk di sofa kamar rawat Erfan mengarahkan pandangannya menatap Dara yang terlihat sendu. "Kenapa melihat kesedihanmu sekarang masih menyakiti perasaanku Ra?" Batin Dewa sebelum berdiri menghampiri Dara yang sudah berdiri di sisi ranjang suaminya.
"Aku keluar dulu ya? kalau butuh sesuatu telepon saja, aku masih ada di area rumah sakit ini." Ucap Dewa menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menyeka kasar air matanya menatap Dewa, "Terimakasih Wa," ucap Dara lirih.
Dewa hanya menjawab dengan seulas senyumnya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Erfan.
Dara Kembali mengarahkan pandangannya ke arah Erfan, menatap lekat lekat wajah tenang suaminya yang masih terlihat pucat.
"Kamu sangat jelek Mas kalau pakai baju ini," ucap Dara pelan membelai lembut pipi suaminya, kembali memancing air matanya keluar, dan terjatuh membasahi ranjang suaminya.
Erfan membuka matanya perlahan, sedikit merintih sebelum menyentuh perutnya yang terluka. "Apa aku sejelek itu Ra?" ucap Erfan lirih berusaha tersenyum menatap istrinya.
Dara menganggukkan kepalanya pelan," sangat jelek Mas," ucap Dara sebelum menundukkan badannya untuk memeluk Erfan.
"Maafkan aku Ra, karena sudah membuat kamu khawatir." ucap Erfan lirih membelai lembut kepala istrinya.
Dara menegakkan tubuhnya keluar dari pelukan Erfan, menyeka air matanya dengan kasar menatap suaminya. "Kamu tahu Mas, bagaimana takutnya aku tadi? aku benar benar memaksa tubuhku yang gemetar dan terasa lemas agar tetap bisa berdiri tegak untuk memastikan kalau Mas Erfan baik-baik saja, aku sangat takut kehilangan Mas Erfan...." Ucap Dara dengan suaranya yang tercekat kembali menangis menatap suaminya.
"Aku minta maaf Sayang....." Ucap Erfan dengan seulas senyum nya menatap Dara.
"Cari siapa Mas?" tanya Dara saat melihat pandangan Erfan seperti sedang mencari seseorang.
"Dewa mana? apa dia sudah pulang?" tanya Erfan menatap Dara.
"Belum, lagi keluar sebentar." Jawab Dara.
Cklekkkk ...Pintu rawat inap Erfan terbuka tanpa terketuk, membuat Dara dan Erfan kompak menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Bagaimana ini bisa terjadi Fan? Ra?" Ucap Nanthan melangkahkan kakinya menuju Ranjang, di ikuti dengan Clara di belakangnya.
"Aku benar-benar minta maaf karena tadi nggak bisa mengangkat panggilan telepon dari kamu Ra." Ucap Nathan lagi dengan raut wajah menyesalnya.
__ADS_1
"Nggak papa Pak, Pak Nathan juga pasti sibuk, untungnya tadi ada Dewa yang kebetulan lewat dan menolong kami." ucap Dara yang masih berdiri di samping ranjang suaminya menatap Nathan.
"Apa kalian tahu siapa yang menyuruh orang orang itu?' tanya Clara.
"Nggak tahu," jawab Dara lemah menatap Erfan sekilas sebelum mengarahkan pandangannya menatap Clara.
"Bagaimana dengan plat mobilnya? Apa kalian melihatnya?" tanya Nathan kepada Dara.
"Tubuhku terlalu gemetar saat itu, otakku nggak bisa di ajak untuk berfikir hal lainnya selain memikirkan keselamatanku dan Mas Erfan."Jawab Dara.
"Aku juga terlalu sibuk berkelahi, nggak ada waktu buat melihat plat nomornya." Jawab Erfan.
"Bagaimana kita bisa mencari tahu tentang mereka Fan kalau nggak ada petunjuk sama sekali." ucap Nathan.
"Aku belum mengabari Papa dan orang tua ku Mas, aku tinggal telepon dulu ya?" ucap Dara sebelum mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
"Jangan Ra," ucap Erfan menyentuh tangan istrinya, membuat Dara mengurugkan niatnya.
"Aku nggak papa, hanya luka kecil, aku nggak ingin membuat mereka khawatir. " Ucap Erfan lagi menatap istrinya.
Dara terdiam berfikir sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah Clara dan Nathan sebelum kembali menatap suaminya.
"Menurutku Papa harus tahu keadaan Mas Erfan, jangan sampai Papa tahu dari orang lain, Papa pasti akan marah dan kecewa sama kita." Jawab Dara.
"Iya Fan, Om Subrata harus tahu." tambah Nathan yang di iikuti anggukan kepala oleh Clara.
Erfan menatap semua orang yang ada di depannya secara bergantian sebelum menganggukkan kepalanya pelan menatap istrinya.
"Aku tinggal telepon di sofa sebentar ya Mas?" ucap Dara dengan seulas senyum di bibirnya.
Cklek pintu kamar rawat Erfan kembali terbuka, menampakkan Rania dengan wajah khawatirnya setengah berlari masuk ke dalam kamar Erfan.
"Apa kamu baik-baik saja Fan? apa lukanya serius?" Tanya Rania panik saat berdiri di samping ranjang Erfan.
'Bagaimana kamu bisa tahu? aku tidak pernah menghubungimu?" tanya Dara membuat semua orang yang ada di dalam kamar rawat Erfan terkejut menatap Rania dengan raut wajah yang penuh dengan pertanyaan.
Rania sedikit gelagapan mendengar pertanyaan Dara, mengalihkan pandangannya dari Erfan untuk menatap semua orang yang ada di depannya secara bergantian.
Bersambung.
___________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.