Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 23. Mencari Dara


__ADS_3

Mobil Nathan sudah sampai di gerbang rumah Dara, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Terimakasih Pak," ucap Dara ketika mobil Nathan berhenti.


"Sama-sama," ucap Nathan tersenyum.


"Pak Nathan hati-hati ya," ucap Dara hendak membuka pintu.


"Ra!"


Dara menoleh menatap Nathan.


"Apa aku masih punya kesempatan untuk bisa lebih mengenal kamu?"


Dara terkejut, membuatnya terdiam dan menatap Nathan penuh tanya.


"Hahahahaha, aku hanya bercanda, lupakan saja."


Dara tersenyum lega, "Saya permisi Pak," ucap Dara sambil membuka pintu mobil.


Nathan menghela nafas, "Aku nggak bercanda Ra," gumam Nathan sambil melihat Dara kemudian menginjak gas mobilnya.


Ting tung ting tung Dara menekan bel rumahnya.


"Dara" ucap Bu Selfi setelah membuka pintu utama , kemudian berlari kecil menghampiri Dara.


"Kok malam sekali kamu datangnya Nak?" ucap Bu Selfi setelah membuka pintu gerbang.


Dara mencium tangan Bu Selfi sebelum berhambur memeluk ibunya.


"Kamu kenapa Nak? suami kamu mana?" tanya Bu Selfi mengelus punggung Dara sambil mencari keberadaan Erfan.


"Kamu sendirian?" tanya Bu Selfi setelah melepas pelukan.


Dara mengangguk pelan, Mas Erfan diapartemen Bu, tadi aku pergi ke acara nikahan temen, tempatnya di dekat sini jadi sekalian aku ijin ke Mas Erfan untuk menginap disini.


"Ayo masuk," ucap Bu Selfi.


Dara mengikuti langkah Bu Selfi masuk ke dalam rumah sambil mengandeng tangan ibunya manja.


***


Erfan baru sampai digedung apartemennya setelah berputar-putar mencari Dara dijalanan, setelah memarkir mobil dibasement Erfan berlari menuju lift dan menekan tombol lift menuju lantai apartemennya berharap bisa menemukan Dara disana.


Tut tut tut tut Erfan menekan kode akses pintu dan segera membuka pintu dengan nafas yang memburu karena berlari. Perasaannya kembali kecewa ketika melihat ruangan apartemennya gelap.


Erfan menekan tombol saklar yang ada di ruang tamu sebelum menjatuhkan tubuhnya duduk di atas sofa, menyandarkan punggung dan kepalanya sejenak di sandaran sofa sambil memejamkan matanya, memikirkan kemana lagi dia harus mencari istrinya.


"Ibu," ucap Erfan pelan menegakkan punggungnya ketika mengingat mertuanya.


"Mungkin Dara disana," gumam Erfan sambil berusaha mengeluarkan Ponsel dari saku celana untuk menelfon mertuanya.


Drrrttttttttt ponsel Erfan berbunyi ketika Erfan sudah mengeluarkan ponselnya, sebuah panggilan telepon Dari Nathan.


"Halo," jawab Erfan mengangat ponsel.


"Kenapa kamu meninggalkan Dara sendirian di jalanan Fan?"

__ADS_1


"Maksud kamu ?"


"Aku tadi ketemu Dara di jalan menangis sendirian."


"Sekarang dia dimana?" tanya Erfan berdiri dari duduknya.


"Sudah aku anterin pulang kerumahnya, kalau kamu .." tutttttttttttt Erfan mematikan sambungan telepon Nathan sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya.


Erfan segera berlari keluar apartemennya menuju basement dan berlari lagi menuju mobilnya, setelah itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mertuanya.


"Maafkan aku Ra, beri aku kesempatan sekali saja untuk membahagiakanmu, aku janji ini terakhir kalinya aku mengecewakanmu." gumam Erfan tetap fokus menyetir.


"Aaaaaaaa," Erfan berteriak, BRAKKK , mobil Erfan menabrak pembatas jalan saat Erfan membanting stir ke kanan untuk menghindari pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang.


Darah segar mengalir dikeningnya karena benturan keras dikepalanya, Erfan berusaha untuk menegakan kepalanya menggelengkanya pelan untuk mengontrol rasa sakit.


Tok tok tok seseorang mengetuk kaca mobilnya.


"Kamu nggak papa, saya minta maaf karena menyebrang sembarangan," ucap pria paruh baya yang menyebrang tadi saat Erfan membuka kaca mobilnya.


"Saya nggak papa Pak," ucap Erfan menahan rasa sakit, Bapak nggak papa?"


"Saya nggak papa, tapi kepala kamu berdarah, kamu harus segera kerumah sakit."


"Saya nggak papa Pak, lain kali Bapak harus lebih hati-hati saat menyebrang. Maaf Pak saya buru-buru," ucap Erfan menutup kaca mobil dan kembali menjalankan mobilnya.


Erfan menurunkan kecepatan mobilnya, berusaha tetap fokus untuk melihat jalan sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


***


Dirumah Dara


"Maafin aku ya Wa," ucap Dara membelai foto Dewa.


Ting Tung Ting tung suara bel pintu rumah Dara berbunyi.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" ucap Dara sambil mengusap bekas air mata di pipinya, "apa mungkin mas Erfan?" gumam Dara menerka-nerka.


Dara keluar dari kamarnya, sudah ada Bu Selfi dan pak Herman yang berdiri di ruang tengah.


"Siapa ya Bu malam malam begini?"


"Ibu juga nggak tau Nak."


"Biar aku yang buka Bu," ucap Dara melangkah keluar.


"Biar Ayah aja Ra," sergah pak Herman.


Dara berhenti dan mengangguk pelan, Pak Herman berjalan membuka pintu utama sebelum berjalan ke arah pagar rumah.


Sedangkan Dara dan Bu Selfi berdiri di dalam ruang tamu melihat ke arah pagar.


"Mas Erfan?" ucap Dara pelan ketika melihat laki-laki berbaju batik sedang bersandar di pagar rumahnya.


"Erfan!" ucap Pak Herman segera membuka kunci pagar, "kenapa kepala kamu?" tanya pak Herman panik setelah membuka pintu.


"Maaf Yah mengganggu malam-malam begini, apa Dara bruukkkk Erfan pingsan di pelukan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Masssss," pekik Dara berlari menghampiri suaminya, diikuti dengan Bu Selfi dibelakangnya.


"Mas Erfan kenapa Yah?" tanya Dara panik.


"Ayah juga nggak tau, kepalanya berdarah dan tiba-tiba saja pingsan, ayo cepat kita bawa masuk."


"Ada apa Yah Bu? tanya Dira tiba-tiba keluar karena teriakan Dara.


"Suami Mbakmu pingsan Dir, ayo sini bantu kami," ucap Bu Selfi.


Dara, Dira dan Bu Selfi membantu pak Herman mengangkat Erfan untuk di baringkan diatas ranjang Dara.


"Cepat telepon Dokter Manda yah," ucap Bu Selfi panik.


"Tapi ini sudah malam Bu, takutnya Dokter Manda sudah tidur."


"Ya dicoba dulu Yah, siapa tau masih belum tidur."


Pak Herman segera mencari nama dokter Manda didaftar kontak ponselnya.


Sementara itu Dara mengambil handuk kecil dan baskom yang berisi air hangat untuk di bawa ke kamarnya.


"Mas Erfan kenapa Mas? kenapa bisa seperti ini?" ucap Dara menangis sambil membersihkan sisa Darah yang ada di kening dan pipi Erfan.


"Bangun Mas, jangan membuatku takut, aku minta maaf, aku salah Mas," ucapnya lagi membelai rambut suaminya.


"Dara ada Dokter Manda, biar Erfan dipriksa dulu," ucap Pak Herman masuk ke dalam kamar diikuti Bu Selfi, Dira dan seorang Dokter wanita berumur sekitar 35 tahunan.


Dara berdiri mengusap air matanya kemudian mundur mempersilahkan dokter Manda memeriksa Erfan.


"Bagaimana Dok keadaan suami saya?" tanya Dara saat Dokter selesai memeriksa Erfan.


"Nggak papa Dara, luka dikepalanya nggak besar jadi nggak perlu dijahit cukup rajin di obati dan diganti perbannya."


"Tapi kenapa Suami saya sampai pingsan?"


"Mungkin karena terlalu lama menahan rasa sakit, ini obatnya diminum tiga kali sehari, kalau saat bangun nanti suami kamu muntah, besok kamu bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."


"Terima kasih Dok," ucap Dara.


"Terimakasih ya Dok, maaf menganggu malam-malam begini," ucap Bu Selfi.


"Nggak papa Bu, ini sudah menjadi tugas saya," ucap dokter Manda tersenyum.


Bu Selfi dan Pak Herman mengantar dokter Manda keluar kamar.


"Mbak aku tinggal ke kamar nggak papa?" ucap Dira.


"Nggak papa Dek, kamu istirahat aja, terimakasih ya."


Dira mengangguk pelan sebelum keluar dari kamar Dara.


Dara mengolesi minyak kayu putih ke leher, dada, telapak tangan dan telapak kaki Erfan, untuk bagian hidung dia hanya memberikan aroma minyak kayu putih, dengan harapan agar suaminya segera sadar.


______________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....

__ADS_1


Terimakasih.....


__ADS_2