
"Pak Erfan memecat saya?" tanya Cindy lirih dalam rasa terkejutnya menatap Erfan yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Apa ucapanku tadi masih kurang jelas? Aku pecat kamu, aku nggak mau melihat wajah kamu lagi di kantor ini." Jawab Erfan dengan sorot mata tajamnya menatap Cindy.
"Tapi apa salah saya Pak? bukankah selama ini saya bekerja dengan baik? saya nggak pernah melakukan kesalahan." bela Cindy.
"Apa kamu ingin berdebat denganku sekarang?"Ucap Erfan semakin kesal berdiri dari duduknya menatap Cindy.
"Saya minta maaf Pak, saya nggak mungkin berani mendebat Pak Erfan, saya hanya bertanya alasan Pak Erfan memecat saya." Ucap Cindy sedikit menundukkan kepalanya.
"Karena kamu sudah berani membuat istriku menangis, kamu sengaja menciptakan pemikiran negatif Dara tentang kehamilan, bagaimana kamu bisa memvonis istriku seperti itu? apa kamu benar-benar wanita baik yang selama ini kamu tunjukkan ke kami? bahkan aku sudah meragukan ketulusan hati kamu." Ucap Erfan berusaha mengontrol emosinya.
"Wanita b*doh itu tukang ngadu ternyata, aku harus mencari cara agar tetap bisa bekerja disini, bagaimana bisa dia menendangku seperti ini? aku bahkan belum berhasil membuat mereka bertengkar!" Umpat Cindy dalam hati.
Cindy berusaha mengeluarkan akting terbaiknya, mengingat semua kenangan buruknya untuk memancing air mata agar bisa keluar menggenangi pelupuk matanya.
"Saya nggak ada maksud untuk memvonis Dara Pak, saya juga ingin melihat Dara bahagia, saya hanya bercerita tentang kisah saudara saya, saya nggak tahu kalau itu akan menyakiti perasaannya," ucap Cindy dengan akting wajah penuh penyesalannya, yang di bumbui dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Saya mohon jangan pecat saya, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini Pak," ucap Cindy berusaha menjatuhkan air matanya menatap Erfan.
Sementara itu di tempat lainnya, Dara turun dari lift sebelum melangkahkan kakinya menuju loby, "Astaga, aku lupa nggak bawa dompet lagi...," gumam Dara berhenti melangkah saat menyadari tangan kosongnya.
Dara segera membalikkan langkahnya kembali menaiki lift untuk mengambil dompet yang di bawa suaminya.
Cindy masih sibuk dengan akting penyesalannya, menangis memohon kepada Erfan agar berbelas kasih membatalkan pemecatannya.
"Aku tidak akan percaya dengan air mata kamu, lebih baik kamu segera pergi dari sini, aku nggak ingin mempekerjakan wanita seperti kamu di perusahaan ini." Ucap Erfan tegas sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan Cindy sebagai kode agar dia segera keluar dari ruangannya.
"Bagaimana ini? bahkan air mataku pun nggak berpengaruh buat Pak Erfan," batin Cindy dalam hati.
Cklek pintu ruangan Erfan terbuka menampakkan Dara dari balik pintu, membuat Cindy menoleh menatapnya.
"Kok cepat Ra?" tanya Erfan melihat ke arah Dara.
"Dompetku ketinggalan Mas, tadi pagi kan aku titipin ke Mas Erfan," ucap Dara dengan langkah pelannya menatap Cindy yang berlinangan air mata.
__ADS_1
"Yeessss nasib baik sedang berpihak kepadaku, kamu datang di waktu yang tepat Ra," ucap Cindy dalam hati balik menatap Dara yang dari tadi menatapnya
"Kenapa kamu menangis Cin?" tanya Dara kepada Cindy yang di jawab dengan tangisannya yang semakin pecah.
"Kenapa Mas? ada apa?" tanya Dara mengalihkan pandangannya menatap Erfan.
"Aku memecatnya." Ucap Erfan datar kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Kenapa?" tanya Dara dengan wajah bingungnya.
"Aku nggak membutuhkannya lagi," Jawab Erfan tetap dengan ekspresi datarnya.
"Tapi kenapa Mas?" tanya Dara lagi merasa tidak puas dengan jawaban suaminya.
"Pak Erfan memecatku karena aku nggak sengaja membuat kamu menangis Ra," ucap Cindy semakin memecahkan tangisannya.
"Aku minta maaf Ra kalau kata-kataku kemarin membuat kamu menangis, sungguh aku tidak ada maksud seperti itu," ucap Cindy menangis menatap Dara.
"Apa benar seperti itu Mas?" tanya Dara memastikan menatap Erfan.
"Dia menghasut kamu dengan cara liciknya yang terlihat halus, apa kamu tidak bisa merasakan itu?" tambah Erfan lagi membuat Dara terdiam.
"Saya minta maaf Pak, saya benar-benar minta maaf, beri saya kesempatan sekali lagi, hanya sekali saja Pak, saya berjanji akan lebih menjaga lisan saya, saya nggak akan pernah membuat Dara menangis lagi karena ucapan saya." Ucap Cindy memohon.
"Kita bisa memberi dia kesempatan Mas," ucap Dara dengan perasaan ragunya.
"Kesempatan untuk apa lagi Ra? aku tanya sama kamu, apa kamu bisa merasakan ketulusan dari semua sikapnya?" tanya Erfan kepada Dara.
Dara kembali terdiam saat mendengar kalimat suaminya, memorinya mengingat kembali tentang kebohongan Cindy, "Untuk masalah ayam bakar saja dia bisa berbohong, apalagi untuk masalah yang lainnya?" ucap Dara dalam hati.
"Coba bayangkan jika dia Clara, atau mendiang temanmu Mitha, apa mereka akan mengatakan hal seperti itu kepada kamu Ra?" ucap Erfan membuat hati Dara semakin tersentak.
"Aku minta maaf Ra, aku janji akan lebih menjaga mulutku, aku yatim piatu, orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku harus menghidupi adikku yang masih sekolah, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini Ra, Pak," ucap Cindy masih dengan tangisannya menatap Dara dan Erfan bergantian.
"Jangan membuat drama di sini, aku nggak ingin memberikan kesempatan untuk orang yang akan memberikan resiko di kehidupanku dan istriku, lebih baik kamu ambil amplop ini dan segera pergi dari sini," ucap Erfan yang masih duduk di kursi kebesarannya menatap Cindy dengan sorot mata yang semakin tajam.
__ADS_1
Cindy memejamkan matanya sesaat sebelum membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan Erfan.
"Aku ingin memberi Cindy kesempatan Mas," ucap Dara tiba-tiba membuat Cindy kembali membalikkan badannya menatap Dara.
Erfan mengeryitkan dahinya menatap Dara, "Apa kamu yakin dengan keputusan kamu Ra?"
Dara menghela nafas sebelum menganggukkan kepalanya pelan menatap Erfan, "Dia mungkin sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya sekolah adiknya Mas," ucap Dara membuat secercah harapan untuk rencana liciknya Cindy.
"Dia bisa mencari pekerjaan lain, tapi tidak disini," Jawab Erfan menatap istrinya.
"Hanya sekali Mas," ucap Dara memohon dengan wajah memelasnya.
Erfan terdiam mendengar permintaan Dara "Aku sudah yakin akan seperti ini kalau kamu ada disini Ra, aku sudah membuat kamu meninggalkan ruangan, tapi kenapa kamu malah masuk kesini disaat urusanku belum selesai." Ucap Erfan dalam hati menatap istrinya.
"Aku mohon Mas," ucap Dara lirih semakin memelas.
Erfan menghela nafas kasar sebelum mengalihkan pandangannya menatap Cindy. "Hanya sekali kesempatan untuk kamu, dan itupun karena permintaan Dara, jaga sikap kamu, dan jaga setiap kata yang keluar dari mulut kamu, atau aku akan membuat perhitungan yang akan lebih menyakitkanmu jika aku melihat Dara menangis lagi karena kamu." Ucap Erfan dengan sorot mata yang semakin tajam, memperingatkan Cindy untuk tidak main-main dengannya ataupun istrinya.
"Ternyata sebegitu besarnya rasa cinta Pak Erfan kepada Dara, andai saja.....aahhhhh jaga fikiranmu Cindy, dia milik Rania Dewi penyelamat kamu," Batin Cindy menatap Erfan.
"Terimakasih Pak...terimakasih," ucap Cindy menundukkan sedikit kepalanya menatap Erfan sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara.
"Terimakasih Ra, aku janji akan lebih menjaga perasaan kamu." Ucap Cindy menyeka air matanya.
"Kamu bisa keluar," ucap Erfan kepada Cindy.
" Permisi Pak," ucap Cindy sebelum membalikkan badannya.
"Lihat saja nanti, akan aku bayar air mataku ini dengan air mata istri kamu." Batin Cindy menyeka air matanya pelan sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Erfan.
Bersambung.
***************
TOLONG DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE VOTE VOTE DAN LIKE.
__ADS_1
Terimakasih