Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 71. Pagi Manis Dirumah Baru


__ADS_3

Di rumah baru


Suara alarm dari dalam ponsel Dara yang berada di atas nakas berbunyi sedikit nyaring hingga mengganggu tidur pulas si pemilik ponsel.


Dengan mata yang setengah terbuka, Dara berusaha bangun dari tidurnya, mengulurkan tangannya kirinya ke samping melewati tubuh Erfan yang masih tidur, berusaha menjangkau ponselnya yang terletak di sisi kanan tempat suaminya tidur.


"Aaa" pekik Erfan membuka matanya saat merasakan tubuh Dara yang tiba-tiba menindihnya.


"Maaf Mas, maaf, aku nggak sengaja, aku mau mengambil ponsel." Ucap Dara berusaha mengangkat tubuhnya dari badan Erfan dan kembali mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel.


Dara berkali-kali mengucek kedua matanya bergantian sebelum melihat ke layar ponselnya. "Sudah jam setengah tujuh pagi," gumam Dara pelan sebelum menaruh kembali ponsel diatas ranjang.


"Mas Erfan sudah shalat subuh belum Mas?" tanya Dara kembali tidur memeluk suaminya.


"Sudah Ra, jam berapa ini!" jawab Erfan datar kembali memejamkan matanya dan tidak membalas pelukan Dara.


"Kok aku nggak dipeluk Mas?" protes Dara membuka matanya kembali menatap Erfan.


"Aku nggak mau meluk kamu Ra, aku nggak ingin membangunkan kembali adik kecilku yang sudah susah payah aku jinakkan." Jawab Erfan lagi tetap memejamkan matanya, membuat Dara tertawa menatap suaminya.


"Dih, malah tertawa kamu ya?" protes Erfan membuka matanya balik menatap Dara.


Cup Dara melayangkan kecupannya di bibir Erfan.


"Ihh," dengus Erfan mendorong kepalanya kebelakang menghindari serangan istrinya, membuat Dara kembali tertawa dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Erfan.


Erfan menghela nafas sebelum membalas pelukan istrinya, "Kamu yang memaksaku ya Sayang? aku akan menuntut pertanggungjawaban kamu." Ucap Erfan sebelum m*lum*t bibir istrinya.


"Mmmmppphhhhhh," Dara berusaha melepaskan tautan bibir Erfan, "bagaimana aku bisa tanggung jawab Mas? aku kan sedang datang bulan," ucap Dara tersenyum kikuk setelah berhasil melepaskan bibirnya.


"Banyak jalan menuju Roma sayang," ucap Erfan lagi kembali melahap bibir istrinya.


"Mmmmmpppphhhh," Dara berusaha melepaskan bibirnya, "tapi aku nggak tahu jalan mana saja untuk menuju Roma Mas," ucap Dara lagi dengan nafas yang mulai tak beraturan.


Irfan terkekeh mendengar kalimat istrinya "Yang penting kamu tahu jalan untuk membahagiakanku saja aku sudah sangat bersyukur Ra," ucap Erfan menatap dalam manik mata istrinya.


Pffffttttt Dara menutup rapat bibirnya berusaha menahan tawanya.


"Hahahaha," tawa Erfan sebelum mengapit kepala Dara diantara lengan dan Dadanya, membuat Dara mengeluarkan tawanya.


"Sudah masak sana Ra." ucap Erfan disela sela tawanya.


"Ngak ada bahan makanan yang bisa dimasak Mas," jawab Dara setelah tidur dilengan Erfan.


"Pesan online aja Ra,"


"Oke, Mas Erfan mau makan apa?" tanya Dara sedikit mengangkat kepalanya menatap Erfan.


Erfan tampak berpikir sebelum menjawab, "Terserah kamu aja deh Ra," jawab Erfan membuat Dara menjatuhkan kembali kepalanya di lengan Erfan.


"Bubur ayam aja ya Mas?" ucap Dara sebelum mengambil ponsel yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Bisa lembek aku Ra kalau kamu kasih makan bubur ayam terus," protes Erfan mencubit pipi Dara, membuat Dara terkekeh sambil menggeser-geser layar ponselnya untuk memilih menu makanan.


"Sudah Mas, aku pesan Sop buntut untuk kita sarapan," ucap Dara beranjak duduk dari tidurnya.


"Aku mandi dulu ya Mas, nanti kalau ojeknya datang tolong bukain ya?" Ucap Dara sebelum mengecup singkat bibir suaminya.


***


Dara dan Erfan sudah berada di dalam perjalanan mereka menuju kantor.


"Apa kamu masih menyimpan nomor ponsel Aditya Ra?" tanya Erfan sedikit melirik Dara dan tetap fokus dengan stirnya.


"Masih Mas," jawab Dara menoleh menatap Erfan.


"Tolong buatin aku janji temu sama dia ya?aku mau membahas masalah sengketa tanah kemarin."


"Kapan Mas?"


"Sebisanya dia, lebih cepat lebih baik." Jawab Erfan membuat Dara menganggukkan kepala nya pelan tanda mengerti.


***


Setelah menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaannya Erfan segera keluar dari mobil, memberikan kunci mobilnya ke petugas valet yang sudah menunggu kedatangannya, sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam lobby diikuti dengan Dara disampingnya.


"Selamat pagi Pak," sapa Sinta sedikit menundukkan kepalanya menyambut kedatangan bos besarnya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Erfan.


"Sekretaris barunya datang jam berapa Ra? tanya Erfan menoleh ke arah Dara yang sedang tersenyum ke arah Sinta.


Erfan menganggukkan kepalanya pelan, "Siapa namanya?" tanya Erfan lagi sebelum masuk ke dalam lift khusus petinggi.


"Cindy Mas," jawab Dara sambil menekan tombol segitiga dan angka letak ruangan Erfan berada.


"Cindy ya? kalau dari namanya sih kelihatannya cantik." Goda Erfan menciptakan lirikan tajam dari Secretaris sekaligus istrinya.


"Jangan berharap banyak Mas, aku sudah pesan ke Pak Irwan cari sekretarisnya nggak boleh lebih cantik dari aku," ucap Dara dengan bibir manyunnya.


"Ya.... kecewa deh aku!" goda Erfan lagi pura-pura sedih, membuat Dara melayangkan cubitan pelan ke perutnya.


"Auuu," pekik Erfan terkekeh menyentuh perut yang dicubit istrinya.


Tring pintu lift terbuka, Dara semakin memanyunkan bibirnya keluar dari lift diikuti langka Erfan yang tertawa di belakangnya.


Satu jam kemudian.


"Selamat pagi Ra," ucap Pak Irwan mengalihkan pandangan Dara dari layar komputer.


"Selamat pagi Pak," jawab Dara berdiri dari duduknya, menatap Pak Irwan sebelum melihat kearah wanita yang sedang berdiri di belakang laki-laki yang menghampirinya.


"ini Cindy Ra, Sekretaris barunya." ucap Pak Irwan sambil meletakkan CV kerja Cindy di meja Dara.


"Saya Cindy," ucap Cindy tersenyum menatap Dara.

__ADS_1


"Dara," ucap Dara balik tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke depan Cindy.


Cindy kembali tersenyum sebelum menjabat uluran tangan Dara.


Cindy wanita yang kecantikannya tidak melebihi Dara, usia 25 tahun, lebih tua dari Dara, dengan rambut hitam bergelombang sebahu yang digerai dan badan tinggi semampai hampir sama dengan tinggi Dara.


"Ayo aku kenalin ke Pak Erfan," ucap Dara setelah kepergian Pak Irwan.


Cindy menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengikuti langkah Dara yang sudah berjalan membawa CV pemberian Pak Irwan.


Tok tok tok Dara mengetuk pintu ruangan Erfan.


"Masuk," jawab Erfan dari dalam ruangan.


Dara segera membuka pintu ruangan, sebelum melangkahkan kakinya mendekati meja Erfan. "Secretaris barunya sudah datang Pak," ucap Dara sambil menyerahkan CV yang dibawanya.


"Saya Cindy Pak," ucap Cindy sopan memperkenalkan dirinya.


Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan tetap duduk dikursi kebesarannya. "Cindy Atika, jurusan komputerisasi akuntansi," ucap Erfan setelah membuka CV Cindy.


"Aku harap kamu bisa berkerja dengan baik, dan untuk masalah pekerjaan, kamu bisa menanyakan semuanya sama Dara." Ucap Erfan datar menatap Cindy sebelum meletakkan CV yang dipegangnya diatas meja.


"Baik Pak," jawab Cindy sopan.


"Kalian boleh pergi," ucap Erfan lagi dikuti dengan anggukan kepala Dara dan Cindy sebelum berbalik dan melangkahkan kaki mereka keluar ruangan.


"Astaga Dara....dingin sekali tampang bos kita," ucap Cindy menepuk pelan dadanya yang berdebar setelah keluar dari ruangan Erfan.


Dara tersenyum tipis untuk menanggapi kalimat Cindy, "Ayo aku jelaskan tentang pekerjaan kamu Cin." Ucap Dara sebelum melangkahkan kaki menuju meja kerjanya.


"Apa Pak Erfan sudah punya pacar Ra?" tanya Cindy tiba-tiba membuat Dara mengernyitkan dahinya, menatap Cindy yang sudah duduk di sampingnya.


"Pak Erfan sudah punya istri," jawab Dara singkat sebelum mengalihkan pandangannya ke layar komputer yang ada di depannya.


"Sayang ya sudah sold out," gumam Cindy tapi masih terdengar oleh gendang telinga Dara.


Dua puluh menit sudah Dara habiskan untuk menjelaskan tentang pekerjaan kepada Cindy, hingga suara ponsel yang ada di atas mejanya bergetar membuat Dara menghentikan penjelasannya. "Sebentar ya Cin?" ucap Dara sebelum mengangkat panggilan ponselnya.


"Halo Kak" jawab Dara setelah menerima panggilan Aditya.


"Halo Ra? Kamu tadi telepon aku ya? Maaf aku tadi masih meeting"


"Iya Kak, kapan Kak Aditya ada waktu kosong? Mas Erfan ingin buat janji temu untuk membahas masalah tanah kemarin."


"Mas Erfan? Gumam Cindy terkejut dan menoleh ke arah Dara yang sedang menerima telepon di sampingnya.


_____________________________


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....


BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA

__ADS_1


__ADS_2