
Tepat pukul 08.40 menit Dara turun dari taksi tepat di depan gedung perusahaan Erfan. Dara berjalan masuk menuju loby, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut loby.
"Besar sekali," gumam Dara sambil berjalan masuk menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi Mbak, ada yang bisa saya bantu?" sapa staff resepsionis ramah.
"Saya Dara, ada janji bertemu sama Pak Irwan dari Dept. Personalia."
"Ditunggu sebentar ya."
Staff resepsionis melakukan panggilan telepon.
"Silahkan masuk Mbak, Pak Irwannya sudah menunggu didalam, ruangannya ada di lantai tiga."
"Terimakasih," ucap Dara sedikit menundukkan kepalanya.
Dara bejalan masuk menaiki lift dan keluar dari lift saat berada di lantai tiga, berjalan sambil menoleh ke kanan ke kiri berharap menemukan petunjuk keberadaan ruang Personalia.
Brrukkkk Dara menabrak seseorang.
"Maaf Pak, maaf maaf, saya nggak sengaja." Dara membungkukkan badannya kepada orang yang nggak sengaja dia tabrak.
"Nggak papa, kamu sedang mencari siapa disini?" tanya lak-laki tampan yang barusan Dara tabrak.
"Saya mencari Pak Irwan Pak, dari Dept. Personalia."
"Kamu Secretaris baru itu ya?"
"Iya Pak."
"Ayo saya antarkan."
Dara bengong sejenak, "Ba.. baik Pak, terimakasih."
Dara mengikuti langkah laki-laki itu menuju ruangan yang tidak jauh dari tempatnya menabrak tadi.
Tok tok tok laki-laki itu mengetuk pintu dan masuk sebelum dipersilahkan masuk, sedangkan Dara tetap setia mengikuti dibelakangnya.
"Pak Nathan," ucap laki-laki paruh baya yang berada didalam ruangan segera berdiri dari duduknya.
"Pak Irwan, Secretaris baru CEO kita sudah datang," ucap Nathan.
"Saya Dara Pak," ucap Dara menundukkan kepala memperkenalkan diri.
"Saya Irwan, silahkan duduk Dara."
"Terimakasih Pak." Ucap Dara sambil duduk.
Sedangkan Nathan pergi keluar ruangan.
Pak Irwan menjelaskan tentang gaji dan semua peraturan yang ada diPerusahaan.
"Untuk masalah pekerjaan, kamu bisa menanyakan kepada Reina, Secretaris yang akan kamu gantikan, dia akan mengajarimu selama seminggu sebelum dia mengundurkan diri."
"Baik Pak, saya akan bekerja sebaik mungkin."
"Ayo, saya akan mengantarkanmu ke ruang CEO," ucap Pak Irwan sambil berdiri.
Dara menganggukkan kepala, "Baik Pak," kemudian ikut berdiri mengikuti langkah Pak Irwan keluar ruangan.
***
"Reina perkenalkan ini Dara sekretaris pengganti kamu," ucap Pak Irwan saat berada didepan meja Reina.
Reina tersenyum ramah mengulurkan tangannya, "Reina."
"Saya Dara Mbak, mohon bimbingannya," ucap Dara menjabat tangan Reina.
"Saya tinggal dulu ya Rei, aku serahin Dara sama kamu."
"Baik Pak," ucap Reina ke Pak Irwan.
"Ayo Ra aku kenalin ke Pak Erfan."
"Ha? Pak Erfan?" tanya Dara kaget.
"Iya Pak Erfan, CEO disini yang akan menjadi atasan kamu."
__ADS_1
"Ya Allah..cobaan apa lagi ini?" ucap Dara Dalam hati, dia baru tahu kalau suaminya seorang CEO.
"Ayo," ucap Reina sambil melangkah masuk ke dalam ruangan yang ada didepan mejanya.
Kaki Dara terasa lemas, terasa sangat berat untuk diajak melangkah, kalau bisa berlari ingin sekali dia melarikan diri sekarang, hatinya masih sakit, tapi sudah dipaksa untuk melihat suaminya, dan parahnya lagi bukan sebagai istri tapi sebagai bawahannya.
Tok tok tok Reina mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Reina membuka pintu dan berjalan masuk, sedangkan Dara mengikutinya di belakang sambil menundukkan kepala.
"Pak Ini Dara Secretaris baru yang akan menggantikan saya," ucap Reina sambil mengarahkan jempolnya ke arah Dara.
"Tegakkan kepala kamu Ra, jangan menunduk seperti itu," ucap Reina pelan ditelinga Dara.
Dara menghela nafas pelan sebelum mengangkat kepalanya, "Selamat pagi Pak, saya Dara, Sekretaris baru Bapak." Ucap Dara menatap Erfan sekilas sebelum mengarahkan matanya ke bawah.
Erfan berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Dara.
Jantung Dara berdegup dengan kencang saat melihat Erfan berjalan menghampirinya, fikirannya sibuk mengira-ngira apa yang akan dilakukan suaminya sekarang.
"Saya Erfan," ucap Erfan mengulurkan tangan saat berdiri didepan Dara.
Dara mendongakkan kepalanya menatap Erfan, ada perasaan lega karena Erfan nggak membongkar statusnya didepan Reina.
"Saya Dara Pak," ucapnya memperkenalkan diri lagi sambil menjabat tangan Erfan.
"Kamu bisa keluar sekarang Mbak Rei," ucap Erfan.
"Baik Pak," ucap Reina membalikkan badan untuk keluar ruangan.
Dara mengikuti langkah Reina, baru saja membalikkan badan dan dua langkah berjalan, "Siapa yang menyuruh kamu keluar Ra?" ucap Erfan menghentikan langkah Dara.
Dara berdiri mematung membelakangi Erfan.
"Apa kamu akan terus membelakangi atasanmu seperti itu Ra? "
Dara menghela nafas pelan sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Erfan, "Ada yang bisa saya bantu Pak?" ucap Dara tanpa menatap Erfan.
"Apa kamu sudah nggak mau menatapku Ra? Apa kamu sudah benar benar membenciku?"
Erfan terdiam mendengar jawaban Dara.
"Kalau memang tidak ada yang Bapak perlukan saya pamit keluar dulu Pak,l" ucap Dara pamit sedikit membungkukkan badannya.
Dara melangkahkan kakinya keluar ruangan Erfan dengan perasaan yang campur aduk.
"Bilangnya nggak tau siapa calon Bosku, nyatanya dia sendiri, dasar penipu," Dara menggerutu sendiri.
"Kenapa Ra?" tanya Reina.
"Ha? nggak papa Mbak."
"Sini Ra duduk sini aku akan menjelaskan semua tentang pekerjaanmu," ucap Reina sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Iya Mbak," ucap Dara berjalan menghampiri Reina sebelum duduk dikursi kosong sebelah Reina.
"Salah satu tugas kamu nanti mencatat dan mengatur janji pertemuan pak Erfan dengan klien, dan membuat laporan seperti ini," ucap Reina sambil menunjukkan layar komputer yang ada didepannya.
Dara melihat dengan seksama apa yang ditunjukkan Reina dan mengangguk-anggukkan kepala saat dirinya mulai mengerti.
"Kamu juga harus mengurusi keperluan Pak Erfan termasuk kopi dan makan siangnya saat beliau ada di kantor."
"Kopi?"
"Iya, Pak Erfan nggak suka kopi manis, takarannya kopi 1 sendok, gulanya 1/4 sendok aja."
Dara membelalakkan matanya, mengingat saat dia membuatkan kopi suaminya dirumah, kopi 1 sendok gula dua sendok, tapi selalu habis Erfan minum.
Dara sedikit terkekeh saat mengingatnya.
"Kenapa Ra? ada yang lucu?" tanya Reina heran.
"Ha? enggak, enggak Mbak."
Reina menggeleng pelan sebelum melanjutkan penjelasannya ke Dara.
__ADS_1
lima belas menit berlalu dengan penjelasan Reina.
"Lagi sibuk Mbak Rei?" tiba-tiba terdengar suara laki-laki memecah pembicaraan Reina dan Dara.
Reina mendongak, "Iya Pak lagi ngajarin Dara Secretaris baru."
"Ooh nama kamu Dara?" ucap Nathan.
"Iya Pak saya Dara," ucap Dara sambil berdiri.
"Saya Nathan," ucap Nathan mengulurkan tangannya.
Dara menjabat tangan Nathan, "Terimakasih Pak, tadi sudah membantu saya, dan mohon maaf atas kejadian tadi."
"Nggak papa, lupain aja," ucap Nathan sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
"Erfan Ada mbk Rei?" tanya Nathan mengalihkan pandangannya ke arah Reina.
"Ada Pak, silahkan masuk."
Nathan menganggukkan kepala pergi masuk ke ruangan Erfan.
***
"Fan....sekretaris baru kamu cantik sekali," ucap Nathan masuk tanpa mengetuk pintu.
Erfan menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Nathan.
"Jangan macam-macam kamu Than."
"Hanya satu macam kok Fan, aku nggak berani macam-macam," ucap Nathan terkekeh sambil duduk di sofa.
Erfan menyebikkan bibirnya dan kembali melihat ke layar laptop.
"Apa kamu akan datang ke pernikahan Sarah?"
Erfan mengangkat bahu tanpa menoleh Ke arah Nathan.
"Apa kamu sudah move on Fan?"
Erfan kembali mengangkat bahunya untuk menjawab.
"Kamu sekarang jadi bisu ya gara-gara putus?" ucap Nathan kesal.
"Aku nggak mau membahas Sarah lagi Than."
Tok tok tok Erfan dan Nathan menoleh ke arah pintu.
"Masuk." ucap Erfan.
Dara memasuki ruangan Erfan dengan membawa berkas di tangannya.
"Maaf Pak saya disuruh Mbak Reina menyerahkan laporan ini," ucap Dara sambil memberikan berkas kepada Erfan.
"Terimakasih," ucap Erfan menerima berkas dari Dara sambil mencuri pandang wajah istrinya.
Dara memalingkan wajahnya dan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan Erfan.
"Dara," panggilan Nathan menghentikan langkah Dara.
"Iya Pak?" jawab Dara menghadap Nathan.
"Kamu cantik," ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar Erfan Dan Dara.
"Ha?" ucap Dara kaget.
Sedangkan Wajah Erfan sudah merah padam mendengar ucapan Nathan.
"Hahahaha semoga betah ya kerja disini," ucap Nathan sambil tertawa.
"Iya Pak, saya permisi dulu."
"Aku juga permisi ya Fan," ucap Nathan mengikuti langkah Dara.
_____________________________________________
Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....
__ADS_1
Terimakasih.....