Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 66. Permana Group


__ADS_3

"Astaghfirullah...." ucap Nathan terkejut membalikkan badannya cepat.


Dara gelagapan sebelum berdiri tegak disamping Erfan, badannya gemetar dengan detak jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan efek dari rasa terkejutnya.


"Bisa nggak sih Than kalau masuk kesini itu ketuk pintu dulu?" Omel Erfan berdiri dari duduknya, menggenggam erat tangan Dara sebelum membelai lembut punggung istrinya, berusaha menetralkan rasa terkejut wanita yang sangat dicintainya.


"Sorry Fan, Ra, aku nggak tahu kalau didalam ruangan ini ada adegan 18+nya." Ucap Nathan terkekeh setelah membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Erfan dan Dara.


"Ayo duduk dulu Ra," ucap Erfan menuntun Dara untuk duduk dikursi kebesarannya, melirik sinis ke arah Nathan yang sedang berjalan menuju sofa.


"Aku ambilkan minum dulu ya?" ucap Erfan sebelum melangkahkan kakinya menuju dispenser yang ada dipojok ruangannya.


"Makanya Than, mulai sekarang dibiasakan kalau masuk keruangan orang itu ketuk pintu dulu, dari dulu sudah dibilangin tapi nggak pernah diperhatikan." Omel Erfan lagi saat menadahkan air kedalam gelas bening yang sudah dibawanya.


"Iya iya Fan, aku tadi kan sudah meminta maaf, masih aja ngomel kayak ibu-ibu komplek," Ucap Nathan yang sudah duduk diatas sofa.


Erfan kembali menghampiri Dara sambil membawa segelas air yang baru saja dia ambil.


"Terimakasih Mas," ucap Dara mengambil alih segelas air dari tangan Erfan.


"Kamu juga salah Fan, kantor itu tempatnya bekerja, bukan tempatnya bercumbu," Ejek Nathan tertawa.


"Uhuk- uhuk", membuat Dara tersedak saat mendengar kalimat Nathan.


"Pelan-pelan Ra," ucap Erfan masih berdiri disamping Dara, menepuk pelan punggung Dara sebelum mengarahkan tangan kanannya ke depan untuk mengelap sisa air yang ada dibibir istrinya.


"Hoe...hoe...disini ada orang hoe....,sengaja ya bikin aku iri?" Protes Nathan saat melihat kemesraan sahabatnya.


"Makanya nikah kamu, hidup sekali kok dibuat jomblo terus." Ejek Erfan.


"Cih," jangan menghina kamu, tunggu saja dua bulan lagi." Ucap Nathan serius.


"Ada apa? kamu nikah?" Tanya Erfan menatap Nathan.


"Tetap jomblo, hahahaha," Jawab Nathan kembali tertawa sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara. "sorry ya Ra, sampai gemetar seperti itu, lain kali kalau aku nggak melihat kamu duduk ditempatmu aku nggak akan berani masuk kesini lagi deh Ra," Ucap Nathan disela-sela tawanya, membuat Dara tersenyum kikuk.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Erfan setelah duduk dikursi seberang Dara.


"Aku dengar kamu cari tambahan Secretaris baru Fan? kenapa?"


"Ha? jangan bilang Kamu menerobos masuk kesini hanya untuk menanyakan ini Than?" ucap Erfan mengerutkan keningnya menatap Nathan.


"Iya, hahaha," jawab Nathan kembali tertawa.


Erfan menggelengkan kepalanya pelan menatap Nathan. "Apa kamu sudah nggak punya pekerjaan Than? bisa-bisanya kamu kesini hanya untuk masalah Secretarisku."


Nathan hanya terkekeh saat menanggapi kalimat Erfan.


"Aku keluar dulu ya Mas?" ucap Dara berdiri dari duduknya, menatap Erfan yang menganggukkan kepala sebagai bentuk jawabannya.

__ADS_1


"Saya permisi dulu Pak...." Ucap Dara menatap Nathan sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Aku sepantaran lo Ra sama suami kamu, kenapa kamu terus memanggilku Pak?" Protes Nathan menghentikan langkah Dara.


"Panggil saja dia Om Ra," Timpal Erfan menatap Dara.


"Permisi Om..." ucap Dara polos kembali menatap Nathan, membuat tawa dari ketiganya pecah.


"Sudah Ra, jangan dengerin Nathan, kamu kembali aja ke kursi kamu." Ucap Erfan disela-sela tawanya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Erfan dengan wajah seriusnya menatap Nathan.


"Ada masalah sama salah satu tanah yang baru kita beli untuk pembangunan outlet Perusahaan Fan."


"Masalah apa?" Tanya Erfan dengan mimik wajah yang semakin serius, berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk disofa didekat Nathan.


"Ternyata tanah yang sudah kita beli itu tanah sengketa, pemiliknya sengaja menggandakan sertifikat tanahnya dan menjualnya kepada kita dan Permana Group.


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? apa yang dikerjakan sama Managemen aset sampai bisa kecolongan seperti itu?" Ucap Erfan mulai emosi.


"Apa kita perlu mengambil jalur hukum untuk masalah ini Fan?


Erfan menggelengkan kepalanya pelan tanda tak setuju. "Atur janji temu sama penjual tanah dan Perwakilan dari Permana Group, handle semua bersama pengacara perusahaan, perbaiki semuanya dengan cepat.


"Selesaikan dulu masalah ini, suruh mereka bertanggung jawab dengan kecerobohannya."


"Apa kamu akan memotong gaji mereka Fan?" tanya Nathan lagi menyelidik.


Erfan terdiam, sebelum mengarahkan tatapan tajamnya ke arah manik mata sahabatnya yang terlalu banyak bicara, "Selesaikan cepat atau gaji kamu yang akan aku potong 99%." Ucap Erfan penuh penekanan menatap tegas Nathan.


"Hahahaha," Nathan tersenyum kikuk menatap Erfan.


"Aku selesaikan sekarang ya?," ucap Nathan lagi bergegas berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangan Erfan yang terasa mencekam saat mendengar gajinya yang akan dipotong secara tidak manusiawi.


***


Erfan duduk dikursi kebesarannya, melipat kedua tangannya diatas meja sambil memijat pelipisnya pelan, memikirkkan masalah yang baru saja dia dengar dari Nathan. "Permana Group, Perusahaan apa itu?" Gumam Erfan pelan menatap lurus kedepan.


"Bodoh, kenapa nggak aku coba cari aja di internet." gumam Erfan lagi segera mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang sudah terbuka diatas mejanya.


Tik tik tik tik Erfan mengetik nama Permana Group pada kolom pencarian internetnya, tidak butuh waktu lama semua Informari lengkap yang dia butuhkan mengenai Permana Group keluar hingga memenuhi layar laptopnya.


Erfan membulatkan matanya saat melihat salah satu laki-laki muda yang berpose dengan senyum menawannya didalam foto keluarga Permana, memakai jas lengkap hingga menunjukkan kegagahannya saat berdiri disamping laki-laki paruh baya yang menurut informasi yang dia baca merupakan pemilik dari Perusahaan Permana Group.


Tut Erfan menekan salah satu tombol yang ada ditelepon kantornya.


"Ra, kamu kesini sebentar ya?" ucap Erfan setelah Dara menerima panggilan teleponya.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Dara terdengar dari telepon kantor Erfan yang dia loudspeaker.


Tidak membutuhkan waktu lama, pintu ruangan Erfan terbuka, menampakkan Dara dari balik pintu sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan untuk mendekati Erfan.


"Ada apa Mas?" tanya Dara saat berdiri didepan Erfan.


"Apa kamu tahu siapa Bapakny El Ra?" Tanya Erfan membuat Dara mengerutkan keningnya.


"Kak Aditya kan Mas? Kenapa?" jawab Dara bingung dengan pertanyaan suaminya.


"Iya aku tahu Aditya, maksudku apa kamu tahu siapa nama lengkapnya? atau pekerjaannya?" tanya Erfan setelah berdiri dari duduknya, menyandarkan dirinya disamping meja sambil menyilangkan tangannya didepan dada menatap Dara.


Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Aku hanya tahu nama depannya aja, nggak tahu nama panjangnya, dan kalau masalah pekerjaannya, aku ingat Mitha pernah cerita kalau suaminya itu anak dari pemilik Perusahaan yang bekerja diPerusahaan Ayahnya, kalau untuk pekerjaannya sebagai apa aku nggak tahu Mas," Ucap Dara menjelaskan.


"Kenapa Mas?" tanya Dara penasaran.


"Perusahan kita ada masalah sengketa tanah, penjual tanah sengaja menggandakan sertifikat tanah dan menjualnya kepada kita dan Perusahaan Bapaknya Aditya.


Dara menutupi mulutnya yang menganga kaget dengan telapak tangan kanannya. "Kok bisa Mas?" tanya Dara setelah menurunkan tangannya.


"Entah karena penjualnya yang terlalu pintar atau Management aset kita yang terlalu bodoh aku juga nggak tau." Ucap Erfan megusap wajahnya kasar menunjukkan rasa frustasinya.


"Apa yang akan Mas Erfan lakukan sekarang?"


"Nathan sedang mengurus semuanya, kita tinggal menunggu informasi dari dia saja." Jawab Erfan dengan pandangan lurus kedepan sambil mengetukkan jari telunjuknya diatas meja.


"Apa yang bisa aku bantu Mas?" tanya Dara iba saat melihat wajah kusut suaminya.


Erfan menghentikan ketukan jari dimejanya, mengalihkan pandanganya menatap Dara.


"Apa aku coba untuk berbicara sama Kak Aditya?"


Erfan menggelengkan kepalanya pelan "Masalah ini akan cepat selesai, kamu nggak perlu khawatir Ra," ucap Erfan tersenyum sebelum menghamburkan tubuhnya ke pelukan istrinya.


"Kamu hanya perlu membantu masalahku yang lain!" ucap Erfan setelah menarik tubuhnya dari pelukan Dara, menatap lekat manik wajah istrinya yang terlihat khawatir.


"Masalah apa lagi Mas?" tanya Dara menatap balik suaminya.


"Masalah ini," ucap Erfan menunjuk bibirnya membuat Dara mengernyitkan dahinya.


"Mas Erfan sariawan?"


"Kok sariawan sih Ra, dia ini sedang protes karena keinginannya belum kesampaian gara-gara Nathan."


"Ih, jangan dulu lah Mas...nanti aja dirumah ya? aku masih trauma sama kejadian tadi. Nanti kalau Pak Nathan masuk lagi gimana?" Ucap Dara memelas, membuat Erfan terkekeh.


_________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..

__ADS_1


__ADS_2