
"Aku.." ucap Rania menggantung, berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Dara.
"Aku tadi.." Ucap Rania lagi terpotong.
"Kamu pergi dari sini sekarang." Ucap Erfan dengan tatapan sinisnya menatap Rania, membuat Rania mengalihkan pandangan balik menatapnya.
"Aku ingin menemani kamu disini Fan, apa kamu nggak bisa melihat bagaimana khawatirnya aku?"
"Aku nggak butuh kamu temani, aku sudah punya Dara disini." Jawab Erfan.
"Aku akan merawatmu jauh lebih baik daripada Dara, aku ingin tetap disini menemanimu." Ucap Rania memohon.
"Tolong bawa dia keluar Than, aku nggak ada tenaga lagi untuk meladeninya." Ucap Erfan menatap Nathan yang sedang berdiri di samping ranjangnya.
"Kamu keluar dulu Ran, Erfan butuh istirahat." Ucap Nathan menyentuh tangan Rania.
"Jangan menyentuhku." Ucap Rania mengibaskan tangannya kasar menatap Nathan dengan perasaan kesal.
Nathan balik menatapnya sebelum menggerakkan kepalanya untuk mengkode Rania agar segera keluar.
Rania menyentakkan kakinya ke lantai dengan tatapan sinisnya menatap Semua orang yang ada di depannya bergantian.
"Hati-hati ya Ran?" ucap Clara yang sedang berdiri di sebelah Dara, melambaikan tangan kanannya ke arah Rania dengan senyum mengejeknya.
"Awas kalian semua, aku nggak akan pernah melupakan penghinaan ini." Ucap Rania kesal sebelum melangkahkan kakinya keluar dari Kamar rawat Erfan.
"Apa kamu memikirkan hal yang sama denganku Fan?" tanya Nathan menatap Erfan.
Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan balik menatap Nathan sebelum beralih menatap Dara. "Ponselku mana Ra?" ucap Erfan mengulurkan tangannya ke depan Dara.
"Sebentar Mas," ucap Dara sebelum mengambil ponsel Erfan yang ada di dalam tas kerja suaminya.
"Terimakasih," ucap Erfan menerima ponsel dari Dara, sebelum menggeser geser layarnya untuk mencari nama seseorang.
"Telepon siapa Mas?" Tanya Dara.
"Temanku," Jawab Erfan sebelum mengalihkan pandangannya lagi menatap Dara.
"Ajak Clara duduk di sofa Ra,"
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum mempersilahkan Clara untuk duduk di sofa.
"Telepon siapa kamu?" Tanya Nathan melangkah untuk duduk di kursi sebelah ranjang Erfan.
"Fatir," jawab Erfan sebelum melakukan panggilan.
"Aku ada pekerjaan untuk kamu, aku akan mengirimkan foto seorang wanita, awasi dia selama 24 jam selama satu minggu, dan potret semua orang yang dia temui." Ucap Erfan saat panggilannya tersambung.
"Aku tunggu hasilnya Minggu depan." Ucap Erfan lagi mengakhiri panggilan.
"Kamu masih berhubungan sama dia?"
"Hanya saat aku membutuhkannya, seperti sekarang ini, kamu tahu sendiri dia dan anak buahnya sangat terampil kalau disuruh memata-matai orang." Jawab Erfan sambil mengirim foto Rania, alamat rumah dan alamat kantor Rania kepada Fatir.
Cklekkk pintu rawat inap Erfan terbuka, menampakkan Dewa dari balik pintu sebelum melangkah mendekati Erfan.
"Aku mau balik dulu," Ucap Dewa datar menatap Erfan.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Erfan.
"Aku hanya kebetulan lewat, aku harap kamu segera pulih," ucap Dewa sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Dara yang sedang melangkah menghampirinya.
"Terimakasih ya Wa, aku nggak tau apa yang harus aku lakukan tadi seandainya nggak ada kamu." Ucap Dara setelah berdiri di depan Dewa.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya pelan, sebelum menatap semua orang yang ada di ruang rawat Erfan bergantian.
"Aku pamit," ucap Dewa datar sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Sepertinya dia masih punya perasaan sama kamu Ra," ucap Clara yang masih duduk di atas sofa membuat Dara menoleh menatapnya.
"Jangan bicara sembarangan Cla!" ucap Dara sebelum menoleh ke arah suaminya.
Clara hanya diam tak membalas kalimat Dara, kembali fokus dengan ponsel yang di pegangnya.
***
Langit mulai gelap, adzan Maghrib baru selesai berkumandang, terlihat Dara sedang menunaikan kewajibannya sebagai hamba Tuhannya di dekat ranjang suaminya.
Lima menit berlalu Dara telah melepas mukenanya dan melangkah mendekati Erfan yang masih berbaring menatapnya.
"Kenapa Mas?" tanya Dara sebelum duduk di kursi sebelah ranjang Erfan, menggengam tangan suaminya sebelum mengecupnya.
Erfan hanya menggelengkan kepalanya pelan tetap menatap lekat manik mata istrinya.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kamu cantik,"
"Ha? ada apa ini? kenapa tiba-tiba? ada apa?" jawab Dara terkekeh.
"Sudah jangan bercanda dulu Mas," ucap Dara di sela sela tawanya menepuk pelan lengan suaminya.
Cklek Pintu ruang rawat Erfan terbuka, menampakkan Pak Subrata dari balik pintu sebelum melangkah masuk mendekati Erfan.
"Kenapa Fan? kenapa bisa terjadi seperti ini?" ucap Pak Subrata dengan rasa khawatirnya melangkah cepat mendekati ranjang anaknya.
"Kenapa Papa baru dikabari? kenapa nggak dari tadi papa dikabarinya?" tanya Pak Subrata lagi setelah berdiri di samping ranjang Erfan.
Dara segera mengatur posisi ranjang suaminya ke sudut duduk sebelum berdiri dan mencium tangan mertuanya.
"Satu satu Pa tanyanya, aku harus jawab pertanyaan Papa yang mana dulu ini?"
"Isshh," dengus Pak Subrata melayangkan tangan kanannya ke atas seakan ingin memukul Erfan.
"Terserah yang mana saja yang penting jawab pertanyaan Papa."
"Tadi aku di serang saat perjalanan pulang Pa, dan kenapa Papa baru di hubungi, karena lupa...," jawab Erfan berusaha menahan tawanya.
"Ya Allah....Ya Tuhanku...." Gumam Pak Subrata mengelus dadanya pelan menatap anaknya.
"Maaf Pa, Mas Erfan hanya nggak ingin membuat Papa khawatir jadi kami menghubungi Papa saat situasinya sudah tenang." Jawab Dara membuat Pak Subrata mengalihkan pandangan menatapnya.
"Siapa yang menyerang Kamu?" tanya Pak Subrata kembali menatap Erfan.
"Aku nggak tahu Pa, aku sedang mencari tahu."
__ADS_1
"Apa kamu mencurigai seseorang Fan?" tanya Pak Subrata lagi.
Erfan menganggukkan kepalanya pelan, "Ada, tapi aku nggak bisa memberitahukan ke Papa sekarang, takutnya kecurigaan ku salah."
***
Jam dinding di rumah sakit sudah menunjuk ke angka sembilan pagi terlihat Erfan sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Cklek Dara keluar dari dalam kamar mandi dengan rambutnya yang terlihat basah sehabis keramas.
"Jam sepuluh kita kan harus mengambil hasil tesnya Mas," ucap Dara mengambil sisir yang ada di dalam tasnya sebelum berjalan menghampiri suaminya, karena tes kesuburan mereka di lakukan di rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit tempat Erfan di rawat.
"Aku akan minta tolong sama Nathan."
"Bukankah ada Cindy? kenapa minta tolong sama Pak Nathan? aku takut Pak Nathan berfikiran seperti itu." Ucap Dara setelah duduk di ranjang depan suaminya.
"Aku akan meminta tolong dia sebagai teman Ra, bukan sebagai atasan."
Dara menganggukkan kepalanya pelan melihat Erfan yang sedang menggeser-geser layar ponsel untuk menghubungi Nathan.
Sekitar lima menit Erfan melakukan panggilan dengan Nathan.
"Bisa Mas?" tanya Dara.
"Bisa," jawab Erfan menciptakan senyum di bibir istrinya.
"Aku harap hasilnya baik baik saja Mas." Ucap Dara penuh harap.
"Kamu jangan khawatir, semuanya pasti baik-baik saja."
Tiga jam kemudian Nathan memasuki kamar rawat Erfan dengan membawa dua buah amplop yang berlogo rumah sakit.
Dara yang sedang duduk di atas sofa segera berdiri dan menghampiri Nathan.
"Erfan tidur?" tanya Nathan pelan melihat ke arah Erfan yang sedang memejamkan matanya di atas ranjang.
"Iya Baru saja tidur, Pak Nathan sudah dapat hasilnya?" tanya Dara dengan suara pelannya.
Nathan menganggukkan kepalanya pelan sebelum mnyerahkan dua amplop yang di bawanya kepada Dara.
"Terimakasih," ucap Dara mengambil alih amplop dari tangan Nathan sebelum menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengatur ritme detak jantungnya yang tak beraturan karena rasa gugupnya.
"Jangan tegang gitu Ra, duduk dulu baru baca." Ucap Nathan masih berdiri di depan Dara.
Dara menggelengkan kepalanya tetap berdiri di tempatnya dan segera membuka salah satu amplop.
"Alhamdulillah....," ucap Dara tersenyum lega dengan matanya yang berkaca-kaca saat melihat hasil amplop yang baru saja dia buka.
Dara segera membuka amplop yang satunya, senyum yang tadinya mengembang jadi menghilang, mata yang tadinya berkaca kaca penuh binar kebahagiaan kini berubah menjadi kesedihan, membuat nya menitikkan air mata.
"Kenapa Ra?" tanya Nathan bingung dengan ekspresi Dara,
Dara hanya diam tak menjawab pertanyaannya Nathan, pandangan matanya hanya tertuju pada kata Abnormal yang ada di barisan paling bawah, membuat Ritme jantungnya semakin tak menentu, berdebar-debar seperti tak berpijak di bumi, rasanya seperti di hantam ombak yang sangat besar, hingga membuat kakinya terasa lemas dan tak mampu untuk berdiri
"Ra," ucap Nathan menahan tubuh Dara yang terlihat oleng.
Bersambung.
__ADS_1
___________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up