Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 17. Rasa kesal


__ADS_3

"Sarah akan menikah Minggu depan Ra, dan hari ini aku sudah di campakkan sama dia," ucap Erfan lirih, membuat perasaannya kembali sesak kemudian mengatupkan bibirnya untuk menahan bulir air mata agar tidak sampai jatuh."


Telapak tangan kanan Dara reflek menutup mulutnya yang menganga kaget.


"Kenapa? kok bisa Mas?"


Erfan mencebikkan mulutnya, "Karena perjodohan, sama seperti kita," ucap Erfan sambil menoleh ke arah Dara, "lucu bukan?"


Dara hanya diam tak menjawab, dia masih beruntung walaupun dia menikah tapi masih tetap bisa bersama Dewa, berbeda dengan Erfan.


"Sungguh perjodohan sudah berhasil mempermainkan perasaan orang," ucap Erfan mengepalkan kedua tangannya yang ada diatas paha.


Dara menyentuh tangan kanan Erfan yang mengepal, dibawanya dalam pangkuannya, diusapnya lembut berharap bisa mengurangi emosi yang ada didiri suaminya.


"Mungkin Sarah bukan jodohnya Mas Erfan." Ucap Dara menatap mata Erfan.


"Mas Erfan harus bahagia walaupun tanpa Sarah."


"Kamu tahu Ra seberapa besar aku sangat mencintainya? bahkan aku rela mengecewakan Papa karena menceraikanmu nanti demi untuk tetap bersama dia."


"Aku tahu Mas, tapi jodoh ada ditangan Allah bukan ditangan cinta, yakinlah Allah pasti akan memberikan jodoh yang terbaik, karena kamu orang baik Mas."


"Apa menurutmu aku orang baik Ra?"


"Emmmmmm sedikit," ucap Dara menutup sebelah mata dan mengangkat tangan membuat kode jempol di bawah telunjuk.


"Kamu ya Ra," ucap Erfan menyentakkan pelan tangannya yang ada di pangkuan Dara.


Dara terkekeh, "Iya iya Mas, walaupun kadang sikap Mas Erfan sedingin es batu tapi aku yakin Mas Erfan orang baik," ucap Dara sambil menepuk-nepuk lembut tangan Erfan.


"Ngejek ya kamu?" ucap Erfan melirik Dara.


"Nggak Mas, aku serius," ucap Dara tersenyum.


" Sudah malam Mas, Mas Erfan harus istirahat jaga kondisi biar nggak sakit, dan aku mohon jangan melakukan hal konyol lagi seperti tadi," ucap Dara sambil menurunkan pelan tangan Erfan di kasur.


Erfan tersenyum sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Apa kamu khawatir sama aku Ra?" ucap Erfan menatap Dara.


"Ya pasti khawatir lah Mas, kalau Mas Erfan kenapa-kenapa bagaimana aku mempertanggung jawabkanya ke Papa?" ucap Dara sambil menarik selimut sampai di dada Erfan.


Erfan hanya menghela nafas ringan, entah kenapa dia sedikit kecewa dengan jawaban Dara.


"Mau aku kecilkan suhu AC nya Mas?"


Erfan menganggukkan kepala pelan, Dara segera mengambil remot AC yang ada diatas nakas dan memencet beberapa kali tombol panah ke atas untuk mengecilkan suhu AC.


"Aku ke kamar dulu ya Mas, kalau perlu apa-apa Mas Erfan bisa panggil aku."

__ADS_1


Erfan menganggukkan kepala sebelum memejamkan mata berusaha untuk tidur, perasaan yang tadinya sangat sesak perlahan mulai mengurai karena kehadiran Dara.


Dara berdiri dari duduknya dan mematikan saklar lampu kamar Erfan menggantinya dengan lampu tidur sebelum pergi ke kamarnya.


****


Selesai Sholat subuh Dara mengambil pakaian kotor Erfan yang ada di keranjang, menggabungkan dengan pakaian kotor miliknya dan memasukkan semuanya ke mesin cuci. Setelah selesai mencuci pakaian dan menjemurnya Dara segera mengambil dompet dan ponsel yang ada di kamarnya.


Hari ini Dara ingin membeli bubur ayam yang ada di food court apartemen di lantai satu untuk menu sarapan karena persediaan makanan di kulkas banyak yang sudah habis.


"Bungkus bubur ayam dua ya Pak," ucap Dara sambil duduk dikursi yang sudah disediakan.


"Iya mbk," ucap penjual bubur ayam.


Trrrtttttt suara getar ponsel yang dari tadi di genggam Dara berbunyi, terlihat nama Erfan dilayar.


"Halo Mas."


"Kamu di mana Ra?"


"Aku beli bubur ayam di bawah Mas, maaf aku nggak pamit."


"Oke, hati-hati Ra," ucap Erfan sebelum menutup panggilan.


"Ini mbk buburnya," ucap penjual bubur sambil memberikan dua bungkus bubur pesanan Dara.


"Terimakasih Pak," ucap Dara memberikan uang.


***


Dara segera meletakkan bubur yang dia beli diatas meja makan, kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya segelas teh jahe.


"Sudah datang Ra? dapat buburnya?" tanya Erfan baru keluar dari kamar kemudian duduk di meja makan.


"Sudah mas," ucap Dara sambil membawa segelah teh jahe. "Lo mas Erfan kok belum siap-siap kerja?" tanya Dara saat melihat suaminya masih memakai kaos dan celana pendek.


"Aku ambil cuti Ra, kepalaku sedikit pusing." ucap Erfan sambil membuka seporsi bubur ayam.


"Mas Erfan sakit?" tanya Dara meletakkan teh jahenya didepan Erfan, kemudian menyentuh kening suaminya dengan telapak tangannya.


Erfan tertegun menatap wajah Dara yang berada tepat didepannya, ada desiran aneh yang menjalar di hatinya, membuat dirinya sadar betapa cantik wanita yang ada didepannya ini.


"Mas Erfan demam." Ucap Dara sambil menurunkan telapak tangannya.


"Mas Erfan makan buburnya dulu ya, aku mau ambil obat didalam," ucap Dara berbalik hendak mengambil obat dilaci kamarnya.


"Kamu makan dulu aja Ra."


"Iya aku siapin obatnya dulu Mas," ucap Dara melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan obat yang dicari, Dara bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan meletakkannya di samping Erfan.


"Habis makan minum obat ya Mas, terus istrirahat lagi dikamar," ucap Dara sambil duduk di kursi seberang Erfan.


Erfan mengangguk tetap melanjutkan makan buburnya.


"Mas bahan makanan dikulkas banyak yang sudah habis," ucap Dara di sela-sela makannya.


"Nanti kita ke belanja ke supermarket."


"Hari ini aku ada rencana ketemu sama Dewa, jadi bisa sekalian belanja bareng dia."


Erfan menghentikan makannya, entah kenapa sekarang dia nggak suka mendengar Dara


menyebut nama Dewa didepannya, ditambah saat mendengar Dara akan bertemu kekasihnya membuatnya semakin kesal.


"Kenapa Mas? nggak enak buburnya?"


Erfan menggelengkan kepala pelan, kemudian melanjutkan makannya.


"Aku nanti boleh keluar ya Mas?"


"Apa kamu akan meninggalkan suamimu yang sakit sendirian dirumah?" ucap Erfan datar tanpa menatap Dara.


Trrrttt trrrttt suara getar ponsel Dara yang ada diatas meja makan.


Erfan melirik sekilas ponsel Dara sebelum melanjutkan makannya.


"Halo Wa," ucap Dara mengangkat telepon.


"Nanti aku jemput dimana Ra?"


"Apa kita bisa menunda rencana kita hari ini Wa?" ucap Dara ragu-ragu sambil melirik Erfan.


"Kenapa Ra? apa suamimu melarangmu?" ucap Dewa kesal.


Erfan menghentikan makannya, meninggalkan Dara dan masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal.


Dara menghela nafas pelan melihat sikap Erfan


"Nggak Wa aku hanya sedikit pusing," jawab Dara berbohong.


"Kamu sakit?"


"Aku nggak papa Wa hanya sedikit pusing."


Dara terus mengobrol ditelepon sambil sesekali menyuapkan bubur ke dalam mulutnya , tertawa dan Saling menggoda melupakan Erfan yang sedang kesal didalam kamar.


_____________________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2