
Erfan dan Dara kembali beraktifitas di Perusahaannya, mengerjakan setiap pekerjaan mereka di meja kerja mereka masing-masing.
Erfan terlihat sibuk dengan layar laptopnya yang menyala di atas mejanya, sedangkan Dara nampak sibuk dengan berkas yang ada di tangannya di temani Cindy yang sedang duduk di sebelahnya.
"Aku tinggal sebentar ya Cin?" ucap Dara setelah menutup berkas dan menumpuknya di atas meja.
"Kemana Ra?" tanya Cindy menatap Dara.
"Mau ke ruangan Clara, ada perlu sebentar sama Dia," ucap Dara sebelum berdiri dari duduknya.
Cindy menganggukkan kepalanya sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer yang ada di depannya.
Dara segera melangkahkan kakinya, melewati lorong perusahaan sebelum masuk ke dalam lift untuk turun satu lantai menuju ruangan Clara.
Tok tok tok Dara mengetuk pintu ruangan Clara sebelum membukanya pelan.
"Kosong." Ucap Dara pelan setelah mengedarkan pandangannya melihat ruangan Clara yang terlihat kosong.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya staf keuangan wanita yang baru keluar dari pintu ruangan yang tersambung dengan ruangan Clara.
"Clara dimana?"
Belum sempat staf itu menjawab...
"Astaghfirullahaladzim," ucap Dara tekejut saat menoleh kebelakang, karena merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Clara terkekeh sebelum masuk kedalam ruang kerjanya. "Kamu bisa kembali bekerja," ucap Clara kepada Stafnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Dara.
"Ada apa Ra?" tanya Clara kembali terkekeh saat melihat Dara yang masih mengelus dadanya.
"Apa kamu sedang sibuk Cla?"
"Lumayan, kenapa Ra?" tanya Clara sambil melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kerjanya, diikuti dengan Dara di belakangnya.
"Apa kamu bisa menemaniku ke rumah sakit?" ucap Dara setelah duduk di kursi seberang Clara.
"Kamu sakit?"
Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Aku ingin menjenguk anak teman baikku yang sedang di rawat di rumah sakit."
Clara menganggukkan kepalanya, "Oke...jam berapa?"
"Jam 10 kita berangkat, bagaimana?"
"Sebentar lagi dong...," ucap Clara saat melihat jam dinding di ruangannya yang sudah menunjukkan pukul 9.45
"Iya," jawab Dara terkekeh.
"Ya sudah ayo." Ucap Clara membuat Dara menyunggingkan senyumnya.
"Aku pamit ke Mas Erfan dulu ya....." ucap Dara sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Clara untuk kembali ke ruangan suaminya.
Tok tok tok Dara mengetuk pintu ruangan Erfan sebelum masuk ke dalamnya, melewati Cindy yang sedang duduk memperhatikannya.
"Mass..." Panggil Dara antusias menghampiri Erfan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Kenapa Ra?" tanya Erfan mengalihkan pandangannya ke arah Dara.
__ADS_1
"Aku ijin ke RS ya? sama Clara," ucap Dara setelah duduk di kursi depan Erfan.
"Ngapain?"
"Jenguk Eliana Mas, kemarin dia di bawa ke rumah sakit sama Dokter Iwan."
"Sekarang?"
Dara menganggukkan kepalanya menatap Erfan.
"Berangkat saja Ra, tapi jangan lama-lama, aku ingin makan siang sama kamu keluar kantor."
"Kemana Mas?"
"Kemana saja asal sama kamu," Jawab Erfan dengan mengedipkan salah satu matanya menatap Dara.
"Hahahaha," Dara tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan tertawa Ra," Protes Erfan berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya untuk mengunci pintu ruangannya.
"Kenapa di kunci Mas?" tanya Dara bingung melihat ke arah suaminya yang sedang melangkah mendekatinya.
Erfan berdiri tepat di depan Dara, sebelum mengulurkan tangan kanannya ke depan Dara.
Dengan perasaan bingungnya, Dara menerima uluran tangan Erfan dan berdiri tepat didepan suaminya.
"Masih ada sepuluh menit," bisik Erfan di telinga Dara sebelum melingkarkan tangan kirinya ke pinggang istrinya, menarik tubuh Dara agar lebih mendekat dan menempel ke tubuhnya.
Erfan meletakkan tangan kanannya di tengkuk Dara, menatap lembut penuh cinta dan gairah kedua mata indah istrinya, yang selalu membuatnya terpesona.
Erfan memainkan l*dahnya di dalam mulut Dara yang sedikit terbuka, menggerak gerakkannya perlahan hingga membuat l*dah mereka saling bersenggolan, sebelum mengeluarkannya lagi untuk m****** kembali bibir istrinya.
Dara melepaskan ciumannya, bernafas sejenak sebelum m****** kembali bibir suaminya.
Gairah sudah memuncak, Energi yang ada di tubuh Erfan semakin membesar membuat nafasnya semakin berat dan memburu, seakan mendorong dirinya agar melakukannya lebih dan lebih lagi.
Erfan menurunkan ciumannya menuruni leher putih istrinya, meng*sapnya dengan lembut semakin mengeratkan pelukannya.
"Mass...." ucap Dara berusaha mendorong tubuh suaminya.
Erfan melepaskan ciumannya, bersamaan dengan melonggarkan pelukannya menatap dalam manik mata istrinya dengan sorot mata kecewanya karena tidak bisa menuntaskan gairah yang sudah menguasainya.
"Maaf Mas," ucap Dara memeluk tubuh Erfan dengan perasaan bersalahnya.
"Ini kantor Mas, nggak mungkin kita melakukannya disini." ucap Dara lagi membelai lembut punggung suaminya.
Erfan berusaha mengontrol dirinya sebelum membalas pelukan istrinya, "Maaf Ra...aku kebablasan," ucap Erfan terkekeh berusaha mengatur kembali nafasnya yang memburu.
"Kamu cepat pergi, hati hati ya..." ucap Erfan melepaskan pelukannya.
"Iya Mas..." ucap Dara menatap Erfan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
***
Setelah setengah jam perjalanan, mobil Clara memasuki halaman rumah sakit tempat Eliana dirawat.
Dara dan Clara segera turun dari mobil setelah Clara memarkirkan mobilnya dengan baik, dan melangkahkan kaki mereka menuju ruang rawat inap Eliana, berbekal pesan WA Mega yang berisi nama kamar dan nomor kamarnya.
__ADS_1
Setelah mencari dengan melihat petunjuk yang ada di setiap papan nama yang menggantung, Dara dan Clara tetap melangkahkan kaki mereka, berjalan melewati lorong rumah sakit sebelum sampai didepan pintu kamar inap VVIP A tempat anak sahabatnya dirawat.
"Ini Ra kamarnya?" tanya Clara saat berdiri di depan pintu.
"Harusnya ini Cla," Jawab Dara sebelum mengetuk pintu kamar inapnya.
Setelah beberapa saat menunggu...
Cklek pintu terbuka, menampakkan Mega dari balik pintu.
"Bagaimana kondisi El Meg?" tanya Dara menatap Mega.
"Panasnya sudah turun Ra, ayo masuk," ucap Mega mempersilahkan.
Dara dan Clara segera masuk ke dalam Kamar rawat yang begitu luas, bernuansa putih dengan bau yang sangat enak, bukan bau karbol yang menjadi bau khas rumah sakit, dengan fasilitas yang sangat lengkap seperti LED TV yang sangat lebar, kulkas, sofa bahkan meja makan pun tersedia disana.
Terlihat El yang berada di gendongan Aditya dengan selang infus yang tertempel di tangan kirinya.
"El...."Panggil Dara pelan mendekati Eliana yang terlihat lemah dengan sisa air mata yang masih membekas di pipi tembemnya, membuat air mata Dara mengalir saat melihat tangan mungil balita yang baru berusia dua tahun itu terlihat sedikit membengkak di area infusannya.
"Apa aku boleh menggendongnya Kak?"
Aditya menganggukkan kepalanya sebelum memberikan tubuh anaknya kepada Dara.
Eliana kembali menangis didalam gendongan Dara, "Mama...Mama...."hanya kata itu yang keluar di sela sela tangisannya, seakan ingin menceritakan kesakitan yang dia rasakan kepada wanita yang mungkin sudah dia anggap sebagai mamanya.
Dara berusaha menenangkan tangisan El dengan kata-kata sayang dan belaian lembut di kepala dan punggung Eliana, menciumnya berkali-kali seakan ingin memberikan kekuatan kepada anak yang sangat di sayanginya, bukan karena tanah sengketa, tapi karena ketulusan hatinya.
"Terimakasih Ra," ucap Aditya yang sedari tadi berdiri didepan Dara, membuat Dara mengalihkan pandangan menatapnya.
"Silahkan duduk Mbk," ucap Mega mempersilahkan Clara untuk duduk di atas sofa, sebelum mengambil minuman dingin yang ada di dalam kulkas untuk tamu Nona kecilnya.
"Terimakasih karena membantu anakku kemarin, jadi Eliana bisa di bawa ke rumah sakit tepat waktu." ucap Aditya lagi masih berdiri di depan Dara.
"Mas Erfan yang melakukannya Kak, Mas Erfan yang menelpon dokter pribadi Papanya,"
"Untuk masalah kemarin...." Ucap Aditya terpotong.
"Jangan membahasnya lagi Kak, aku kesini karena aku khawatir sama Eliana, bukan ingin membahas masalah itu." ucap Dara datar menatap Aditya.
Aditya menganggukkan kepalanya pelan, "Silahkan duduk Ra, jangan berdiri terus,"
Dara segera melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa sebelah Clara sambil memangku Eliana yang sudah tertidur digendongannya, diikuti Aditya yang mendorong tiang infus anaknya mengikuti langkah Dara.
Clara berdiri dari duduknya, memberikan seulas senyum kepada Aditya sebelum mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Aditya yang masih berdiri di sebelah Dara.
"Aditya," ucap Aditya membalas uluran tangan Clara.
"Clara," jawab Clara sebelum melepaskan jabatan tangannya.
Bersambung.
__________________________
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN FAVORIT YA .....
BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPNYA**
__ADS_1