
"Nggak papa Pak....saya nggak papa....," Ucap Dara berusaha berdiri tegak menghapus air matanya dengan kasar sebelum melipat kembali hasil tes suaminya yang baru saja dia buka.
"Apa ada masalah sama hasil tesnya?" tanya Nathan penasaran.
Dara menggelengkan kepalanya, berusaha memasukkan lipatan kertas ke dalam amplopnya kembali dengan tangannya yang gemetar.
Nathan hanya diam, merasa ragu dengan jawaban Dara namun tak ada keberanian untuk bertanya lebih dalam.
"Kamu duduk saja dulu, aku ambilkan minum." Ucap Nathan sebelum melangkah menuju lemari es untuk mengambil minuman dingin yang ada di dalamnya.
Dara menarik nafasnya panjang sebelum menghembuskannya perlahan, berusaha mengontrol perasaannya agar tetap stabil.
"Haruskah aku memberitahukan semuanya ke Mas Erfan? tapi aku takut, aku sangat takut melihatnya terluka." Batin Dara menatap suaminya yang terlihat tenang dalam tidurnya sebelum mendongakkan kepalanya ke atas berusaha menahan bulir air matanya agar tidak kembali jatuh.
"Minum dulu Ra," Ucap Nathan memberikan sebotol air kepadanya.
"Terimakasih Pak," ucap Dara mengambil alih botol air dari tangan Nathan sebelum melangkahkan kakinya yang masih terasa lemas untuk duduk di atas sofa, diikuti Nathan yang akan duduk di dekatnya.
"Apa benar semuanya baik-baik saja Ra? kamu bisa menceritakannya kepadaku,"
"Iya Pak, Semuanya baik baik saja," jawab Dara berusaha membuka tutup botolnya.
"Kenapa nggak bisa sih," gumam Dara lirih dengan air matanya yang mengalir.
"Ada apa sebenarnya? apa hasil tesnya buruk?" Tanya Nathan dalam hati sebelum mengambil alih botol yang ada di tangan Dara, dan membantu membuka tutup botolnya.
"Kamu nggak akan bisa membuka tutup botol dengan tangan yang gemetar seperti itu Ra," ucap Nathan mengembalikan botol kepada Dara.
"Terimakasih...," Ucap Dara lirih mengambil alih botol dari tangan Nathan.
"Aku tahu Pak Nathan nggak akan percaya dengan kalimat baik-baik saja yang aku ucapkan, bagaimana bisa sesuatu hal yang baik baik saja bisa membuat tubuhku gemetar seperti ini, air mataku juga kenapa nggak bisa berhenti sih," ucap Dara dalam hati setelah menenggak minumannya.
"Ra...," panggil Erfan setelah bangun dari tidurnya.
Dara segera menghapus air matanya, segera meletakkan botolnya di atas meja sebelum memasukkan hasil tesnya ke dalam tas.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan menatap balik Nathan yang sedang menatapnya.
"Iya Mas..." Ucap Dara berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Erfan di ikuti dengan Nathan di belakangnya.
"Mas Erfan sudah bangun? mau minum Mas?" tanya Dara sebelum mengatur posisi ranjang suaminya ke posisi duduk.
__ADS_1
"Nggak Ra," jawab Erfan menatap Dara sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Nathan yang sudah berdiri di samping ranjangnya.
"Kamu sudah datang Than?"
Nathan menganggukkan kepalanya pelan, "Bagaimana kondisimu?" tanya Nathan.
"Sudah lebih baik, apa kamu sudah mendapatkan hasil tesnya?" Tanya Erfan mengulurkan tangannya ke arah Nathan.
"Pak Nathan sudah memberikan hasil tesnya kepadaku Mas," jawab Dara menggenggam tangan Erfan yang terulur, berusaha mencari kekuatan di dalam genggaman tangan suaminya.
"Bagaimana hasilnya? aku ingin lihat."
"Hasilnya bagus Mas, nggak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Dara berusaha tersenyum menatap suaminya.
"Maaf Mas, aku terpaksa berbohong, aku bingung, aku sangat takut degan reaksi kamu." Ucap Dara dalam hati mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Kamu nangis?" tanya Erfan saat beradu pandang dengan mata istrinya yang memerah.
Dara menggelangkan kepalanya pelan, "Aku nggak nangis Mas,"
"Apa ada masalah sama hasil tesnya?" tanya Erfan menyelidik.
Dara kembali menggelengkan kepalanya pelan dengan air matanya yang kembali mengalir. "Ya Allah.....ada apa dengan air mata ini? kenapa nggak bisa berhenti?" Batin Dara Menundukkan kepalanya.
"Terimakasih Than," ucap Erfan menatap kepergian Nathan yang hanya di jawab dengan anggukan kepala temannya itu.
"Aku ingin lihat hasil tes nya Ra, apa aku yang bermasalah?" tanya Erfan kembali menatap istrinya.
Dara menegakkan kepalanya kembali, untuk menatap suaminya, "Tunggu sampai Mas Erfan pulih ya? kamu harus fokus dengan kesembuhan kamu dulu Mas!"
"Aku ingin lihat sekarang, berikan kepadaku sekarang Ra," Ucap Erfan tegas menatap Istrinya.
Dara menarik nafasnya panjang sebelum berbalik dan melangkah untuk mengambil hasil tes yang ada di dalam tasnya.
"Ini hasil tesnya Mas," ucap Dara memberikan hasil tes kepada suaminya.
Erfan segera mengambil alih hasil tes dari tangan istrinya, detak jantung yang tadinya normal kini mulai berdebar-debar, berdetak lebih cepat karena rasa takut yang mulai bersarang di dirinya.
Erfan membuka amplop atas nama Tn Erfan Pratama, menarik nafasnya panjang sebelum menarik keluar kertas putih yang ada di dalamnya, membukanya perlahan sebelum membaca tulisan yang ada di dalamnya.
"Jadi aku yang abnormal?" ucap Erfan lirih dengan tangannya yang gemetar masih menatap hasil tesnya.
__ADS_1
"Mas," ucap Dara lirih menyentuh tangan suaminya.
"Ternyata semua masalah ada di aku Ra?
aku yang nggak bisa memberikamu keturunan, aku yang bermasalah!" ucap Erfan dengan sorot mata sendunya menatap Dara.
"Kita baru sekali melakukan tes Mas, bisa saja hasilnya salah kan?" ucap Dara mengambil alih kertas dari tangan suaminya, segera melipat dan meletakkannya di ranjang.
"Kita bisa melakukan tes lagi," Ucap Dara berusaha menguatkan suaminya yang terluka.
"Untuk apa? untuk lebih memastikan lagi kalau aku laki laki yang lemah? laki-laki yang nggak punya kemampuan untuk membahagiakanmu?" ucap Erfan menitikkan air matanya menatap Dara.
"Mas Erfan bukan laki-laki lemah," jawab Dara menyeka lembut air mata suaminya disaat air matanya sendiri mengalir dengan derasnya membasahi pipi.
"Aku mohon jangan bilang seperti itu Mas, kemampuan Mas Erfan untuk membahagiakanku jauh melebihi ekspektasi ku Mas, aku sangat bahagia, aku bahagia Mas," ucap Dara memeluk suaminya.
"Ini cobaan untuk pernikahan kita Mas, Allah sedang menguji seberapa besar dan kuatnya cinta kita," ucap Dara membelai lembut kepala suaminya.
"Orang bilang aku laki-laki sempurna, bahkan akupun merasa seperti itu Ra, aku kaya, aku punya segalanya, aku punya istri yang cantik dan baik seperti kamu, tapi kenapa Allah memberikanku kekurangan yang membuatku merasa lemah dan tak berdaya? kekurangan yang membuat semua orang mempertanyakan kelaki-lakianku." Ucap Erfan memecahkan tangisannya.
"Kita hanya perlu mencari solusi untuk masalah ini Mas, kita bisa melakukan pengobatan herbal atau apapun itu, Mas Erfan nggak boleh putus asa ya? kita pasti bisa melalui ujian ini dengan baik," ucap Dara masih memeluk suaminya.
"Engkau pasti tahu bagaimana perasaanku sekarang Ya Allah? kenapa aku merasa ini sangat tidak adil buat kami? kenapa di saat wanita di luar sana tidak siap dengan adanya anak Engkau malah dengan mudahnya menitipkan anak di rahimnya, tapi kenapa tidak denganku? apa Engkau masih belum bisa percaya denganku dan Mas Erfan?" ucap Dara dalam hati semakin mempererat pelukannya.
***
Keesokan harinya, Erfan sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Sepasang suami istri yang sedang bersedih itu telah masuk ke dalam rumah setelah turun Dari mobil yang dikemudikan supir Pak Subrata.
Cklek Dara membuka pintu kamar sambil menuntun Erfan untuk berjalan mendekati ranjang.
"Pelan pelan Mas," ucap Dara membantu suaminya berbaring di atas kasur.
"Aku tinggal masak ya Mas?" sudah jam sebelas, Mas Erfan harus minum obat." Ucap Dara lagi membenarkan selimut suaminya.
"Aku nggak ingin makan Ra, aku hanya ingin tidur." Jawab Erfan memejamkan matanya.
Dara berdiri menatap Erfan dengan tatapan sendunya, "Aku juga sedih Mas, tapi aku sama sekali nggak merasa kecewa sama kamu, aku sudah sangat mencintai kamu, dan karena rasa cinta itu juga aku akan menerima segala kekurangan kamu Mas." Batin Dara menyeka air matanya yang menetes menatap Erfan sebelum berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Bersambung.
__ADS_1
___________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up