Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 85. MAIN KE RUMAH ELIANA


__ADS_3

"Ayo Ra," ucap Erfan yang sedang membuka pintu kemudi mobilnya, berdiri menunggu Dara yang sedang mengunci pintu utamanya.


"Keluarin mobilnya dulu Mas, aku kan harus mengunci pagar rumah." Jawab Dara melangkahkan kakinya mendekati Erfan.


Erfan segera masuk ke dalam mobil, mengeluarkan mobilnya keluar garasi sebelum menunggu istrinya yang sedang mengunci pintu pagar rumah.


"Sudah Ra?" tanya Erfan setelah Dara masuk ke dalam mobil, melihat ke arah istrinya yang sedang memasang seat belt.


"Sudah Mas," jawab Dara dengan seulas senyumnya menatap Erfan.


"Alamatnya dimana Ra?" Tanya Erfan setelah menginjak gas untuk melajukan mobilnya.


"Dulu kan Mas Erfan sudah pernah aku kirimi alamat Kak Aditya lewat WA?"


"Kapan?" tanya Erfan menoleh sekilas sebelum mengalihkan pandangannya lagi lurus ke depan.


"Dulu Mas, pas Eliana sakit, ingat nggak?"


"Sudah aku hapus Ra,"


"Di ponselku juga nggak ada Mas, sudah aku hapus juga." Ucap Dara lirih menatap Erfan.


"Kamu telepon aja Mega atau Aditya, minta alamatnya lagi."


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengambil ponsel yang ada di dalam tas Selempangnya.


"Nggak di angkat Mas," ucap Dara setelah mencoba mengubungi Aditya.


"Kamu telepon siapa itu?"


"Kak Aditya,"


"Coba Mega."


Dara segera menggeser layar ponselnya lagi untuk mencari nama Mega di daftar kontak ponselnya.


"Nggak Aktif," ucap Dara lirih menatap Erfan.


"Kita pulang aja deh Mas," ucap Dara lagi dengan perasaan kecewanya.


"Kok pulang? coba telepon Aditya sekali lagi mungkin sekarang di angkat."


Dara kembali mencoba menghubungi Aditya sesuai dengan saran suaminya, hingga di bunyi tut..... ketiga terdengar suara laki laki yang menjawab panggilannya.


"Halo Ra, maaf tadi aku sedang main sama Eliana jadi nggak tahu kalau kamu telepon," ucap Aditya menerima panggilan teleponnya.


"Aku sama Mas Erfan mau main kesana Kak, bisa kirim alamat lengkap rumah kamu ya Kak?"


"Oke Ra," jawab Aditya sebelum memutus sambungan teleponnya.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, sebuah pesan dari Aditya yang berisi alamat lengkap rumahnya masuk ke dalam ponsel Dara.


"Ini Mas," ucap Dara sebelum membaca alamat lengkap rumah yang akan menjadi tujuannya.


Erfan mempercepat laju mobilnya menembus jalanan kota yang terlihat lenggang.


Hampir satu jam perjalanan yang Dara dan Erfan habiskan untuk sampai di kawasan perumahaan Elite tempat tinggal Aditya.


"Ayo turun Ra," ucap Erfan setelah menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis modern berlantai dua yang di kelilingi dengan pagar batu alam yang di hiasi dengan rumput hias di bawahnya.


Dara dan Erfan segera turun dari mobil untuk melangkahkan kaki mereka mendekati pintu pagar.

__ADS_1


Ting tung Ting tung Dara memencet bel rumah Aditya, sedangkan Erfan hanya berdiri di belakang Dara sambil mengedarkan pandangannya melihat arsitektur pagar yang menurutnya unik dan indah.


Beberapa menit menunggu tampak seorang wanita paruh baya dari balik pintu pagar yang baru terbuka.


"Saya mau ketemu Kak Aditya," ucap Dara sopan kepada asisten rumah tangga Aditya.


"Silahkan masuk Mbak, Mas, masukin saja mobilnya ke dalam." Ucap ART itu sebelum membuka lebar pintu pagar rumah Aditya.


Erfan melangkahkan kembali kakinya menuju mobil sedangkan Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk menunggu Erfan di halaman rumah yang terlihat luas.


"Silahkan masuk Mas, Mbak, Pak Adityanya sudah menunggu di dalam." ucap ART Aditya mengarahkan tamunya masuk ke dalam rumah.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah mengikuti langkah ART yang sudah berjalan di depannya.


"Apa kalian akan menyebrang jalan? pakai gandengan tangan segala," ucap Aditya yang keluar dari dalam rumah mendekati Dara dan Erfan yang baru memasuki pintu utama rumahnya.


"Astaga...apa seperti itu cara kamu menyambut tamu?" sindir Erfan menatap Aditya yang sudah berdiri di depannya.


Aditya terkekeh sebelum mempersilahkan tamunya masuk, "Ayo masuk Ra, Eliana ada di ruang bermainnya."


"Ayo Mas," ucap Dara menatap Erfan sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Aditya, melewati ruang keluarga sebelum masuk ke dalam ruangan yang cukup luas yang berisi begitu banyak mainan seperti mandi bola, boneka dan lainnya.


"Eliana..." Panggil Dara saat melihat Eliana yang sedang asyik bermain sendiri dengan bonekanya.


"Mama....." Ucap Eliana setelah melihat kedatangan Dara, berusaha berdiri dari duduknya sebelum berlari mendekati wanita yang sudah memanggilnya.


"Oohhhh sayangnya Tante Dara," ucap Dara setelah memeluk dan membawa Eliana ke dalam gendongannya.


"Kenapa anak kamu masih memanggil istriku Mama?" protes Erfan yang sudah berdiri di belakang Dara, menatap Aditya yang berdiri di sebelahnya.


"Aku sudah berusaha mengajarinya untuk memanggil Dara Tante Fan, tapi susah, dia lebih suka dengan panggilan Mama, mungkin butuh waktu." Bela Aditya menatap Erfan.


"Ah...sepertinya kamu yang nggak becus mengajarinya."


"Lihat ya cara calon Ayah yang baik dan pintar ini dalam mengajari anak kecil," Ucap Erfan dengan percaya dirinya sebelum melangkahkan kakinya mendekati Dara yang sudah bermain bersama Eliana di atas lantai yang di alasi karpet coklat bermotif batik.


"Cih, coba saja, aku ingin melihatnya." Ucap Aditya mengikuti langkah Erfan.


"Eliana.....," panggil Erfan setelah duduk di depan Eliana yang sedang sibuk bermain dengan bonekanya.


Eliana menghentikan aktifitas bermainnya untuk melihat ke arah Erfan.


"Kenapa wajah dia seperti itu Ra?" tanya Erfan bingung menatap Dara saat melihat perubahan pada ekspresi wajah Eliana yang terlihat ingin menangis saat menatapnya.


"Dia takut Mas, lupa mungkin sama Mas Erfan." Ucap Dara mengangkat tubuh mungil Eliana untuk di bawanya ke dalam pangkuannya.


"Eliana lupa ya saya Om Erfan?" tanya Erfan menatap Eliana dan membuat balita itu semakin menangis.


"Lho..kok tambah nangis Ra?" tanya Erfan semakin bingung melihat istrinya yang hendak berdiri menggendong Eliana.


"Dia takut sama Mas Erfan," ucap Dara membuat Aditya yang sedang duduk di sofa kecil ruang main anaknya itu terkekeh.


"Apa kamu takut sama wajah tampan Om El?" ucap Erfan lagi menatap Eliana.


"Om kaya loh El, Om bisa membelikan apapun yang kamu mau, ayo sini ikut Om," ucap Erfan lagi berusaha membujuk Eliana sambil mengulurkan kedua tangannya di depan Eliana.


"Anakku nggak akan bisa kamu bujuk dengan cara seperti itu Fan, dia tahu kalau bapaknya ini lebih kaya dari kamu," Ejek Aditya sebelum membulatkan kedua matanya saat melihat Eliana menyambut uluran tangan Erfan.


Erfan tertawa penuh ejek menatap Aditya.


"Mama....mama...." Eliana kembali merengek saat di gendongan Erfan, tangannya terulur ke depan Dara ingin kembali di gendong Dara.

__ADS_1


"Bukan Mama El, tapi Tante." Ucap Erfan menatap Eliana.


Eliana menghentikan rengekannya balik menatap Erfan, "Mama....." teriak Eliana kepada Erfan.


"Tante," ucap Erfan menekankan.


"Mama." Ucap Eliana tak terima.


"Tante," ucap Erfan lagi nggak mau kalah.


"Mama," Plakkkkk tangan mungil Eliana memukul wajah Erfan.


"Aahhhhh," pekik Erfan membuat Dara dan Aditya terkejut.


"El," panggil Aditya menghampiri Eliana, membuat Eliana terdiam merasa takut hingga membenamkan wajah tembemnya di bahu Erfan.


"Ayo Minta maaf sama Om Erfan," ucap Aditya tegas menatap Eliana namun berusaha menahan tawanya saat melirik ke arah Erfan.


Eliana menarik kepalanya dari bahu Erfan sebelum mengucapkan kata maaf dengan suaranya yang masih cadel.


"Pintar," ucap Aditya membelai lembut puncak kepala anaknya.


***


Hari senin Di Kantor Erfan.


Telepon kantor yang ada di atas meja sisi kanan Dara berdering.


"Iya Mas?" jawab Dara mengangkat telepon intercom dari Erfan, membuat Cindy yang sedang duduk di sebelahnya menoleh menatapnya.


"Tolong belikan aku cappucino di toko sebelah Kantor ya Ra?" ucap Erfan dari dalam telepon.


"Iya Mas," jawab Dara sebelum menutup gagang teleponnya.


"Aku mau beli cappucino Cin, apa kamu mau juga?" tanya Dara mengalihkan pandangannya menatap Cindy.


"Boleh Ra,"


Dara segera berdiri dan melangkahkahkan kaki meninggalkan meja kerjanya.


Kini giliran suara telepon di atas meja sisi kanan Cindy yang berdering.


"Iya Pak?" jawab Cindy mengangkat telepon intercom dari atasannya.


"Kamu kesini sekarang," ucap Erfan datar segera memutus panggilan tanpa menunggu jawaban dari Cindy.


"Kenapa perasaanku nggak Enak ya?" gumam Cindy meletakkan kembali gagang teleponnya sebelum berdiri danmelangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan Erfan.


Tok tok tok Cindy mengetuk pintu ruangan Erfan.


"Masuk." jawab Erfan dari dalam ruangan.


"Kenapa wajahnya seperti itu?" batin Cindy setelah membuka pintu, saat melihat wajah Erfan yang terlihat marah, menatapnya lekat dengan sorot mata tak bersahabat.


Cindy berjalan mendekati Erfan dengan perasaan ragu.


"Apa ini Pak." tanya Cindy terkejut saat Erfan melempar amplop coklat di atas mejanya


"Gaji pertama dan terakhir kamu." Jawab Erfan dengan sorot mata tajamnya menatap Cindy.


Bersambung.

__ADS_1


_______________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2