Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 95. Rasa Sakit


__ADS_3

Cklek pintu ruangan Erfan terbuka, membuat Cindy terkejut dan melompat dari kursi kebesaran Erfan.


"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Nathan menghampiri Cindy, membuat Cindy gelagapan menatap teman atasannya itu.


"B*doh sekali kamu Cindy....apa yang harus aku katakan sekarang?" omel Cindy dalam hati.


"Maaf Pak...saya....saya hanya ingin mencoba duduk di kursi Pak Erfan, maaf atas kelancangan saya."


Nathan hanya menatap tajam Cindy, "Aku mau bicara sama kamu." Ucap Nathan sebelum melangkah untuk duduk di sofa ruang kerja Erfan.


Cindy memejamkan matanya sesaat sebelum mengikuti Nathan untuk duduk di sofa. "Ada apa Pak?" tanya Cindy sopan.


"Sewaktu kamu mengambil hasil tes Erfan dan Dara kemarin apa dokternya mengatakan sesuatu ke kamu? mungkin sebuah pesan untuk Erfan dan Dara?"


Cindy menggelengkan kepalanya Pelan, "Nggak ada Pak, nggak ada pesan apapun dari Dokternya." Jawab Cindy memandang Nathan.


"Apa ada masalah Pak?" tanya Cindy pura-pura.


"Nggak ada," jawab Nathan cepat.


"Kamu bisa kembali ke tempatmu." Ucap Nathan lagi yang di jawab dengan anggukan kepala Cindy.


"Sepertinya Pak Erfan belum menceritakan apapun kepada Pak Nathan," Batin Cindy menyeringai, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Erfan.


Flashback.


Nathan menurunkan ponselnya dari telinga saat Erfan Memutus panggilannya.


Tut Nathan menekan salah satu tombol pada telepon kantornya.


"Kamu kesini sebentar ya?" ucap Nathan saat panggilan intercomnya tersambung pada Sekretarisnya.


Seorang Secretaris perempuan dengan pakaian blouse pink nya datang menghampiri Nathan.


"Ros, sebentar lagi aku akan ke rumah sakit...." Ucap Nathan terpotong.


"Pak Nathan Sakit?"


"Bukan, hanya mengambil hasil tes kesehatan Erfan."


Rosa menganggukkan kepalanya pelan. "Bagaimana dengan meetingnya Pak?"


"Meeting apa?"


"Meeting sama klien dari Surabaya Pak, pukul 10." Jawab Rosa.


"Astaga.... aku lupa kalau meetingnya di ajuin ya........" Ucap Nathan tampak berfikir sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk kanannya.


"Kalau di izinkan, biar saya saja yang ke rumah sakit Pak...." Ucap Rosa.


"Jangan, aku membutuhkan kamu dalam meeting nanti."


"Kamu tolong panggilkan Cindy ya? sekretarisnya Erfan, suruh datang ke ruanganku." Ucap Nathan menghentikan ketukan jarinya menatap Rosa.


"Baik Pak," jawab Rosa sebelum keluar dari ruangan Nathan.


Sepuluh menit berlalu.

__ADS_1


"Bapak mencari saya?" tanya Cindy setelah berdiri di depan Nathan.


"Iya," jawab Nathan sebelum menjelaskan dan mengalihkan tugas yang diberikan Erfan kepada Cindy.


"Kamu boleh pergi sekarang, setelah mendapatkan hasil tesnya bawa kepadaku, aku sendiri yang akan memberikanmya kepada Erfan." Ucap Nathan lagi.


"Baik Pak," jawab Cindy sopan.


"Kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan ini Cindy....," Batin Cindy senang dengan senyum sinisnya keluar dari ruangan Nathan.


Flashback Selesai.


***


Cklek Dara membuka pintu kamarnya sambil membawa makan siang yang baru saja dia beli di depan rumah, semangkuk soto ayam beserta nasinya, dengan segelas teh hangat yang dia taruh di atas nampan.


Dara diam sejenak saat memandang ke arah Erfan yang sedang memejamkan matanya di atas ranjang, sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mendekati suaminya.


Dengan perlahan Dara meletakkan nampan yang di bawanya di atas nakas, naik ke atas rajang untuk berbaring di sebelah suaminya.


"Maafkan ucapan Ayah ya Mas," ucap Dara lirih dengan pandangan lurus ke atas menatap langit-langit kamarnya, membuat Erfan membuka mata dan menoleh ke arah istrinya.


"Nggak ada yang salah dengan setiap ucapan Ayah kamu Ra," Jawab Erfan lirih kembali mengingat kalimat ayah mertuanya yang nggak sengaja dia dengar, membuat perasaannya terasa sesak.


"Salah Mas, Ayahku salah, nggak seharusnya Ayah menekan Mas Erfan seperti tadi." jawab Dara membalikkan tubuhnya menatap Erfan.


"Aku yang salah, aku nggak mampu membahagiakan kamu dan aku nggak mampu memenuhi keinginan Ayah kamu." Ucap Erfan mengalihkan pandangannya ke atas.


"Tolong jangan bicara seperti itu Mas, sungguh bukan hasil tes yang menyakiti perasaanku, tapi sikap Mas Erfan yang seperti ini yang membuatku merasa sakit." Jawab Dara membelai lembut pipi suaminya.


"Aku sangat merindukan senyum kamu Mas, aku benar-benar sangat merindukannya." Ucap Dara lagi menyeka lembut air matanya, membuat Erfan mengalihkan pandangan menatapnya.


"Bisakah kita melupakan hasil tes itu Mas? kita kembali jalani hidup kita seperti sebelumnya, bahagia, penuh tawa, aku minta maaf karena sudah memaksa Mas Erfan melakukan tes," Ucap Dara lagi dengan tangisnya yang semakin pecah merangkul tubuh suaminya.


"Terimakasih karena mau menghiburku Ra, aku minta maaf karena kekuranganku kamu harus mengubur perasaan kamu yang ingin memiliki anak, terimakasih sudah menjaga perasaanku, terimakasih," Batin Erfan membelai lembut tangan istrinya yang melingkar di atas dadanya.


"Aku ingin makan!" Ucap Erfan datar menatap istrinya, membuat Dara menyeka air matanya dan segera bangun dari tidurnya.


Dara turun Dari ranjang, membantu suaminya bangun untuk duduk bersandar di sandaran ranjang sebelum mengambil sepiring nasi yang ada di di atas nakas.


"Aku ingin makan sendiri Ra," ucap Erfan menghentikan tangan Dara yang akan menyuapinya.


Dara menurunkan tangannya, terdiam sesaat memandangi raut wajah suaminya yang terlihat dingin sebelum memberikan sepiring nasi yang di bawanya kepada Erfan.


Erfan makan dalam diam, berusaha menikmati setiap suap nasi yang masuk ke dalam mulutnya tanpa menghiraukan Dara yang masih duduk memperhatikannya.


"Jangan cepat-cepat." Ucap Dara menyodorkan segelas teh hangat kepada suaminya.


Erfan hanya memandangnya sekilas, menggelengkan kepalanya pelan sebelum melanjutkan makannya.


"Apa aku punya salah Mas? kenapa sikap Mas Erfan jadi begini?" tanya Dara menahan rasa perih yang menjalar di hatinya, menatap dalam suaminya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa aku Ra " Ucap Erfan datar menatap istrinya.


"Aku minta maaf Ra, kamu harus bahagia walaupun bukan denganku," Batin Erfan berusaha menahan rasa sakit di hatinya, memaksakan dirinya tetap menikmati makannya yang terasa pahit di mulutnya.


"Apa maksud kamu Mas?" tanya Dara tersentak mendengar kalimat suaminya.

__ADS_1


Erfan hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak menjawab pertanyaan istrinya.


"Harusnya Ayah nggak menjodohkanmu dengan Erfan,"


"Jika saja kamu menikah sama Dewa mungkin Ayah sekarang sudah menimang cucu."


Kata-kata Pak Herman kembali terngiang di kepala Erfan, membuatnya menitikan air mata tetap menikmati kunyahannya.


"Apa yang Mas Erfan fikirkan sekarang? kenapa aku harus terbiasa hidup tanpa Mas Erfan?" tanya Dara menyelidik, membuat Erfan mengalihkan pandangan menatapnya.


"Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, kamu tahu kan aku sangat mencintai kamu, aku akan melakukan apapun untuk melihat kamu bahagia Ra, meskipun itu akan menyakiti perasaanku.


"Aku nggak mengerti maksud kamu Mas, aku benar benar nggak mengerti," Jawab Dara menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku mendengar semua yang di katakan Ayah kamu di bawah," jawab Erfan membuat Dara tersentak hingga membuat detak jantungnya berdetak dengan cepat.


"Mas.." Ucap Dara terpotong.


"Benar apa yang di katakan Ayah Ra, harusnya kamu menikah sama Dewa, bukan denganku, seorang laki-laki yang nggak akan bisa membahagiakan kamu dan keluargamu." Ucap Erfan lagi membuat air mata Dara semakin mengalir.


"Tolong jangan bicara seperti itu Mas, itu sangat menyakiti perasaanku."


"Kamu dulu sudah pernah mencintainya, aku rasa nggak akan butuh waktu lama untuk kamu bisa mencintainya lagi."


Dara hanya diam, terpaku ditempatnya dengan lidahnya yang terasa kelu, tak mampu bersuara selain menatap dalam manik mata suaminya dengan air mata yang terus mengalir.


Dara mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, mengambil nafas dalam-dalam berusaha mengontrol perasaannya yang terasa sesak saat mendengar setiap kalimat suaminya.


"Besok hari jadi pernikahan kita yang pertama, seperti perjanjian kita dulu, aku akan....," Ucap Erfan tercekat membuat Dara kembali mengalihkan pandangan menatapnya.


"Aku....," ucap Erfan terpotong saat Dara mengangkat telapak kanannya ke depan, menghentikan kalimat suaminya.


"Tolong jangan diteruskan Mas, atau kita akan benar-benar berpisah." Ucap Dara lirih, membuat Tangisnya semakin pecah, air matanya semakin deras hingga tak mampu lagi untuk membendungnya.


"Aku hanya ingin melihatmu bahagia Ra, kamu harus kembali Sama Dewa, Dewa pasti bisa memberikan kebahagiaan yang utuh kepada kamu, tidak sepertiku." Ucap Erfan berusaha menyakinkan istrinya walaupun harus merasakan sakit di hatinya.


"Apa kamu tahu Mas? kamu nggak ada bedanya sama Ayah, melakukan apapun yang kamu mau tanpa memikirkan perasaanku."


"Aku hanya ingin melihat kamu bahagia Ra, hanya butuh waktu sebentar untuk kamu melupakan aku dan kembali mencintai Dewa." Ucap Erfan menahan rasa sakit yang menghantam perasaannya.


"Besok Dewa akan menjemputmu, dia masih sangat mencintai kamu, kamu hanya perlu bahagia dengan dia Ra," Ucap Erfan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, berusaha menahan bulir air matanya yang akan jatuh.


Dara tersenyum pilu di sela sela tangisannya, menertawai takdir yang mempermainkan perasaannya.


Disaat dia mencintai Dewa dia dipaksa bersama suaminya, dan disaat dia sudah benar-benar mencintai suaminya dia dilempar kembali untuk bersama Dewa.


"Aku sudah nggak punya gairah untuk menunjukkan perasaanku ke kamu Mas, sungguh kamu sudah sangat melukai perasaanku." Ucap Dara dengan tangisnya, menepuk pelan dadanya yang terasa sesak sebelum berdiri dari duduknya menatap Erfan.


"Aku minta maaf Ra, sungguh aku sangat mencintai kamu, aku melakukan ini semua demi kamu." Jawab Erfan balik menatap istrinya, dengan air mata yang mengalir membasahi rahang tegasnya.


Dara menggelengkan kepalanya pelan tetap berdiri menatap Erfan. "Aku nggak ingin percaya lagi dengan rasa cinta itu Mas..." ucap Dara lirih sebelum berbalik dan keluar dari kamarnya.


Bersambung.


___________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up

__ADS_1


__ADS_2