Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 46. Quality Time


__ADS_3

Dewa menyandarkan kepalanya dikursi mobil, memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan perasaannya.


"Aku nggak ingin mencari masalah dengan siapapun, aku hanya ingin melihat Dara dan suaminya bahagia, bukankah kamu mencintainya? setahuku orang yang tulus mencintai ingin orang yang dicintai merasa bahagia. Bukankah seperti itu Tuan?" (Bab 44.Pertengkaran.)


"Kenapa kata-kata wanita itu selalu terngiang dikepalaku?" Ucap Dewa lirih tetap memejamkan matanya.


"Apa kamu benar-benar bahagia sekarang Ra?" ucap Erfan lagi membuat air matanya menyusup turun melewati kelopak matanya yang menutup.


"Bukankah untuk mendapatkan cinta kita memang harus berjuang? apa kamu hanya akan duduk disini meratapi nasib sambil melihat kebahagiaan mereka?" (Bab 45.Sebatas rasa bersalah.)


Kini giliran ucapan Rania yang berada difikiran Dewa.


"Apa kamu akan bahagia Ra jika aku memperjuangkanmu?" Ucapnya lirih mengusap air matanya sebelum membenamkan wajahnya diatas stir dengan kedua tangan yang melingkar diatas stir.


Setelah memuaskan diri menangis didalam mobil, Dewa segera menegakkan badannya, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya untuk menembus keramaian jalan.


***


Malam hari pukul 19.00


Dara dan Erfan sedang menikmati waktu bersama diruang keluarga sambil menunggu Bi Minah menyiapkan makan malam.


"Papa mana ya Mas? kok nggak kelihatan?" Ucap Dara menyuapkan jeruk ke mulut Erfan yang sedang tidur dipangkuannya sambil memainkan ponsel.


"Papa lagi makan malam dirumahnya Om Setya." Jawab Erfan sambil mengunyah.


"Kenapa?" tanya Erfan menatap Dara.


Dara menggelengkan kepala pelan, "Kenapa Papa nggak ikut acara yang dihotel?"


"Papa dapat undangan khusus dari Om Setya, makan malam bareng khusus sahabat-sahabatnya."


"Tiap tahun seperti itu?"


Erfan menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Mana jeruknya?" tanya Erfan saat Dara berhenti menyuapi.


"Habis Mas, Mas Erfan mau lagi? sudah habis lima Lo kamu Mas."


"Ha? masak?" ucap Erfan terkejut.


"Tu lihat aja kulitnya," Ucap Dara menunjuk kulit jeruk yang masih ada diatas meja.


"Kok nggak merasa sebanyak itu ya aku?" ucap Erfan terkekeh.


"Ra," Panggil Erfan menatap ponsel.


"Lihat deh teman SMA ku baru pulang bulan madu." Ucap Erfan mengarahkan layar ponselnya kedepan Dara, memperlihatkan foto temannya yang ada dimedia sosial.


"Terus kenapa Mas? mereka kan sudah menikah, wajarkan kalau bulan madu?" Ucap Dara setelah melihat layar ponsel Erfan.


"Apa kamu nggak ingin bulan madu seperti mereka?" tanya Erfan beranjak duduk dari pangkuan Dara.


Dara diam sejenak untuk berfikir.

__ADS_1


"Kamu nggak ingin Ra?" tanya Erfan lagi tidak sabar dengan jawaban Dara.


"Memangnya Mas Erfan ada waktu buat bulan madu?"


"Kalau nurutin kerjaan ya pasti nggak ada waktu Ra, tapi aku bisa mengusahakannya untuk kamu, Gimana?" tanya Erfan menatap Dara.


"Kamu Mau kemana? Paris? Italia? Amerika? Jepang?" Tanya Erfan antusias.


"Ke Bali gimana?"


"Bali? kenapa kamu ingin ke Bali?"


"Aku ingin menikmati makan malam ditepi pantai sambil menikmati keindahan sunset Mas, sambil dipeluk Mas Erfan," ucap Dara membayangkan.


"Makan malamnya lesehan gitu Mas, Pasti romantis sekali." Ucap Dara senang menatap Erfan.


"Lebih dari dipeluk juga nggak papa Ra." Ucap Erfan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dara.


"Jangan macam-macam disini Mas," ucap Dara menjauhkan wajahnya dari Erfan.


"Kenapa? Papa juga nggak ada dirumah." Goda Erfan semakin mendekati Dara.


"Maaf Tuan, Nona, makan malamnya sudah siap." Ucap Bi Minah tiba-tiba.


"Iya," ucap Erfan menatap Bi Minah.


"Ayo Mas, kita makan dulu." Ucap Dara berdiri.


"Aaaaaa," pekik Dara saat Erfan menarik pergelangan tangannya hingga membuatnya jatuh dipangkuan suaminya.


"Kiss dulu, baru makan."


"Nanti kalau Bi Minah lihat gimana?"


"Bi Minah sudah dewasa, pasti dia ngerti." Ucap Erfan terkekeh.


"Malu tau Mas, ayo makan dulu." Ucap Dara berusaha melepaskan tangan Erfan yang melingkar diperut rampingnya.


"Hanya pipi ," Ucap Erfan berusaha mempertahankan pelukannya.


Dara menghela nafas sebelum mengedarkan pandangannya untuk melihat suasana sekitarnya.


cup Dara mendaratkan kecupannya dengan cepat dipipi kanan Erfan.


"Yang kiri belum," Ucap Erfan mendekatkan pipi kirinya.


Dara segera mendaratkan bibirnya ke pipi Erfan, tinggal satu cm lagi untuk mencapai pipi suaminya, Erfan malah menggerakkan kepalanya hingga membuat bibir mereka saling bertemu.


Erfan menc*um bibir Dara, memindahkan tangan kanannya pada tengkuk Dara, sambil menikmati tekstur lembut bibir istrinya, sedangkan Dara hanya diam, berusaha menetralkan rasa terkejutnya.


"Makanan pembuka sudah selesai dinikmati." Ucap Erfan tersenyum menatap Dara setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Issss, kalau ada yang lihat gimana?" Ucap Dara memukul pelan suaminya.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri kan nggak ada orang disini."


"Apa kamu sudah merasa nyaman duduk dipangkuanku Ra? mau kita lanjutkan lagi permainannya?" Goda Erfan saat melihat istrinya terdiam dipangkuannya.


Dara segera turun saat menyadari posisi duduknya. "Ayo makan Mas,.." Ucap Dara dengan pipi yang bersemu merah, berjalan menuju meja makan meninggalkan Erfan dibelakangnya.


"Sudah berapa kali kita melakukannya Ra, tapi pipimu masih saja memerah." Gumam Erfan sambil tertawa.


***


Pagi hari Dara dan Erfan sedang bersiap untuk berangkat kekantor.


"Mas hari ini ada meeting sama klien yang dari Surabaya," Ucap Dara sambil memakaikan dasi pada kemeja suaminya.


"Apa proposal kerja samanya sudah kamu siapkan Ra?"


"Sudah Mas," Jawab Dara sambil memakaikan jas kerja Erfan.


"Ayo turun." Ucap Dara lagi setelah memastikan pakaian suaminya sudah rapi.


Erfan tersenyum sebelum menggandeng tangan Dara untuk keluar kamar, menuruni anak tangga dan berjalan lagi menuju meja makan.


"Selamat Pagi Pa," Ucap Erfan menyapa Pak Subrata sambil menarik kursi untuk Dara duduk.


"Terimakasih Mas," ucap Dara sebelum duduk dikursi.


Pak Subrata hanya mengangguk tak menoleh, tetap fokus pada korannya, membuat Dara dan Erfan saling tatap merasa aneh dengan sikap papanya.


"Ada apa Pa?" tanya Erfan setelah duduk, "Apa ada masalah sama makan malamnya kemarin?" tanya Erfan sebelum menyeruput kopi yang ada didepannya.


"Apa kalian bisa menjelaskan tentang kejadian kemarin dipesta?" ucap Pak Subrata sambil melipat korannnya dan meletakkannya diatas meja.


"Uhuk uhuk," Erfan tersedak mendengar pertanyaan papanya.


"Pelan-pelan Mas," ucap Dara menepuk lembut punggung suaminya sambil berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar karena pertanyaan mertuanya.


"Masalah yang mana Pa?" tanya Erfan pura-pura nggak tahu.


"Ayolah Fan, jangan pura-pura bodoh seperti itu, nggak mungkin kamu nggak mengerti maksud dari pertanyaan Papa."


Erfan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Pak Subrata. "Kemarin hanya ada sedikit salah faham Pa, sekarang sudah selesai."


"Salah faham seperti apa sampai membuat baku hantam didalam pesta?" Tanya Pak Subrata menatap Erfan.


"Apa dia benar kekasihmu Ra?" tanya Pak Subrata lagi mengalihkan tatapannya pada Dara.


"Siapa yang mengatakannya Pa? apa Rania?"


"Tidak penting siapa yang mengatakannya ke Papa, yang paling penting sekarang kalian jawab pertanyaan Papa, apa benar laki-laki itu kekasihnya Dara?" Ucap Pak Subrata kesal.


"Dia mantan kekasihku Pa," Ucap Dara menunduk nggak berani menatap mertuanya.


"Apa kalian sudah putus? atau masih menjalin hubungan?" tanya Pak Subrata tajam menatap Dara.

__ADS_1


______________________________


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORIT, DAN KOMEN, BUAT AUTHOR LEBIH SEMANGAT UNTUK UP.


__ADS_2