
"Mas," panggil Dara akhirnya, sesaat setelah berdiri di samping ranjang suaminya, berhasil menurunkan tangan Erfan menatapnya diam.
Semakin mempercepat degup jantung Dara, menelan salivanya pelan menundukkan kepalanya.
"Maaf," lirih Dara.
Menciptakan helaan nafas di bibir Erfan beranjak duduk dan bersandar.
"Untuk?"
"Harusnya aku tadi pamit, dan nggak balik marah seperti tadi,"
"Sini duduk sini," jawab Erfan, tak lagi merasa kesal menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.
Namun tak membuat istrinya itu bersuara, hanya mengayunkan langkah untuk duduk di tepi ranjang, sesuai dengan perintahnya masih menundukkan kepala.
"Angkat kepala kamu Ra, jangan menunduk seperti itu," protes Erfan, sesaat sebelum mengulaskan senyum tipis di bibirnya, beradu pandang dengan Dara yang terdiam menurutinya.
"Aku juga minta maaf, karena sikapku sendiri yang belum bisa membuat kamu nyaman,"
Menganggukkan kepala Dara mengiyakan, "Memang benar Mas,"
"Tapi aku juga salah, aku angkuh, tidak bisa menghormati Mas Erfan sebagai suami." lanjut Dara.
"Sama, kita sama sama angkuh," sahut Erfan.
Menciptakan seulas senyum tipis di bibir Dara kembali mengangguk pelan.
"Mungkin karena hati kita, belum bisa menerima pernikahan ini Mas, jadi ya begini, saling menyakiti, tak bisa menghargai dan menghormati." jawab Dara, menghela nafasnya panjang mengalihkan pandangannya.
"Meskipun begitu, aku ingin minta izin, agar aku bisa melayani Mas Erfan layaknya istri kepada suaminya,"
Mengerutkan kening Erfan merasa bingung sendiri.
"Mas Erfan tenang saja, aku tahu batasannya dan aku nggak akan melewati batasan ku."
"Yakin?"
"Iya" jawab Dara.
"Mau nggak mau, aku harus melakukannya bukan? karena Mas Erfan suamiku,"
"Sama seperti Mas Erfan yang punya tanggung jawab menjagaku selama pernikahan, aku juga punya tanggung jawab melayani, ya meskipun hanya sebatas pelayanan lahir."
Hening sesaat, karena Erfan yang membisu, tak kunjung bersuara untuk memberikan tanggapan.
"Bagaimana Mas?" tanya Dara akhirnya, kembali mengalihkan pandangannya, beradu pandang dengan Erfan yang mengangguk pelan.
"Boleh," jawab Erfan.
"Tapi... apa aku pantas mendapatkan pelayanan kamu itu Ra? sedangkan hatiku sendiri hanya untuk Sarah, masih menjalin hubungan dengan Sarah,"
"Kita sama-sama berdosa sebagai seorang suami dan juga istri Mas, kita menikah tapi saling memiliki kekasih," jawab Dara, mengulaskan senyum getirnya kembali membuang pandangannya lurus ke depan.
"Keadaan yang memaksa kita seperti ini, menjadi seorang pendosa hahaha," timpal Erfan tertawa.
Hingga memancing tawa di bibir istrinya mengangguk mantap.
"Benar itu Mas,benar. Kita sama pendosa hahaha," sahut Dara.
Menertawakan kenyataan dan juga takdir yang membuatnya tak berdaya, hanya bisa menjalaninya saja berusaha untuk bahagia.
__ADS_1
Termasuk Erfan, baru pertama kali menunjukkan tawanya di depan Adara, terlihat lepas melupakan beban.
"Mas Erfan sudah makan belum?" tanya Dara
"Sudah, tadi makan di kantor. Kamu bagiamana?'
"Aku juga sudah," jawab Dara.
Menggigit bibir bawahnya bersiap untuk bercerita.
"Aku tadi makan sama Dewa,"
"Dewa?" sahut Erfan.
Menganggukkan kepala Dara mengiyakan.
"Dewa sudah mengetahui semuanya Mas, pernikahan kita, termasuk perjanjian kita yang akan bercerai setelah satu tahun pernikahan, Dewa sudah mengetahuinya," jawab Dara, kembali mengingat bagimana kemarahan kekasihnya, dengan pandangan menerawangnya lurus kedepan.
"Gimana dia? marah?"
"Marah, tapi bisa menerima,"
"Jadi kamu tadi...,"
Kembali menganggukkan kepala Dara, bisa menebak kalimat Erfan selanjutnya.
"Iya, aku tadi ke apartemennya, untuk menyelesaikan dan menjelaskan semuanya." Lanjut Dara, menghela nafasnya pelan.
"Ya... untungnya saja dia bisa ngerti dan memahami," lanjutnya lagi mengulaskan senyumnya.
"Syukurlah, nggak sampai putus berarti ya?"
"Dewa juga mau memaafkan aku, dan yang paling penting, dia mau menunggu sampai pernikahan ini selesai," lanjut Dara, mengulum senyum di bibirnya menunjukkan rasa senangnya.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Erfan.
"Besok aku mau melamar pekerjaan ya Mas? ke perusahaan X."
"Nglamar?"
"Iya,"
"Nglamar kerja di kantorku saja Ra,"
Membulatkan mata Dara menerima harapan. "Ada lowongan ya?"
"Ada, Sekretaris,"
"Wah... mau aku Mas," jawab Dara, dengan binar di kedua matanya begitu antusias.
"Besok aku minta berkas lamaran sama CV kamu ya?"
"Oke," jawab Dara, memberikan kedua jempolnya ke depan Erfan, segera berdiri dari duduknya.
"Aku buat surat lamarannya dulu ya Mas?" Pamit Dara, segera mengayunkan langkahnya cepat keluar dari kamar, sesaat setelah melihat anggukan kepala suaminya.
***
Pagi kembali menjelang, bertemankan semilirnya angin di pagi hari, di temani oleh sinar mentari yang masih hangat dan bersahabat.
Terlihat Dara, sudah menyelesaikan acara memasaknya, termasuk menata semua menu yang telah di buatnya untuk sarapan dirinya dan juga Erfan di meja makan.
__ADS_1
Ada sayur Sop, perkedel kentang, sambal kecap dan tak ketinggalan ayam goreng yang rasanya cukup nikmat dan tak mengecewakan. Termasuk secangkir kopi untuk Erfan, yang tak boleh di lupakannya dan segelas teh hangat untuk dirinya sendiri.
"Sudah matang Ra?" Tanya Erfan, baru keluar dari kamar, mengayunkan langkah mendekati Dara, sudah memakai setelan jas kerja menenteng tas kerjanya.
"Sudah Mas,"
"Wah... enak ini, lengkap," puji Erfan, sesaat sebelum duduk di atas kursi mencodongkan badannya.
Hendak mengambil centong yang tersedia, namun tertahan oleh suara Dara yang melarangnya.
"Biar aku saja Mas," sanggah Dara.
Seraya mengambil alih centong dari tangan Erfan, akan melayani suaminya.
"Segini cukup Mas?" tanya Dara, sudah meletakkan dua centong nasi ke dalam piring suaminya, memperlihatkannya ke depan Erfan.
"Cukup," jawab Erfan.
Merasa bingung sendiri, melihat perlakuan manis istrinya, tak ingin mengalihkan pandangannya dari Dara yang terlihat begitu telaten menyajikan lauk dan juga sayur di atas piringnya.
"Di habiskan ya Mas, semoga suka sama masakanku," kata Dara, sesaat sebelum mengangsurkan piringnya ke depan Erfan.
"Salah satu pelayanan istri yang bisa aku lakukan Mas," lanjut Dara.
Menciptakan seulas senyum di bibir Erfan mengambil alih..
"Terimakasih," jawab Erfan.
"Mana surat lamaran kamu Ra?" tanya Erfan, baru menyelesaikan sarapannya, seraya mengelap bibirnya dengan tisu, mengalihkan pandangan istrinya yang sedang menikmati sesuap nasi terakhir.
"Oh iya Mas, sebentar ya..," jawab Dara.
Segera berdiri dari duduknya, masih mengunyah makanan di mulutnya mengayunkan langkahnya cepat menuju kamar.
Untuk mengambil berkas lamaran kerja yang telah di siapkannya, kembali keluar kamar menuju meja makan dan mengangsurkannya ke depan Erfan.
"Ini Mas,"
"Aku berangkat dulu," pamit Erfan, sesaat setelah mengambil alih beranjak berdiri, menerima uluran tangan Dara yang ingin mencium punggung tangannya.
"Hati hati Mas," kata Dara.
"Aku antar keluar," lanjut Dara, iku mengayunkan langkahnya, kompak bersama Erfan menuju pintu utama dan berhenti.
"Kenapa? ada yang ketinggalan?" tanya Dara.
"Hampir lupa," jawab Erfan, merogoh dompet di saku celananya, sebelum mengangsurkan kartu yang baru di ambilnya mengerutkan kening istrinya.
"Apa ini?"
"Kamu pakai ini buat beli keperluan kamu,"
"Nggak usah Mas, aku masih punya uang,"
"Ambil Ra, keperluan kamu itu tanggung jawabku," tegas Erfan, sama sekali tak ingin di bantah menganggukkan kepala istrinya mengambil alih.
"Terima kasih,"
_____________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1