Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 59. Kecemburuan Erfan


__ADS_3

Adzan Ashar baru saja terdengar dari speaker masjid yang tempatnya tidak jauh dari kediaman Pak Subrata, taksi yang Dara tumpangi terlihat menepi sebelum menghentikan lajunya tepat didepan gerbang tinggi milik mertuanya.


"Terima kasih Pak," Ucap Dara sebelum turun Dari dalam taksi, dan segera melangkahkan kakinya mendekati Gerbang.


Setelah memencet bel dan menunggu beberapa saat, pintu gerbang sedikit terbuka menampakkan Pak Rudy dari balik gerbang dengan senyum ramahnya menatap Dara.


"Assalamualaikum Pak," ucap Dara dengan seulas senyumnya menatap Pak Rudi.


"Waalaikum salam Non," jawab Pak Rudy tersenyum.


"Mas Erfan sudah pulang ya Pak?" tanya Dara saat melihat mobil Erfan sudah terparkir dihalaman rumah.


"Sudah Non, satu jam yang lalu."


"Kok tumben?" ucap Dara lirih sebelum mengalihkan pandangannya menatap Pak Rudi. "Terimakasih ya Pak."


Dara segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah. "Assalamualaikum," ucap Dara saat masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi?" ucap Dara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sebelum melangkahkan kakinya lagi untuk menaiki anak tangga menuju kamar.


"Tumben Mas sudah pulang?" ucap Dara setelah membuka pintu kamar, saat melihat suaminya sedang duduk ditepi ranjang,


Dara segera menggantung tas Selempangnya sebelum berjalan mendekati Erfan, "Kenapa Mas? kok kusut begini?" ucap Dara sambil merapikan rambut Erfan yang sedikit berantakan dengan telapak tangannya.


"Apa ada masalah dikantor?" tanyanya lagi mencakup pipi Erfan sebelum mengarahkannya ke atas untuk menatapnya.


Plak Erfan menepis tangan Dara dengan kasar membuat Dara terkejut.


"Ada apa Mas?" tanya Dara bingung saat melihat sorot tajam mata suaminya yang penuh dengan kemarahan.


"Dari mana kamu?" tanya Erfan tetap duduk berusaha menahan emosinya.


"Dari beli furniture kan? tadi kan sudah pamit ke Mas Erfan?" jawab Dara semakin bingung tetap berdiri didepan Erfan.


"Sama siapa?"


"Mama Eri."


"Hanya dengan Mama Eri?" ucap Erfan berdiri menatap Dara.


Dara menganggukkan kepalanya balik menatap Erfan, "Iya."


"Siapa laki-laki ini?" ucap Erfan menunjukkan foto yang ada dilayar ponselnya.


"Mas Erfan dapat foto ini dari mana?" tanya Dara mengambil alih ponsel Erfan, dengan wajah terkejut menatap Foto dan suaminya bergantian.


"Apa aku harus menjelaskan saat aku butuh penjelasan Ra?"


"Ini Kak Aditya, suaminya Mitha, teman baikku saat kuliah," ucap Dara berusaha menjelaskan. "Dan ini Eliana, Anaknya Kak Aditya dan Mitha." Ucap Dara lagi menunjuk foto Eliana.


"Dimana Mitha? haruskah kalian duduk berdampingan saling menatap seperti itu?"

__ADS_1


"Mitha sudah Meninggal Mas, tadi kami nggak sengaja bertemu saat dimall."


"Cih, hahaha," Dengus Erfan tersenyum sinis. "Jadi dia duda? apa dia kaya?" Ucap Erfan semakin cemburu.


"Jaga ucapan kamu Mas," ucap Dara ikut kesal, "nggak pantas Mas Erfan berbicara seperti itu untuk seseorang yang baru kelihangan istri dan ibu dari anaknya!"


"Apa kamu marah karena membelanya Ra?" Ucap Erfan semakin geram.


Dara menghela nafas dan memejamkan matanya sesaat, "Dinginin dulu kepala kamu Mas, baru kita bicara." Ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar, meninggalkan Erfan sendiri dengan emosi yang menguasai.


***


Dara masuk ke dalam ruang keluarga, menyalakan televisi tipis yang ada didepannya sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.


"Kenapa kamu ikut emosi sih Ra?" gerutu Dara menyandarkan punggungnya kesandaran sofa.


"Kenapa Ra?" tanya Pak Subrata tiba-tiba masuk mendekati Dara yang sedang bermain dengan remot TV yang dipegangnya, dipencetnya terus hingga membuat chanel TV terus berganti tanpa berhenti.


"Papa?" ucap Dara terkejut menoleh ke arah Pak Subrata sebelum meletakkan remot TV diatas meja.


"Kamu kenapa?" tanya Pak Subrata lagi sebelum ikut duduk disebelah Dara.


"Nggak papa Pa, hanya ada kesalahpahaman sedikit sama Mas Erfan."


"Sudah di luruskan salah fahamnya?"


Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Mas Erfan terlalu marah Pa, sampai nggak bisa mengontrol ucapannya, kalau diluruskan sekarang aku takut sia-sia, Mas Erfan nggak bisa menerima semua penjelasanku."


"Erfan memang begitu Ra, kalau emosi selalu mengatakan apapun yang ingin dia katakan, ambil positifnya aja, karena sifatnya itu kamu nggak perlu menerka-nerka apa yang ada difikirannya."


Pak Subrata tersenyum mendengar kalimat menantunya.


"Aku tinggal buat kopi untuk Mas Erfan dulu ya Pa?" ucap Dara sebelum berdiri dari duduknya.


Pak Subrata menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


***


Erfan masih didalam kamar, membaringkan tubuhnya diatas ranjang, sambil memejamkan matanya dan menekuk tangan kanannya ke atas untuk menutupi sebagian wajahnya, berusaha menekan rasa cemburu yang membuat emosinya kembali naik.


"Br*ngs*k," umpat Erfan menurunkan tangannya sebelum duduk dari tidurnya.


"Bagaimana bisa dia meninggalkanku tanpa menjelaskan apa-apa?" gerutu Erfan.


"Dinginin dulu kepala kamu Mas, baru kita bicara," kalimat Dara selalu terngiang dikepalanya, membuat Erfan semakin frustasi.


"Aaaaaaahhh," teriak Erfan mengusap wajahnya dengan kasar, sebelum turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu.


Cklek, pintu kamar terbuka, terlihat Dara dari balik pintu, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan yang berisi secangkir kopi beserta pisang goreng yang baru saja dia buat.

__ADS_1


"Mandi ya?" ucap Dara lirih menatap pintu kamar mandi, saat gendang telinganya mendengar suara dari shower yang menyala.


Dara segera meletakkan nampan yang dia bawa diatas nakas, sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian santai suaminya.


Cklek pintu kamar mandi terbuka, Erfan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya.


"Aku buatin kopi sama pisang goreng Mas," ucap Dara menghampiri Erfan sebelum memberikan baju yang baru dia ambil dari dalam almari.


Erfan hanya diam dengan tatapan dinginnya, melirik sekilas baju yang terulur didepannya sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.


"Aku sama Kak Aditya nggak ada hubungan apa-apa Mas," ucap Dara melangkahkan kakinya mengikuti Erfan.


Erfan hanya diam, mengacuhkan Dara yang sedang berusaha untuk menjelaskan.


"Tadi Kak Aditya datang sama Mega, baby sitter anaknya, karena Mega merasa sungkan kalau harus duduk disebelah Kak Aditya, aku memberikan tempat dudukku untuknya." Ucap Dara setelah berdiri dibelakang Erfan.


"Bagaimana denganmu? apa kamu nggak punya rasa sungkan saat duduk bersebelahan dengan laki-laki lain? saling tatap didepan umum dengan laki-laki yang bukan suami kamu?" Ucap Erfan menoleh menatap Dara.


"Apa aku harus diam saja membiarkan Mega berdiri karena rasa sungkannya Mas? atau aku harus membiarkan Mega duduk dimeja terpisah dengan kami semua?" ucap Dara balik menatap Erfan berusaha untuk menjelaskan.


Erfan semakin mempertajam tatapannya sebelum mengalihkan pandanganya untuk mengambil baju didalam almari.


"Yang bisa mengalah hanya ada aku dan Mama Eri Mas, nggak mungkin kan aku menyuruh Mama Eri yang pindah duduk disebelah Kak Aditya." ucap Dara lagi mejelaskan.


Erfan tetap diam melanjutkan aktifitasnya memakai baju, tetap mengacuhkan setiap kalimat yang keluar dari bibir istrinya.


"Mas......," panggil Dara memelas saat melihat Erfan berjalan meninggalkannya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Braakkkkk suara Erfan menutup pintu kamarnya.


***


Matahari sudah tenggelam membawa sinarnya, merubah langit yang tadinya terang menjadi gelap, membuat kopi dan pisang goreng yang tadinya panas menjadi dingin karena terlalu lama menunggu yang punya nggak kunjung menjamahnya.


Setelah selesai dengan sholat Maghribnya Dara segera melipat mukenanya sebelum meletakkannya kembali kedalam almari.


"Kemana ya Mas Erfan?" ucap Dara lirih sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar mencari keberadaan suaminya.


Saat ingin menuruni anak tangga, langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat pintu ruang kerja Erfan sedikit terbuka.


Dara membuka pelan pintu ruang kerja Erfan, menghela nafas sebentar sebelum melangkahkan kakinya mendekati Erfan yang sedang tidur disofa ruang kerjanya.


"Mas...." Ucap Dara setelah berjongkok didepan sofa tempat Erfan tidur, mambelai lembut pipi Erfan berusaha membangunkannya.


"Mas.... bangun sudah Maghrib," ucap Dara lagi tetap membelai pipi suaminya.


Perlahan Erfan mulai membuka mata, sedikit memicingkan matanya saat kornea matanya merasa silau dengan sinar lampu yang ada diruang kerjanya.


"Sudah Maghrib Mas, ayo sholat dulu," ucap Dara lembut dengan senyum menatap suaminya.


Erfan segera bangun dari tidurnya, diam sesaat sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan, membuat Dara yang diacuhkannya menghela nafas panjang sebelum berdiri dan duduk diatas sofa.

__ADS_1


_____________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2